
Kemala tersenyum melihat Kirana datang mendekat. Dia memberitahu Miles mengenai kedatangannya lewat interkom. Sesaat menunggu, asisten direktur utama itu mempersilakannya untuk masuk. Kirana membuka pintu ruangan Miles dan menutupnya kembali. Pria itu sedang serius membaca dokumen yang ada di atas mejanya.
“Pak Bradford,” sapa Kirana.
“Silakan duduk, Kirana.” ucap Miles tanpa melihat ke arahnya.
“Saya hanya ingin memberikan ini.” Kirana meletakkan amplop yang dibawanya ke atas meja. Pria itu akhirnya mengangkat kepalanya dan melihat amplop tersebut. Dia mengambilnya, dan tanpa melihat apa yang ada di dalamnya, dia merobeknya dua kali, lalu membuangnya ke tempat sampah di bawah mejanya.
“Ada lagi yang mau kamu sampaikan?” tanya Miles sambil menatapnya tanpa berkedip. Kirana membulatkan matanya dan mulutnya ternganga lebar.
“A, apa yang barusan Anda lakukan?” protes Kirana.
“Kalau tidak ada lagi, kamu boleh kembali ke ruanganmu. Oh, dan satu hal lagi. Sebelum aku lupa, aku ingin melihat presentasi yang akan kamu bawakan pada saat pelatihan. Siapa tahu saja ada yang perlu aku tambahkan untuk menyempurnakannya.”
“Kamu tidak bisa menahanku di sini selamanya, Miles.” ancam Kirana.
“Oh. Kamu kembali lagi ke Miles setelah memanggilku Pak Bradford. Menarik.” Miles kembali sibuk dengan kertas di hadapannya. “Aku tidak sedang menahanmu di sini. Pintunya tidak dikunci.”
Kirana menggeram marah. Sambil menghentak-hentakkan kakinya dengan keras, dia berjalan keluar dari ruangan atasannya. Miles tertawa kecil. Kemala memanggilnya saat dia keluar. “Tidak sekarang, Kemala. Aku akan meneleponmu nanti.” ucap Kirana tanpa memperlambat langkahnya.
Dia menunggu selama lima menit hingga pintu lift terbuka. Seseorang tiba-tiba saja memegang lengan atasnya dan menariknya masuk ke dalam elevator. Kirana mengangkat kepalanya dan melihat Miles berdiri di sisinya. Dia menarik tangannya dari genggaman pria itu. Miles menekan angka menuju lantai di mana ruang kerja Kirana berada.
“Apa yang kamu mau sekarang?” tanya Kirana kesal.
“Wakil direktur bagian pemasaran baru saja mengundurkan diri.” ucap Miles begitu pintu lift tertutup. “Aku tidak bisa kehilangan kamu juga, Kirana. Kami akan melakukan rapat dadakan siang ini untuk memutuskan siapa yang sebaiknya kami angkat untuk menggantikannya. Kamu adalah salah satu calon kami yang terbaik.”
__ADS_1
“Mengundurkan diri? Tapi Pak Indra adalah orang yang giat dan punya mimpi besar untuk perusahaan ini. Bagaimana mungkin di keluar begitu saja?” tanya Kirana tidak percaya.
“Dan dia juga adalah salah satu sahabatku.” Miles memijat keningnya. “Kita tidak bisa bicara di sini. Kita bicara di ruanganmu saja.”
“Di ruanganku? Tidak, Miles. Kita tidak pernah hanya bicara saat kita berada di ruangan-KU. Kamu pasti berencana melakukan hal ITU lagi ‘kan?” tuduh Kirana. Miles melihat ke arahnya dengan tatapan serius.
“Aku hanya ingin bicara.” ucap Miles dengan tegas.
Tiba di lantai tujuan, Miles mempersilakan Kirana keluar lebih dahulu. Kepala bermunculan dari masing-masing bilik saat mereka berjalan menuju ruangannya. Kirana memutar bola matanya melihat stafnya yang terlalu penasaran. Status Miles sebagai duda menarik perhatian para rekan kerja wanitanya yang tidak bisa mengalihkan pandangan mereka dari Miles. Tidak. Bukan karena statusnya. Miles adalah pria yang menarik. Wajar saja banyak wanita yang tertarik kepadanya.
“Tolong tahan semua telepon sampai Pak Bradford keluar dari ruanganku, Susan.” perintah Kirana kepada asistennya.
“Baik, Bu.” jawab Susan.
Miles membukakan pintu untuknya, Kirana memicingkan matanya. Itu bukan pertama kalinya pria itu melakukannya. Dia selalu melakukannya. Tetapi di depan para stafnya, setiap tindakan kecil yang dilakukan pria itu membuatnya tidak nyaman. Pria itu hebat. Dia tidak terlihat terganggu sama sekali dengan semua tatapan yang ditujukan kepadanya.
