Kisah Yang Tak Terlupakan

Kisah Yang Tak Terlupakan
Bagian 7


__ADS_3

Mereka berada di sisi tengah jalan. Tiba-tiba sebuah sepeda motor melaju keluar dari jalan kecil dari sebelah kiri. Karena motor tersebut tidak mengurangi kecepatan atau pengendaranya kurang perhatian melihat lalu lintas jalan raya yang dimasukinya, sepeda motor itu menabrak pintu kiri depan mobil dengan keras. Mereka jatuh di sisi kiri mobil. Wanita yang duduk di boncengan tidak mengenakan helm, untung saja kepalanya tidak terbentur ke aspal. Markus menghentikan mobil, khawatir dia akan melukai mereka bila terus menyetir.


“Jangan keluar, Pak. Biar saya yang tangani.” ucap Markus sambil melepas sabuk pengamannya. Tanpa menunggu tanggapan majikannya, dia keluar dari mobil.


Dari tempat duduknya, Miles bisa mendengar pengendara sepeda motor itu menyalahkan sopirnya. Wanita yang bersamanya berteriak bersamaan dengan pria tersebut tanpa memberi kesempatan kepada Markus untuk bicara. Melihat situasi tidak berpihak kepada sopirnya, dia keluar dari mobil. Perhatian ketiga orang itu pun tertuju kepadanya.


Miles melihat ke arah pintu depan mobilnya. Kerusakannya cukup parah, biayanya pasti tidak murah. Tetapi itu bisa ditangani oleh asuransi. Motor pria itu yang bernasib kurang beruntung. Karena ulahnya sendiri, pria itu akan merogoh dompetnya dalam-dalam untuk memperbaiki kendaraan tersebut. Semoga saja motor itu diasuransikan.


“Ooo, ada bule rupanya. Pantas saja ugal-ugalan di jalan. Merasa hebat, ya, mentang-mentang punya mobil mewah? Merasa memiliki jalan ini? Pulang sana ke negaramu! Ngga terpakai orang sepertimu di negeri ini!” teriak pria tersebut dengan kasar. Miles hanya menatapnya saja. “Ada apa hanya diam? Ngga mengerti bahasa Indonesia? Bodoh sekali datang ke sini ngga belajar bahasa ibunya.”


“Kayaknya dia memang bule bodoh, sayang. Minta sopirnya saja yang menerjemahkan.” ucap perempuan yang bersamanya dengan geli. Mereka berdua baik-baik saja, Miles tidak melihat adanya luka atau lecet pada tubuh mereka.


Miles tersenyum melihat tingkah mereka. Hebat. Yang bersalah justru yang suaranya paling lantang dan sikapnya paling lancang. Dia menoleh ke arah Markus. Wajah pria itu memucat. Yaah, dia tahu apa yang akan terjadi. Miles kembali melihat ke arah pengendara sepeda motor dan wanita itu. Andai mereka juga tahu apa yang diketahui sopirnya, mereka sudah lama pergi dari hadapannya.


“Heh, bilang sama bos idiotmu, bayar ganti rugi! Perbaikan sepeda motorku pasti lebih dari lima juta. Ngga usah coba-coba lari. Aku punya teman polisi. Bisa aku laporkan pelat nomor mobil ini.”

__ADS_1


“Hati-hati. Kalau aku jadi kamu,” ucap Markus.


“Maaf,” potong Miles dalam Bahasa Indonesia. “Kamu bilang kamu punya teman seorang polisi? Panggil dia ke sini. Aku mau dengar apa katanya begitu melihat posisi sepeda motormu dengan mobilku.”


“Dia bisa berbahasa Indonesia, sayang.” ucap wanita itu geli.


“Kamu tidak akan suka kalau dia sampai ikut campur urusan kita. Jadi, cukup beri uang ganti ruginya. Tujuh juta! Cepat!”


“Kamu lihat tiang itu? Di puncaknya ada kamera pengawas milik kepolisian lalu lintas.” Kedua orang itu serentak menoleh ke arah yang dilihat Miles. Wajah mereka memucat begitu memahami maksudnya. “Mari kita tanya temanmu, siapa yang sepantasnya membayar tujuh juta.”


