KISAH WARIA BERTAUBAT

KISAH WARIA BERTAUBAT
Episode 56


__ADS_3

SATU BULAN KEMUDIAN


Mario sudah menantikan hari ini dimana dia akan terbang kesebuah propinsi dimana Desy menunggunya disana,Propinsi itu juga yang pernah iya Huni dan dilahirkan dibawah jembatan sebuah rumah petak berdindingkan kardus,Ya Mario akan kembali ketempat dimana masa lalunya yang pahit akan iya datangi saat ini juga,kini Pemuda ini sudah didalam bandara untuk menunggu panggilan nomor antrian pesawatnya dengan ditemani Rena.


"Kau tidak apa apa kan Mario balik lagi ketempat itu?,mbak khawatir banget kabari mbak ya kalau udah sampai" Wajah Rena sangat cemas memikirkan jika Mario sampai ditempat itu.


"Aku akan hubungi mbak,jangan khawatir gitu aku jadi takut kesana kalau wajah mbak seperti itu" Balas Mario dengan wajah sedih dan duduk disamping Rena.


"Hati hati ya" Kata Rena lagi sembari mengelus pucuk kepala Mario seakan tidak rela untuk melepas Mario begitu saja,didalam kalbu Rena paling dalam tersimpan sebuah ketakutan takut kalau Mario akan kembali lagi seperti dulu memakai baju wanita dan hidup tidak normal lagi,sungguh perbuatan Rena yang susah payah merubah Mario terlihat akan sia sia saja.


"Mbak senyum dong" Titah Mario saat mendengar panggilan nomor pesawatnya dan berdiri dihadapan Rena yang Masih tak rela dengan kepergian adik sepupunya tersebut.


"Iya mbak senyum,demi untuk ketemu dengan Desy mbak restui kamu kekota itu lagi" Sahut Rena dengan pura pura tersenyum dihadapan Mario.


Pemuda ini sudah menapakkan kaki diatas eskalator tangga karena pesawat akan berangkat dan terlihat tangannya melambai kearah Rena lalu wanita ini membalas lambaian tangan Mario dengan arti selamat tinggal mbak.Ow...,sungguh wajah Rena berubah seketika melihat Mario sudah menghilang dari penglihatannya mungkin sudah masuk pesawat dengan tujuannya. Menetes air mata Rena yang sedari tadi iya pendam tanpa dilihat Mario.


"Hati hati dek,mbak selalu doakan kalau Desy adalah jodohmu,susah payah aku merubah kamu jadi laki laki tulen,ah sesak banget rasanya jika kau kembali lagi kekota itu Mario" Gumam Rena sembari mengusap air mata dikedua pipinya.


**************


Sebuah rumah dinas berdiri gagah dan mewah dengan sejumlah pengawal mengawasi rumah tersebut,disalah satu kamar besar nan mewah duduk seorang gadis yang lagi melamun dengan kerinduan dihatinya,hatinya tersiksa dan sesak karena tepat tiga puluh hari dia tidak melihat wajah kekasihnya yaitu Mario.


Dan tiga puluh hari itu dia tidak memegang ponsel miliknya karena ditahan oleh Norma selaku Ibunya yang posesif terhadap anak gadisnya tersebut,Desy sudah tau kalau ternyata Parlin mengucapkan janji kepada Mario adalah palsu alias tidak benar,Lelaki itu bermain trik murahan menurut Desy supaya memberi harapan palsu pada Mario,Desy tidak tau diluar sana Mario akan tiba kerumahnya dan selama ini mereka tidak pernah komunikasi hanya sesekali Desy mencuri curi dari telpon rumah Menghubungi Rena atau Mario.

__ADS_1


Tok tok tok


Seseorang mengetuk pintu kamar Desy tetapi gadis ini tidak perduli dan pura pura tidak mendengar ketukan tersebut,Desy tetap duduk diatas ranjangnya sembari melipat kaki dan menopang dagu dikedua lututnya.


