
Setelah lama hidup dalam penderitaan, untuk pertama kalinya dia merasa begitu bahagia. Dadanya sesak karena luapan rasa itu. Sampai-sampai dia tidak berani memejamkan mata, takut wanita itu akan hilang lagi dari pandangannya. Ketika Miles berpikir bahwa mereka tidak akan pernah bertemu lagi, wanita itu datang kepadanya. Dia tidak akan membiarkan siapa pun atau apa pun memisahkan mereka lagi.
Hanya ini satu-satunya cara untuk membuat Juliettnya tidak pergi dari hidupnya lagi. Dia tidak tahu bagaimana memeriksa wanita yang sedang ovulasi. Dia hanya tahu satu hal. Dia sehat. Kalau Kirana tidak mandul, tidak sulit untuk membuatnya hamil. Langkah pertama adalah yang paling sulit. Dia berhasil tidur dengannya lagi, maka langkah berikutnya akan lebih mudah. Kalau dia gagal membuatnya hamil, dia akan coba terus.
Ada dua kemungkinan yang akan dilakukan Kirana saat dia bangun nanti. Marah dan mengutuknya agar hidup dalam kesengsaraan yang mana sudah dialaminya, atau pergi menjauh darinya. Yang mana pun pilihan Kirana, dia akan mendapatkannya kembali. Tidak peduli sejauh apa pun dia berusaha untuk menjauhinya, dia tahu bagaimana cara untuk memenangkan hatinya. Miles tidak akan membiarkan dirinya kalah dalam peperangan lagi.
Miles tidak bisa mengalihkan pandangannya dari wanita itu. Dia sedang tidur nyenyak di sisinya. Wajahnya tepat seperti yang diingatnya. Hanya rambutnya yang berbeda. Kini rambutnya begitu panjang hingga ikal di ujungnya membentuk sempurna. Ketika tadi dia berbaring dengan rambutnya terurai di atas seprai, Miles percaya bahwa malaikat itu ada. Salah satunya berada dalam pelukannya.
Satu hal yang membuatnya terkejut adalah wanita ini tidak pernah memberikan tubuhnya kepada pria lain. Dia sama pemalunya dengan dia enam tahun yang lalu. Dia membiarkan Miles, bahkan pasrah, untuk menuntunnya seolah-olah dia lupa bagaimana caranya bercinta. Mengapa dia memberikan dirinya kepadanya selama tiga hari pada enam tahun yang lalu, jika dia tidak tertarik untuk memiliki asmara singkat dengan pria lain pada kesempatan berikutnya?
Jika wanita itu pernah tidur dengan pria lain tanpa melibatkan komitmen dan perasaan seperti yang dilakukannya bersamanya enam tahun yang lalu, dia tidak akan keberatan. Dia bukan pria naif yang tidak tahu bahwa bukan hanya pria, wanita pun mempunyai kebutuhan biologis yang kadang-kadang tidak bisa dilawan lagi. Terutama jika wanita itu belum menikah tetapi pernah tidur atas dasar suka sama suka dengan pria di masa lalunya.
Tetapi apa yang dia pikirkan ketika memberikan tubuhnya kepada orang tak dikenal bertahun-tahun yang lalu, tanpa khawatir bahwa bisa jadi pria itu adalah orang jahat? Iya, dia telah bersikap hati-hati namun jika pria itu bukan dia melainkan pria lain, dia bisa saja terluka. Apa yang mendorongnya untuk memberikan tubuhnya kepada siapa saja yang pertama ditemuinya? Dia bisa melakukannya dengan orang yang dia suka atau cintai. Semakin dia memikirkannya, semua hal itu semakin membingungkannya.
Tidak ingin membangunkan Kirana, perlahan-lahan dia mengangkat selimut dan turun dari tempat tidur. Satu-persatu pakaiannya dikenakannya kembali, mencium kening Kirana, lalu keluar dari kamar. Dia menutup pintu tanpa mengeluarkan bunyi.
Dia memeriksa isi kulkas di dapur. Ada banyak minuman ringan, jus, dan es krim di dalamnya. Dia mengambil satu kaleng soda dan membukanya. Di atas konter, dia melihat beberapa botol besar berisi air minum. Di dalam salah satu lemari atas, dia menemukan bubuk cokelat, biji kopi, dan teh celup. Kirana akan membutuhkan cokelat hangat saat dia bangun. Dia menemukan panci kecil di kabinet dasar. Setelah menuang air minum ke dalamnya, dia menyalakan kompor.
