
"Aku tidak menyerah gitu aja,susah payah aku mencintai wanita masa aku lepas begitu saja" Gumam Mario sembari berjalan tidak tau arah saat meninggalkan rumah Desy.
"Sekarang aku harus gimana ya Allah?,aku sudah tidak menentang kodratmu lagi sebagai seorang Pria dan kenapa kau memberikan beban hidup sebesar ini !" Mario Bicara Sendiri sembari menyandarkan tubuh disebuah pohon besar yang terletak dijalan tersebut.
"Aku tidak mau kehilangan Desy,Ya Allah kenapa begini...,kenapa begini?" Dengan wajah frustasi Pemuda ini memukul pelan kepalanya sebagai pelampiasan hati yang serasa sesak dan seperti ada batu yang menghimpit dihatinya terasa sesak sekali.
"Sholatlah nak jika hatimu kacau" Kata itu terlintas lagi dibenak Mario,suara Ibumunya yang berbicara didalam otak Mario dan Ingin sekali Mario memeluk Ibunya untuk mengadu supaya bebannya berkurang sedikit.
Mario melihat jarum jam menunjukkan angka empat sore artinya solat Ashar akan dilaksanakan,kaki Mario berjalan mencari cari mesjid disekitar tempat ini dan dari kejahuan mata Mario melihat tugu bulan dan bintang bertanda kalau mesjid tidak jauh dari tempat ini.
Langkah Mario semangat berjalan kemesjid yang tidak begitu jauh dari rumah Desy,kini kaki Mario sudah menapak didalam kamar mandi masjid untuk mengganti pakaian dengan pakaian bersih karena iya belum sempat istirahat dari perjalanan jauh.
Saat Mario ingin keluar dari kamar mandi masjid setelah mengambil air wudhu,langkah Mario terhenti saat melihat orang yang telah memukul ulu hatinya tadi,Pemuda ini tidak menaruh dendam malah melontarkan senyuman kepada Ikhsan membuat Ikhsan buang muka lalu masuk kedalam masjid.
Mario mengambil duduk dibarisan shaf kedua disebelah Ikhsan membuat Pria ini ingin pindah tempat duduk,tetapi Niat Ikhsan tidak bisa dilakukan karena barisan shaf ketiga sudah penuh diisi orang lain,ingin sekali Ikhsan berbicara untuk mengusir Mario tetapi iya sadar ini rumah Allah sang penciptanya.
Setelah melakukan reka'at terakhir dan berdoa para Makmum bersalam salaman tanda silaturahmi dan dengan cepat jemari Mario menyalam jemari kanan Ikhsan dan mencium punggung jemari kanan Ikhsan,Pria ini tidak bisa menolak karena banyak orang yang melakukan ini,apalagi umur Ikhsan lebih tua dari Mario tidak salah pemuda ini mencium punggung jemari Ikhsan.
Nurani Ikhsan tersentuh sedikit dengan perlakuan manis Mario,lalu Pria ini berdiri meninggalkan Mario begitu saja dimasjid itu,Mario ingin mengejarnya tetapi iya takut kalau Ikhsan akan meninjunya lagi.
Kini Jemari Mario mengambil tas ransel miliknya yang terletak disudut masjid lalu bergegas ingin pergi dari masjid itu dan melanjutkan perjalanan yang Mario tidak tau mau kemana lagi.
__ADS_1
Kaki Mario sudah berjalan menjahui masjid tersebut,langkah Mario terhenti saat sebuah mobil berhenti dihadapannya lalu kaca mobil tersebut terbuka setengah,Mario melontarkan senyum melihat wajah Ikhsan yang ada dibangku setir mobil tersebut.
"Kau mau berdiam diri disitu?" Tanya Ikhsan dengan wajah datar membuat Mario mengerti dan langsung masuk kedalam mobil Ikhsan lalu mengambil duduk dibangku tumpangan depan.
"Jangan besar kepala karena aku menyuruhmu masuk kedalam mobil" Kata Ikhsan lagi sembari melajukan mobil dan membuat bibirku berhenti tersenyum.
"Aku sudah tau masa lalumu,keluargamu,bahkan pekerjaanmu dulu,jadi aku sangat tidak suka kau berhubungan dengan adikku,tapi aku lihat kau pemuda baik tidak seperti berandalan diluar sana, jadi aku masih punya hati untuk mengajakmu bicara baik baik" Kata Ikhsan dengan wajah datar sembari fokus menyetir.