“Aku tahu. Aku juga mengalami hal yang sama denganmu setiap kali melihat pintu ruang tidur di ruang kerjaku.” ucap Miles geli.
“Apa kamu ingin minum sesuatu? Aku bisa meminta Susan,” tawar Kirana.
“Tidak perlu, terima kasih.” ucap Miles pelan. “Yang tahu alasan sebenarnya Indra mengundurkan diri hanya aku, Reynand, dan Nathan. Dan kini aku juga akan memberitahumu. Dia mencuri sejumlah besar uang dari perusahaan.”
“Apa? Tapi bagaimana caranya? Bukankah yang memiliki akses ke rekening perusahaan hanya kamu, bendahara direktur, dan kepala bagian keuangan? Bagaimana dia bisa mendapatkan uang tersebut?”
“Benar. Tapi dia bisa memanipulasi uang yang dia terima untuk membuat iklan dan sebagainya untuk dimasukkan ke rekeningnya sendiri. Atau lebih tepatnya, rekening yang dibuka atas nama anak perempuannya. Ada begitu banyak uang di dalam rekeningnya. Jumlah yang masuk setiap bulannya sebesar tiga kali lipat jumlah gajinya.”
__ADS_1
“Padahal dia tidak punya pekerjaan sampingan, anaknya tidak bekerja, jadi itu sangat mencurigakan. Hanya Indra satu-satunya yang menjadi tersangka. Anak perempuannya tidak punya sumber untuk mendapatkan uang sebanyak itu. Reynand memeriksanya dan menemukan bukti yang aku butuhkan. Dia mencuri uang perusahaan. Uang milikku.”
“Kamu bilang dia mengundurkan diri.” Kirana bingung.
“Iya. Aku yang memaksanya melakukan itu. Aku tidak sudi memberinya pesangon.” ucap Miles kesal. Kirana menganggukkan kepalanya. “Charles membuat surat pernyataan yang telah ditandatangani oleh Indra. Dia tidak akan bisa menuntutku karena uang pesangon suatu hari nanti. Tapi kalau dia nekat, aku punya bukti untuk memasukkannya ke penjara.”
“Apakah dia telah mengembalikan uang yang dia curi?” tanya Kirana ingin tahu.
“Ditambah dengan uang ganti rugi.” Miles terlihat puas.
“Maaf ini harus terjadi padamu, Miles.” sesal Kirana.
“Ini bukan yang pertama tapi rasanya tetap mengesalkan. Mengapa aku harus kehilangan orang, yang baik dan hebat, karena ketamakan? Aku telah memberikan segalanya untuk mereka. Kenaikan gaji, bonus, fasilitas, insentif, kurang apa lagi?” Miles memijat keningnya. “Kalau kamu berani melakukan hal yang sama, Kirana, aku akan mengusirmu keluar dari perusahaanku.”
“Hm. Sepertinya kamu memberiku ide untuk keluar tanpa dapat kamu halangi lagi.” goda Kirana. Miles tertawa kecil. Wanita itu lega melihat atasannya telah santai lagi.
“Nathan akan memberitahumu hasil rapat siang ini. Kalau mereka setuju mempromosikanmu menjadi wakil direktur, kamu akan pindah ke ruang kerja yang baru. Tentu saja kita akan diskusikan gaji dan tanggung jawab barumu nanti. Percayalah. Kamu tidak akan bisa menolak begitu kamu mendengar jumlah yang akan aku tawarkan kepadamu.”
“Miles, aku tidak yakin aku bisa melakukannya.”
“Ya, kamu bisa.” Miles berdiri. Kirana ikut berdiri dari tempat duduknya. Pria itu mencium pipinya lalu keluar dari ruangannya. Kirana melihat ke sekeliling ruangannya dan mendesah pelan.
Pada sore hari itu, Kirana hanya menatap layar komputernya. Ada sebuah pengumuman promosi jabatannya pada layar tersebut. Sifatnya mendesak. Dia harus pindah ke ruangan lain yang ada di lantai atas. Dia mendesah pelan. Untuk sementara, dia harus menduduki jabatan wakil direktur dan manajer pemasaran sampai mereka mendapatkan penggantinya.
Saat telepon di atas mejanya berbunyi, dia mengangkat gagangnya dan meletakkannya ke dekat telinganya. “Kirana Paramitha.”
__ADS_1
“Pak Bradford meminta Ibu ke ruangannya sekarang.” ucap Kemala. Jantung Kirana berdetak kencang.
“Baik. Terima kasih, Kemala.” Kirana membereskan mejanya, merapikan rambutnya, dan menarik napas panjang.