
Menuruti saran Miles, pada makan malam bersama keluarga besar mereka, Kirana sebisa mungkin menghindar hanya berdua saja dengan Ratri. Mereka tidak bicara atau berpapasan secara tidak sengaja di koridor. Walaupun dia tidak keberatan berkonfrontasi dengan kakaknya lagi, dia tidak ingin membuat Miles khawatir. Dia tidak menolak saat dua keponakannya mengajaknya bicara. Mereka begitu ramah dan cerdas, teman bicara yang menyenangkan, begitu juga dengan Brian.
Kirana tertawa kecil setiap kali Miles terlihat tidak nyaman dikerumuni oleh keluarganya. Dia sampai terlihat lega setiap kali ponselnya bergetar. Cepat-cepat dia keluar dari ruangan untuk menjawab panggilan tersebut. Ada sesuatu terjadi di perusahaan tetapi dia tidak mau memberitahunya. Bukan masalah besar, hanya itu yang dia katakan. Melihat wajahnya tidak terlihat resah, mungkin itu memang bukan masalah besar.
Kakek Miles, Trevor, adalah pria yang ramah dan selalu ingin tahu. Amanda benar. Ada empat pria Bradford. Selain persamaan ciri fisik, rasa ingin tahu dan penasaran mereka sama besarnya. Sulit untuk memuaskan mereka hanya dengan satu jawaban. Setelah satu pertanyaan dijawab, akan muncul lagi pertanyaan yang lebih banyak.
Namun ciri khas pria berusia delapan puluh empat tahun itu adalah dia sangat kocak. Leluconnya membuat Kirana tidak berhenti tertawa. Dia begitu bahagia ketika tahu Kirana sedang hamil. Dan heran, karena tidak ada pria dalam keluarga Bradford yang menginginkan lebih dari satu anak.
“Aku ambil kembali calon istriku, ya, Granddad. Kamu sudah memonopolinya selama berjam-jam.” protes Miles saat memegang lengan Kirana. Wanita itu tertawa geli.
“Ketika dia menikahimu, dia juga menikahi Bradford. Aku adalah Bradford, Alastair. Aku berhak memonopolinya.” protes Trevor tidak mau kalah.
“Will ingin mengobrol dengan grand granddad-nya. Nanti Kirana akan menemanimu lagi.” Miles menunjuk ke arah William yang berdiri di antara mereka. Putra mereka tampak senang melihat ke arah kakeknya. Bahagia punya begitu banyak keluarga yang menyayanginya. Kirana tertawa kecil.
“Will? Tentu saja. Kemari, Will.” Trevor menepuk pangkuannya. William menurut. Mereka pun segera terlibat percakapan seru tentang tikus dan restoran. Jelas sekali bahwa William baru saja menonton film Ratatouille. Miles hanya menggelengkan kepalanya.
“Ada apa?” tanya Kirana. Miles membawanya ke ruang sebelah dan duduk di salah satu sofa. Kirana duduk di pangkuannya.
“Hanya ingin memelukmu sebentar.” Miles membenamkan wajahnya di leher Kirana, lalu menarik napas dalam-dalam. “Hm. Aku suka parfummu.”
“Miles, semua keluarga kita ada di ruangan sebelah.” Kirana melingkarkan tangannya di bahu pria itu. Dia tertawa geli ketika pria itu mencium bagian geli di lehernya.
__ADS_1
“Sebentar saja.” Miles mempererat pelukannya.
“Kamu benar-benar tidak suka keramaian, ya?” Kirana membelai kepalanya. Miles mendesah pelan.
“Bukan itu masalahnya. Masalahnya, mereka terus menanyaiku pertanyaan yang sama. Aku butuh istirahat sebentar, sebelum aku mati kebosanan.” ucap Miles kesal. Kirana tertawa kecil.
“Kamu berlebihan. Kamu tidak akan mati malam ini. Apalagi karena besok adalah hari pernikahan kita.” goda Kirana. Miles mengangkat kepalanya dan menatapnya penuh arti.
Sebelum Kirana sempat menghentikannya, bibir Miles menyentuh bibirnya. Kirana menyentuh kepala Miles dan menyisir rambutnya dengan jemarinya. Pria itu menyentuh perutnya dengan salah satu tangannya ketika tangannya yang lain mengelus punggungnya. Dia tidak pernah lupa menyentuh di mana buah hati mereka berada setiap bercinta atau kadang saat berciuman. Kirana merasakan cintanya sedang memenuhi bukan hanya tubuhnya, tetapi juga hati dan jiwanya.
