Kisah Yang Tak Terlupakan

Kisah Yang Tak Terlupakan
Bagian 3


__ADS_3

Lelah selama tiga hari hanya menangis dan menyangkali kenyataan, dia segera tertidur begitu membaringkan tubuhnya di atas kasur. Tidur nyenyak tanpa mimpi membuat tubuhnya rileks. Dia terbangun karena perutnya protes minta diisi. Jarum jam dinding di kamarnya menunjukkan pukul dua dini hari. Dengan malas, dia meregangkan badannya dan mengeluh pelan. Lalu dia keluar dari kamar dengan langkah gontai.


Dia mengerang pelan melihat isi di dalam kulkasnya. Dugaannya benar. Ada begitu banyak makanan yang tidak akan bisa dihabiskannya sendiri berhari-hari. Semua makanan disimpan dalam kotak bekal dan masing-masing diberi label tanggal kedaluwarsa. Mempertimbangkan dari sekian banyak pilihan, dia mengambil nasi kuning yang lengkap dengan daging dan sekotak sayur labu. Kemudian dia membuka penutupnya dan memasukkan kedua kotak tersebut ke dalam microwave.


Setelah cukup hangat, dia membawa makanan itu ke ruang keluarga. Sambil menonton film yang diputar salah satu stasiun televisi, dia menikmati makanannya. Walaupun selera makannya belum kembali, dia memaksakan dirinya untuk menghabiskan makanan yang ada di dalam kotak. Belum selesai menonton film kedua, dia merasa bosan.


Dia mematikan televisi lalu berjalan ke dapur. Di sana, dia mencuci kotak makanan, sendok, dan gelas yang digunakannya untuk makan. Dia memeriksa termos, masih ada air panas di dalamnya. Dia membuka tiga bungkus kecil bubuk cokelat, memasukkannya ke dalam sebuah mug, lalu menuangkan air panas dari termos. Dia mengaduk minuman panas tersebut.


Karena dia bosan, dia kembali ke kamar sambil membawa mug berisi cokelat hangat tersebut. Saat mengambil ponselnya dari atas meja, dia mendesah pelan. Ada lima panggilan tidak terjawab dari Ratri. Puluhan pesan masuk dari kerabat dan sahabat yang berisi ucapan belasungkawa. Dia mengirim pesan kepada kakaknya menyampaikan bahwa dia tertidur sehingga tidak menjawab telepon darinya. Pesan lainnya dia abaikan saja.


Begitu bangun tidur pada pagi hari, Kirana bergegas mandi. Setelah mengeringkan tubuh dengan handuk, dia memakai pakaian kerjanya, merapikan rambut dan merias wajahnya, dia keluar kamar menuju ruang makan yang digabung dengan dapur. Rumah gelap karena tidak ada lampu yang menyala. Tirai masih menutup jendela, menghalangi masuknya sinar matahari. Dia membuka semua tirai lebar-lebar. Ayahnya kadang-kadang lupa saat dia lapar sekali. Rumah menjadi terang-benderang karena sinar matahari masuk dengan bebas. Dia tersenyum. Hari ini akan cerah.


“Selamat pagi, Papa, Mama.” ucap Kirana sambil masuk ke ruang makan.


Senyap. Tidak ada siapa pun di ruangan itu. Kursi di mana ayahnya biasa duduk sambil menikmati kopinya kosong. Tempat di depan kompor di mana ibunya biasa berdiri sambil memasak sarapan untuk mereka juga kosong. Lalu kejadian kemarin kembali bermain di kepalanya. Kedua orang tuanya telah meninggal dan dikuburkan. Air mata menggenang di pelupuk matanya. Dia menarik napas panjang dan mengeluarkannya, dia tidak boleh menangis. Akan butuh waktu untuk berdandan lagi.


Dari dalam kulkas, dia mengambil kotak makanan berisi bubur ayam. Sambil menunggu bubur dihangatkan, dia membuat secangkir cokelat hangat. Untuk pertama kalinya, dia sarapan seorang diri. Tidak ada Papa dan Mama. Juga tidak ada Ratri, Brian, dan kedua keponakannya yang tidak bisa diam. Apalagi teman-teman kantornya yang setia mendampinginya sejak jasad kedua orang tuanya dibawa dari rumah sakit ke rumah hingga pemakaman.


Saat ini dia hanya punya pekerjaan dan teman-temannya. Dia tidak sendiri sekalipun tanpa kakak dan orang tuanya. Karena ada rekan-rekan kerja yang asyik diajak bekerjasama dan ada teman-teman dekat yang suka berbagi waktu bersama. Bersama mereka, dia akan sibuk selama beberapa hari ke depan.


Turun dari bus kota, Kirana sedikit berlari mendekati gedung di mana dia bekerja. Karena melamun, dia melewati halte kantornya dan harus pindah bus untuk kembali ke halte yang terlewat tersebut. Tiba-tiba saja bunyi klakson mobil menghentikan langkahnya. Sebuah mobil Mercedes Benz keluaran terbaru berwarna merah melintas di depannya. Kaca jendela bagian pengemudi dibuka.


“Hai, Kirana! Aku lihat kamu baru turun dari bus. Apakah nyaman bersempit-sempitan di dalamnya? Mengapa kamu tidak beli mobil seperti aku?” goda Caraka, karyawan bagian keuangan. Salah satu orang yang suka mengganggunya setiap kali mereka berjumpa.


