
Satu bulan kemudian...
Tiara masih dalam pencarian Arga, dia sudah mencari hampir ke seluruh tempat di kota itu tapi tidak kunjung menemukan Tiara.
Putus asa? Ya, Arga sangat merasa putus asa. Kini hari-harinya di penuhi dengan murung dan tidak bergairah. Ia sangat menyesali semua sikapnya terhadap Tiara.
Di salah satu apartemen tempat Tiara tinggal, sekarang terlihat dia sedang menyiapkan makanan menantikan kedatangan seseorang.
Ting tong! Ting tong!
Terdengar suara pintu berbunyi lalu Tiara segera menghampiri pintu dan membukanya. Terlihat sebuah senyuman tersungging di pipinya saat melihat orang yang dia tunggu kini telah datang, orang itu adalah Reyhan.
Reyhan datang dengan membawakan sebuket bunga mawar merah kesukaan Tiara lalu memberikan bunga itu sebagai hadiah.
"Ini untukmu... Apa kamu suka?."
"Terima kasih...."
Tiara segera mengambil bunga itu dengan mata yang berbinar. Dia merasa sangat bersyukur disaat terpuruk Reyhan selalu ada mendukung dan menemaninya.
Tiara mempersilahkan Reyhan masuk dan langsung mengajaknya makan.
"Kamu masak sendiri?,"
"Kenapa? Terlihat tidak enak ya?."
"Tidak, tidak... Bukan begitu, justru ini sangat terlihat enak dan aky yakin ini pasti masakanmu."
Tiara tersenyum lebar lalu berkata,
"Ya sudah, lebih baik kita segera makan nanti keburu dingin makanannya."
Tiara dan Reyhan akan menyantap makanan itu, tapi saat menyuapkan suapan kedua... Tiara merasa mual dan ingin muntah. Dia segera pergi ke kamar mandi dan memuntahkan makanan yang sudah dia makan.
Tiara berada di kamar mandi dengan waktu yang cukup lama sehingga membuat Reyhan merasa khawatir dan hendak menghampiri dan melihat kondisi Tiara.
Tok tok tok!
"Tiara, apa kamu baik-baik saja?."
__ADS_1
Hening...
"Tiara?apa kamu baik-baik saja?."
"Ya, aku baik."
Reyhan menarik nafas dalam-dalam dan mengelus dadanya sebagai tanda tenang karena Tiara baik-baik saja. Setelah itu, Tiara keluar dari kamar mandi dalam keadaan pucat dan lemas.
Tiara berjalan dengan berpegangan ke tembok dan hampir terjatuh lalu Reyhan dengan sigap menahannya dan menuntun Tiara untuk duduk di kursi.
"Tiara, kamu sangat pucat... Apakah kamu sakit?."
"Tidak apa-apa, aku baik-baik saja. Tadi hanya muntah mungkin karena masuk angin."
"Aku akan membawamu ke dokter."
Reyhan segera berdiri hendak membawa Tiara ke dokter tapi tangannya di tahan oleh Tiara dan mengatakan bahwa dia baik-baik saja dan tidak perlu di bawa ke dokter. Akhirnya Reyhan pun menurut keinginan Tiara dan segera memberinya minum.
Lalu Tiara segera mengingat sesuatu dan langsung beranjak dari sana menuju kamar.
Tiara mengecek kelender dan melihat beberapa bulan di kalender yang di tandai lingkaran dengan menggunakan pulpen.
Tiara melihat dua bulan yang tidak di lingkari dan membuatnya tersentak.
Tiara menggelengkan kepalanya dan mencoba menolak pikiran-pikirannya. Lalu dia segera kembali bersama Reyhan di ruang keluarga.
Kini Tiara mengajak Reyhan untuk makan kembali dan meminta-minta maaf karenanya makan Reyhan jadi terganggu dan Reyhan pun memintanya untuk tidak sungkan.
Di sela-sela makan mereka, Reyhan berbicara tentang Arga dan keadaannya setelah kepergian Tiara. Dia mengatakan bahwa Arga sangat tersiksa dan seperti seorang yang sudah kehilangan gairah hidup. Lalu Tiara berkata dengan datar,
"Masih ada Alina yang menjaganya, dia sudah tidak memerlukan aku lagi. Dan kini aku bisa tenang hidup sendiri tanpa dirinya."
Reyhan yang mendengar perkataan Tiara menerimanya dengan dua perasaan. Di satu sisi dia senang karena sekarang Tiara ingin hidup bebas dari Arga dan satu kesempatan besar untuknya kembali kepada Tiara. Di sisi lain, Reyhan menyadari jika Tiara kini sudah menyimpan Arga di hatinya dan dia ragu bahwa Tiara masih memiliki perasaan lebih untuknya.
