
Begitu sibuk mengurus putranya seorang diri, hampir tidak ada waktu bagi Kirana untuk mencari cinta. Sejak pulang dari Singapura, dia merasakan dirinya berbeda. Dia mulai berani dalam memilih pakaian dan memerhatikan penampilannya. Beberapa pria mencoba mendekatinya, tetapi dia tidak bisa berhenti membandingkannya dengan Romeo. Sikapnya itu begitu jelas sehingga mereka merasa risih berada di dekatnya. Oleh karena itu, dia berhenti berharap bahwa suatu hari nanti dia akan menikah. Mungkin pernikahan adalah milik wanita lain, bukan dia.
“Mommy, aku mau tambah.” ucap William, putranya yang hampir berusia empat tahun, mengalihkan perhatiannya dari pikirannya sendiri.
“Sebentar, sayang.” Kirana mengambil sebuah panekuk dari piring di depannya dengan sendok khusus lalu meletakkannya di atas piring William.
“Mom, namaku bukan sayang. Namaku Will.” protes putranya.
“Apakah kamu tahu apa artinya sayang?” tanya Kirana setelah menuang madu di atas panekuk anaknya. William menoleh ke arahnya.
“Aku tahu. Mom tidak perlu mengatakannya. Aku tahu Mom sayang kepadaku.” ucapnya sambil menggeleng-gelengkan kepala, seolah-olah mamanya sedang menanyakan hal yang konyol.
Walau Kirana suka dengan pertumbuhan putranya, dia membenci cepatnya anak laki-laki itu memahami sesuatu, bahkan hampir banyak hal. Dia yakin bahwa dia tidak akan menyadari ketika harinya tiba nanti. Hari di mana putranya sudah tidak membutuhkannya lagi. Pertama, dia tidak suka dipanggil sayang atau baby. Suatu hari nanti dia tidak akan mau dipeluk olehnya. Seperti yang pernah dikeluhkan salah satu rekan kerjanya yang mempunyai anak laki-laki berusia lima belas tahun.
“Mom? Apa artinya ayah?” tanya William dengan tatapan ingin tahu.
“Mengapa kamu tanyakan itu?” Suara Kirana sangat tenang, tetapi sebenarnya jantungnya sedang berdebar kencang. Dia tahu suatu hari nanti putranya akan bertanya mengenai ayah kandungnya, tetapi dia tidak menduga bahwa hari itu akan datang secepat ini.
“Temanku Ello memanggil laki-laki dewasa yang menjemputnya dengan ‘ayah’.” jawabnya dengan jujur. Ello adalah nama temannya di sekolah. Kirana mendesah lega di dalam hati. Dia bukan sedang menanyakan siapa ayahnya, dia hanya menanyakan arti dari kata tersebut.
__ADS_1
“Ayah itu pasangannya ibu atau mama atau mom seperti cara kamu memanggilku.” jawab Kirana dengan sederhana. William mengangguk-anggukkan kepalanya tanda mengerti.
“Pasangan Mom apa?” tanya putranya kemudian.
“Dad atau daddy.” jawab Kirana lagi.
William lanjut menikmati panekuknya dengan riang. Mulut dan tangannya sudah belepotan dengan madu. Kirana lega anaknya tidak bertanya lebih lanjut. Dia tidak tahu jawaban apa yang cukup masuk akal bagi seorang anak berusia hampir empat tahun mengenai ketidakhadiran ayahnya. Semoga dia sudah cukup besar dan Kirana menemukan jawaban yang tepat ketika putranya menanyakan siapa ayahnya dan di mana keberadaannya.
“Pancake buatan Mom enak. Aku suka.” William menjilat jemarinya yang belepotan madu.
“Kamu bilang suka supaya kamu dapat bagian paling banyak ‘kan?” Kirana menggelitik pinggang putranya. William tertawa bahagia.
“Terima kasih.” ucapnya sopan. Dia duduk sambil memangku William.
“Sama-sama, Bu.” ucap wanita yang telah memberikan tempat duduknya. “Anak Anda cantik.”
“Maaf, Tante. Aku tidak cantik. Aku tampan.” protes William. Yang mendengar ucapannya tertawa geli. “Mengapa mereka tertawa, Mom? Apa yang lucu?” Dia bertanya dalam bahasa Inggris.
