
Rena terkejut saat melihat Mario dengan tatanan rambut bergaya korea,hidung yang mancung serta rahang yang tegas menambah lagi kejantanan Mario,kini Mario berdiri mematung depan salon bersama Rena yang melontarkan senyum untuknya dan baru kali ini Mario melihat lagi senyum indah Rena dengan kedua lesung pipinya.
"Tampan banget kamu Mario, aku enggak sangka" Ucapan Rena,membuat Mario melayang,iya jadi tambah semangat merubah penampilannya saat ini.
"Makasih mbak,baru kali ini ada orang bilang aku ganteng" Sahut Mario dengan nada malu malu dan menaikkan alisnya yang tebal.
"Sekarang yang harus kau rubah sikap dan tingkahmu yang feminim itu Mario, aku yakin kamu bisa sembuh" Sambung Rena yang berada berdiri dihadapan Mario.
"Iya mbak Mario usahakan".Sahut Mario dengan wajah tegas seakan akan mulai saat ini iya harus berubah.
"Ikuti aku".Kata Rena dengan tangan menarik jemari Mario menuju kesebuah tempat.
Selang beberapa menit Mario dan Rena sudah sampai didepan toko baju pria,Rena dengan semangat masuk kedalam toko bersama Mario,ternyata dibalik kata katanya yang pedas dan wajahnya yang datar wanita itu tidak pelit.
Dia memborong semua pakaian laki laki yang Mario butuhkan dari mulai sabuk pinggang, serta bagian celana dallamm Rena juga memilihkan untuk Mario.
"Pasti kamu macho pakai ini".Kata Rena saat melihat dalamann yang cukup menguras kocek disaku celana.
"Mbak ini mahal".Sambung Mario melihat bandrol harga yang tertera dicelana tersebut,Rena tidak menghiraukan kata kata Mario barusan,malah membeli lima sekaligus kain segi tiga buat Mario.
Mario Berfikir dari mana uang Rena sebanyak itu?,padahal mereka tinggal dirumah yang sederhana sejuta pertanyaan itu terlintas dipikiran Mario,kalau Mario sekarang bertanya waktunya tidak tepat.
Kini mereka berdua sudah keluar dari toko baju setelah itu Mario dan Rena menunggu mini bus dijalan.Mini bus itu melintas tepat dihadapan mereka berdua tanpa mengulur waktu mereka masuk kedalam mini bus itu.
"Sini bang".Suara Rena saat mini bus melintas didepan rumahnya,Mario langsung turun dibarengi Rena juga yang turun dari dalam mini bus tersebut.
Mawar yang tadi sibuk dengan kucing kesayangannya membelalakan mata saat melihat Mario yang berubah penampilan,apalagi kulit putih gading milik Mario yang dibalut kaos merah lengan pendek membuat iya semakin keren.
"Bang Mario ya,udah persis oppa oppa korea,tampan aja bang" Suara Mawar dengan nada manja dan melihat Mario tanpa menoleh ketempat lain.
__ADS_1
"Bisa aja Mawar,kamu lagi ngapain?"Tanya Mario dengan nada bariton dan berdiri layaknya lelaki tulen.
"lagi bersihkan bulu sibella bang,bella baru aja mandi" Jawab Mawar yang kini berdiri didepan pagar rumah Rena.
Rena dengan wajah sangar menarik lengan Mario dan membawanya masuk kedalam rumah.Gadis itu bibirnya mengerucut karena Mario hilang dihadapannya tanpa kata kata lagi.
"Kan sudah mbak bilang jangan dekat dekat,apalagi omongan !" Sungut Rena dengan wajah kesal berdiri didepan pintu, sementara Mario berdiri ditembok dekat kamar utama.
"Ih dia negur aku duluan mbak, enggak mungkin aku diam entar disangka dia aku orangnya sombong" Jawab Mario dengan tersenyum kepada Rena.
"Udahlah terserah sama kamu aja,aku mau mandi ini udah sore,aku mau kerja" Ketus Rena langsung masuk kedalam kamarnya.
"Yang bencikan simbak,kenapa aku harus ngikuti musuhin Mawar,cewek itu enggak ada salah" Gumam Mario dengan kaki berjalan kearah kamar.
Mario masuk kedalam kamar dan membuka celana panjangnya menggantikan dengan celana pendek,iya rebahkan tubuhnya diatas kasur supaya rasa capek sehabis beraktifitas menjadi ringan.