“Dengan gajiku selama satu bulan, aku tidak mungkin mampu membeli mobil semahal ini. Terima kasih atas saranmu, Caraka. Tapi aku lebih memilih bersempit-sempitan dan sesak napas di dalam bus yang penuh daripada memamerkan kekayaan yang entah dari mana asalnya.” ucap Kirana sarkas. Senyuman tadi menghilang dari wajah pria itu.


“Apa kamu menuduhku mencuri?” tanyanya kesal. Kirana tersenyum tak berdosa.

__ADS_1


“Apa kamu merasa tertuduh?” Dia balik bertanya. Ketika wajah Caraka memerah, dia tahu dia telah mengatakan hal yang tepat.


“Kita lihat saja siapa yang sebenarnya pencuri di antara kita.” ancam Caraka.


“Akan aku pastikan, orangnya bukan aku.” ucap Kirana penuh percaya diri.


Pagi itu dia mengikuti rapat manajerial di ruang rapat di lantai paling atas kantornya. Satu-persatu kepala bagian melaporkan perkembangan masing-masing departemen yang dipimpinnya. Tidak menemui kesulitan dengan laporannya sendiri, Kirana senang ada banyak pertanyaan ditujukan kepadanya. Bagian keuangan mendapat pujian tertinggi karena penghematan dan ketatnya pengawasan yang mereka lakukan terhadap penggunaan uang di setiap proyek. Rapat yang berlangsung selama dua jam itu berjalan dengan baik.


“Kirana,” panggil Herbert, atasannya. Kirana berdiri dari tempat duduknya usai merapikan buku dan alat tulis yang dibawanya.


“Iya, Pak.” jawabnya sambil mendekati atasannya itu.


“Mengenai permohonan cutimu, aku sudah mengabulkannya.” ucap pria separuh baya itu. Senyum Kirana kian mengembang mendengarnya.


“Terima kasih banyak, Pak.” ucap Kirana senang.


“Tidak, pak. Terima kasih. Dua hari sudah cukup. Ditambah dengan akhir pekan, saya mendapatkan empat hari istirahat.” ucap Kirana puas. Dia pria yang baik tetapi Kirana tidak akan memanfaatkan kebaikan tersebut.


“Baiklah kalau kamu bersikeras.” Bosnya mengalah.


Herbert keluar dari ruang rapat menuju ruangannya. Pada saat yang sama, Kirana mendekati lift. Ruangannya berada satu lantai di bawah. Saat dia kembali, Ruby, asistennya, mengikutinya menuju ruangannya. Kirana mengerutkan kening melihat ekspresi wajah bahagianya.


“Ada apa, Ruby? Apa ada urat wajahmu yang salah letak?” tanya Kirana heran. Ruby menutup pintu lalu mendekatinya.


“Aku baru saja terima SMS dari bank. Gajiku naik. Terima kasih, Kirana. Aku akan bekerja lebih baik lagi.” ucap Ruby dengan senyum ceria.


“Bukan aku yang menaikkan gajimu. Seharusnya kamu berterima kasih kepada direktur.” Kirana tertawa geli. Ruby mengerutkan keningnya.

__ADS_1


“Tapi kalau bukan kamu yang mengajukan, mana pernah mereka mempertimbangkan untuk menaikkan gaji.” Dia bersikeras.


“Ada lagi? Aku harus memeriksa semua laporan ini sebelum makan siang.” Kirana menunjuk ke arah tumpukan kertas di atas mejanya.


“Tidak. Hanya itu.” Ruby tersenyum.


“Baik. Kamu boleh kembali ke mejamu.” Kirana duduk di kursinya dan mulai bekerja.


“Sekali lagi terima kasih, Kirana.” ucap Ruby. Kirana memutar bola matanya.


“Kirana! Bu Kirana!” Terdengar pekikan orang-orang yang kemudian masuk ke dalam ruangannya saat Ruby baru saja membuka pintu.


“Ada apa lagi?” keluh Kirana sambil meletakkan pulpennya. Hampir semua bawahannya berdiri di hadapannya. Mereka tersenyum bahagia.


“Gaji kami naik.” lapor salah seorang dari mereka.


“Iya. Jumlahnya lebih banyak dari tahun lalu.” timpal yang lain.


“Terima kasih, Bu. Terima kasih, Kirana.” tambah yang lain.


“Oke, oke. Dengarkan aku.” ucap Kirana dengan suara lantang. Mendadak ruangannya menjadi senyap. “Bukan aku yang menaikkan gaji kalian. Silakan berterima kasih kepada direktur.”


“Tapi, kalau bukan kamu yang mengusulkan,” gumam salah satu dari mereka.


“Pasti kamu yang meminta kepada direktur.” timpal yang lain. Kirana mendesah pelan. Dia sengaja melakukannya diam-diam karena dia tidak mau mereka berterima kasih kepadanya. Kenaikan gaji ini adalah prestasi dari mereka sendiri.


“Apa kalian tidak punya pekerjaan lain selain berkumpul di sini?” ucap Kirana sambil mengangkat kedua alisnya tinggi-tinggi saat mereka hanya berdiri di tempat dengan bingung.

__ADS_1


Tidak memedulikan ucapannya, mereka mendekatinya. Lalu satu-persatu menjabat tangannya sambil mengucapkan terima kasih. Kirana hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. Setelah semua orang keluar, Ruby tersenyum penuh arti. Meskipun dia senang dengan kebahagiaan mereka, Kirana menyembunyikannya dengan memutar bola matanya.


__ADS_2