Kisah Yang Tak Terlupakan

Kisah Yang Tak Terlupakan
Bagian 99


__ADS_3

Satu jam kemudian, mereka tiba di pemakaman umum. Kuburan kedua orang tua Kirana berada tepat di tengah-tengahnya. Miles memeluk istrinya begitu dia menangis sangat sedih. Tetapi tidak berlangsung lama, William tidak berhenti bertanya mengenai kematian dan fungsi kuburan. Miles membiarkan istrinya yang menjawabnya. Miles suka mengajukan pertanyaan, sebaliknya, dia benci memberi jawaban.


Karena istrinya lebih bijak dalam menjawab pertanyaan yang diajukan oleh putra mereka yang berusia lima tahun itu, Miles memilih menyerah. Otak putranya memproses informasi begitu cepat sehingga pertanyaan terus timbul tanpa bisa dibendung. Dia bahkan lebih cepat dalam mengajukan pertanyaan daripada Miles dalam memberikan jawaban.


Mereka pulang ke rumah dengan suasana hati yang lebih ringan. Kirana merasa lebih baik, meskipun dia masih terlihat sedih. Menjadi yatim piatu pastilah sulit karena dia tidak lagi memiliki orang tua yang masih hidup. Ketika dia sedang sedih, dia tidak bisa menenangkan diri di pelukan mama atau papanya. Saat dia sedang punya masalah, dia tidak punya rumah untuk pulang. Tetapi dia tidak sendirian lagi di dunia ini. Ada suami dan anak yang bahagia berada di sisinya setiap waktu.


Walaupun belum jam makan siang, mereka sudah merasa lapar. Miles membawa mereka ke sebuah restoran cepat saji. Tentu saja William bersorak senang mereka akan makan piza. Dia memesan piza dan milkshake cokelat untuk William, spageti bola-bola daging dengan saus tomat dan jus jeruk untuk Kirana, dan untuknya sendiri, dia memesan lasagna dengan prawn fettuccine dan secangkir kopi. Dia juga tidak lupa memesan salad dan es krim.


“Aku akan gemuk sebelum waktunya, Miles.” Kirana tertawa kecil.


“Tidak akan. Sudah satu bulan lebih porsi makanmu bertambah tetapi berat badanmu belum naik secara drastis. Jangan lupa, kamu sekarang harus makan untuk dua orang.” Miles mengecup pipinya. Kirana tersenyum sambil memasukkan satu suap spageti ke dalam mulut suaminya.


Pada siang harinya, pasangan yang berencana menyewa rumah tersebut datang. Karena mereka harus kembali ke kantor, mereka tidak bisa singgah untuk minum. Transaksinya berjalan cepat dan lancar. Mereka menyewa rumah itu untuk dua tahun ke depan. Kirana memberikan semua kunci rumah dan duplikatnya kepada mereka. Sedangkan kunci cadangan dipegangnya untuk berjaga-jaga jika dia harus memeriksa rumah tersebut suatu hari nanti.


Setelah mengucapkan selamat tinggal kepada pasangan itu, mereka masuk ke dalam rumah. Tiba-tiba terdengar bunyi roda mobil berdecit dari arah samping rumah. Miles menoleh dan melihat mobil Dexter berhenti di garasinya. Keningnya berkerut ketika seorang wanita keluar dari mobil dan dengan wajah merah mendekati mereka. Matanya terarah kepada Kirana. Refleks, Miles berdiri di depan istrinya, tangannya di panggul Kirana, melindunginya dari wanita yang siap meledak itu.


“Kamu memang wanita sialan! Semua ini terjadi gara-gara kamu! Aku telah kehilangan anakku. Dan sekarang aku akan kehilangan suamiku juga. Mengapa kamu muncul lagi di sini!?” teriaknya dengan keras. “Kamu ingin merendahkan aku. Iya ‘kan? Kamu mau balas dendam karena aku merusak persahabatanmu dengan Dexter? Dan sekarang kamu datang untuk mengambil Dexter dariku? Itu yang kamu inginkan, ‘kan?”

__ADS_1


Miles mengerutkan keningnya. Anak? Suami? Melihat pria yang berlari dengan cepat di belakang wanita itu, Miles akhirnya memahami situasi tersebut. Wanita ini adalah istri Dexter. Miles merasakan William memegang erat celananya. Dia menoleh dan mengelus pelan rambut putranya. Dia membenci  semua orang yang telah membuat keluarganya susah. Pertama Ratri, para pegawainya, dan kini wanita yang pencemburu itu.


“Vi,” ucap Dexter.


“Jangan ikut campur kamu!” Wanita itu melihat suaminya melalui bahunya. Lalu kembali melihat ke arah Kirana.


