
Di kediaman keluarga Reyhan... di sebuah kamar yang berpenghuni sepasang pengantin yang di bilang masih baru.
"Reyhan... sejak kita menikah kita belum pernah mengunjungi nyonya. Apa tidak sebaiknya kita mengatur waktu untuk pergi kesana?." saran Sarah.
Reyhan masih sibuk berkutat dengan laptopnya.
"Aku sedang banyak pekerjaan, tidak ada waktu untuk pergi ke sana. Kalau kamu mau kamu bisa mengunjungi kakak ku kapan saja." sahut Reyhan.
"Baiklah, aku akan menunggu sampai kamu menyelesaikan pekerjaan mu dan mempunyai waktu luang. Setidaknya kita harus mengucapkan Terima kasih atas pernikahan ini."
Ucap Sarah sambil memakaikan mantel ke tubuh Reyhan.
"Udara malam ini sangat dingin, cepatlah istirahat. Tidak baik jika tidur larut malam." Tutur Sarah.
Sarah berbaring di tempat tidur sambil memperhatikan punggung Reyhan yang masih sibuk dengan pekerjaannya.
"Walaupun kamu masih belum bisa menerimaku, aku akan terus berusaha agar kamu bertekuk lutut padaku dan melupakan Tiara untuk selamanya." batin Sarah.
Terlihat dua tempat tidur yang terpasang terpisah, karena semenjak menikah walaupun tinggal sekamar mereka tidak pernah satu ranjang.
Sinar matahari menyinari bumi menembus setiap kaca - kaca rumah. Petokan ayam dan suara burung berkicau, menghiasi indah pagi ini.
__ADS_1
Terlihat Nayla sedang mencabuti dedaunan dan bunga di halaman rumah dengan kesal.
Tiara melihatnya dan menghampirinya.
"Eh... Eh! kamu sedang apa? Sudah! sudah! jangan petik lagi, kalau kamu memetiknya terus nanti tanamannya botak!." Cegah Tiara.
Nayla nampak masih manyun.
" Kenapa? Mukamu di tekuk seperti itu kaya siput tau, " ledek Tiara.
" Aku sangat kesal pada tuan Arga! Dulu, ketika nyonya sehat dia selalu ingin di dekatnya seperti tidak ingin terpisahkan. Sekarang, giliran nyonya sedang sakit dia seolah tidak peduli."
"Nayla... pak Arga itu orangnya sibuk, kalau ada waktu pak Arga juga selalu menemui nyonya. Lagi pula tunggu sampai nyonya kita sehat pasti pak Arga akan selalu membahagiakan nyonya. Sekarang... berjalan pun nyonya belum bisa. Nayla... dari pada kamu marah - marah disini, lebih baik kamu menjadi tongkat bersamaku."
Tiara dan Nayla memapah Reyna untuk berlatih berjalan. Selangkah demi selangkah Reyna menapakan kakinya ke lantai. Terjatuh... bangkit lagi... jatuh lagi... bangkit lagi.
" Nyonya... jika anda lelah istirahatlah sejenak." seru Tiara.
"Tidak aku harus terus berlatih." tekad Reyna.
Terlihat kedua asistennya itu terus menyemangati Reyna.
__ADS_1
"Nyonya... ayo semangat nyonya!," seru Nayla.
Reyna terus berusaha berjalan dan terjatuh lagi. Kali ini dia tidak langsung berusaha berdiri, tapi dia menangis dan ingin menyerah.
"Tidak! aku sungguh tidak bisa! Aku tidak akan bisa berjalan lagi! Tidak bisa!."
Reyna merasa putus asa dan memukul mukul kakinya.
"Nyonya... Bersabarlah. Nyonya tolong jangan menyerah, asalkan nyonya berlatih dengan baik maka nyonya akan segera pulih. Nyonya bisa berdiri dan berjalan lagi. Meskipun nyonya tidak bisa berjalan lagi, aku rela seumur hidupku menjadi tongkat nyonya."
Ucap Tiara sambil berlinang air mata, lalu Reyna menatapnya dan memeluknya.
" Tiara.... " Reyna menenangkan.
" Nyonya... jangan lupakan aku. "
Nayla pun berhambur ikut berpelukan. Lalu menangis bersama.
Reyna mencoba berlatih kembali di dampingi kedua asistennya. Hari demi hari Reyna lebih tekun berlatih hingga akhirnya dia bisa melangkah sendiri dan mencoba berjalan ke luar rumah.
Reyna tersenyum bahagia, akhirnya dia bisa melihat matahari lagi dan mencium udara segar. Tanaman melati kesukaannya pun sudah bisa dia rawat lagi.
__ADS_1
"Terima kasih... kalian selalu ada untukku...."