Meskipun seperti itu, Reyhan merasa ikhlas dan senang bisa menjaga Tiara selama dua bulan ini. Karena setelah kepulangan Tiara dari rumah sakit waktu itu, Reyhan membeli apartemen atas nama dirinya dan membiarkan Tiara tinggal disana karena Tiara yang tidak mau kembali ke rumah miliknya bersama Arga.
Kini...
Hubungan Alina dan Arga tidak seperti dahulu. Alina tidak puas hanya menjadi istri dari seorang pengusaha sukses. Dia ingin meraih keberhasilan dan kekayaan sendiri.
__ADS_1
Alina mulai merencanakan untuk merebut perusahaan Arga. Dia menjadi semakin dominan dalam hubungannya dengan suaminya, mengambil kendali atas semua aspek kehidupan Arga dan memaksa dia untuk mengambil keputusan yang menguntungkan Alina. Namun, rencana Alina tersebut tidak berjalan lancar.
Asisten pribadi Arga, Daniel, curiga terhadap rencana jahat Alina. Dia mencari bukti dan akhirnya berhasil mengungkapkan rencana Alina. Daniel memperingatkan Arga tentang rencana jahat Alina, sehingga Arga dapat mengambil tindakan yang tepat untuk mengatasi situasi tersebut.
Akhirnya, rencana jahat Alina itu terbongkar dan diketahui oleh perusahaan. Alina dipecat dari perusahaan dan hubungannya dengan Arga pun menjadi renggang. Alina merasa kecewa dan frustasi, namun dia tidak menyerah dan tetap mencari cara untuk meraih kesuksesannya sendiri.
Atas kejadian itu kini Alina dan Arga tinggal terpisah meskipun belum ada surat cerai dari Arga, tapi Arga belum mau membereskan urusannya dengan Alina sekarang yang jadi fokusnya adalah mencari Tiara.
Rencananya setelah dia menemukan Tiara, Arga akan langsung menceraikan Alina dan membereskan semua hal yang berurusan dengan Alina yang hendak mencelakakannya itu.
Beberapa hari kemudian...
Tiara mulai merasa tidak enak badan selama beberapa hari ini. Dia sering merasa lelah dan mual setiap kali makan. Tiara menganggap itu sebagai efek samping dari stres dan kecemasan yang dia alami. Dia mulai merasa depresi dan sering menangis di malam hari, tapi tidak memberitahu siapa pun tentang perasaannya.
Seiring berjalannya waktu, Tiara terus merasa semakin lelah dan mual dan sakit di beberapa bagian tubuhnya.
Siang itu Reyhan datang ke apartemen Tiara seperti biasa hanya untuk melihat keadaan Tiara dan memastikan bahwa Tiara dalam keadaan baik-baik saja dan menghabiskan waktu bersamanya.
Namun, setelah beberapa kali mengetuk pintu, Tiara tidak merespons dan Reyhan mulai merasa cemas.
Karena khawatir, Reyhan mencoba menghubungi Tiara lewat telepon, tetapi dia tidak menjawab. Akhirnya, Reyhan memutuskan untuk membuka pintu dengan kunci cadangan yang dia simpan.
Saat Reyhan membuka pintu, dia terkejut melihat Tiara tergeletak pingsan di lantai apartemennya. Reyhan segera menggendong dan membawa Tiara ke rumah sakit terdekat.
Setelah menjalani serangkaian pemeriksaan, dokter menemukan bahwa Tiara mengalami kelelahan dan kekurangan nutrisi yang parah. Dia juga kekurangan oksigen karena kurang bergerak dan menghirup udara segar di apartemennya yang tertutup.
Dan satu hal lagi yang dokter katakan, dokter memberitahu Reyhan bahwa sekarang Tiara sedang hamil. Reyhan terkejut dan senang mendengar berita itu, tetapi dia juga merasa khawatir tentang bagaimana Tiara akan menghadapi kehamilan ini sendirian.
Setelah Tiara siuman, Reyhan membicarakan hal tentang kehamilannya kepada Tiara. Dengan menatap nanar Reyhan berkata,
"Tiara... Kamu baik-baik saja?." Tiara menganggukkan kepalanya.
"Aku ada kabar baik untukmu. Dokter tadi memberitahuku bahwa kamu sedang hamil."
"Apa? Aku hamil?."
"Ya."
__ADS_1
Bersambung...