
"Lanjutkan" Titah Parlin lagi kepada Ujang yang masih fokus kepada kertas yang iya pegang itu.
"Pak saya tidak berani melanjutkannya ini seram didengarkan,saya takut anda marah Pak" Balas Ujang dengan suara bergetar karena tau isi surat itu dengan lengkap.
"Kau mau dihukum?,aku mau mendegarkan semuanya" Sahut Parlin yang sudah tidak sabar lagi menunggu bacaan surat tersebut,sementara Norma sudah geleng kepala melihat informasi data pribadi Pemuda yang dicintai anak gadisnya tersebut.
"Ibunya meninggal karena sakit ginjal,lalu bapaknya entah dimana sudah lama bercerai dengan Ibunya" Jawab Ujang dengan rasa kecemasan karena belum siap mengakhiri isi surat tersebut.
"Cuma gitu aja apa yang kau takutkan Ujang,hah kau ini ada ada saja" Tukas Parlin dengan mengukir senyum kecil dibibir tebalnya.
"Yang terakhir ini maksud saya yang mengerikan Pak,Pemuda itu pernah mangkal dan menjual dirinya" Tukas Ujang dengan lirih dan tidak berani memandang wajah orang yang menggajinya tersebut.
"Apa?, dia seorang gi...golo,apa kau yakin informasi itu?,apa sudah akurat?" Tanya Parlin membuat senyumnya berganti dengan wajah merah padam.
"Buk-bukan Ngigolo Pak,tapi...." Ujang tidak sanggup berbicara iya juga ikut malu meneruskan ini.
"Tapi apa hah?,Ujang kau jangan separuh separuh baca,atau mau kuretakkan ginjalmu itu hah?,biar tinggal satu ginjalmu itu" Tukas Tegas dengan mata terbelalak Parlin menghardik Ujang.
"Dia seorang Banci,sering dipanggil Maria" Lirih ujang dengan meletakkan surat diatas meja tersebut.
"Apa !!!!" Parlin berdiri tegak sembari mengepalkan tangan seperti disambar petir,tidak tau lagi harus berkata apa,padahal tadi iya masih menimang nimang diotaknya akan menyetujui dan merestui hubungan percintaan anak gadisnya tersebut,tinggal dirumah kardus sebagai Pemuda miskin Parlin tidak menghiraukan itu tetapi status Mario dulu,hah sungguh membuat Parlin tercengang apa yang ada didalam pikiran anak gadisnya itu bisa bisanya mencintai Pemuda yang pernah menjadi seorang Banci sungguh menggelikan serta menjijikan.
"Aku tidak akan setuju anak gadisku menikah sama Banci itu" Tukas Norma dengan berdiri dan berjalan meninggalkan ruang tamu tersebut.Apa kata orang orang nanti anak seorang gubernur menikah sama Pemuda miskin yang ternyata seorang wanita jadi jadian?,hah sunggu sesak didalam hati Norma sekarang.
"Krompyang buuk"
Parlin dengan hati yang dipenuhi emosi angkat meja dan membuangnya begitu saja, Ujang yang masih terduduk diatas sofa kini tubuhnya bergetar takut melihat aksi Bosnya itu,felling Ujang sangatlah benar kini Pria kekar itu memukul apa yang iya dapat dan syukur saja bukan wajah Ujang yang dipukul.
__ADS_1
Dengan kemarahan Parlin memungut kertas yang terletak diatas lantai,lalu Pria ini berjalan kearah kamar anak gadisnya."Buka Desy!!" Titah parlin dengan suara bariton dan keras yang sudah berada didepan pintu kamar Desy.
Gadis ini langsung membuka pintu kamar dengan heran kenapa suara Parlin begitu keras apa kemarahannya tidak sirna juga?.
"Matamu katarak apa otakmu miring Desy?" Tanya Parlin sembari berhadapan dengan Desy didekat pintu kamar.
"Apa maksud Papa?" Tanya Desy dengan mengkerutkan dahi lalu berjalan naik keatas ranjang.
"Nih baca ini,bisa bisanya kau mencintai Pemuda itu yang ternyata seorang banci!!" Suara Parlin meninggi dan meletakkan sehelai kertas diatas tempat tidur Desy.
"Mario bukan Banci Pa,apa maksud Papa berkata begitu !" Desy dengan nada kesal dan heran kenapa Parlin bisa bicara seperti itu.