Sambil meminum sodanya, dia mendekati pesawat telepon untuk memesan makan malam. Dia memesan makanan yang sama yang dipesan Kirana saat mereka bertemu di restoran bertahun-tahun yang lalu. Spaghetti meatballs, roasted chicken wings, dan lime juice, sedangkan untuk dirinya sendiri dia memesan beef burger porsi besar dengan selada dan kentang halus. Begitu air mendidih, dia membuat cokelat hangat di dalam sebuah mug untuk Kirana. Dia membuat kopi hitam menggunakan mesin pembuat kopi untuk dirinya sendiri.
__ADS_1
Mendengar ketukan pada pintu, dia tersenyum. Dia meminta mereka melakukan itu dan bukan menekan bel. Bunyi bel yang nyaring akan membangunkan Kirana. Dia membuka pintu dan seorang pria berdiri di sana dengan meja dorong di sampingnya. Dia meletakkan dua baki di atas konter dapur, lalu pamit.
Ketika minuman mereka cukup hangat untuk diminum, Miles membawanya ke kamar. Dia membuka pintu sesenyap mungkin dan melihat wanita itu sedang berusaha untuk duduk. Melihat dia datang, cepat-cepat dia menutup dadanya dengan selimut. Miles tersenyum. Dia tidak perlu melakukan itu, dia telah melihat semuanya. Dia duduk di sampingnya lalu memberikan salah satu mug kepadanya.
“Cokelat hangat untukmu.” ucapnya dengan nada senang. Kirana menerimanya. Dia meletakkan mug berisi kopi di atas nakas.
“Terima kasih.” Kirana menyesap minumannya dan mendesah penuh apresiasi. Miles mencium bahunya yang tidak tertutup selimut.
“Kamu baik-baik saja? Apa aku melukaimu?” tanya Miles pelan. Kirana menggelengkan kepalanya.
“Kamu bahkan terlalu berhati-hati. Jangan khawatir, Miles. Aku tidak terbuat dari kaca.” Kirana tersenyum. Miles meletakkan dagunya di bahu dan tangannya mengelilingi tubuh wanita itu.
“Tidak selama kita di sini. Bukankah itu kesepakatannya?” ucap Kirana sambil membuang muka dengan wajah sedih. Miles tahu dia harus berusaha keras untuk mengubah pikiran wanita itu. Tetapi kesepakatan itu adalah awal, bukan akhir dari segalanya.
Mereka mandi bersama. Kirana masih bersikap malu seperti biasanya, tetapi Miles membuatnya rileks. Saat dia membuka pintu kamar mereka, Kirana menggerak-gerakkan hidungnya. Miles tertawa kecil sambil menggandengnya ke dapur. Mata wanita itu membulat melihat piring yang ada di atas konter dapur.
“Kamu ingat?” tanya Kirana tidak percaya. Miles membukakan salah satu kursi tinggi untuknya. Wanita itu duduk dan tersenyum lebar.
“Cepat habiskan sebelum dingin.”
__ADS_1
Setelah makan malam, mereka menonton film. Miles memilih film laga dan Kirana memilih film romantis. Karena mereka tidak akan bisa menonton keduanya, Miles memutuskan untuk memutar film pilihan Kirana. Dia duduk dengan santai di sofa dan meletakkan kedua kakinya di atas meja. Kirana duduk di sisinya. Perlahan wanita itu duduk mendekat, hingga dia meletakkan kepalanya di dada Miles. Pria itu melingkarkan tangannya di tubuhnya dan mendekatkan tubuh mereka.
“Apa kamu mencintai istrimu?” tanya Kirana setelah mereka menonton film selama satu jam tanpa bicara sepatah kata pun.
“Iya.” jawab Miles. Kirana mengangkat kepalanya melihat ke arahnya.
“Kamu pasti sangat kehilangan dia.” tanya Kirana prihatin.
“Aku tidak tahu.” Miles mengangkat salah satu bahunya. Kirana mengerutkan keningnya.
“Mengapa kamu bilang begitu? Kalian sudah bersama selama dua puluh tahun.” protesnya.
“Dan selama sepuluh tahun terakhir kami saling memberi neraka terhadap satu sama lain.” timpal Miles pahit. Kerutan di kening Kirana semakin dalam.
“Neraka?” tanya Kirana sedikit takut.
“Aku tidak ingin membicarakan ini.” Miles mengalihkan pandangannya. Kirana cemberut.
“Jadi, hubungan kita hanya untuk urusan pekerjaan dan di tempat tidur? Aku tidak boleh tahu apa pun tentangmu? Apa kita akan kembali seperti sebelumnya, tidak membahas hal pribadi?” desak Kirana. Miles mengusap wajah dari kening hingga dagunya. “Kamu melamarku, tapi kamu tidak mau aku mengenalmu lebih baik.” Dia melepaskan diri dari pelukan Miles. Pria itu segera meraihnya lagi.
__ADS_1