“Aku mencintaimu, Kirana Paramitha Bradford.” bisik Miles di antara ciuman mereka. “Hanya itu yang menguatkan aku agar tidak mati kebosanan.”
“Aku juga mencintaimu, Miles Alastair Bradford.” Kirana tertawa kecil. “Tapi jangan terlalu percaya diri dengan memanggilku Bradford. Tidak ada jaminan aku akan menjawab iya di altar besok.”
“Kamu akan kehilangan semua itu kalau berani menjawab selain iya di altar besok.” ancam Miles. Kirana menantangnya dengan tatapannya. Miles tertawa kecil lalu menciumnya lagi.
“Sekarang aku harus ke kamar mandi merapikan riasanku. Terima kasih kepadamu.” ucap Kirana sarkas setelah mereka berhenti saling mengancam.
“Berhati-hatilah.” ucap Miles dengan nada serius. Tentu maksudnya Ratri.
“Aku akan berhati-hati.” janji Kirana.
__ADS_1
Dia mendesah lega saat tidak melihat Ratri ada di sekitar koridor atau kamar mandi. Keadaan aman baginya untuk berada di ruangan itu. Beberapa menit di kamar mandi, riasannya telah rapi kembali. Dia tertawa membayangkan tingkah Miles dan dirinya yang seperti remaja yang baru pertama kali jatuh cinta.
Dalam perjalanan kembali ke ruang duduk, dia mendengar suara Miles dari arah satu ruangan yang dia lewati. Ruangan di mana tadi mereka berciuman dengan mesra. Pasti dia mendapat telepon lagi dari seseorang di Jakarta. Di sana sudah tengah malam. Tidak salah lagi, ada keadaan yang darurat.
“Kamu. Apa yang kamu lakukan di sini?” tanya Miles kesal. Kirana menghentikan tangannya yang memegang kenop pintu. Dia berniat membuka pintu dan mengejutkannya. Tetapi mendengar nada suara Miles, ada orang lain yang tidak diundang dalam ruangan itu bersamanya. Dia mengurung niatnya, menunggu saat yang tepat agar tidak menginterupsi.
“Kalau kamu lupa, Amanda mengundang keluargaku untuk hadir di acara makan malam ini.” Kirana mendengar suara Ratri. Dia mengerutkan keningnya. Apa yang kakaknya lakukan di dalam ruangan itu bersama Miles?
“Berhenti berlagak bodoh. Mengapa kamu ada di ruangan ini?” tanya Miles lagi, kini dalam bahasa Indonesia.
“Mengikutimu, tentu saja.” jawab Ratri dengan jujur. “Bahasa Indonesiamu fasih juga. Aku suka.”
“Permisi, aku masih ada acara di ruang sebelah.” Terdengar bunyi langkah kaki mendekati pintu. Kirana mundur selangkah. Dia tidak mau bertabrakan dengan Miles saat pria itu membuka pintu.
“Mengapa Kirana?” tanya Ratri. Bunyi langkah tadi terhenti. “Kamu bisa memilih wanita lain yang lebih baik. Mengapa dia?”
“Misalnya, kamu?” tantang Miles.
“Ya. Misalnya, aku.” aku Ratri penuh percaya diri. Jantung Kirana nyaris berhenti berdetak. Kakaknya barusan mengatakan itu? “Pria tampan dan sukses seperti kamu tentu sering membawa istrimu ke mana-mana untuk dipamerkan. Wanita seperti aku bisa membuatmu bangga dibandingkan Kirana. Dia hanya akan membuatmu malu dengan kepolosannya dan sifat rendah dirinya. Sebagai tambahan, dia tidak cantik.”
“Maaf, aku tidak tertarik.” Miles terdengar bosan.
__ADS_1
“Kamu jelas sudah buta sehingga memilih dia untuk selingkuh dari istrimu. Angelica jauh lebih cantik darinya. Mengapa, Alastair?” desak Ratri. Kirana mengepalkan tangannya mendengar kakaknya memanggil Miles dengan nama itu seolah-olah dia adalah orang yang istimewa bagi pria itu.