
"Huek...huek...huek"
Sudah dua hari Mawar mual mual dipagi hari,terkadang dia juga pusing bahkan tidak selera makan,lalu gadis itu keluar dari kamar mandi dengan perasaan heran dan berfikir.
"Kamu masuk angin kali,sana minum obat" Titah Maryam yang sibuk memotong sayuran untuk dimasak,Maryam mendengar suara Mawar dari dalam kamar mandi.
"Iya bu" Jawab singkat Mawar langsung berjalan masuk kedalam kamar,lalu gadis itu mengambil Handphone miliknya dan melihat aplikasi kalender sembari berfikir keras.
**************Skip
Sementara dipagi hari ini Mario sudah tertidur disebelah brankar rumah sakit yang kosong,sedangkan Rena masih berbaring tidur dibrankarnya,tadi malam Rena sudah sadar tetapi tidak bicara sepatah katapun.
"Tok tok tok"
"Mario ini aku" Suara Desy dari luar ruangan ini,Desy yang mengambil ruang VIP untuk Rena,Mario tidak tau berapa biaya Rena diopname karena Desy yang melunasi biaya itu.
Kaki Mario berjalan cepat membuka pintu dan melihat Desy membawa dua bungkus makanan.Lalu mereka berdua duduk disofa dan Desy meletakkan bungkusan makanan diatas meja.
"Kau sarapan dulu,dari tadi malam enggak mau makan,nanti kau yang jadi sakit Mario" Tukas Desy sembari membuka bungkusan makanan.
"Des,kamu belum bicara soal biaya mbak Rena" Balas Mario dengan rasa tak enak dihati.
"Ssst,nanti didengar kakak sepupumu itu kau bicara pelan lah ah,enggak usah kau pikiri biayanya dulu yang penting dia sembuh" Jawab Desy dengan kerut dahi.
"Aku tak en---"
"Dah lah ah,macam orang lain aja kau anggap aku Mario,dah sarapan ayo" Ucap Desy yang memotong pembicaraan Mario.
"Huff"
Mario menarik nafas panjang dan menuruti kemauan Desy untuk sarapan,betapa malunya Mario sebagai seorang Pria didepan Desy karena tidak punya apa apa,tetapi karena keadaan nasibnya yang tidak mujur ini dia terpaksa diam saja.
"Jimmy...jimmy.."
Suara Rena dengan lemah saat membuka mata,Mario dan Desy berhenti makan mendengar suara Rena yang mengigau.
__ADS_1
"Hei dari tadi malam dia manggil nama cowok itu,apa dia suami mbak kau?,atau pacarnya?,apa sebaiknya kita panggil saja lelaki itu,nanti dia sakit karena lelaki itu?" Ucap Desy dengan segala pertanyaan yang membuat Mario semakin frustasi.
Harus gimana Pemuda ini menjelaskan kepada Desy bahwa yang iya maksud lelaki itu adalah suami orang,apa nanti tanggapan Desy kalau ternyata sepupu Mario ini perebut laki orang.Ah sungguh membuat Mario berat dan sesak didalam hati.
"Woi, ditanya diam aja" Kata Desy lagi dengan kerut dahi dan melihat wajah Mario termenung.
"Kita sarapan dulu Des,entar aku cerita" Jawabnya sembari melanjutkan sarapan yang sempat tertunda.
Rena tiba tiba duduk dengan wajah pucat,lalu mencabut infus dengan rasa geram,sebercak darah keluar dari tangan Rena karena memaksa mencabut jarum infus tersebut.
"Mbak...,apa yang kamu lakukan?" Tanya Mario terkejut dan menahan Rena yang ingin jalan keluar ruangan ini.Desy juga jadi heran dan menghentikan sarapannya lalu berdiri didepan berangkar Rena.
"Aku tau pasti Janda gila itu yang memberi tau istri Jimmy,Aku mau beri pelajaran sama janda itu !" Sungut Rena yang duduk diatas berankar.
"Mbak tolonglah istriahat dulu,mbak masih sakit dokter bilang mbak butuh istirahat" Balas Mario yang mencoba membaringkan Rena kembali diatas brankar.
"Aku tidak mau mario !, awas tangan kamu" Sungut Rena dengan wajah marah dan menangkis tangan Mario.
"Aku panggil suster" Kata Desy yang dari tadi diam karena tidak tau masalah Rena apa. Desy langsung keluar ruangan.
"Huhu.."