“Tidak ada, sayang. Mereka suka kepadamu.” balas Kirana juga dalam bahasa Inggris.
__ADS_1
“Will, Mom. Will. Stop calling me sweetheart.” protesnya lagi. Berhenti memanggilku sayang. Kirana hanya memutar bola matanya. Dia tersenyum kepada wanita yang tersenyum ke arahnya dan William.
“Anak ibu cerdas sekali. Berani menyampaikan pendapatnya.” puji wanita itu dengan tulus. Kira merasakan dadanya begitu mengembang, bangga kepada anaknya.
“Terima kasih.” ucap Kirana.
Pemandangan sehari-hari itu tidak meresahkan Kirana. Dia tidak keberatan semua orang menatap kagum ke arah putranya. Tentu hal yang tidak biasa bagi mereka bertemu seorang anak laki-laki berambut pirang, bermata biru, dan berkulit pucat sepertinya di transportasi publik. Pada awalnya, William takut melihat semua mata yang mengarah kepadanya. Kini dia sudah terbiasa. Dia bahkan bicara apa adanya dan jujur untuk menunjukkan bahwa dia tidak takut kepada siapa pun.
Sejak awal bulan Agustus lalu, William didaftarkan ke Taman Kanak-Kanak. Sesuai dengan usianya, dia dimasukkan ke TK A. Beberapa minggu mengikuti pelajaran, gurunya memuji kemampuannya dan menyebutnya sebagai yang paling cerdas dari antara teman-temannya. Selain cerdas, dia juga begitu disukai oleh teman-teman sekelasnya. Apabila mereka bertemu, mereka tidak memedulikan siapa pun lagi kecuali sesama mereka. Bermain, bernyanyi, dan kejar-kejaran di antara anak-anak adalah pemandangan biasa ketika bel masuk belum berbunyi.
Begitu masuk ke dalam ruang kelas TK A, William memeluk Kirana, berlari meletakkan tasnya di tempatnya, dan bergabung bersama teman-temannya yang sedang bermain di aula sekolah. Melihat tingkah putranya, Kirana hanya tersenyum sambil menggeleng-geleng pelan. Guru kelas William menyapanya dan mereka berbincang sebentar sebelum Kirana pamit. Dia juga tidak lupa menyapa ibu dari teman-teman putranya.
Tiba di kantornya, dia segera memasuki elevator menuju lantai di mana ruangannya berada. Satu jam pertama digunakannya untuk memeriksa laporan yang ada di atas mejanya. Lalu asistennya mengingatkannya untuk rapat koordinasi pagi itu bersama rekan-rekannya di divisi pemasaran. Kirana segera membawa berkasnya dan keluar dari ruangannya.
Di ruang rapat, rekan-rekannya sudah menunggu dengan sabar. Mereka asyik berbincang terhadap satu sama lain sambil menikmati teh dan kopi yang telah disajikan asistennya. Setelah menyapa mereka semua, dia duduk dan suasana menjadi tenang kembali. Laporan demi laporan dibacanya sambil mendengarkan presentasi mengenai salah satu program pemasaran mereka yang baru diadakan akhir pekan lalu. Pameran yang mereka lakukan berhasil dan ada banyak pemesanan dalam partai kecil maupun besar yang mereka terima. Kirana tersenyum mendengarnya.
Dia meminta mereka untuk bersiap-siap melakukan pameran lagi dan mengingatkan tanggal-tanggal pelaksanaan dan lokasi yang sudah mereka sepakati bersama. Mereka segera membagi tim yang akan menangani masing-masing pameran. Kirana menyerahkan sepenuhnya kepada mereka. Dia hanya perlu menandai tanggal pada agendanya sehingga dia bisa melakukan inspeksi langsung pelaksanaan pameran tersebut nantinya.
“Bu, diminta Pak Simon agar ke ruangannya.” ucap asistennya begitu rapat usai.
__ADS_1
Kirana mempersilakan para rekannya untuk melanjutkan pekerjaan mereka. Dia naik tangga menuju lantai atas. Sekretaris atasannya tersenyum menyambutnya lalu membukakan pintu ruang kepala kantor cabang mereka untuknya. Dia mengucapkan terima kasih kepada wanita itu dan memasuki ruang kerja atasannya.