
Miles membawa Kirana ke Marina Bay Sands. Tiga gedung kembar di dekat Marina Bay dengan restoran, bar, dan kafe di area terbuka di atapnya. Ketika mobil yang mereka tumpangi berhenti di depan pintu utama hotel, Kirana menoleh ke arahnya. Miles keluar dari mobil, Kirana mengikutinya.
“Ki, kita makan malam di sini?” tanya Kirana tidak percaya. Miles tertawa kecil.
“Iya.” Dia meraih tangan wanita itu dan menggandengnya masuk ke dalam. Mereka menggunakan elevator sampai tiba di atap.
“Oh, Tuhan.” ucap Kirana pelan begitu mereka tiba di luar.
Dari atap gedung, mereka bisa melihat melalui jendela besar ke arah pemandangan di luar. Kota Singapura dengan pemandangan laut, gedung-gedung pencakar langit, dan jembatan besarnya. Hari itu sangat cerah. Perpaduan birunya langit dan air laut sangat mengagumkan dengan pantulan sinar matahari di atas permukaan laut.
Tetapi pemandangan yang lebih indah adalah wanita yang berdiri di sisinya. Kirana membiarkan rambut panjangnya tergerai. Dia mengenakan dress berwarna putih dipadu dengan cardigan rajutan berwarna merah muda. Seperti biasa, dia memakai sepatu hak tinggi yang bertali pada pergelangan kakinya. Mata wanita itu membulat melihat pemandangan di hadapannya.
“Yah, kamu benar. Kamu memang tidak suka kejutan.” goda Miles. Kirana memukul lengannya dengan pelan, lalu memeluknya. Miles tertawa kecil sambil mencium pelipisnya.
Mereka mendapat meja di balkon dekat dengan pagar pengaman sehingga pemandangan kota Singapura dan sekitarnya terlihat jelas dari tempat mereka duduk. Kirana tidak berhenti mengagumi pemandangan tersebut. Miles meletakkan tangannya di sandaran kursi Kirana. Bila wanita itu sedang bersandar, dia menyentuh bahunya dan menggerak-gerakkan tangannya dari bahu ke lengan atasnya yang dilapisi lengan cardigan.
Momen yang dia nantikan akhirnya tiba. Matahari terbenam. Kirana menatap kagum saat langit berubah kemerahan. Dia menoleh ke arah Miles dengan senyum di wajahnya. Tanpa mengucapkan apa pun, Miles menundukkan kepalanya dan mencium bibir wanita itu. Kirana menyandarkan tubuhnya kepadanya dan meletakkan tangannya di dadanya.
Ciuman itu begitu lama dan lembut. Jantung Miles mulai berdebar sangat kencang. Kalau bukan karena peraturan negara itu yang melarang bermesraan secara berlebihan di ruang publik, dia tidak akan berhenti.
“Aku mencintaimu, Kirana.” bisik Miles di bibirnya. Wanita itu tidak mengatakan apa pun. Miles mengangkat kepalanya dan melihat wajah merah wanita itu. Dia mengeluh pelan saat ciuman mereka berakhir. “Apa kamu ingin mengatakan sesuatu juga?”
__ADS_1
“Terima kasih?” ucapnya sambil mengangkat kedua alisnya. Miles merasakan nyeri di dadanya. Tetapi dengan cepat dia menyembunyikannya dengan senyuman.
“Sama-sama?” ucap Miles meniru nada suara Kirana. Mereka tertawa bersama. Kirana melingkarkan kedua tangannya di leher Miles lalu mencium bibir pria itu kembali.
Mengapa wanita itu tidak mengatakan hal yang sama? Apakah Miles yang keliru membaca pesan yang disampaikan Juliettnya selama ini? Mungkinkah dia hanya menyukai keintiman mereka tetapi bukan dirinya? Dia menciumnya dengan penuh gairah. Bukankah itu sebuah tanda bahwa wanita itu mencintainya? Lalu apa yang menghalanginya untuk mengatakan hal yang sama?
Andai Juliett tetap menolak lamarannya, apa yang harus dilakukannya? Wanita itu begitu misterius sehingga dia tidak bisa menebak isi kepalanya. Dia tahu apa yang ada di dalam hati wanita itu. Untuk yang satu itu, dia bisa membacanya dengan jelas. Tetapi tidak dengan yang ada dalam pikirannya. Di saat tertentu dia menolak sentuhannya, di saat lain dia yang berinisiatif.
“Katakan, apa kamu punya saudara?” tanya Kirana.
“Tidak. Aku anak tunggal. Kamu?”
“Aku punya seorang kakak perempuan.” Wajah Kirana terlihat sedih saat mengucapkannya. “Apa kedua orang tuamu tinggal di Indonesia juga?” Dia mengalihkan topik percakapan. Miles tersenyum.