"Yang bandalan kau dikasih tau hah?,kau baca itu supaya matamu itu terbuka,aku tidak sudi punya calon menantu seperti Pemuda itu" Ucap Parlin langsung bergegas pergi meninggalkan kamar Desy.
Tangan Desy dengan gemetar mengambil surat tersebut dan membacanya,sehabis membaca mata Desy terbelalak dan tidak percaya dengan isi surat itu,Desy merobek robek surat itu dan mencampakkan begitu saja diatas lantai kamarnya.
Desy tidak pernah tau siapa Mario sebenarnya karena selama ini iya buta tentang rasanya sendiri,Desy menggelengkan kepala menangis sejadi jadinya tidak yakin kalau orang yang dicintainya itu bukanlah Pria sejati. Desy mengingat saat indah bersama Mario,dicium oleh Mario,dibelai bahkan kemesraan Mario itu yang membuat Desy tidak mempercayai berita tersebut.
"Aku harus pergi dari sini,aku mau bertanya sendiri kepada Mario" Gumam Desy berniat melarikan diri dari rumahnya tersebut.
Gadis ini mengganti pakaian bersih dan memakai sepatunya lalu membuka pintu rumah sedikit melihat situasi rumah,Desy menutup kembali pintu kamar dengan rasa takut karena melihat wajah ketat Ikhsan mengarah kekamarnya,Desy langsung berlari naik keatas tempat tidur berpura pura tidur.
"Ceklek"
Ikhsan selaku saudara tertua masuk kedalam kamar Desy dengan wajah masam,lalu Pria ini duduk ditepi ranjang dan memperhatikan Desy yang lagi berbaring menutup seluruh tubuhnya dengan selimut serta memejamkan mata supaya tidak berbicara dengan Ikhsan.
"Alah enggak usah pakai tidur kau,aku tau kau pura pura" Tukas Ikhsan sembari menarik selimut yang menutupi tubuh Desy.
__ADS_1
"Apa !?" Desy dengan wajah sembab terduduk dan membelalakan mata kepada Ikhsan.
"Enggak usah melotot gitu Bro,kau pikir aku takut,aku dengar Papa ngamuk ngamuk,keras kali kepala adikku yang satu ini" Kata Ikhsan sembari menatap elang Desy.
"Aku juga tidak suka kau berhubungan sama Pemuda itu" Tukas Ikhsan lagi sembari berdiri dari duduk.
"Abang karena belum ketemu sama dia,lagian abang enggak usah ikut campur urusanku bang,aku tidak pernah ikut campur urusan abang !" Lawan Desy dengan menggertakkan gigi tampak kalau kedua saudara ini tidak pernah akur.
"Memang kau tidak pernah ikut campur urusanku,tetapi aku selaku abangmu tetap ikut campur karena kau adikku,akan kuhajar dia kalau nanti ketemu" Ucap Ikhsan sambil berjalan kearah pintu kamar.
"Aku tidak tinggal diam Ikhsan,langkahi dulu mayatku kalau kau memukul Mario !" Teriak Desy dengan wajah kesal dan turun dari ranjang hendak mengejar Ikhsan yang sudah keluar dari kamarnya.
"Aku tidak seperti kau meninggalkan pacarmu demi Aturan Papa menikahi orang yang enggak kau cintai !" Tukas Desy lagi membuat Ikhsan membalikan tubuh dengan rasa kesal.
"Buuuk"
Desy menutup pintu kamarnya dengan kasar karena tau Ikhsan kembali lagi menuju kamarnya. "Buka Desy !!" Teriak Ikhsan dan menggedor gedor pintu kamarnya karena tidak terima perkataan terakhir Desy.
"Ada apa ini?,kalian pikir ini dihutan menjerit jerit seenaknya" Norma berjalan dimana Ikhsan berdiri dengan amarah.
"Enggak ada apa apa ma" Jawab Ikhsan sembari menundukkan kepala dihadapan Norma,Ikhsan anak penurut serta takut membangkang dia begitu menghormati kedua orang tuanya.
"Jangan teriak lagi nak,apa kamu tidak malu didengar orang lain,kamu taukan Papa kamu siapa?" Tukas Norma lagi sembari mengacak pucuk kepala Ikhsan.
"Kalau begitu Ikhsan tugas lagi ma,ada panggilan dari pusat" Kata Ikhsan yang masih berseragam polisi militer. Norma tersenyum melihat anak laki lakinya yang gagah perkasa memakai seragam itu membuat wanita setengah baya ini sangat bangga sekali.
Bersambung*
__ADS_1