Kisah Yang Tak Terlupakan

Kisah Yang Tak Terlupakan
Bagian 10


__ADS_3

Menunggu nyaris dua jam, penumpang pesawat menuju Singapura akhirnya dipersilakan masuk ke dalam pesawat. Kirana melenggang santai karena kopernya telah dimasukkan ke dalam bagasi. Dia hanya menyandang tasnya di bahu. Mendapat tempat duduk di dekat jendela, dia bisa melihat pemandangan di luar pesawat.


Wajah Fauzi tiba-tiba saja melintas di kepalanya. Mereka begitu bahagia saat makan malam bersama pada hari Rabu yang lalu. Yang terpaksa dilakukannya karena sahabatnya ingin memperkenalkannya kepada kekasihnya. Acara yang penuh sesal yang pernah diiyakannya. Fauzi terus mengajaknya bicara, ketika kekasihnya mencoba menyeimbangi percakapan mereka. Akhirnya mereka berdua yang asyik berbincang, Kirana hanya menyibukkan diri menghabiskan makanannya.


Fauzi memaksa berjumpa sekalipun dia sudah menjelaskan pekerjaannya menumpuk dan harus lembur. Tentu saja itu hanya alasannya belaka supaya dia tidak perlu merasakan patah hati lagi. Sebenarnya, dia belum siap untuk bertemu dan melihat Fauzi bersama kekasihnya. Seharusnya dia bahagia dengan kebahagiaan sahabat baiknya, dia tahu itu. Tetapi dia tidak bisa berpura-pura tidak terluka dengan kebodohannya sendiri. Dia berharap bahwa mereka akan lebih dari teman hanya karena mereka begitu dekat. Sungguh bodoh.


Kesalahan itu tidak akan dilakukannya lagi. Tidak akan pernah. Tidak ada lagi harapan untuk menjalin hubungan romantis dengan siapa pun. Tidak dengan rekan kerjanya yang masih lajang atau pun dengan sahabat baiknya yang menunda untuk menikah. Akhirnya nanti akan sama saja. Dia yang terluka dan berharap pada sesuatu yang tidak nyata.


Tetapi dia tidak harus menutup diri sepenuhnya. Dia punya satu cara lagi untuk bahagia dan tidak sendirian. Karena itu, perjalanan liburan ini akan berubah menjadi perjalanan misi. Menemukan pria yang mau tidur dengannya, berharap itu akan membantunya hamil dan memiliki anak. Bila usahanya itu tidak berhasil, dia akan pergi ke tempat lain dan mencoba lagi. Tiga puluh lima tahun adalah usia yang masih muda untuk hamil. Dia masih punya banyak kesempatan untuk mencoba lagi.

__ADS_1


Kalau ibunya tahu, dia pasti kecewa berat. Dia selalu mengajarinya untuk mempertahankan kesuciannya hingga menikah karena itu adalah hadiahnya untuk suaminya. Kewajibannya adalah menjaganya. Tetapi ibunya sudah tiada. Dia tidak perlu takut akan membuat ibunya kecewa. Lalu mengapa ada perasaan tidak nyaman di dalam hatinya setiap kali memikirkan rencananya itu?


Air mata menggenang di pelupuk matanya mengingat kedua orang tuanya. Walaupun kepergian mereka sudah lebih dari satu bulan yang lalu, dia masih menangis bila mengingat mereka. Kematian mereka begitu tiba-tiba. Dia bahkan tidak punya firasat akan kehilangan mereka pada hari itu. Seandainya saja mereka sempat mengucapkan selamat tinggal sebelum mereka pergi untuk selamanya.


Pria yang duduk di sampingnya tidak mencoba mengajaknya bicara selama penerbangan. Kirana sangat berterima kasih untuk itu. Suasana hatinya tidak cukup baik untuk berbincang dengan orang baru. Ketika dia mendengar suara pilot yang mengatakan mereka akan segera mendarat, dia melihat ke arah jendela.


Bandar Udara Changi Singapura terlihat begitu megah dan indah dari jendela di sampingnya. Matanya membulat terpukau melihat pemandangan kota dan laut di sekitarnya, sebuah pemandangan yang sangat kontras. Alam bertemu dengan kehidupan modern. Di kota inilah dia akan mendapatkan kehidupan yang baru. Awal untuk sebuah kehidupan yang lebih baik. Itu harapan terbesarnya.


