
Mario sudah duduk diatas sofa mewah dengan meletakkan tas ransel diatas lantai,jantung Pemuda ini tidak beraturan karena duduk berhadapan dengan Parlin yang menatap nanar Mario dan Norma juga melontarkan tatapan nanar serta penuh kebencian ditambah Ikhsan memandang Mario seperti bangkai yang membau terlihat sangat menjijikan.
"Mau apa kau datang kemari anak muda?,kami tidak menerima kedatangan kau disini,kami tidak setuju kau mendekati anakku!" Ketus Parlin sembari membelalakan mata kepada Mario.
"Tap-tapi pak kemarin anda bilang sa---"
"Itu kemarin dan sekarang berbeda,kami tidak suka dengan kehadiranmu disini,aku tidak mau menikahkan anakku dengan seorang banci seperti dirimu" Potong Norma dengan terang terangan membuat Mario terkejut dengan wajah pucat pasi.
Jantung Mario tidak sanggup lagi memompa karena detaknya sangat kencang mendengar kata Banci dari Ibu Desy,apa mereka sudah tau masa lalu Mario?,hah sungguh Mario ingin pergi saja dari rumah ini tetapi itu tidak iya lakukan karena demi cintanya kepada Desy,lalu Pemuda ini bertahan tetap duduk dengan kikuk.
"Tapi saya sangat mencintai Desy,bolehkah saya bertemu dengan des---"
"Kau tidak boleh bertemu anak gadisku,karena iya akan aku nikahkan dengan pemuda kaya dan mapan,tidak seperti kau miskin,pernah jadi banci lagi apa kata orang kalau aku menyetujui anakku bersanding dengan Pemuda sepertimu !!" Potong Norma lagi dengan wajah merah padam.
"Dari mana Ibu tau kalau saya dulu....?" Mario tidak melanjutkan lagi omongannya karena hatinya kini sangat pedih mendenger ucapan pedas Norma.
"Kau sudah taukan perkataan istri saya?,saya tidak akan mengulangi lagi perkataan itu,sekarang kau pergi dari sini !!" Usir Parlin sembari berdiri dari duduk dengan jemari menunjuk kearah pintu,seakan memberi tau Mario pintu keluar ada didepannya.
"Papa biarkan Desy bertemu Mario Pa" Suara Desy dari balik pintu. " Tok tok " Desy mengetuk pintu kamar dan ingin keluar karena mengenali suara Mario,gadis ini sedari tadi mendengarkan ucapan pedas dari orang tuanya kepada Mario,karena suara keras Parlin terdengar ditelinga Desy.
"Pa tolong Pa buka,biarkan Desy bertemu Mario Hikss" Kata Desy lagi dengan beruraian air mata karena tidak tahan lagi ingin bertemu dengan pujaan hatinya.
"Desy" Gumam Mario sedih berdiri dari duduk dan ingin sekali Pemuda ini lari lalu membukakan pintu kamar Desy,tetapi iya tidak mampu karena Ikhsan seperti bersiap diri untuk menghalangi jalan Mario.
__ADS_1
"Buka saja pintu itu" Titah Parlin kepada Norma karena tidak ingin mendengar keributan dirumah ini.
"Tapi Pa!?" Norma tidak mau dan ragu untuk membuka pintu karena tidak rela Desy bertatap muka dengan Mario.
"Buka Ikhsan !" Titah Parlin lagi dengan tegas kepada Ikhsan membuat Pria ini berjalan kebelakang ruang tamu untuk mematuhi perkataan Parlin.
Desy berlari keruang tamu setelah Ikhsan membukakan pintu kamar,Mata Desy melihat Mario dengan kesedihan serta kerinduan dan langsung ingin memeluk Mario tetapi langkahnya tertahan karena pergelangan tangan Desy dicengkram jemari Parlin dengan cepat.
"Jangan mendekati dia,kau disini saja dekat Papa !!" Bentak Parlin sembari menahan tubuh Desy yang ingin mendekati Mario.
"Desy kau apa kabar?" Tanya Mario berjalan sedikit ingin mendekati Desy,terlihat mata Mario yang sudah berkaca kaca ingin mendekati Desy.