"Mawar".Gumam Mario saat gadis itu berada dijendela rumahnya,entah kebetulan atau apa jendela rumah mereka berhadapan membuat Mario dan Mawar bebas berkomunikasi apalagi jarak jendela tidak begitu jauh,karena rumah rumah disini hampir berhimpitan.
Mawar membungkuk dijendela sembari tersenyum manis kepada Mario,mata suci Mario ternodai karena tidak sengaja melihat gundukan besar sepertinya sangat kencang, disertai bintilan kecil yang berwarna pink muda tersebut.
"Buju busyet kenapa enggak pakai bra"Kata Mario didalam hati dan masih melirik sesekali dada cantik kepunyaan Mawar.
Mawar semakin membungkukkan tubuhnya membuat kedua bukit itu terlihat sangat jelas,Mario baru menyadari sepertinya gadis itu sengaja menggoda dirinya.
"Kok melamun bang?".Tanya Mawar dengan suara serak dan pelan tetapi Mario masih bisa mendengarnya.
"Oh enggak apa apa".Jawab Mario yang sudah memutar mata melihat wajah Mawar tanpa melihat kebawah,Gadis itu tidak tahu walaupun dia pamer keindahan dua bukit kembarnya tetap saja senjata Mario ini tidak akan bisa naik.
Ya Senjata yang jadi kebanggan setiap kaum Adam pasti berdiri saat melihat kepunyaan wanita apalagi wanita itu cantik. Berbeda dengan Mario,mungkin seumur hidup senjata ini tidak pernah berdiri tegak dan mati rasa atau mungkin karena trauma yang iya alami dulu.
__ADS_1
"Bang nanti malam jalan jalan yuk".Ajak Mawar yang melihat wajah Mario dengan penuh arti.
"Jalan jalan kemana?".Tanya Mario dengan melontarkan senyuman manis untuk Mawar.
"Duh ini cowok lugu apa gimana sih,enggak peka amat,syukur dia tampan kalau enggak malas deh ajak jalan" Mawar membatin dan berharap Mario mengerti maunya.
"Serah abang nonton kek,apa kek".Jawab Mawar dengan wajah penuh harapan.
"Gimana ya?".Sambung Mario dengan berfikir keras,Mawar tidak tau kalau Mario enggak punya sepeser uang,karena Mario tidak mau lagi menyusahkan Rena.
Enggak mungkin Mario pinjam uang Rena,Mario enggak mau jadi peminta minta,apalagi iya udah terbiasa cari uang sendiri walau dulu caranya salah.
"Mau apa enggak bang?".Tanya Mawar yang mulai kecewa melihat Mulut Mario diam saja sambil berfikir.
"Anu gimana ya,abang belum gajian, nanti kalau udah gajian pasti abang ajak kamu deh jalan" Sahut Mario dengan rasa malu dan mengkerutkan alisnya.
"Ya udah deh".Tukas Mawar,lalu gadis itu mengulurkan tangan untuk memegang jemari Mario yang mencengkram besi sel jendela,Mario merasakan tangan lembut kepunyaan Mawar mengelus pelan jemarinya walau itu sebentar.
"Mawar udah dulu ya,aku kebelet".Kata Mario dengan gugup langsung pergi meninggalkan gadis yang berwajah cantik bak dewi yunani itu.
"Lucu,kayak perjaka aja takut aku pegang,apa dia enggak nafsu lihat punyaku yang montok ini" Gumam Mawar dan penasaran padahal dia sudah berusaha keras menggoda Mario sedari tadi.
Mario masuk kedalam kamar mandi dengan rasa gugup yang masih menyelimuti,perasaan Mario seperti ada yang mengalir panas,tetapi Mario benci sama senjata antiknya kenapa tidak bisa naik juga?, padahal jelas jelas Mario melihat kedua bukit Mawar yang besar itu.
"Gimana ini mau berubah".Kata Mario sendiri saat membuka dalaman lihat siotong yang tertidur pulas bagaikan mati suri.
kepada siapa Mario harus bercerita tentang hal ini, tidak mungkin iya cerita kepada Rena pasti wanita itu dengan wajah datar akan mencela Mario atau omongan yang menusuk hatinya lagi.
Bersambung*
__ADS_1