
Bus itu melaju kencang menuju sebuah terminal yang tidak begitu jauh dari pelabuhan,ya sebenarnya Mario bisa cepat sampai kekota yang akan iya tuju dengan naik pesawat,tetapi uang Mario tidak cukup membeli tiket pesawat terpaksa iya naik kapal besar menuju kota BATAM.
Dikota itu Mario punya satu saudara yaitu Rena,dia sepupu Mario dan Mario sudah lama tidak bertemu sepupu semata wayangnya itu karena nenek Mario cuma melahirkan dua anak,satu anak laki laki yang menjadi Bapak Rena dan satu anak perempuan yaitu Ibu Mario.
"Teeenn"
Suara klakson besar kapal sudah berbunyi menggema memberi isyarat bahwa nahkoda akan melajukan kapalnya.Mario berada didalam tempat ekonomi duduk berhimpitan dengan banyak orang.
Singkat waktu kapal itu sudah berhenti disebuah pelabuhan kota,Mario turun dari dalam kapal dan mengeluarkan secarik kertas bertuliskan alamat rumah Rena.
"Pak ow Pak tau alamat ini enggak?".Tanya Mario saat melihat bapak setengah baya melintas didepannya.
"Oh jalan ini,kamu naik taxy aja pasti supir taxy tau" Jawab pria berbadan ceking itu dengan memikirkan sesuatu.
"taxy ?,mahal enggak pak?".Tanya Mario lagi karena uang yang iya bawa cuma sedikit takut tidak bisa membayar upah supir taxy.
"Mayanlah,kamu naik angkot saja terminal enggak jauh dari sini” Tukas pria tua itu lagi lalu meninggalkan Mario yang masih bingung.
Mario memang tidak tau menahu seluk beluk kota ini karena iya baru pertama kali kekota tersebut,kini kaki Mario berjalan menuju terminal dengan rasa bingung,dua pria berbadan besar sedari tadi melihat Mario dengan tatapan bengis membuatnya ketakutan dan menghindari kedua Pria tersebut.
Mario terus berjalan dan bingung mencari alamat Rena,karena nomor telpon Rena Mario tak punya hanya bergantung dengan alamat yang iya bawa ini.Kedua lelaki itu terus mengikuti membuat Mario semakin mempercepat langkah kakinya.
"Gawat,kenapa dia ngikuti terus sih" Kata Mario dengan rasa cemas dan was was,Mario menebak kalau mereka preman terminal itu.
"Hei mau kemana kamu?".Tanya salah satu pria yang berusaha mengejar,Mario diam saja dan berjalan terus sampai disebuah tempat yang sepi.
"Mau kemana kamu?,kamu enggak bisa kemana mana lagi Hahahah".Salah satu pria berewokan sudah tertawa mengejek.
"Kalian mau apa?".Tanya Mario dengan tangan memegang tas yang iya bawa,iya sudah ketakutan,Kedua pria itu diam dan semakin berjalan dekat sekali kearah Mario.
Pria itu melirik kearah tas yang Mario bawa membuatnya mengerti dan tau kalau mereka memang penjahat,Mario geleng kepala saat tangan pria itu menarik tas miliknya.
__ADS_1
"Jangan om ini satu satunya milikku".Kata Mario dengan hati ketakutan dan air matanya mengalir seketika,karena Mario tidak pernah diperlakukan begini.
"Eh dia nangis,laki laki kok nangis".Kata pria yang berambut gondrong menertawai Mario yang sudah dilanda seribu ketakutan.
"Dia mungkin Bencong kawan,bisa bisanya nangis,hei serahkan tas itu kalau enggak aku rusak wajahmu yang tampan itu".Sambung pria yang brewokan langsung merampas tas milik Mario secara paksa,Mario hanya diam tak berkutik karena iya takut sekali.lalu kedua penjahat itu dengan bahagia berlari cepat meninggalkan Mario yang lemah setelah mendapatkan apa yang mereka mau.
"Copeet...perampok tolong ..!!" Teriak Mario dengan berani karena mereka sudah pergi, sebagian orang berdatangan dan menghampirinya dari arah kiri.
"Mana copetnya?" Ucapan salah satu pria yang hendak menolong Mario,Mario hanya menunjuk kearah kanan sambil menangis.
"Kenapa kamu diam aja dicopet nak,disini rawan penjahat" Kata Pria tua yang sudah berumur sambil geleng kepala.
"Iya pakai nangis lagi,oalah kamu laki laki apa bukan sih diam aja saat dicopet" Sambung lagi ibu ibu yang berada dibelakang pria tua itu.
"Emang apamu yang diambil?".Tanya ibu ibu berbadan gemuk dan berambut keriting.
"Tas saya bu,didalamnya ada baju sama handphone sama duit seratus ribu" Jawab Mario dengan nada lemas dan menundukkan kepala.