"Jangan kau mendekati anakku,berhenti disitu jangan dekati anakku !!" Ketus Norma dengan suara meninggi membuat langkah Mario terhenti.
"Baik Mario,Papa biarkan aku dengan Mario sebentar,Desy mohon Pa.." Kata Desy sembari membungkuk hendak bersujud dikedua kaki Parlin.
"Desy juga sangat mencintai Mario Pa,tolong Pa" Sahut Desy dengan beruraian air mata menatap sendu wajah Parlin yang marah.
"Apa kau tidak malu nantinya menikah sama dia hah!.kau sudah bacakan surat itu,apa matamu buta Desy,apa pikiranmu sudah gila?" Tanya Norma yang tidak habis fikir kenapa anak gadisnya begitu mencintai Mario.
"Mama tidak mengerti perasaan Desy sama Mario,mama juga tidak taukan perasaan Mario sekarang, apa mama tidak ada hati mengucapkan kata pedas tadi !!" Jawab Desy dengan suara meninggi kepada Norma.
"Plak"
__ADS_1
Norma menampar keras pipi kanan Desy sehingga kepalanya memutar kekiri dan merasakan panas pipinya,Norma baru kali ini main tangan kepada anak gadisnya membuat Ikhsan terkejut melihat wajah Norma yang semarah itu.
"Mama" Desy tidak menyangka kalau tangan Norma akan melayang dipipi lembutnya membuat air mata Desy terus menetes, sedangkan Mario berjalan mundur sedikit merasa bersalah melihat kekasihnya ditampar dihadapannya demi mempertahankan hubungan mereka.
"Ikhsan bawa adikmu kekamarnya lagi !!" Titah Parlin tidak mau masalah ini terus berlarut.
"Aku enggak mau,aku masih mau bertemu Mario !!,Mario Hikkss !" Desy meronta ronta sewaktu Ikhsan menarik paksa lengannya untuk masuk kedalam kamar dan menangis sejadi jadinya.
"Kalau kau tidak mau !!,papa akan kurung kau dikamar gelap,mengerti !!" Ucap Parlin melihat Desy memukuli bahu Ikhsan yang memaksa Desy masuk kedalam kamar.
"Pak tolong hentikan,jangan buat hukuman pada Desy,biar saya saja yang dihukum pak saya rela dihukum demi Desy" Ucap Mario dengan tegas hati karena tidak tahan dengan tangisan Desy.
Mendengar ucapan Mario yang rela dihukum demi Desy membuat Parlin terdiam sekelak,separah inikah cinta mereka sehingga keduanya sangat keras mempertahankan hubungan mereka?,tetapi disisi lain wajah Norma yang merah padam tidak mendengarkan ocehan Mario.
"Kau harus pergi dari sini,atau aku akan memaksa kau pergi dari rumah ini !!" Titah Norma sembari menatap elang wajah Mario.
"Baiklah Bu kalau itu memang jalannya Mario turuti kemauan Ibu,Mario tidak mau mengganggu ketenangan keluarga ini,kalau gitu Mario pamit Bu...,Pak.." Sahut Mario sembari meneteskan air mata dengan wajah kesedihan.
Jemari Mario mengambil tas ransel miliknya diatas lantai,lalu dengan langkah tertatih dan lemas Mario berjalan pelan kearah pintu rumah sembari jemarinya mengusap air mata yang tidak bisa iya bendung lagi,hatinya sangat pedih menerima kenyataan ini.
"Sabar ya sayang,aku akan memperjuangkan kamu,tunggu dirumah ini" Batin Mario sembari keluar dari rumah dan sesekali melihat arah belakang memandang rumah besar tersebut.
Sementara Norma berjalan sedikit dan menutup pintu dengan kasar saat Mario sudah berjalan keluar area rumah dan Parlin terduduk lemas sembari memijat mijat kepalanya yang sudah pusing memikirkan persoalan ini.
__ADS_1
"Tidak tau malu berani sekali dia datang kemari,kalau dia datang lagi usir saja Pa,aku tidak sudi melihat wajahnya itu" Ketus Norma sembari berjalan pergi meninggalkan Parlin diruangan tamu rumah.
Bersambung*