“Kalau kamu punya masalah, selesaikan dengan suamimu. Jangan libatkan istriku.” ucap Miles dengan nada serius. Setelah dari tadi matanya hanya mengarah kepada Kirana, wanita itu akhirnya melihat ke arahnya. Istri Dexter itu menatapnya dengan bingung.


“Istriku?” Dia bergantian melihat Kirana dan Miles. Matanya melebar begitu dia memahami kata-kata itu. “Oh. Kamu suami dari wanita sialan ini? Akhirnya dia menikah juga. Setelah sekian lama merayu dan menggoda suami dari wanita lain, dia punya suaminya sendiri? Ternyata keajaiban itu ada, ya?” ejeknya. Miles mengepalkan tangannya. “Apa kamu salah satu sahabat baiknya juga? Kamu meninggalkan pacar atau istrimu demi dia, hah?! Iya ‘kan?!”


“Temanmu, katamu? Aku tidak pernah mau berteman denganmu. Pergi! Pergi kamu dari sini!” pekik perempuan itu sekuat tenaga. Miles mulai muak melihat drama itu.


“Seharusnya kamilah yang mengucapkan itu. Karena kamu berada di atas tanah kami. Jadi, pergi dari sini.” ucap Miles dengan dingin. Wanita itu kembali melihat ke arahnya.


“Apa? Memangnya kamu pikir kamu siapa?” pekik istri Dexter lagi dengan suara yang memekakkan.


“Dexter, kalau kamu tidak bisa mengendalikan istrimu, aku akan telepon polisi.” ancam Miles. Dexter menganggukkan kepalanya. “Dan pastikan dia tidak mengganggu istriku lagi. Dia dan juga kamu. Kalian berdua hanya boleh datang kalau kalian bersikap baik kepada Kirana.”

__ADS_1


“Apa? Bersikap baik? Kami telah bersikap baik kepadanya, tapi lihat apa balasannya. Dia berusaha menggoda suamiku! Kami tidak pernah mengganggunya. Wanita ini yang merusak rumah tangga orang lain!” pekik wanita itu semakin garang. Miles menatap tajam ke arah Dexter yang hanya diam berdiri di sana.


“Vi, ayo, kita pulang.” Dexter menarik tangan istrinya.


“Tidak! Lepaskan aku!” teriak wanita itu sekuat tenaga saat Dexter menarik tangannya menuju rumah mereka. “Aku belum selesai bicara. Dia harus dengarkan aku! Sialan kamu, Kirana! Kamu telah merusak rumah tanggaku! Kamu membunuh anakku! Drew, lepaskan aku!”


“Dad,” bisik William dengan nada ketakutan. Miles segera mengangkat dan menggendongnya. Putranya segera membenamkan wajah di dadanya. Lalu dia menoleh ke arah Kirana. Wanita itu menangis sedih dan tubuhnya bergetar dengan hebat.


“Kita pergi. Sekarang.” ucap Miles serius. Istrinya mengangguk pelan sambil memeluknya.


Setengah jam kemudian, mereka sudah berada di jalan raya. Miles mengendarai mobil menuju bandara. Dia sesekali melihat ke arah Kirana yang duduk di sisinya. Tetapi wanita itu hanya menatap ke depan dengan pandangan kosong. Dari cermin di depannya, Miles melihat putranya duduk dengan tenang di bangku belakang. Segalanya baik-baik saja sampai wanita itu muncul dan merusak kebahagiaan mereka.


Tiba di bandara, dia memarkirkan mobil di tempat penyewaan mobil. Dia mengembalikan kuncinya dan segera berjalan bersama Kirana dan William ke konter check-in. Selagi menunggu giliran mereka, Miles meletakkan tangannya di pundak Kirana dan mencium pelipisnya dengan lembut. Wanita itu menatapnya dengan senyum kecil.


Menunggu penerbangan mereka yang masih lama lagi, mereka makan malam di salah satu restoran. Miles sengaja memesan burger dan sosis porsi besar untuk putranya. William makan dengan lahap. Saat dia sedang sibuk makan, dia akan lupa untuk mengajukan pertanyaan. Dia tidak terlihat trauma setelah kejadian dengan perempuan tadi. Jadi, Miles mengacak-acak rambutnya dengan sayang sembari mendesah lega.


Sebaliknya, Kirana tidak menghabiskan makanannya. Tetapi setidaknya dia memakan porsi kecil yang ada di piringnya. Miles mencium bibirnya untuk menarik perhatiannya. Wanita itu hanya tersenyum kecil seraya membelai pipi suaminya. Sikap diam berarti dia tidak mau membicarakannya sekarang. Miles bisa menunggu. Mereka akhirnya akan membicarakannya juga di rumah mereka.

__ADS_1


__ADS_2