“Kamu punya orang tua yang hebat. Mereka pasti sangat bangga kepadamu.” ucap Kirana dengan suara serak. Miles tersenyum. Dia tahu apa yang terjadi dengan orang tua wanita itu. Dia tidak akan bertanya tentang mereka. Setidaknya, tidak pada malam ini.
“Kedua orang tuamu juga pasti bangga kepadamu.” Miles mencium keningnya.
“Kalau kamu diberi kesempatan untuk menjadi seseorang yang paling kamu inginkan, kamu bisa jadi siapa saja yang kamu mau. Kamu pilih jadi siapa?” tanya Kirana. Miles menatap matanya sesaat.
“Itu pertanyaan paling mudah yang pernah aku dengar. Aku ingin jadi suamimu.” jawab Miles dengan tulus. Kirana membulatkan matanya. Dia pasti tidak menduga jawabannya akan seperti itu.
__ADS_1
“Tidak adil.” ucapnya pelan.
“Mengapa tidak adil?” tanya Miles bingung.
“Kalau aku tahu kamu akan menjawab itu, aku pasti akan memberi jawabanku lebih dahulu.” protes Kirana.
“Memangnya apa jawabanmu? Kamu ingin jadi siapa?” tanya Miles geli. Kirana melihatnya dengan ragu. Tetapi kemudian dia menggenggam tangan Miles.
“Almarhumah istrimu.” Kirana tersenyum sambil menatap mata pria di hadapannya itu. Miles mengerutkan keningnya. “Aku pasti akan memilih tetap berada di sisimu, puas dengan kehadiranmu sekalipun tanpa anak-anak. Aku tidak akan pernah membuatmu menderita. Hanya senyum dan tawamu yang ingin aku lihat setiap waktu. Dengan segenap hati, aku akan meringankan bebanmu, memelukmu ketika kamu bersedih, dan tertawa bersamamu di saat bahagia.”
“Mengapa kamu ingin jadi dia kalau kamu bisa menjadi istriku sekarang? Semua hal tadi bisa kamu lakukan bila kamu menerima lamaranku, Kirana.” Miles memohon kepadanya.
Kirana menatap Miles begitu lama. Tangannya membelai pipi pria itu lalu rahangnya turun ke lehernya. Sebuah senyuman menghiasi wajahnya lalu tangannya bergerak ke belakang kepala Miles. Dia menarik wajah pria itu mendekat kepadanya. Dengan lembut, dia mencium bibirnya. Miles tidak suka bila pertanyaannya tidak dijawab. Tetapi bila Juliettnya butuh waktu, dia akan memberikannya waktu sebanyak yang dia butuhkan.
“Aku masih punya satu hari lagi untuk menjawab lamaranmu, Miles. Tapi malam ini, malam ini kita akan membuat banyak kenangan indah.” bisik Kirana.
Malam itu, semuanya terlupakan. Mereka bercinta di kamar sepanjang malam. Iya, mereka bercinta. Baginya, mereka bukan lagi sekadar berhubungan badan tanpa melibatkan emosi. Dia menciumnya, menyentuhnya, memuja tubuhnya dengan seluruh cinta yang hanya dirasakannya untuk Kirana. Bukan lagi sekadar memuaskan nafsunya semata.
Kirana terlihat lebih santai dari malam sebelumnya. Tidak ada kerutan di keningnya, tidak ada keraguan di wajahnya, tidak ada ketakutan di matanya, juga tidak ada air mata di pelupuk matanya. Dia melonggarkan pelukannya ketika wanita itu telah tertidur pulas. Setelah mengenakan celana pendeknya kembali, dia mengunci pintu depan dan memadamkan lampu. Dia kembali ke kamar dan melihat wanita itu masih tidur.
Di dalam kamar mandi, dia tersenyum kepada bayangannya di cermin. Rambutnya berantakan dan wajahnya bersemu merah. Senyumnya semakin mengembang saat dia melihat tidak ada bekas gigitan atau cakaran di tubuhnya. Setelah bersikat gigi, dia mematikan lampu kamar mandi dan kembali berbaring di dekat Kirana. Wanita itu menggumamkan sesuatu yang tidak jelas saat Miles melingkarkan tangan di tubuhnya dan menarik tubuhnya mendekat kepadanya.
__ADS_1
Dia beruntung malam ini, dia tidak harus menggodanya untuk mau tidur dengannya. Wanita itu memberikan dirinya dengan rela. Dia meletakkan tangannya di perut wanita itu. Di dalam hati, Miles berharap dia berhasil menanamkan benihnya di rahim wanita itu. Dia tidak boleh kehilangannya lagi. Walau dia harus menggunakan cara yang licik dan kotor, dia harus bisa memilikinya. Selamanya.
Dia mencintainya.