
Mario masuk kedalam rumah Mawar saat Mawar menggiringnya menuju kamar mandi miliknya,mata Mario melirik bokong Mawar yang bohay lenggak lenggok berjalan didepannya,cepat cepat mata Mario melihat kearah yang lain.Saat tadi melintas diruang tamu rumah Mawar Mario juga melihat poto poto gadis itu terpajang menggantung didinding rumah.
"Bang ini kran airnya susah banget diputar"Tukas Mawar dengan tangan memegang kran Air mencoba kembali memutarnya.
Mawar dengan susah payah memutar kran air tersebut shingga dadanya yang montok bergoyang mengikuti gerakan tubuhnya,dada itu dibalut kaos tipis berwarna putih,sehingga menerawang warna Bra milik Mawar,Bra itu berwarna merah sangat jelas terlihat oleh mata Mario dan itu membuatnya panik karena melihat dari jarak dekat sekali.
"Sini biar aku saja" Kata Mario dengan sedikit rasa gugup karena baru saja iya melihat pemandangan yang tak biasa.Sudah dua kali mata Mario melihat kepunyaan Mawar,dulu sewaktu tinggal dirumah kardus Mario hanya melihat subalan milik Tiny saja,kini Mario melihat yang nyata.
Mawar menyingkirkan tangannya dari kran Air dan bergerak sedikit bergantian dengan Mario yang ingin membetulkan kran tersebut.Benar saja kran air itu macet total tidak bisa digerakkan.
"Kamu punya Tang buaya?".Tanya Mario yang sudah menyerah memutar kran air tersebut.
"Tang buaya?" Sahut Mawar sembari berfikir dan Mario membalas dengan anggukan kepala.
"Buaya darat Mawar tau Bang,kalau Tang buaya,eh tunggu Ada alat perkakas digudang belakang".Jawab Mawar langsung keluar dari dalam kamar mandi.
Mario menunggu didalam kamar mandi sekelak dan melihat seisi kamar mandi milik Mawar,kamar mandi yang bersih dengan peralatan mandi yang tersusun rapi.
"Nah ini dia kotaknya,coba kita cari aja soal Mawar enggak tau bentuknya" Kata Mawar meletakkan kotak tersebut didepan kamar mandi.
"Kotak ini punya siapa Mawar?" Tanya Mario sambil mencari alat yang iya mau.
"Punya Almarhum bapakku bang" Jawab Mawar dengan tersenyum,sekilas wajah Mario berubah sedih karena mengetahui kalau Mawar anak yatim.Mario memang belum tau semua tentang Mawar jadi wajar iya menaruh rasa Iba.
Kini alat yang Mario maksud sudah ada ditangannya,lalu iya berdiri masuk kedalam kamar mandi,dengan cekatan tangan Mario memutar kran Air macet tersebut.Karena iya punya pengalaman sewaktu dulu membetulkan kran Air dirumah Tiny.
"Ssssrutt srruutt"
__ADS_1
Suara air mengalir deras saat Mario berhasil membetulkannya,Mawar tersenyum puas dan terlihat bahagia,Mario tersenyum bagai bak pahlawan karena usahanya sukses membuat air mengalir didalam kran tersebut,padahal seorang wanita bisa melakukan itu sendiri apa itu akal akalan Mawar?.Mario tidak tau itu.
"Horee,mawar jadi bisa mandi" Suara Mawar mendengung didalam kamar mandi dengan tangan memeluk tubuh Mario erat,Mario terkejut dengan tingkah Mawar,tubuh Mario serasa sesak didalam pelukan mawar dan Mario merasakan dua bukit itu terasa empuk menghimpit dada bidangnya.
"Ups, Maaf bang Mawar enggak sadar saking senangnya" Ucap Mawar lagi dengan rasa malu sesudah melepas pelukan hangat kepada Mario,sedangkan Mario masih berdiri mematung diam seribu bahasa.
Malam ini apa malam keberuntungan Mario?,tadi didalam kamar hotel iya dicium gadis cantik walau tingkahnya Bar Bar,sekarang iya dipeluk Mawar gadis bohay yang menjadi tetangganya itu.
"Abang marah?,kok diam aja,maaf ya bang Mawar senang sekali jadi enggak sengaja meluk abang" Ucap Mawar dengan wajah penuh penyesalan.
