
"Ih .....Bajingann"
Mario melimpahkan kekesalannya saat tau orang yang dekat dengannya telah jadi pengkhianat,dengan kesal Mario mencaci orang tersebut didalam rumah kardusnya.
"Trak"
Mario menutup kasar pintu rumahnya dari kardus tersebut sehingga isi rumah menjadi goyang semua.Hidup miskin membuat dada Mario semakin sesak ditambah lagi dengan pengkhianatan Riko.Kini iya terduduk sambil menghimpitkan badan ditembok kardus rumahnya.
"Maria ini eyke, you harus buka pintu,capcus udah mulai azan subuh".Terdengar suara Tiny yang menunggu didepan rumah.Dengan langkah berat kaki Mario berjalan membuka pintu.
"Kenapa you kok nangis,eh ada Riko?".Kata Tiny yang mencari cari keberadaan Riko,lalu Tiny melihat Mario sedang mengusap air mata.
"Dia enggak ada".Jawab Mario lirih dengan suara nyaris tidak terdengar,lalu Mario duduk sembari termenung tidak perduli Tiny yang sudah mengambil sebatang rokok didalam tas usangnya,Tiny menyalakan pemantik dan menyesap sebatang rokok tersebut.
"You kenapa sih?,kok sedih gitu".Suara falset menyerupai perempuan dengan heran saat menghisap sebatang rokok. Tiny mengambil duduk disebelah Mario.
"Riko berkhianat".Jawab Mario singkat dengan tangan memilin bawah baju yang iya kenakan,Tiny terkejut dan diam sejenak sembari menikmati lagi nikotin tersebut.
"You tau dari mana?, eyke tau Riko cowok enggak beres,you bandel sih dibilangin" Sambung Tiny sembari mengepulkan asap rokok dan mengeluarkannya dari dalam mulut.
"Aku lihat kepala mata sendiri Tin,aku benci dikhianati" Kata Mario dengan suara bariton dengan wajah dipenuhi amarah.
"Jadi sekarang mau you apa?,udah cari yang lain saja Maria,lupakan saja dia" Tukas Tiny membuat Mario melirik saja dan berfikir keras.
"Namaku Mario,jangan panggil aku lagi Maria,aku mau pergi dari sini" Kata Mario dengan nada putus asa dan mata yang mulai mengembun kembali.
__ADS_1
"Eyke tau nama you Mario cong,nih rokok biar sakit you hilang".Tiny menyodorkan sebungkus rokok dari dalam tasnya yang iya selempangkan dibahu.
"Udahlah cong jangan dipikirin".Tiny geleng kepala dan melipat kakinya duduk bersila disamping Mario.
"Kek mana enggak kupikirkan,aku enggak mau disini !, aku mau pergi dari sini,aku mau bertobat Tin,aku mau jadi laki laki sejati cari istri,aku ingat pesan almarhum Ibuku" Sahut Mario dengan suara gemetar.
"Apa...!!,Eyke enggak salah dengarkan,you banci asli,apa bisa You berubah,ah kek nya you salah makan obat Mar".Sambung Tiny dengan menepuk jidatnya.Mario diam saja tidak menjawab omongan Tiny.
Tiny jadi ikut bersedih tentang apa yang dirasakan Mario,Tiny juga tau pesan dari Ibu Mario yang ingin Mario menikah dan hidup bahagia.
"Eyke jadi sadar you harus bertobat Mar,eyke dukung,mungkin ini teguran untuk you".Kata Tiny lagi dengan menghembuskan sisa asap terakhir dari rokoknya.
"Dengaren kamu bicara gitu, apa kamu mau tobat juga Tin?".Sahut Mario lalu duduk dan mengusap airmata,Tiny terdiam sejenak dengan berfikir.
"Masih banyak yang mau harus eyke biayain Mar,you sebatang kara sedangkan eyke" Tiny tidak melanjutkan lagi pembicaraan karena sebenarnya Mario tau kehidupan Tiny yang berat,demi menghidupi adik adiknya, Tiny rela jadi Waria hanya untuk menafkahi adik adiknya.
