
Dedaun yang mengembun basah tersapu oleh sinar mentari,jarum jam menunjukkan pukul tujuh pagi,Mario tidak bisa tidur memikirkan kejadian semalam tentang Rena kakak sepupunya itu.
Syukur saja hari ini Mario tidak kerja karena dapat libur jadi iya bisa menemani Rena yang dilema,dari tadi malam Mario terus mendengar tangisan Rena didalam kamarnya,Tetapi Mario hanya diam tidak ingin mengganggu sepupunya itu.
Kini Mario membuka pintu kamar dan berjalan kearah dapur untuk memasak mie instan dan telur ceplok.Biasanya suara Rena yang memanggil Nama Mario untuk mengajak Mario sarapan,tetapi hari ini tidak ada lagi.
"Sreng sreng"
Dengan teliti lengan Mario memasak dua porsi sekaligus,siapa tau Rena juga lapar karena tadi malam dia tidak makan apa apa. Apalagi kondisi Rena sedang tidak stabil dan ditambah lagi istri Jimmy melabraknya semalam dan menyebut Rena pelakor didepan rumah Rena sendiri, pasti sekarang wanita itu amat malu serta frustasi.
"Tok tok tok"
"Mbak Rena, ayo sarapan mbak?" Ucap Mario sembari membawa satu porsi mie instan dan telur ceplok. Tetapi sampai menunggu lama Rena juga tidak membuka pintu.
"Tok tok tok "
"Mbak oh mbak" Kata Mario sekali lagi didepan pintu kamar Rena. Mario menjadi cemas karena Rena belum juga membukakan pintu untuknya. Dengan perasaan gelisah tangan Mario membuka pintu kamar Rena yang tidak terkunci.
"Mbak,Mbak kenapa?!" Tukas Mario lagi saat melihat Rena berbaring entah pingsan entah kenapa,kakinya Mario berjalan cepat menuju ranjang dan memeriksa kondisi Rena.
"Dia demam tinggi,aduh harus gimana ini?" Mario bicara dengan sangat kebingungan.
Lalu Mario melangkah keluar rumah mencari pertolongan dengan rasa panik,Mario takut Rena kenapa kenapa karena dia satu satunya keluarga Pemuda ini walaupun mereka cuma sepupuan.
"Mawar bantu saya bisa?" Tanya Mario saat melihat Mawar yang sibuk menyiram bunga disamping rumahnya.
"Ada apa bang?, mana tau Mawar bisa bantu?"
Balas Mawar dengan wajah penasaran.
"Mbak aku sakit dia pingsan, aku bingung harus bawa dia kemana,kerumah sakit aku enggak tau maklum baru mau sebulan tinggal disini" Balasnya dengan penuh kecemasan.
Maryam mendengar suara Mario seketika dia keluar dari pintu depan rumah,Mawar tertunduk dan takut ketika Maryam datang dengan wajah masamnya dan penuh kebencian.
__ADS_1
"Mawar masuk kamu !" Ketus Maryam dengan wajah penuh amarah,membuat Mario terdiam berdiri mematung disamping rumah.
"Iy-iya ibu"
Jawab Mawar terpaksa mengikuti kemauan ibundanya dan tidak melanjutkan tugasnya menyiram bunga.
"Jangan minta tolong pada kami, kami tidak sudi menolong janda itu !" Ketus Maryam berbicara dengan Mario.
"Apa salah mbak Rena bu, sampai ibu segitunya pada kami?" Balas Mario dengan rasa kesal,tetapi iya coba tenang dan tidak mengambil hati omongan Maryam barusan.
"Tanya saja sama janda itu, namamu Mariokan?kamu lagi jangan dekat dekat anakku lagi,aku tidak sudi punya tetangga pelakor !" Sungut Maryam sembari pergi begitu saja.
"Hah ..."
Hidung Mario bernafas panjang dan kakinya berjalan lemas masuk kedalam rumah,kepada siapa lagi Mario meminta tolong sementara iya baru tinggal dikota ini,Iya tidak mempunyai teman banyak.
Lalu dengan rasa sesak dan berat Mario kembali lagi kedalam kamar untuk memeriksa keadaan Rena.