Kesal dan telanjur malu, pria itu mengarahkan tinjunya ke wajah Miles. Siap dengan serangan itu, Miles memundurkan tubuhnya dan menangkap pergelangan tangan pria tersebut. Setelah memelintir tangan pria itu ke punggungnya, dia mendorong tubuhnya ke mobil dengan tangannya yang bebas. Dada pria itu menghempas jendela mobil Miles dengan keras.


Miles melepaskan pria tersebut. Wanita yang bersamanya segera mendekatinya dan memeriksa badannya. Dia melotot ke arah Miles namun tidak mencoba membalas. Lalu lintas di dekat mereka sudah ramai karena mereka menghalangi arus lalu lintas. Bunyi klakson mulai memekakkan telinga menyuruh mereka segera bergerak.


“Atau apa? Kamu mengancamku? Kerusakan mobilmu tidak seberapa dibandingkan dengan kerugian yang dialami sepeda motorku.”

__ADS_1


“Atau surat kepemilikan kendaraanmu aku tahan selamanya.” Miles menunjukkan kertas berbungkus plastik yang dipegangnya lalu melempar dompet pria itu kembali kepadanya.


“Kamu tidak bisa,” pekik pria itu panik.


Miles mengabaikannya dan masuk ke dalam mobil. Markus mengikuti apa yang dilakukan majikannya. Dia mengendarai mobil, meninggalkan pria dan wanita tadi tanpa memedulikan protes mereka. Markus melirik ke arah majikannya lewat kaca spion depan. Miles hanya tersenyum penuh arti sambil melanjutkan memeriksa berkas-berkas di pangkuannya.


Dia hampir terlambat tiba di balai kota untuk mengikuti pertemuan dengan gubernur. Pria ramah itu menyambutnya di ruang pertemuan. Kilatan lampu kamera membuat Miles risih. Dia berusaha keras untuk tetap tersenyum dan menjawab pertanyaan wartawan yang ditujukan kepadanya. Dalam hati dia berharap ketenaran itu hanya untuk satu hari itu saja.


Semua pengusaha yang ada di dalam ruangan itu sudah lama dikenalnya, jadi dia bisa bersikap santai. Ada saingan, ada juga rekan sejawat. Apa pun statusnya, mereka tetap bersahabat di luar urusan kerja. Dia menjabat tangan mereka satu-persatu lalu duduk di salah satu kursi yang kosong. Di hadapannya telah tersedia secangkir kopi hitam. Dia tersenyum. Matanya kemudian terpusat pada makanan ringan yang ada di hadapannya. Kue khas jajanan pasar, jenis makanan yang dia sukai.


Pertemuan itu berlangsung penuh kekeluargaan. Mereka berbincang seperti dengan sesama sahabat karib mereka sendiri. Tidak ada jarak atau segan sekalipun mereka sedang berada satu ruangan dengan orang nomor satu di ibukota. Ada banyak kamera wartawan di luar. Tetapi dalam ruangan itu hanya ada beberapa kamera video sehingga tidak mengganggu jalannya pertemuan.


Miles kembali ke kantor hanya untuk meletakkan berkas-berkas yang sudah dipelajari dan ditandatanganinya ke atas meja. Kemala akan mengurus semuanya besok pagi. Markus mengantarnya ke tempat kebugaran yang berada tidak jauh dari kantornya. Dia mengucapkan terima kasih saat atasannya memberi uang untuk makan malamnya.


Miles berganti pakaian di ruangan yang telah disediakan dan menyimpan barang-barang pribadinya di dalam loker. Masuk ke aula, sudah ada banyak orang yang memakai peralatan yang ada di sekeliling tempat tersebut. Beberapa wanita menoleh ke arahnya saat dia lewat. Tidak jarang beberapa pria juga melakukan hal yang sama.

__ADS_1


Badannya tidak berotot seperti aktor-aktor film laga Hollywood, hanya berbentuk atletis sehingga dia tidak terlihat besar dan menakutkan tetapi juga tidak terlihat lemah. Bentuk tubuh yang didapatnya karena berolahraga dengan teratur.


Terbiasa dengan cara orang-orang di sekitarnya melihatnya setiap kali dia memakai pakaian yang menunjukkan bentuk tubuhnya, Miles mengabaikan mereka. Hanya bila ada yang memanggil namanya dia akan berhenti dan berbincang sebentar. Itu pun jarang terjadi. Dia sengaja memilih tempat kebugaran di mana tidak banyak orang yang dikenalnya akan berpapasan dengannya.


__ADS_2