"Duit aku habis Tin, terpaksa aku cari duit buat pergi dari sini" Sambung Mario lagi dengan mata sayu.
"Eyke bantu you Mar,besok kita ngamen cari duit banyak banyak,you maukan?" Kata Tiny dengan tersenyum sembari mematikan rokok kedalam asbak.
"Kamu sahabat yang baik Tin,trima kasih ya"
Kata Mario dengan tersenyum,dihatinya mengalir secuil semangat untuk melanjutkan hari esok berkat perkataan Tiny barusan.
"Eyke dapat orang baik tadi,dia mau kasih tips eyke lima puluh ribu Mar" Kata Tiny menghitung uang pecahan sepuluh ribu.
__ADS_1
"Banyak banget, biasanya dapat dua puluh ribu".Sahut Mario tersenyum saat melihat Tiny fokus dengan uangnya.
"Udah azan subuh kita tidur yuk".Tukas Tiny berdiri dari duduk,Tiny heran dan melihat kasur diluar rumah,sementara pintu rumah masih terbuka.Sedangkan Mario masih saja duduk dan malas melangkah,rasanya badan Mario serasa berat sekali.
"Aduh Sudah gila kamu buang kasur,cari duit susah malah kamu buang ini kasur,mending you kasih ke eyke" Tiny merepek sambil membawa kasur masuk kedalam rumah.
"Kita tidur dilantai aja,aku enggak mau tidur diatas itu ,itu bekas Riko!!".Sungut Mario kesal melihat Tiny sudah melentangkan kasur disamping ruang tamu rumah.
"Udah begadang, tidur dilantai you gila?,eyke enggak mau, serah you mau tidur dilantai" Sambung Tiny yang sudah duduk diatas kasur dan merapikan kain sprei.
"Huh".Gerutu Mario dengan bibir mengerucut panjang,Tiny hanya tersenyum dan geleng kepala.
"Ini subal you,kok dibuang Maria?".Kata Tiny dengan heran,Tiny tau kalau Mario lagi kesal pasti menghancurkan rumah kardusnya,apalagi saat ini Mario memang lagi kesal kesalnya kepada Riko sisupir angkutan umum tersebut.
"Jangan panggil lagi aku Maria".Kata Mario dengan kesal lalu mengambil tempat dilantai menidurkan tubuhnya ini.
Tiny tidak lagi perduli dengan ucapan Mario mungkin dia sudah lelah,mata Mario melihat Tiny sudah memejamkan mata,Tiny memang sering tidur dirumahnya saat tiada Riko jadi dia sudah terbiasa tidur dirumah kardus ini.
"Hah".Mario menghembus nafas panjang memikirkan nasibnya,Mario menoleh lagi wajah Tiny yang sudah terlelap,mereka sudah lama bersahabat sebelum Mario mengenal Riko.
"Enggak bisa tidur ah".Kata Mario pelan sambil terbaring dan memutar badan miring kearah pintu rumah,Iya coba memejamkan matanya supaya besok bisa bekerja dan mengumpulkan uang,dalam hati iya bertekad untuk pergi dari kota ini.
"Ibu".Bibirnya memanggil nama itu mungkin rasa sesak yang Mario alami saat ini,Mario ingat lagi wajah ibu dan ucapan ibu yang menyuruhnya segera menikah.
"Bu apa bisa aku mencintai wanita?,ibu kamu enggak tau aku ini waria,maaf Bu".Katanya sendiri dengan suara bergetar seraya ingin menangis,Tiny tidak sadar karena dia sudah terlelap.
__ADS_1
"Ya Allah Mario ingin ikuti ucapan Ibu"Katanya dengan suara lirih dengan mata sayu,lalu kristal air bening itu jatuh dikedua pipinya.Dengan berat hati Mario coba memejamkan mata walau dada iya serasa ada yang menghimpit seperti tertimpa batu padas yang besar,sesak sekali.
bersambung*