"Mario tau bang masa lalu Mario tidak bisa diterima dikeluarga abang,Mario pantas mendapatkan hinaan,tapi Mario niat bertobat bang dan berubah jadi lebih baik lagi" Jawab Mario dengan wajah penuh kecemasan.
"Mmmm,berat ya mencintai orang yang tidak bisa kita miliki,aku juga pernah merasakan hal itu Mario,bedanya aku dipaksa nikah sama orang yang tidak aku cintai dan orang yang kucintai tidak tau sekarang ada dimana" Sambung Ikhsan sembari menghembus nafas kasar berkali kali.
"Kenapa bisa begitu?" Tanya Mario dengan heran merasa tertarik dengan cerita Ikhsan.
"Mungkin sudah takdir bang,Mario juga harus rela bila Desy bukanlah jodohku,asalkan Desy bahagia itu sudah cukup,ya walau sebenarnya berat bang" Jawab Mario dengan tersenyum kecil.
"Hah capek bicara cinta, oh iya apa kau sudah makan?,aku tau kau dari luar kota pasti langsung kerumahku tadi" Tawar Ikhsan sembari menginjak pedal rem saat didepan sebuah restoran.
Tawaran Ikhsan memang sangat menggiurkan membuat cacing diperut Mario berbunyi karena memang iya belum makan sedari turun dari pesawat,sedangkan kantungan makanan yang diberikan Elisa entah kemana mungkin tertinggal dipohon besar tadi saat Mario sedang frustasi.
"Ayo jangan malu malu" Kata Ikhsan sembari keluar dari mobil dan entah kenapa Pria ini berubah sikap seratus lima puluh derajat celcius,padahal tadi iya sangat benci kepada Mario,ataukah mungkin hati Ikhsan luluh saat dimesjid tadi?,Ah tidak tau hanya Ikhsan yang tau kenapa dia bisa baik sama Mario.
__ADS_1
"Pesan sesukamu,aku yang traktir" Titah Ikhsan yang sudah duduk berhadapan dengan Mario.
"Baik bang Mario makan nasi campur aja,air putih juga cukup" Kata Mario kepada pelayan yang lagi mencatat pesanannya dan tidak banyak permintaan lain.
"Ini resto Mario,kenapa kau cuma pesan itu saja?" Tanya Ikhsan dengan heran sekali sembari mengkerutkan dahi.
"Mario cuma mau itu aja bang,karena perut ini memang lapar Hehehe" Jawab Mario polos membuat Ikhsan merasa aneh.
"Pantas adikku suka sekali dengan Pria ini,pemikirannya sederhana,bahkan kata katanya sopan sekali,andai Papa tau hah apa yang kau pikirkan Ikhsan orang tuamu sangat keras kepala" Batin Ikhsan yang melihat Mario duduk manis dengan wajah imutnya.
"Abang kok diam?,jadi abang sudah punya anak berapa?" Tanya Mario dengan tersenyum kecil.
"Aku sudah punya satu anak,anak laki laki umurnya sudah sepuluh tahun" Jawab Ikhsan sembari membayangkan wajah anaknya sendiri.
"Ini aneh bang,abang menikah tidak rasa cinta tetapi kenapa ada anak,maaf ya bang Mario tidak bermaksud menyinggung abang" Jawab Mario terus terang.
"Kau ini bertanya hal tolol,ada ada saja,itu normal Mario,Aku Pria normal mana mungkin membiarkan istriku tidak dinafkahi batin,ah pertanyaanmu aneh Mario seperti anak kecil saja" Jawab Ikhsan sedikit risih dengan pertanyaan Mario.
"Maaf bang cuma tanya,jangan marah ya" Kata Mario dengan tersenyum polos sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Siapa yang marah ahahaha" Ikhsan tertawa menggelegar karena Mario seperti anak kecil saja bertanya hal yang tidak penting,Ikhsan ternyata salah menilai Mario karena baru kali ini iya tertawa tanpa beban dan tekanan.
__ADS_1
Ikhsan Pria yang tidak bisa tertawa lepas karena iya dididik Parlin secara keras dan tegas,didikan militer itu yang membuatnya jarang tertawa dan melontarkan senyum kepada orang lain.
Bersambung*