Rena mulai menitiskan air mata karena serasa sesak didalam hatinya,baginya Jimmy adalah penopang hidupnya karena selama ini memang segala kebutuhan Rena ternyata Jimmy yang menanggulangi. Entah gimana kalau Jimmy tidak mau berhubungan lagi dengan Rena sementara Istri Jimmy sudah melabraknya tempo hari.
Suster datang dan geleng kepala melihat Rena yang begitu nekat mencabut paksa jarum infus ditangannya,Suster itu langsung memasang kembali infus dengan mencari urat nadi yang baru dipergelangan tangan Rena.
"Ayo biar suster aja yang jaga dulu" Kata Desy sembari menarik lengan Mario untuk keluar dari ruangan VIP.
"Kita kemana Des?" Tanya Mario yang masih risau memikirkan Rena.
"Cari tempat yang enak buat duduk,ayolah" Kata Desy yang masih menggengam tangannya dan berjalan kearah taman rumah sakit.
Sudah dua kali gadis ini menggenggam tangan Pemuda ini dan entah kenapa Mario diam saja seakan suka dengan perlakuan Desy,baru kali ini hatinya dan jantungnya berdetak kencang kalau didekat Desy. Mario belum bisa menentukan perasaan suka atau cinta untuk Desy.
"Hei diam saja terus,sini duduk" Tukas Desy yang mengambil tempat duduk diatas kursi kayu dekat taman bunga rumah sakit.
__ADS_1
"Segar ya disini" Kata Mario yang sudah tersenyum dan duduk disamping Desy.
"Aku heran sama sepupu kau itu, coba bicara padaku kenapa dia kek gitu Mario?".Tanya Desy dari tadi penasaran soal Rena.
Hati Mario tidak mau ini jadi beban apalagi Desy terus bertanya soal itu dan dengan terpaksa iya menceritakan soal Rena dilabrak istri Jimmy,Mario tidak perduli lagi Desy menilai apa tentang Rena.
"Berat juga Aku tidak tau mau ngomong apa soal itu Mario,ya sudah jangan kau pikirin lagi,yang penting dia sembuh dulu" Tukas Desy sembari melihat Mario dengan tatapan penuh arti,Mario bisa bernafas lega karena jawaban Desy hanya itu.
Mario juga jadi salah tingkah tidak berani melihat tatapan Desy dari dekat,jantungnya terus memompa kencang entah perasaan apa ini.
"Hei diam lagi" Tukas Desy lagi sembari mencubit hidung mancung Mario dengan mesra.
"Aku bingung mau bicara apa lagi" Jawabnya sembari menoleh kearah jalanan karena tidak mampu lagi melihat wajah cantik Desy dari arah dekat.
"Ih ngomong lihat aku tau" Tukas Desy sembari memutar kepala Mario untuk melihat wajah Desy.
Kedua bola mata mereka bertemu seperti magnet dan tiba tiba wajah mereka mulai menyatu satu inci lagi bisa berciuman,Tidak pernah Mario rasakan gejolak ini saat berhadapan duduk berdua dengan Desy.
Desy mungkin tidak sabar lagi secara perlahan dia mengambil kesempatan mencium bibir Mario dengan lembut,Mario terpaku dan memejamkan mata merasakan kelembutan bibir Desy,syukur saja tempat ini sepi kalau tidak mungkin sejumlah orang akan mencerca mereka yang sudah berciuman.
Gadis ini sangat lihai berciuman kini lidahnya sudah menerobos masuk kedalam liang mulut Mario dan memainkannya secara lembut membuatnya terasa terbang diatas awan,seperti ada yang mengalir didalam darahnya karena baru kali ini iya rasakan.
Dua kali gadis ini mencium Mario dan dua kali juga iya bisa merasakan bibirnya yang rasa Vanilla ini,perlahan Mario mulai menekan kepalanya seakan tidak ingin mau kalah dan mulai berani membalas dan mengkaitkan lidahnya dengan lidah Desy.
"Eugh.."
Desy melenguh kecil saat lidah Mario berhasil menerobos masuk dan Membalas lebih dari apa yang iya buat tadi.
"Mario"
Lirih Desy dengan suara lembut saat melepas ciuman dan Mario melihat pipinya yang merona malu, tanpa kata jadian tanpa kata ikrar mereka berciuman entah apa yang merasuki mereka berdua.
Bersambung*
Jangan lupa like and komen
__ADS_1