Kisah Yang Tak Terlupakan

Kisah Yang Tak Terlupakan
Bagian 29


__ADS_3

Kirana menarik napas panjang. Dia berdiri lalu keluar dari ruangannya. Asistennya beserta seluruh pegawai bagiannya berdiri melihatnya keluar dari ruangannya. Kirana tersenyum kepada mereka. Wajah mereka terlihat khawatir. Dia tidak bisa mengatakan apa pun untuk membuat mereka lebih tenang. Karena saat ini dia juga sedang tidak tenang.


“Silakan masuk, Bu Kirana. Bapak Herbert sudah menunggu.” ucap asisten direktur yang menyambutnya dengan ramah.


“Terima kasih, Aprilia.” Kirana berjalan mendekati pintu.


“Ibu Kirana, Pak.” ucap Aprilia sambil membukakan pintu.


“Terima kasih, Aprilia. Tolong tutup pintunya kembali.” ucap pria itu. Dia kemudian menunjuk ke arah kursi di seberangnya. “Silakan duduk, Kirana.” Dia menguatkan dirinya dan duduk.


Pria itu menekan tombol interkomnya dan mempersilakan seseorang untuk masuk. Tidak lama kemudian, pintu terbuka. Seorang petugas keamanan masuk sambil membawa tumpukan uang di kedua tangannya. Uang itu diletakkan di atas meja. Pria itu lalu keluar tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Direktur itu memerhatikan wajah Kirana dengan saksama.


“Mengapa, Kirana? Mengapa kamu harus mencuri? Apa kamu begitu butuh uang hingga mengambil jalan pintas? Tidak bisakah kamu datang kepadaku kalau memang butuh uang?” ucap Herbert sambil melihat wanita itu dengan tatapan tidak percaya.


Kirana meletakkan ponselnya di hadapan direktur tersebut. Pria itu menatapnya heran lalu melihat ke arah layar ponsel tersebut. Tidak lama kemudian matanya membulat. Dia melihat ke arah wanita di depannya lalu kembali melihat ke arah layar.


“Itu jumlah tabungan saya, Pak. Saya bisa tunjukkan uang yang ada dalam deposito yang baru saya buka dua minggu yang lalu. Itu adalah uang warisan dan asuransi almarhum orang tua saya.” ucap Kirana sambil mengambil ponselnya kembali lalu mengunci layarnya. “Saya tidak membutuhkan uang Anda. Saya punya lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup saya sampai tua nanti.”

__ADS_1


“Uang ini ditemukan di dalam laci meja kerjamu. Itu lebih dari cukup untuk membuktikan bahwa kamu mencuri, Kirana. Tidak peduli berapa pun jumlah tabunganmu, kamu tidak bisa berkelit lagi. Sejak kapan uang pernah cukup bagi seorang pencuri?” tuduh Herbert tajam. Kirana menutup rapat mulutnya.


Dadanya terasa nyeri mendengar tuduhan itu, terlebih lagi ketika mendengar label yang diberikan kepadanya. Pencuri. Dia tidak pernah berterima kasih sebelumnya atas kematian kedua orang tuanya. Kini dia sangat bersyukur sehingga mereka tidak perlu turut merasakan susah melihat anak perempuannya dituduh mencuri bahkan dilabeli pencuri. Bahkan tanpa menunggu penjelasan atau pun pembelaan dirinya.


“Apa Anda tidak salah, Pak? Saya sedang berlibur dan mendadak uang itu ditemukan di dalam laci meja saya?” ucap Kirana heran. “Apa Anda serius berpikir bahwa saya akan seceroboh itu? Meninggalkan laci meja tanpa dikunci dengan uang sebesar itu selama saya berlibur?”


“Bukti yang berbicara, Kirana. Kamu tidak bisa berkelit. Buktinya ditemukan di laci mejamu.” ujar pria itu yang tetap pada pendiriannya.


“Apakah sidik jari saya ada di salah satu tumpukan uang itu? Apakah uang ini sudah dibawa ke kantor polisi untuk diperiksa dengan menyeluruh? Atau tidak ada seorang pun yang berpikir seperti itu sebelum menuduh saya?” ucap Kirana serius.


