
Miles menggerutu pelan sambil berjalan menuju lift. Dia menekan salah satu angka lalu mengetuk-ngetukkan kakinya di lantai lift tersebut. Dia tidak sabar ingin segera tiba di lantai tujuannya. Begitu pintu elevator terbuka, dia bergegas menuju ruangan Pranaja. Suster yang berjaga menyambutnya dan membukakan pintu untuknya. Dia bernapas lega melihat pria itu ada di dalam ruangannya.
“Alastair, apa kabar? Jangan bilang kamu sedang sakit.” sambut Pranaja dengan ramah.
“Aku butuh bantuanmu, Pranaja. Aku butuh informasi mengenai seorang anak yang pernah dilahirkan di rumah sakit ini.” Miles memohon dan dia tidak malu melakukannya.
“Anak? Apa kamu sudah tanya di bagian penyimpanan berkas kesehatan? Kami menyimpan semua informasi di sana.” sarannya.
“Mereka tidak mengizinkan aku. Pada sertifikat lahirnya hanya ada nama ibu. Nama ayahnya kosong. Dia anakku, Pranaja. Anakku! Aku berhak membaca informasi itu!” teriak Miles frustrasi.
“Al, tenangkan dirimu. Duduklah. Aku tidak mengerti.” Pranaja kelihatan bingung. Miles menurutinya dan duduk di kursi. Pria itu memberinya segelas air. Miles segera menghabiskan setengahnya. “Oke. Sekarang beritahu aku satu-persatu.”
Miles menarik napas panjang sebelum dia mulai bicara. “Enam tahun yang lalu aku mengikuti pertemuan rutin dengan teman-temanku sesama pengusaha asing di Singapura. Aku sengaja tinggal di sana tiga hari lebih lama dari biasanya. Aku ingin menghindari Angelica. Kamu tahu bagaimana hubungan kami pada saat itu. Kemudian aku bertemu dengan wanita ini. Aku menyukainya dan kami menghabiskan waktu bersama. Aku tidak takut dengan hubungan intim yang kami lakukan. Karena aku tahu, aku mandul.”
“Lalu, dari mana kamu tahu dia adalah anakmu?” tanya Pranaja bingung.
“Dia sekarang bekerja di perusahaanku. Hari Minggu lalu aku mengikutinya pulang ke rumahnya. Dia mempunyai seorang anak. Rambutnya pirang, Pranaja. Dia juga punya warna kulit seperti aku. Usianya lima tahun pada tanggal tujuh Agustus lalu. Aku bertemu dengan wanita itu pada awal Desember enam tahun yang lalu. Perhitungannya tepat. Anak itu anakku.”
“Kamu benar. Perhitunganmu tepat.” Pranaja melihat ke arah komputer di depannya. “Tetapi aku tidak bisa masuk ke dalam pusat informasi tanpa bantuan orang yang mempunyai akses ke sana, Al. Itu adalah kebijakan rumah sakit. Aku ingin sekali membantumu. Sungguh.”
“Aku mengerti.” ucap Miles pelan. Dia mengeluarkan napas panjang. “Aku tidak mau kamu mendapat masalah dalam pekerjaanmu karena ulahku.”
__ADS_1
“Informasi apa yang ingin kamu ketahui?” tanya Pranaja ingin tahu.
“Namanya, berat badannya, panjang tubuhnya. Apakah dia lahir dengan normal atau operasi? Adakah komplikasi yang terjadi selama proses persalinan? Aku juga ingin tahu apakah dia punya penyakit bawaan atau cacat. Imunisasi apa saja yang telah didapatkannya. Aku hanya ingin tahu apa saja yang telah aku lewatkan, Pranaja.”
“Mengapa tidak tanyakan itu langsung kepada ibunya? Katamu dia sekarang bekerja untukmu.” usul Pranaja.
“Aku melamarnya, tiga kali, dan dia menolakku pada ketiga kesempatan itu. Tiga kali, Pranaja. Dia menyembunyikan keberadaan anak itu dariku, itu artinya dia tidak mau aku mengetahuinya. Kalau aku bertanya kepadanya, dia tidak akan memberiku jawaban. Bisa dipastikan dia akan menghilang keesokan harinya. Dia pernah meninggalkan aku, dia tidak akan ragu melakukannya lagi. Katakan, bagaimana cara aku bertanya kepadanya tanpa membuatnya melarikan diri dariku?”
“Maafkan aku, Al.” Pranaja menggelengkan kepalanya prihatin.
