Kisah Yang Tak Terlupakan

Kisah Yang Tak Terlupakan
Bagian 17


__ADS_3

Lega tidak ada yang mengganggu mereka lagi, Miles membalikkan badannya dan melihat Juliett duduk sambil membaca sebuah majalah. Baru berjalan dua langkah, seorang wanita menyapanya. Karena tidak mengenalnya, Miles mengabaikannya. Tetapi wanita itu berdiri tepat di depannya, menghalangi langkahnya. Dia melihat ke arah wanita cantik yang berdiri di hadapannya yang jelas sekali tidak mengerti penolakannya.


“Hai, kamu pasti tidak mendengar sapaanku tadi.” godanya. Miles mengerang pelan. Apa yang diinginkan para wanita ini darinya? Dia jelas-jelas tidak tertarik kepada mereka. Mengapa begitu sulit membaca penolakan halusnya? Kalau bisa, dia ingin sekali kembali ke masa puluhan tahun lalu di mana para wanita tidak seagresif sekarang.


“Maaf, tapi aku tidak mengenalmu.” Miles mengambil sisi lain, tetapi dia menghalanginya lagi.


“Belum mengenalku.” ralat wanita itu yang kemudian mengulurkan tangannya. “Perkenalkan,”


“Aku tidak tertarik.” ucap Miles tegas. Dia melanjutkan langkahnya, kali ini wanita itu tidak menghalangi lagi. Melihat Juliett tersenyum ke arahnya, perasaan kesal yang sempat dirasakannya sirna.


“Maaf. Itu hanya teman-temanku,” ucap Miles yang segera menghentikan kalimatnya begitu melihat Juliett mengacungkan tangannya.


“Tidak ada pembicaraan pribadi.” Wanita itu mengingatkannya. Miles tertawa kecil. Dia lupa akan hal itu.


“Benar.”


Mereka bergandengan tangan menuju lift. Begitu pintu elevator terbuka, dua orang pria beserta tiga orang wanita keluar dari dalamnya. Miles mengajak Juliett masuk ke dalam. Setelah memindai kartu, dia menekan tombol lantai kamarnya dan lift pun bergerak naik. Dia melepaskan gandengannya lalu melingkarkan tangannya di pinggang wanita itu. Kamarnya berada di lantai teratas, dia tidak sabar menunggu sampai pintu di hadapannya segera terbuka.


“Kamu sama sekali tidak sadar dengan tatapan para wanita itu?” tanya Juliett penasaran. Miles senang wanita itu mengajaknya bicara hingga pikirannya bisa dialihkan.

__ADS_1


“Wanita yang mana?” Miles menoleh dan dia menyesalinya. Wajah mereka begitu dekat.


“Yang baru keluar dari elevator. Tiga wanita tadi seperti ingin memakanmu.” Juliett tertawa kecil.


“Bagaimana denganmu? Apakah kamu juga ingin memakanku?” goda Miles. Wanita itu menoleh ke arahnya, melihat ke arah matanya, lalu perlahan turun ke bibirnya.


“Tergantung pada ratingmu.” Dia balas menggodanya.


“Setelah melihat cara wanita itu menatapku, kamu tidak percaya nilaiku cukup tinggi?”


“Aku tidak percaya pada rating kalau aku belum mencobanya.” bisiknya menggoda. Kalimat itu dianggapnya sebagai undangan.


Miles menundukkan kepalanya dan mencium bibir wanita itu. Bibirnya lembut dan manis, tepat seperti dugaannya. Dia merasakan wanita itu ragu-ragu menciumnya. Aneh. Dari caranya mengucapkan kalimat terakhir, dia begitu yakin dengan permintaannya sendiri. Mengapa sekarang dia ragu saat membalas ciumannya? Seolah-olah ini adalah ciuman pertamanya.


Wanita itu tersenyum. Dia terlihat cantik dengan wajahnya yang memerah. Miles membelai pipinya sekali lagi lalu menggandeng tangannya keluar dari lift. Tiba di kamar suite-nya, dia membiarkan wanita itu mengagumi pemandangan dari jendela selama beberapa saat. Ketika wanita itu menoleh ke arahnya, Miles meraih tangannya kembali dan membawanya ke kamar. Dia merasakan Juliett menarik tangannya. Dengan bingung, dia menoleh. Mereka berhenti hanya beberapa langkah dari jendela.


“Ada yang harus kamu ketahui sebelum kita meneruskan ini.” ucap Juliett pelan. Takut wanita itu akan mengubah pikirannya, Miles diam mempersilakan wanita itu melanjutkan ucapannya. “Aku perawan.”


