
Sudah lama Mario tidak bertatap muka dengan Pria berbadan atletis ini dan berwajah tampan serta kaya raya seperti Jimmy,Walau dia sudah putus dengan Rena tetapi karena dialah Mario bisa bekerja dihotel ini tanpa ijazah dan tanpa kesulitan.Kini Pria yang sangat Rena cintai duduk dihadapan Mario.
Jimmy memberikan kode kepada scurity untuk keluar dan meninggalkan mereka berdua didalam ruangan ini, Scurity tersebut mengerti dan berjalan keluar ruangan Jimmy.Mario terdiam sesekali melihat wajah Jimmy yang menatapnya dengan datar.
"Gimana Rena?,apa dia sehat?,kamu pasti sudah tau hubungan terlarang kami" Tukas Jimmy membuka suara lebih dulu.
"Mbak Rena sakit sejak kejadian itu, sekarang dia sudah sehat" Jawab Mario memberanikan diri menatap mata Jimmy.
"Mario apa kau sudah tau kenapa saya memanggilmu?" Tanya Jimmy dengan wajah serius.
Ternyata dugaan Mario benar pasti Jimmy memanggilnya untuk mengobrol tentang Rena,Mario terdiam dan berfikir sejenak, hanya geleng kepala yang iya perlihatkan kepada Jimmy seakan akan Mario memang tidak tau.
"Ini jam tangan tamu itu,Saya mendapatkannya dari tas ransel kamu sewaktu pemeriksaan terjadi,tidak ada yang tau hanya saya dan Mamad" Ucap Jimmy sembari meletakkan jam tangan diatas meja.
Mario jadi terkejut sekali jantungnya berdegup kencang, pasti Jimmy akan membawa Mario kekantor polisi, bibirnya tidak bisa berkata lagi seakan susah bicara,tetapi karena bukan Mario yang mengambilnya iya berniat memberanikan diri untuk menyangkal semua ini.
"Mario Bisa kau jelaskan ini" Tukas Jimmy lagi karena Mario masih terdiam dan berfikir.
"Sumpah Pak Demi Ibuku yang sudah meninggal,Mario tidak mencuri jam itu" Kata Mario dengan suara gemetar.
"Tapi saya dengar kamu yang membersihkan kamar satu empat?" Kata Jimmy mencari kebenaran diwajah Mario.
"Memang iya Pak, tapi bukan saya, Ibu saya tidak pernah mengajarkan hal buruk seperti itu" Tandas Mario dengan mata yang mengembun.
"Mario saya menganggap kamu seperti adik karena Rena,kalau saya tidak mengenal kamu saya akan menjebloskan kamu kepenjara,tetapi saya tidak ingin Rena bersedih,karena saya masih mencintai kakak sepupumu itu" Sahut Jimmy dengan mata sayu.
Mario melihat pandangan dan mata Jimmy ada ketulusan jika mengucapkan nama Rena,tetapi harus mau gimana lagi mereka sudah berdosa melakukan hubungan terlarang.
__ADS_1
"Pak Sumpah saya tidak bohong,saya berkata Jujur bukan saya yang mencuri itu, walau ditemukan didalam tas saya" Sangkal Mario lagi dengan wajah sedih,Mario berfikir siapa yang telah tega menfitnahnya.
Jimmy terdiam sekelak dan melihat mata Mario yang sedih,terlihat Jelas dia berkata Jujur dari hatinya yang paling dalam.Mario pikir dia hanya mau bicara tentang Rena tidak taunya insiden kehilangan ini lagi sungguh membuatnya sesak dan pusing.
"Tampaknya ada yang sengaja menaruh jam ini kedalam tas kamu itu,apa kau punya musuh dihotel ini?" Tanya Jimmy sembari berfikir.
"Tidak ada pak, saya tidak pernah bertengkar dengan karyawan lain" Jawabnya sembari kerut dahi dan membuat Jimmy heran kenapa jam tangan itu didalam tas ransel kepunyaan Mario.
"Jangan panggil saya Pak terus,apa saya kelihatan tua Mario,jangan sungkan bagaimana juga kau adik sepupu Rena" Kata Jimmy yang mengukirkan senyum manisnya.
Obrolan mereka yang sedari tadi menegang kini longgar sedikit saat Jimmy melontarkan senyuman untuk Mario,Kini Pria gagah itu memesan dua gelas teh dari telpon hotel.
"Kita lanjut lagi soal ini,jadi kau tidak punya musuh dihotel ini,jadi siapa yang niat buruk padamu?" Tanya Jimmy lagi dengan wajah serius.