"Eng-enggak,aku enggak marah,kalau gitu aku balik dulu ya mau mandi juga" Kata Mario dengan gugup dan berjalan keluar dari kamar mandi.
"Sekali lagi makasih yang bang" Ucap Mawar saat melihat Mario sudah berjalan dipintu utama rumahnya.
"Iya ....". Mario dengan langkah cepat berjalan masuk kedalam rumah,cepat cepat iya tutup pintu rumah, "Fiuh..." Mario bernafas lega mematung dibalik pintu utama rumah, memikirkan apa yang baru iya alami.
Mario geleng kepala mencoba tidak mengingat semuanya melangkahkan kaki menuju pintu kamar.Dengan cepat tangannya mengambil penyeka tubuh alias handuk yang berwarna putih bersih.
Sampai didalam kamar mandi Mario mengguyur air ketubuh lelahnya dengan segala keringat yang asin karena beraktifitas seharian,membuat lelah Mario sedikit berkurang.
Mario berjalan lagi kedalam kamar mengambil baju kaos oblong warna hitam serta celana pendek menutupi lutut setelah selesai mandi,Handuknya masih melingkar diatas dada lalu iya berdiri didepan cermin Pemuda ini melihat dirinya dipantulan kaca tersebut.
Kini tangan Mario membuka handuk,Mario tidak memakai sehelaipun seperti bayi yang baru lahir,Mario melihat kearah bawah miliknya yang keriput mengecil mungkin karena sehabis mandi.
"Kenapa kau tak pernah berdiri kawan,ayolah berdiri,apa kau impoten?" Gumam Mario dengan tangan mengguncang Junior kecilnya.
Padahal iya tadi dicium gadis dengan waktu yang lama dan setelah itu dipeluk Mawar sang gadis bohay,tapi kenapa Junior tidak juga bangun dari tidurnya,Mario jadi kesal dan mencaci dirinya sendiri segala ucapan kotor yang ada didalam kebun binatang iya ucapkan sekarang ini.
__ADS_1
Terlayang dibenak kisah dulu saat umur Mario sembilan tahun,seorang anak laki laki dilecehkan disiksa dan tempat pelepasan kotorannya dihujam dengan pedang besar milik keempat lelaki berbadan besar tersebut secara berkali kali,bahkan kepalanya dijedutkan dilantai karena ingin melawan.
"Tidaaak !!"
Nafas Mario sesak dan iya kini layu terduduk diatas lantai dengan keringat jagung yang mengalir deras dikulitnya yang putih, wangi sabun sehabis mandi berganti aroma keringat yang sangat lengket dan asin.
Mario mencoba kuat karena tidak ada orang dirumah ini,Mario takut kejang dan tidak sadarkan diri,iya kepalkan tangannya dengan sekuat tenaga berdiri dan tidak memikirkan kejadian itu lagi.
"Ha ...ha...ha.."
Dengan nafas yang terengah dan perasaan yang sesak bagai dihimpit batu besar iya berusaha kuat,kini tangan kanan menopang dinding tembok kamar dan kepala Mario tertunduk dengan mata yang mulai mengembun.Mario tidak mau minum obat lagi atau suntikan penenang seperti dulu dan iya tidak mau ketergantungan itu
"Ibu ..."
Suara lemah dan serak serta air matanya menetes jatuh diatas lantai.Mario terus memanggil nama Ibu dengan melawan batin dan rasa traumanya.
"Hiks....Hiks.. Ibu"
Dengan tubuh gemetar Mario berdiri tegak supaya kuat,Mario tidak mau terlena dengan rasa teraumanya terus menerus,begini kalau iya mengingat rasa trauma dahulu.
Tanpa sehelaipun tubuh Mario ambrul diatas ranjang yang empuk,tangan Mario mengusap air mata dengan membangun rasa tegar dihati.
"Aku harus melawan,sampai kapan aku begini terus,aku enggak mau lagi jadi Banci ya Allah hikss...." Suara bergetar dengan nada serak iya ucapkan sambil menatap atap langit kamarnya.
Setelah sedikit tenang Mario mencoba memejamkan mata walau bertelanjang bulat,Mario juga tidak perduli handuk diatas lantai berserakan dengan baju yang tadi ingin iya kupakai.
Bersambung*
__ADS_1