Miles membulatkan matanya. Dia tahu wanita itu tidak polos lagi. Umurnya pasti sekitar tiga puluhan. Tentu dia tahu banyak tentang hubungan pria dan wanita. Perawan? Ke mana wanita itu selama ini? Istrinya yang dinikahinya, yang adalah seorang yang pemalu, bukan perawan lagi ketika menikah dengannya. Miles melepaskan tangan wanita itu.

__ADS_1


Pernyataan itu mendadak mengubah pikirannya. Tidak. Ini tidak benar. Tidak seharusnya dia yang mendapatkan kehormatan itu. Mereka bukan suami istri. Suatu hari nanti wanita itu pasti menyesali keputusannya hari ini. Dia tahu itu karena telah melihatnya sendiri. Angelica begitu terluka tidak bisa memberi pengalaman pertamanya kepada suaminya. Tidak seperti Kirana yang mengatakannya sebelum mereka melakukannya, istrinya memberitahunya setelah dia mengetahuinya sendiri.


“Aku memberitahumu karena aku tidak ingin kamu merasa aku sengaja menyembunyikannya. Aku tahu kesepakatan kita mengenai tidak ada pembicaraan pribadi. Tapi jangan berhenti karena pengakuanku itu. Aku tidak akan menyesal. Aku janji.” ucapnya setengah memohon.


“Kamu tidak akan tahu itu sampai,” protes Miles. Wanita itu mendiamkannya dengan menutup bibirnya dengan tangan kecilnya.


“Tidak ada pembicaraan pribadi, Romeo.” bisik Juliett. Dengan tangannya Miles menurunkan tangan wanita itu dari mulutnya.


“Aku tidak pantas mendapatkan kehormatan ini.” ucap Miles pelan. Juliett menatap matanya lalu turun melihat ke bibirnya. Kemudian dia tersenyum menggoda sebelum melihat ke matanya lagi.


“Aku yang menentukan siapa yang pantas atau tidak. Sekarang, tunjukkan kepadaku apakah yang diceritakan orang itu benar. Beri aku kenangan indah agar aku tidak akan pernah menyesali malam ini.” Juliett melingkarkan tangannya di pinggang Miles. Awalnya pria itu enggan. Dia menyeka anak rambut dari pipi wanita itu ke belakang telinganya.


“Kamu akan menyesalinya. Tapi kamu tetap punya kenangan yang indah. Itu janjiku.” Dia adalah seorang laki-laki, dia tidak bisa menolak seorang wanita cantik yang pasrah memberikan dirinya. Dia menginginkan wanita ini, dia tidak bisa mundur lagi.


Wanita itu tertidur pulas usai mereka melakukan hubungan intim. Karena terlalu bahagia, Miles tidak bisa tidur. Dia mengambil jam tangannya dari atas nakas dan melihat jarum jam menunjukkan pukul dua dini hari. Sepelan mungkin dia duduk di tepi tempat tidur. Celana pendeknya ada di atas lantai, dia mengambilnya lalu mengenakannya. Dia berjingkat-jingkat menuju kamar mandi. Pelan-pelan dia menutup pintu agar tidak membangunkan Juliett.


Dia tersenyum melihat bayangannya di cermin. Rambutnya berantakan, wajahnya memerah, dan senyum itu tidak bisa hilang dari wajahnya. Dia bagaikan bocah ingusan yang sedang jatuh cinta untuk pertama kalinya. Matanya kemudian tertuju pada lehernya, tidak ada yang berbeda. Dia mengerutkan keningnya. Dia segera melihat ke arah bahu, dada, juga punggungnya, tidak ada bekas cakaran atau gigitan. Meskipun tadi dia lepas kendali, wanita itu sedikit pun tidak menyakitinya. Miles menyentuh kulit kepalanya namun tidak terasa sakit. Senyuman kembali mengembang di wajahnya.


Setelah menyikat gigi, membersihkan wajah, dan sekali lagi tersenyum ke arah bayangannya, dia mematikan lampu kamar mandi. Dia mendekati tepi tempat tidur di mana Juliett berbaring. Beberapa saat dia hanya berdiri sambil mengagumi wajahnya, mencoba menyimpannya di dalam kepalanya agar dia tidak segera melupakannya. Wanita ini adalah wanita yang istimewa. Dia menunduk lalu mencium bibirnya. Dia tidak terbangun sama sekali.

__ADS_1


Dia memutari tempat tidur dan kembali berbaring di sisinya semula. Dia melingkarkan tangannya di pinggang wanita itu dan menariknya mendekat saat tangannya yang lain dia letakkan sebagai alas kepala Juliett. Punggung wanita tersebut menyentuh dadanya. Saat dia sedang mencari posisi nyaman, wanita itu menggumam pelan. Miles berbisik agar dia kembali tidur. Sesaat kemudian Juliett kembali terlelap. Dia mencium leher bagian belakang wanita itu sambil menghirup dalam-dalam aroma tubuhnya.


“Selamat malam, Juliett.”


__ADS_2