
"Banyak wanita yang jadi korban cinta ada yang nekat minum racun serangga, betol enggak betool enggak betooollolol Ahai"
Suara falset Tiny dengan mikropon ditangan, Ya Mereka sedang mengamen siang ini kebeteluan matahari sangat terik,Mario dan Tiny bergantian mengamen disetiap warung bahkan diterminal juga.Saat ini mereka ngamen diwarung nasi yang mulai ramai pengunjung,Tiny masih saja meliukkan pinggul sambil bernyanyi.
"Hei jangan ngamen disini, pelangganku bisa terganggu tau !".Sungut seorang pria tua dan mendorong mereka berdua keluar dari warung tersebut,beberapa mata hanya tersenyum dan beberapa mencibir,lalu mereka berbisik bisik didepan Mario dan Tiny.
"Ih Pelit amat,eyke cari duit Bang".Sungut Tiny dengan wajah kesal dengan tangan membawa mikropon,sedangkan Mario berdiri diam membawa ledspecker besar.
"Om om enggak malu laki laki pakai gincu Hahahah".Suara anak laki laki tertawa keras dan menunjuk muka mereka berdua,anak laki laki tersebut makan diwarung itu dengan kedua orang tuanya.
"Ssst diam kamu".Sambung wanita yang duduk disebelah anak yang mencerca Mario dan Tiny itu,tampaknya iya ibu dari anak tersebut.
"Cih ayo pergi".Ujar Tiny dengan wajah memerah dan menahan malu,begitu juga dengan Mario yang sudah pasang wajah sangar kepada anak tersebut,Anak itu jadi terdiam dan menunduk takut kepada Mario.
"Udah cuma anak anak".Kata Tiny dengan menarik lengan Mario mengajaknya pergi dari warung itu,selain dilarang ngamen disitu mereka berdua juga mendapat hinaan walaupun dari seorang anak kecil,rasanya dada mereka tidak terbilang sakitnya,anak kecil itu mungkin ada benarnya karena mereka memang menentang kodrat sang pencipta.
"You dapat berapa mari kita kumpulkan".Kata Tiny dengan duduk diatas rel kereta api tempat biasa mereka menghitung uang hasil ngamen,tadi pagi mereka sempat berpencar ngamen,siang harinya mereka berdua lanjut mengamen setelah jam makan siang usai.
"Seribu,sepuluh....".Tiny fokus mengira hasil pendapatan,sedangkan Mario hanya melihat dengan menghitung sendiri didalam hati.
"Berapa Tin?".Tanya Mario saat Tiny selesai menghitung uang recehan itu,wajah Tiny berfikir dan kerut alis,Mario tau maksud Tiny melihatnya dengan wajah sedihnya.
"Cuma seratus ribu Mar,ini kurang untuk ongkos you kekota sebelah".Jawab Tiny dengan hembus nafas panjang.Mario terdiam sejenak dan memikirkan tambahan ongkos buatnya nanti.
"Eyke punya cincin emas Mar, you jual aja kepasar,eyke dukung you pergi kalau untuk kebaikan you" Ucap Tiny hendak membuka cincin emas yang berada dijari manisnya.
Mario terkejut dengan ucapan Tiny barusan,karena Mario tau itu cincin kesayangan Tiny,dengan susah payah Tiny membeli emas tersebut walaupun cuma satu gram tapi itu sangat berharga bagi Tiny.
"Enggak,Aku enggak mau nyusahi kamu Tin, lagian itu barang kesayangan kamu, aku enggak mau nyusahi kamu lagi Tin".Balas Mario lagi dengan memegang tangan Tiny yang ingin membuka cincin emasnya.Tiny seakan tau maksud Mario melarang membuka cincin tersebut dijari manisnya.
__ADS_1
"Harta bisa dicari Mar tapi teman kayak you susah eyke dapat, anggap aja eyke kasih pinjam ke you,kalau you sukses balikin sama eyke" Sambung Tiny dengan mata mulai mengembun.
"Kamu sahabatku yang terbaik Tin, aku enggak akan lupa jasa kamu ini, kalau aku sukses dapat istri aku janji Tin,temui kamu duluan dikota ini".Balas Mario langsung memeluk tubuh Sahabatnya tersebut dengan rasa haru sekali.
"You jangan buat eyke sedih,eyke ikhlas bantu You,nih ambil Mario" Ucap Tiny lagi melepas cincin emas dijari manisnya setelah melepas pelukan kepada Mario.
"Ayo kita jual,setelah itu kita pulang kumpulin baju you" Kata Tiny beranjak dari duduk,Mario menurut dan mengikuti Tiny berjalan kaki kearah pasar besar.
Matahari yang masih meninggi membuat kulit Mereka terasa menyengat panas,apalagi mereka jalan kaki menuju toko emas dipasar besar,suara klakson serta suara mesin kendaraan terdengar riuh dipasar langsung memekikkan telinga.
"Ayo Mar capcus,lambreta you".Kata Tiny langsung menarik lengan kanan Mario menuju toko emas,dalam hati Mario sangat bangga mengenal Tiny dia seperti Ibu Mario, disaat iya terpuruk Tiny selalu menemaninya.