"Ya Tuhan kasihannya,mau kemana emangnya?,biar bapak yang antar sini bapak supir becak".Sambung Pria tua tadi dengan wajah berempati.
"Saya enggak punya ongkos lagi pak"Jawab Mario dengan wajah kebingungan.
Bapak tersebut selain menolong dia juga baik mau mengantarkan Mario kealamat yang iya tuju,kata bapak itu ongkosnya enggak usah bayar membuat Mario jadi terharu,dijaman sekarang ini masih ada juga orang yang baik dan berempati,berbeda dengan orang yang bersimpati.
Becak bapak tua tersebut melaju dengan kecepatan rendah masuk kedalam gang sempit,Mario melihat banyak rumah penduduk berjejer rapat rapat,Ibu Mario dulu pernah bilang Rena sukses merantau dikota ini dan dia punya rumah yang besar.
"Nak ini alamat yang kamu maksud".Ucap bapak tua tersebut lalu mematikan kendaraannya,lalu Mario turun dari atas becak.
"Pak aku enggak ada uang ini ada jam tanganku,walau harganya enggak seberapa tapi bisa beli rokok bapak,maaf ya pak aku nyusahi bapak".Balas Mario dengan tangan menyodorkan sebuah jam tangan yang iya buka dari lengan kirinya.
"Kan sudah bapak bilang enggak usah bayar nak,bapak punya anak laki laki persis umurnya seperti kamu".Sambung bapak tersebut lalu mengambil jam tangan dan menaruh disaku baju kemeja Mario kembali.
__ADS_1
"Jadi enggak enak pak".Kata Mario lagi dengan mata yang berembun menatap seorang bapak tua dengan rambut yang memutih,seandainya Mario punya bapak seperti dia mungkin nasibnya enggak begini begini amat.
"Lain kali kamu hati hati,bapak pamit dulu ya mau cari sewa nak" Tukas pria tua tersebut sambil memutar kunci motornya.
"Semoga banyak penumpang ya pak,Mario doakan bapak sehat selalu".Balas Mario dengan melihat lelaki tua itu pergi berlalu meninggalkan iya digang sempit tersebut.
"Nomor enam dua".Gumam Mario sambil mencari setiap rumah dengan nomor yang iya maksud,Mario kerut alis dan heran kenapa rumah nomor enam dua cuma rumah sepetak,padahal kata Ibu rumah Rena sangatlah besar.
"Apa aku dulu salah catat ya?".Kata Mario sendiri sambil garuk kepala yang tak gatal,Mario melangkahkan kaki kesebuah rumah itu,Lalu iya melihat balkon teras dengan dua kursi rotan terletak disamping pintu rumah,serta pot bunga mawar berjejeran didepan rumah tersebut.
"Tok tok tok tok"
Mario memberanikan diri mengetuk rumah itu dan menunggu orang membukakannya,lalu mata Mario melihat sekeliling rumah dengan heran masih tidak percaya kalau itu rumah sepupunya Rena.
"Siapa?".Terdengar suara wanita dari dalam rumah,Mario langsung mengenal suara itu dan tidak sabar untuk memastikan apa dia benar Rena.
"Ctek"
Pintu rumah terbuka wanita itu setengah badan dibalik pintu dan melihat Mario memastikan siapa yang datang.
"Mbak Rena ?".Ucap Mario dengan girang dan tersenyum lebar,tapi seketika senyum Mario hilang melihat wajah Rena yang datar melihat kedatangannya.
"Oh kamu Mario".Ketus Rena dengan membuka pintu setengah,sepertinya Rena tidak suka Mario datang buktinya dia tidak menyuruh Pemuda itu masuk, tidak seperti orang lain jika ada tamu datang kerumah pasti dengan ramah menyuruh masuk kedalam dan menyuguhkan minuman.
"Iy - iya mbak".Jawab Mario dengan rasa tidak percaya dan kikuk saat Rena melihat dengan mata terbelalak besar seperti Suzzana yang lagi marah,Mario jadi gugup dengan wajahnya yang datar melihatnya.
"Mana lipstik sama baju perempuan kamu?"Ketus Rena melihat Mario dengan rasa jijik.
"Ah mbak tau dari mana?".Jawab Mario heran penasaran,karena iya tau sepupunya itu tidak tahu kalau Mario pernah jadi Waria.
"Dari mana dari mana".Sambung Rena dengan mengikuti perkataan Mario ulang.
__ADS_1
"Biar kau tau ibumu meninggal gara gara ulahmu itu,dulu ibumu pernah bilang saat nelpon aku, kamu itu udah jadi perempuan jadi jadian,ibumu kesal samamu biar kau tau,sekarang kau mau apa datang kesini?,mau jadi wanita jadi jadian lagi kesini hah,cari duit pake pakaian wanita hah?" Sungut wanita bermuka manis tersebut dengan lesung dipipinya.
Bersambung*