"Sabar ya mbak,Mario akan cari bantuan" Lirih Mario sembari melihat Handphone hendak menelpon seseorang.
"Alamatnya aku share lokasi saja ya Des" Kata Mario disaat menelpon Desy dan setelah itu Mario menutup telpon.
"Panas banget badan mbak Rena, malah enggak sadar lagi,duh..." Gumam Mario lagi dengan sangat cemas dan berdoa supaya Desy cepat datang.
Beberapa menit kemudian
"Tok tok tok"
"Mario ini aku"
Suara Desy terdengar Mario dari luar pintu rumah,lalu dengan langkah cepat Mario membuka pintu dan melihat Desy berdiri sambil tersenyum.
"Dimana mbakmu itu?" Tanya Desy langsung masuk kedalam rumah dan Mario membawanya masuk kedalam kamar pribadi Rena.
__ADS_1
"Badannya panas banget,dia pingsan" Tukas Mario dengan wajah sedih.
"Eh tahe,udah gawat gini baru kau kabari aku Mario, kayaknya udah lama dia pingsan, udah kau susun pakaian mbak ini biar kita gotong dia kedalam mobilku" Titah Desy sembari merapikan pakaian yang dikenakan Rena.
"Baik Des" Balas Mario sembari membuka lemari dan mencari beberapa pakaian Rena dengan buru buru.
"Kau gendong saja mbakmu itu, kalau panggil ambulance makan waktu Mario, biar aku saja yang kunci rumah ini" Tukas Desy yang sudah membawa tas besar berisikan pakaian Rena.
Mario menuruti ucapan Desy dan menggendong Rena gaya beridal style,sampai digerbang rumah mata tetangga melihat kami dengan rasa jijik mungkin akibat kejadian semalam.
"Duh pelakor sakit ya,kena karma itu mangkannya jangan rebut suami orang Hahaha" Tukas tetangga sebelah yang lagi ngumpul didepan rumah.
"Iya kena karma tuh, mangkannya jangan suka menggosipin anakku,iyakan ibu ibu" Sambung Maryam dengan nada mengejek.
Langkah ini terhenti sekelak walau tangan terasa berat menggendong tubuh Rena,langkah Desy berhenti didepan gerbang rumah dan melihat sejumlah wanita setengah baya mencibir Rena.
"Yang enggak adanya adat kalian?,atau enggak sekolahnya kalian?,udah tau orang sakit bukan kalian berdoa biar cepat sembuh,kok malah kalian tambahi beban !" Sungut Desy dengan mengepal tangan geram.
"Desy biarkan saja ayo jalan" Sambung Mario dan berjalan menuju simpang gang rumah.
"Huh"
Sungut Desy dan buang muka kepada Maryam beserta teman temannya,Mawar melihat Mario dan Desy melintas didepan rumahnya,ingin sekali gadis ini menolong tetapi ada Ibunya yang tidak suka kepada Rena.
Mario meletakkan tubuh Rena dibangku tumpangan belakang,setelah itu Mario masuk dan memangku kepala Rena didalam mobil,disusul Desy yang sudah menghidupkan kunci kontak mobil dan melajukan mobil menuju rumah sakit.
Sesaat kemudian mobil Desy sudah terparkir didepan rumah sakit, "Suster" Suara Mario memanggil saat didepan ruang instalasi gawat darurat,terlihat beberapa suster berjalan cepat sembari membawa brankar rumah sakit.
Pintu ruangan ditutup sewaktu dokter jaga masuk dan memeriksa keadaan Rena,hati Mario semakin bingung dan terduduk lemas didepan ruangan dimana Rena diperiksa.
Desy duduk disamping Mario entah kenapa gadis itu mengenggam jemari kanan Mario dengan erat,Mario menolehkan wajah melihat wajah cantik Desy dan melirik lengan kanannya yang digenggam erat oleh jemari Desy.
"Sabar ya,sepupumu pasti baik baik saja" Tukas Desy dengan tersenyum manis,Mario membalas senyum dan membalas juga genggaman tangan Desy,didalam lubuk hati Mario tersimpan getaran untuk Desy tetapi Mario belum tau itu rasa suka atau kagum saja.
__ADS_1
Bersambung*
Jangan lupa komennya say,like nya juga boleh