“Terima kasih, Pranaja. Senang bisa berbicara denganmu. Maaf, aku membebanimu dengan masalah pribadiku. Aku akan pikirkan cara lain. Aku sayang mereka berdua. Hanya saja aku tidak tahu bagaimana caranya membuat wanita itu percaya kepadaku.” Miles menyisir poni rambutnya ke belakang dengan kedua tangannya, berusaha menenangkan diri.
“Kamu pernah membohonginya?” tebak Pranaja. Miles mendesah pelan.
“Kamu pasti akan menemukan jalan keluarnya.” Pranaja mengulurkan tangannya.
“Aku harap juga begitu. Terima kasih untuk waktumu.” Miles menjabat tangan sahabat baiknya itu.
Hati Miles berkecamuk saat dia keluar dari ruangan Pranaja hingga ke mobilnya. Dia tidak boleh tahu informasi mengenai putranya sendiri. Putranya! Menemui Kirana langsung tidak akan menyelesaikan masalah. Kirana pasti panik. Miles butuh suatu cara yang bisa dia gunakan untuk meyakinkan Kirana bahwa mereka bisa bahagia bersama. Berakhir pekan berdua di Singapura ternyata tidak memberikan hasil sama sekali.
Kembali ke kantornya, Kemala tidak bertanya atau protes melihat keterlambatannya. Asistennya malah tersenyum penuh arti kepadanya. Miles melihat ke sekelilingnya, iya, wanita itu tersenyum kepadanya. Dia masuk ke dalam ruangannya, Kemala mengikutinya dari belakang. Setelah duduk, dia mempersilakan wanita itu untuk membacakan jadwalnya pada hari ini.
__ADS_1
“Ada apa dengan senyummu itu?” tanya Miles heran.
“Sudah sepuluh tahun saya bekerja untuk Anda, belum pernah sekalipun Anda terlambat ke kantor. Apalagi Anda tidak pernah terlambat sampai tiga jam. Saya senang ternyata Anda manusia normal juga.” godanya. “Oh, iya. Tadi Ibu Kirana datang mengantarkan sesuatu untuk Anda.”
“Terima kasih.” Dia menunggu sampai Kemala keluar dari ruangannya sebelum mengambil amplop yang ada di atas mejanya.
Miles tersenyum. Tanpa perlu membukanya, dia sudah tahu apa isinya. Tetapi dia tetap membukanya. Dan dugaannya benar. Sebuah surat pengunduran diri. Dia merobeknya dua kali, lalu menekan nomor pada interkom di depannya. Dia meminta Kemala untuk datang ke ruangannya. Wanita itu masuk dengan wajah ceria. Wajah itu berubah ketika melihat robekan surat yang diberikan Miles kepadanya.
“Saya tidak mengerti, Pak.” Kemala mengerutkan keningnya.
“Sampaikan kepada Ibu Kirana, jawabanku tidak.” Miles menandatangani satu-satunya dokumen yang ada di atas meja dan memberikannya kepadanya.
“Baik, Pak.” ucap Kemala patuh.
“Aku akan keluar sekarang, kalau ada telepon penting dan mendesak, laporkan kepadaku. Semua laporan ini akan aku periksa di mobil. Apa ada dokumen yang mendesak yang harus aku tanda tangani sekarang?” Miles berdiri lalu kembali mengancingkan jasnya.
“Tidak, Pak. Apa Bapak akan kembali setelah pertemuan sore nanti dengan walikota?” tanya Kemala sambil ikut berjalan bersama Miles keluar ruangannya.
“Iya. Aku akan kembalikan laporan ini ke meja. Kalau aku belum kembali saat jam pulang tiba, kamu boleh pulang.” Miles menekan tombol elevator untuk membukanya.
“Baik, Pak. Terima kasih.” ucapnya senang.
__ADS_1
Pertemuan makan siang dan rapat pada sore hari itu tidak bisa mengalihkan pikirannya dari Kirana dan putranya. Bagaimana sebaiknya dia mengatasi ini? Bagaimana cara mendapatkan mereka berdua? Hanya ada satu cara yang terus bermain di kepalanya. Rencananya yang semula. Mungkin dia perlu fokus pada rencana itu. Membuat Kirana hamil sehingga dia harus menikah dengannya.
Miles tersenyum. Itu rencana yang mudah untuk dikerjakan. Terlalu mudah, malah. Tidak sabar menunggu besok dia menyusun langkah demi langkah rencananya di dalam kepalanya. Tidak. Dia tidak membutuhkan rencana apa pun. Dia cukup datang menemui Kirana dan memastikan mereka hanya berdua saja. Selanjutnya, segalanya akan berjalan dengan alami. Karena selama ini hubungan mereka secara fisik sangat alami. Dan itu sudah cukup.