"Nona buka pintu ini bibi,tuan menyuruh anda makan nona" Suara seorang asisten rumah tangga menunggu Desy untuk membuka pintunya.


"Bilang saja bi,Desy enggak selera makan"Jawab Desy yang enggan membukakan pintu untuk semua orang,dia mengurung diri sejak tau kalau Parlin menipunya tentang hubungannya dengan Mario.


"Desy...!!,kau buka pintu ini,kalau kau tidak mau buka kami akan dobrak pintu ini !" Titah Parlin yang emosi karena terlalu lama membiarkan Desy dengan pendiriannya mengurung didalam kamar.


"Ckckc"


Gadis ini mengecap mulut kesal serta mendenguskan nafas karena mendengar ancaman Parlin,dengan jalan malas gadis ini membuka pintu kamar dan berbalik badan untuk naik keatas ranjang tanpa melihat wajah orang yang dibalik pintu.


"Aku enggak makan kalau belum melihat wajah Mario" Lawan Desy tanpa melihat lawan bicaranya dengan mata yang mengembun dan suara bergetar.


"Kau...." Parlin ingin melayangkan lengan kanan besarnya kepipi Desy seketika kepala Desy menunduk karena takut terkena tamparan tangan besar Parlin.


"Kau pikir dengan cara begini aku akan setuju merestuimu hah!,alangi ma teik !" Parlin dengan wajah marah langsung pergi dari kamar Desy.


Hah hancur sekali hati Desy melihat perkataan orang tua laki lakinya yang tetap kukuh pada pendiriannya dan buliran air mata langsung jatuh dikedua pipinya tanpa jeda dengan rasa sesak didalam hati Desy menerima kenyataan ini,cinta tidak direstui sangat menyayat hati dan pilu membuat perasaan tertekan dan ingin saja mati mengakhiri hidupnya didalam kamar sepi bisu ini.


Norma menutup pintu kamar Desy dengan wajah sedih karena anak gadisnya tetap saja keras kepala,lalu wanita setengah baya ini melihat suaminya yang sudah terduduk diatas sofa dengan wajah marah.

__ADS_1


"Kita ngalah aja pa,mama enggak mau Desy sakit udah berapa hari dia begitu terus,lesu kumuh dah kek orang gila" Tukas Norma sembari menarik nafas panjang dan mengeluarkannya dengan kasar.


"Kau ini kek mananya Norma,mau dikasih makan apa anak kita sama pemuda berandalan itu" Jawab Parlin dengan wajah yang masih tertutup emosi.


Satu orang Pria setengah baya datang dia selaku asisten pribadi Parlin dengan membawa secarik kertas,Parlin melihat asistennya dan mempersilahkan duduk diatas sofa.


"Ujang sudah kau dapatkan informasi siapa Pemuda itu?" Tanya Parlin dengan wajah tegas dan nada tegas tapi berwibawa.


"Ini Pak sudah saya cari informasi lengkap dari narasumbernya" Jawab Ujang sembari menaruh kertas diatas meja.


"Bacakan saja,aku malas membaca saat ini hatiku masih kesal mengurus anak gadisku yang keras itu" Titah Parlin sembari mengepalkan tangan.


"Nama pemuda itu Mario baskara,umur dua puluh tujuh tahun,pernah tinggal....." Ujang tidak memberanikan diri untuk melanjutkan tulisan tersebut,takut kalau Parlin mengamuk atau memukul meja.


"Tinggal apa?" Tanya Parlin tidak sabar menunggu asal usul Mario.


"Tinggal dibawah kolong jembatan tepatnya dirumah kardus Pak" Jawab ujang dengan gemetar dan menghembus nafas kasar.


"Apa rumah kardus?,apa anakku matanya udah buta?" Norma terkejut apalagi Parlin dengan wajah merah padam mendengar itu,walau begitu Parlin menyembunyikan malu atau rasa marah dihadapan Ujang.


"Lanjutkan" Titah Parlin lagi kepada Ujang yang masih fokus kepada kertas yang iya pegang itu.


Bersambung*

__ADS_1


__ADS_2