Dia mendekatkan tubuhnya ke meja. “Laci meja saya tidak pernah dikunci, Pak. Anak kuncinya saya tinggalkan di rumah. Hanya orang yang ingin kejahatannya dengan mudah bisa terbongkar yang menyimpan uang sebanyak itu di dalam laci tidak terkunci. Terlebih lagi, pergi berlibur tanpa khawatir ada yang membuka laci itu dan menemukan uang curiannya.”


“Caraka telah membeli dua mobil mewah dalam waktu dua tahun bekerja di sini dengan gaji yang lebih kecil dari saya. Apa Anda tidak pernah merasa curiga? Lihat saya. Apakah saya kelihatan seperti orang yang menyimpan uang banyak? Lagipula saya bukan akuntan atau bekerja di bagian keuangan. Dari mana saya mendapat akses untuk mengambil uang sebanyak itu?” tanyanya frustrasi.


“Uang yang pernah saya pegang hanyalah uang proyek. Jumlahnya tidak pernah mencapai ratusan juta dalam satu kali klaim.” tambahnya lagi. “Dan dalam hal ini, saya telah membuat laporan keuangan lengkap dengan kuitansi masing-masing transaksi. Laporan tersebut selalu lulus verifikasi dari bagian keuangan. Saya tidak pernah mengambil uang milik perusahaan ini. Tidak sepeser pun yang bukan hak saya, saya ambil dari kas.”


“Tidak ada pencuri yang mengakui perbuatannya, Kirana, termasuk kamu. Aku ingin surat pengunduran dirimu sudah ada di mejaku besok pagi.” ucap Herbert tegas. Kirana mengerutkan kening.

__ADS_1


“Maaf, Pak. Saya tidak bersalah, maka saya tidak akan mengundurkan diri.” ucap Kirana keberatan.


“Apa? Kamu menginginkan pesangon? Itukah yang kamu mau? Supaya kami yang memecatmu?” tantangnya kesal.


“Kalau saya mengundurkan diri, berarti saya membenarkan tuduhan yang dilimpahkan kepada saya.” Kirana mendorong jauh air matanya sebelum jatuh. Dia tidak akan menangis sekarang. “Sekali lagi, saya tidak mencuri uang perusahaan. Silakan tuntut saya. Saya lebih baik membela diri di pengadilan daripada mengaku bersalah untuk hal yang tidak saya lakukan.”


“Besok kamu tidak perlu kembali bekerja.” Dia mengetuk meja dengan penanya. Jantung Kirana berdetak begitu cepat menyakiti dadanya.


“Apakah itu berarti saya tidak akan diberi surat rekomendasi? Saya pergi tanpa sebuah apresiasi selama saya mengabdi untuk perusahaan ini?” tanyanya dengan suara serak.


“Kamu mencuri, Kirana. Tidak ada yang perlu diapresiasi dari tindak kejahatan itu.” Ucapan itu membuat Kirana merasa ditampar-tampar dari segala arah.


Dari semua penjelasan dan pembelaan dirinya, pria itu sama sekali tidak memikirkan kemungkinan bahwa dia sedang dijebak? Ke mana perginya pria baik hati yang menawarkan kepadanya untuk mengambil cuti lebih lama? Tetapi dia tidak mau menunjukkan ekspresi yang menyatakan bahwa dia terluka di depan bosnya. Dia tidak akan membiarkan siapa pun merasa menang.


“Terima kasih sudah memercayai saya, Pak. Dua belas tahun saya bekerja dengan baik di sini. Namun masa pengabdian saya tidak dipertimbangkan sebagai kemungkinan bahwa saya tidak bersalah. Sayang sekali, Anda lebih percaya kepada pegawai yang baru bekerja selama dua tahun di sini.” Kirana berdiri. “Saya sarankan Bapak mulai mempertimbangkan untuk memasang kamera pengawas di beberapa lokasi penting di perusahaan Anda. Anda tentu tidak mau kehilangan uang lagi ‘kan?”


“Kamu mengancamku?” Herbert menyipitkan matanya. Entah apa yang sudah dikatakan Caraka sehingga pandangan atasannya terhadapnya berubah seratus delapan puluh derajat. Pria itu menatap tidak suka ke arahnya, bahkan nyaris jijik. Dia pasti sangat geram karena hampir kehilangan uang yang begitu banyak. Tetapi apa akal sehatnya berhenti bekerja hanya karena amarah?

__ADS_1


“Hanya memberi saran. Pencuri yang sebenarnya masih ada di perusahaan ini. Percayalah.”


__ADS_2