
Tiara sedang membersihkan guci di rumah besar itu. Nayla memperhatikan dan menghampirinya.
"Ini belum bersih! disini juga belum bersih!." tunjuk Nayla.
Tiara pun mengulang dan membersihkannya kembali.
"Apa kamu tidak bisa bekerja? Pekerjaan seperti ini pun tidak bisa!," omel Nayla.
Tiara mengusap guci tadi memakai saputangan baru dan hasilnya sudah bersih.
"Ini sudah bersih."
Tiara menunjukan saputangan yang masih dalam keadaan bersih. Sarah mendengar perdebatan kedua gadis itu, lalu menghampirinya.
"Nayla, ada apa ribut-ribut? nyonya sedang istirahat nanti dia terbangun." seru Sarah.
"Sarah! gadis ini sangat malas. Aku hanya memberi tau dia, tapi dia malah berteriak melawanku." alasan Nayla.
Sarah mengecek pekerjaan Tiara dan menunjukkannya pada Nayla.
"Lihat... ini sudah bersih. Tiara, dari tadi kamu sudah bekerja keras sekarang pergilah istirahat."
"Terima kasih Sarah." balas Tiara kemudian pergi.
"Kamu ini, membesar besarkan masalah kecil. Kalau nyonya mendengarnya dia akan tersinggung. Tiara adalah tamu disini. Kamu jangan memperlakukan dia seperti itu lagi ya, itu untuk kebaikan mu juga."
Tiara menyapu halaman depan saat mobil Arga baru saja datang.
" Kamu? Kenapa kamu ada disini?." tanya Arga sambil melihat lihat sekitar.
__ADS_1
"Pak Arga, sejak kemarin nyonya meminta saya untuk tinggal disini."
" Dengan sapu itu? Dimana para pekerja disini?." Arga mencari keberadaan orang.
" Ini kemauan saya pak, jangan marahi orang-orang disini. Mereka sedang sibuk di belakang jadi saya berinisiatif untuk membantu mereka."
Reyna sedang bersiap untuk menyambut kepulangan Arga. Dia juga menyiapkan baju ganti suaminya dengan telaten. Dan terdengar suara pintu terbuka.
" Mas... kamu sudah pulang...."
Reyna menyambut Arga dengan hangat, lalu melayani Arga mengganti pakaian nya.
Dengan menatap cermin yang memantulkan bayangannya dan bayangan istrinya di cermin yang sedang merapihkan pakaian nya, Arga bertanya,
"Kenapa gadis itu ada di rumah ini?."
Reyna menoleh dan menjawab.
Reyna menatap Arga yang hanya diam saja.
"Maaf, aku tidak minta izin dulu darimu. Tapi tidak apa-apa kan dia tinggal disini?."
"Ya, terserah kamu saja."
Hari-hari berlalu, sudah beberapa bulan Tiara tinggal di rumah Reyna. Dia tidak berangkat kerja lagi ke kantor, karna Reyna memintanya untuk tetap menemaninya saja. Walau pun begitu Tiara tetap menerima gaji. Karna dia mengatakan pada Reyna, bahwa dia setuju tinggal disana asalkan dia tetap bekerja dan menjadi asisten pribadi nya.
Pagi hari, Tiara sedang menyiram tanaman di halaman. Datanglah Reyhan untuk mengunjungi kakaknya.
Tiara bersemangat dan segera menghampiri Reyhan, akan tetapi Reyhan mengacuhkannya. Tiara merasa bingung dan mencoba menggoda Reyhan.
__ADS_1
"Rey...?."
Tiara tersenyum dan memiringkan kepalanya. Bukannya melihat, Reyhan malah memalingkan wajahnya ke arah sebaliknya. Lalu Tiara pergi ke arah satu lagi dan menggodanya lagi, tapi Reyhan tetap acuh.
Tiara merasa kesal dan kecewa lalu pergi meninggalkan Reyhan yang kebingungan dan pura-pura merajuk. Reyhan menunggu kakaknya dan duduk di ruang tamu.
Tiara menghampiri sambil membawa minuman.
"Silahkan teh nya...."
Tiara hanya menyimpan teh nya lalu beranjak pergi. Reyhan merasa heran melihatnya. Kemudian memanggil Tiara.
"Tiara tunggu! kenapa kamu pergi begitu saja dan tidak memperdulikan aku?."
Tiara hanya diam tidak menjawab.
"Tiara?," panggilnya lagi.
"Tadi di depan, kamu juga mengacuhkan aku. Hmmm... hmm... seperti orang bisu saja." Tiara meragakan kepalanya ke kiri dan ke kanan.
"Seharusnya kamu bertanya kenapa aku seperti itu."
" Memangnya kenapa kamu mengacuhkan aku seperti tadi?."
" Apa kamu ingat, ini hari apa?."
Tanya Reyhan.
Bersambung...
__ADS_1
Hari apa hayooooo....