"Saya sempat adu mulut dengan Tante Sarah,waktu it----"
Mario harus memulai dari mana menceritakan itu,haruskah iya mengadu kepada Jimmy kalau Sarah selalu menggodanya?,ah Mario bukan type orang pengadu.
"Kenapa kamu diam?" Tanya Jimmy dengan heran dan menatap wajah Mario lekat lekat.
"Saya kurang becus membersihkan kamar,jadi dia marah pada saya" Jawab Mario berbohong karena tidak mau menceritakan kenyataan yang sebenarnya.
"Hanya itu saja?,tidak mungkin Sarah melakukan tindakan itu hanya hal sepele saja,ya sudah saya akan menyelidiki lagi,kamu enggak usah tegang gitu" Balas Jimmy kembali melontarkan senyum.
"Mario kali ini saya yang menolong kamu,saya percaya sama kamu,syukur saya yang menemukan jam tangan ini coba kalau orang lain apa yang akan terjadi,ah kamu ceroboh sekali Mario" Kata Jimmy lagi hembus nafas panjang berkali kali.
"Ya bang,terima kasih abang sudah menolong Saya disini,saya harus waspada disekeliling mulai hari ini" Sahut Mario dengan tersenyum lega.
__ADS_1
"Nah panggil saya Abangkan enak,jadi saya tampak muda Heheheh" Tukas Jimmy dengan rasa senang.
Lalu mereka mengganti topik obrolan dengan hal lain sampai Pelayan resto datang membawa dua gelas teh untuk merek,sungguh Mario sangat beruntung karena ada Jimmy yang masih percaya dengannya.
***********Skip
Kembali bersama Maryam yang sudah mengetuk pintu kamar Mawar,gadis ini membukakan pintu dengan wajah lesu seperti tak bergairah,kian hari Mawar semakin kumuh seperti tidak mengurus dirinya sendiri.
"Kenapa kau belum mandi dan berhias diri?,apa kau tidak mau melakukan rencana yang Ibu buat?!" Tanya Maryam dengan kekesalan karena Mawar masih terlihat kumuh.
"Mawar tidak mau menjebak dia Bu,Mawar enggak tega menjebak orang yang tidak tau apa apa ini salah bu !!,Mawar enggak setuju dengan rencana Ibu !!" Tolak Mawar saat duduk ditepi ranjang.
"Dasar anak tidak tau diuntung !,dikasih usulan mau menolak,apa kau mau janin itu digugurkan hah !, cepat kau sekarang mandi dan rapikan dirimu keburu gelap !" Ketus Maryam menarik lengan Mawar dan menyeret Mawar kearah kamar mandi.
"Ibu biarkan saja Mawar membesarkan anak ini sendiri,Mawar enggak mau bu dia orang baik dan polos !!" Sahut Mawar berjalan terpaksa menuju kamar mandi.
"Anak bodoh,sudah membuat aib malah membangkang terus !" Tandas Maryam membuka paksa baju Mawar.
"Ibu Hikss...Mawar enggak mau melakukannya" Balas Mawar Lagi sembari geleng kepala dan wanita setengah baya ini tidak perduli ocehan Mawar.
Mawar pasrah dan terduduk diatas lantai kamar mandi,dengan kasar Ibunya melucuti pakaian yang iya kenakan dan mengguyur tubuh Mawar yang sedikit Amis dengan air.Berbeda sewaktu Mawar kecil dulu Ibundanya memandikan dengan kasih sayang serta kelembutan dan sekarang itu tiada lagi hanya kekasaran dan omelan yang Mawar dapatkan.
Buliran air mara terus mengalir dikedua pipi lembut Mawar yang masih diguyur air oleh Ibunya tersebut,Maryam sangat emosi sekali kenapa Mawar terus membangkang.
"Cepat berdiri,setelah ini kau makeup didepan kaca,percantikan dirimu didepan cermin biar dia terpikat !!" Titah Maryam setelah memandikan Mawar dengan cara kasar karena Maryam dipenuhi rasa emosi.
Mawar diam saja dan menuruti kemauan Ibundanya,hanya menangis seunggukan yang dapat iya tunjukkan sebagai rasa dilema bercampur penyesalan yang mendalam,Andai dia tau kalau akhirnya begini pasti dia tidak akan menyerahkan kesuciannya kepada Andy lelaki buaya dan tidak bertanggung jawab itu.
__ADS_1
Bersambung*