Kini Tiny mengeluarkan surat emas dari dalam tas selempangnya yang mulai usang,Mario sangat kasihan melihat tas kepunyaan Tiny,tas itu sudah rusak bagian resletingnya Tiny memberi pengait atau cemiti supaya mulut tas tetap tertutup.
"Aku janji Tin,aku akan membeli tas baru untukmu".kata Mario membatin sedih didalam hati,Mario menahan air matanya Dan kini iya melihat Tiny tersenyum puas saat menerima uang banyak dari pemilik toko emas.
"Ini Mar,ayo kita susun baju kamu".Kata Tiny yang berbicara dengan wajah penuh semangat membuat Mario jadi terharu,Mario diam saja dengan menerima uang dari tangan Tiny,Lalu Mario simpan didalam saku celananya.
"Halo Mario,Tono, baru pulang ngamen ya?"Suara wanita tua dari sebelah rumah Mario,mereka berdua tau siapa yang berbicara tadi, dia adalah wanita pemulung yang berumur lima puluh tahun,dia juga tetangga Mario bernama Bibi Suci.
Bibi Suci tidak pernah memanggil Mario dengan nama waria,membuat Tiny kesal.Kini wanita tua itu berjalan mendekati mereka dengan senyum khasnya dan mulut tanpa gigi membuat lebih tua dari umur sesungguhnya.
"Dasar wak Ompong, apa enggak You lihat kami mau masuk kerumah".Balas Tiny kesal dan masuk saja kedalam rumah.
"Masuk sini Uak".Kata Mario dengan tangan mengambil tas ransel yang besar diatas lemari kecil.
"Mau kemana?,kenapa nyusun baju?".Tanya wanita tua tersebut dengan kernyit dahi.
"Mau merantau lah,enggak perlu you tau"Tukas Tiny dengan nada geram,tampaknya Tiny sentimentil dengan wanita tua yang berdiri didepan pintu.
__ADS_1
"Bah, aku bukan tanya kamu,aku tanya Mario, kok kamu yang jawab".Sungut wanita tua itu dengan dengus nafas kesal.
"Tiny sudah deh,Uak aku mau merubah nasib sekalian cari istri lho" Sahut Mario sambil sibuk memasukan semua pakaian kedalam tas.
"Apa....,aku enggak salah dengar?".Sambung wanita tua itu dengan nada terkejut,tentu saja dia terkejut karena dia paham betul Mario itu siapa.
"Mana ada perempuan mau sama kamu, jangan mimpi Mario ahahaha.."Ucap wanita tua itu lagi dengan tertawa cekikikan membuat Tiny jadi marah,Sedangkan Mario hanya diam mengumpat wanita tua itu.Dia memang nyeplos kalau bicara itu yang membuat Tiny tidak memyukai wanita tua tersebut.
"Insya Allah ada".Kata Mario dengan wajah memerah dengan mengerucutkan bibir,perkataan Mario membuat wanita itu berhenti tertawa.
"Mending You urus sampah dirumah,dari pada gangguin kami berdua".Kata Tiny dengan nada lentiknya dan melirik wanita tua itu dengan rasa jijik.
"Hahahahahaha".Wanita itu balik tertawa membuat Mario dan Tiny jadi kesal setengah mati,lalu wanita itu tanpa kata pergi meninggalkan pintu rumah Mario,hanya suara tawanya yang masih saja terdengar.
"Enggak usah pusing mikirin wanita gilingan itu" Kata Tiny dengan nada menggeram dan memutar mata malas.
"Udah biasa lihat dia ngomong Tin, oh iya ini baju baju perempuan buat kamu Tin, aku enggak memerlukan ini lagi,ini juga ada makeup semalam baru aku beli, lipstik ini juga masih baru masih bagus Tin".Kata Mario lalu mengumpulkan barang tersebut.
"Wah makasih Mar".Dengan semangat Tiny mengumpulkan baju serta peralatan buat wanita yang pernah Mario pakai,Mario tidak memerlukan barang itu lagi, yang iya bawa sekarang didalam tas ransel hanya baju pria dan celana panjang jeans.
Jarum jam menunjukan pukul dua sore Mario dan Tiny cepat cepat bergegas kesebuah terminal,mungkin mereka takut ketinggalan Bus.Mereka berjalan sedikit menunggu angkutan umum.
Selang beberapa menit Mario sudah sampai disebuah terminal terlihat wajah Tiny yang sedih saat melihat Mario masuk kedalam Bus.
"Jangan lupa telpon eyke Mario !".Suara Tiny keras saat melihat Mario menaiki bus besar yang hendak berangkat.
"Eyke doakan you dapat istri Mario".Tukas Tiny sekali lagi dari luar bus,membuat Mario sesak tidak ingin meninggalkan sahabatnya itu,Mario sangat sedih sekali.
"Terima kasih Tiny".Kata Mario dengan suara gemetar tak kuasa melihat wajah Tiny yang kepanasan akibat paparan sinar matahari,tapi Tiny tidak perduli tetap melambaikan tangan kepada Mario.
__ADS_1
"Selamat tinggal kota Medan".Kata Mario bergumam saat bus besar itu melaju,Mario melihat kekaca jendela bus Tiny sudah enggak ada lagi dan berlalu pergi.
Bersambung*