Setelah antrian berkurang, dia berdiri dan berjalan dengan santai menuju pintu keluar. Dua orang pramugari tersenyum kepadanya sambil mengucapkan terima kasih dan mengharapkan harinya menyenangkan. Kirana membalas ucapan mereka dengan harapan yang sama. Dia menghirup udara luar dalam-dalam sebelum turun menggunakan tangga.

__ADS_1


Sambil menarik kopernya, dia mendekati sebuah taksi yang kosong. Setelah menyebutkan nama hotel tujuannya, dia duduk bersandar dan menikmati pemandangan di sekitarnya. Hal pertama yang menarik matanya adalah kebersihannya. Kota itu begitu bersih dan rapi karena dia tidak melihat kertas, tisu, kantong plastik di jalan atau trotoar. Meskipun ada begitu banyak gedung tinggi, dia bisa melihat banyak pohon dan tanaman di sekitarnya.


Dalam waktu dua puluh menit, dia tiba di hotel. Dia segera menuju bagian resepsionis lalu menyebut nama dan menunjukkan surel dari mereka sebagai bukti dia telah memesan kamar. Setelah membayar sejumlah uang jaminan, dia diantarkan menuju kamarnya. Pegawai hotel itu membukakan pintu dengan kartu di tangannya, meletakkannya di kotak plastik di dekat pintu hingga lampu kamar menyala, kemudian pamit.


Di dalam kamar ada tempat tidur satu kasur, televisi layar datar, lemari untuk menyimpan pakaian lengkap dengan beberapa gantungan baju dari plastik, dan sebuah handuk mandi. Di kamar mandi dia melihat toilet duduk, bak mandi dengan air pancuran, dan beberapa botol dengan label penginapan tersebut. Sabun cair, sampo, pelembab rambut, juga ada pasta gigi dan sikat gigi baru. Di bawah wastafel ada beberapa gulungan handuk besar dan kecil yang bersih.


Dari kaca jendela kamarnya, dia bisa melihat pemandangan kota Singapura dengan gedung-gedung pencakar langitnya. Beruntung, dia mendapat kamar yang jendelanya mengarah ke Marina Bay. Laut dengan air yang biru dipadu dengan langit yang biru cerah sempurna dengan kehijauan yang terlihat dari antara bangunan di hadapannya. Matanya lalu menatap kagum ke arah bangunan tinggi tiga gedung kembar yang di puncaknya terdapat bangunan mirip kapal pesiar mewah yang menyatukan ketiga gedung tersebut. Sayang, dia tidak punya cukup uang untuk membayar kamar di hotel mewah itu.


Kirana mengulang-ulang peraturan yang boleh dan tidak boleh dilakukan di negara itu di dalam kepalanya. Beberapa ketentuan tidak akan sulit untuk ditaati. Dia tidak merokok, membuang sampah sembarangan, meludah, mengunyah permen karet, atau pun telanjang di rumah apalagi di muka umum. Jadi hal itu bisa dihindarinya. Dia juga mengingatkan dirinya sendiri untuk melihat baik-baik peraturan yang ditemuinya di jalan supaya dia terhindar dari masalah.

__ADS_1


Ingat dengan janjinya kepada Dexter, dia segera mengaktifkan ponselnya dan menghubungkannya dengan jaringan internet yang disediakan oleh hotel. Dia memilih salah satu aplikasi pada ponselnya dan menghubungi pria tersebut. Mereka tidak bisa bicara banyak karena Dexter dan Vivian berencana untuk makan malam bersama di restoran kesukaan mereka. Dia tersenyum saat mengakhiri hubungan telepon, ikut bahagia dengan sahabat dan istrinya.


Ada satu hal yang sangat ingin dicobanya. Naik MRT milik Singapura. Dia sengaja memilih salah satu hotel yang dekat dengan stasiun MRT. Dia berjalan dengan bahagia ke stasiun tersebut, membeli kartu khusus untuk melakukan perjalanan satu hari, kemudian menunggu di antrian. Saat transportasi itu datang, jantungnya berdebar cepat. Dia akhirnya melakukannya juga. Melihat kursi kosong, dia duduk dan menikmati perjalanannya.


__ADS_2