
Satu jam kemudian mereka tiba di rumah Kirana. Miles menepi dan menghentikan truknya di depan pagar. Dia segera turun dari mobil dan menolong Kirana turun terlebih dahulu. Lalu dia menolong William untuk melepas sabuk pengamannya dan keluar dari truk.
Mereka berdua bergandengan tangan masuk ke dalam rumah. Kirana tidak ada di mana-mana. William berlari ke tangga dan naik ke lantai atas. Mungkin dia pergi ke kamar tidurnya. Miles memeriksa rumah tersebut. Kecil dan nyaman. Dia suka bagaimana wanita itu mendekorasi dinding dengan foto dan lukisan.
Kirana datang dari arah belakang rumah. Dapur, tebak Miles. Dia membawa nampan dengan tiga mug dan sebuah piring diletakkan dengan rapi di atasnya. Nampan itu diletakkan di atas meja, kemudian dia memberikan sebuah mug kepada Miles. Die mengerutkan keningnya. Kopi hitam.
“Kamu menyimpan kopi bubuk di dapur?” tanyanya bingung.
“Tentu saja. Itu untuk tamu kami. Aku dan William tidak minum kopi.” Kirana menghirup isi dalam mug yang dipegangnya. Itu pasti cokelat hangat. Dia sangat suka minuman tersebut. Miles duduk di sisinya. William menuruni tangga dan bersorak senang menuju bagian depan rumah. Miles tertawa.
“Sayang, jangan keluar dari pagar!” Kirana memperingatkan.
“Aku tahu, Mom!” jawab William. “Dan namaku Will!” Miles tertawa mendengar kalimat terakhir. Dia menoleh ke arah Kirana yang terlihat khawatir.
“Tenang. Dia akan baik-baik saja.” Miles meremas lututnya. “Aku yakin dia tidak akan keluar tanpa memberitahumu.”
“Aku tahu. Tapi aku harus mengingatkannya tentang segalanya. Anak-anak suka sekali melanggar atau melupakan peraturan saat kita tidak terus mengingatkan mereka.” Kirana memutar bola matanya. Miles mengambil mug dari tangan Kirana dan meletakkannya ke atas meja. Wanita itu mengerutkan kening dengan bingung.
“Kita sendirian sekarang.” Miles mengerlingkan matanya. Tawa Kirana meledak. Dia berhenti tertawa saat Miles membelai pipinya dan menutup mata ketika pria itu mendekat. “Aku mencintaimu, Kirana.”
Mereka akhirnya berciuman. Pertama hanya ciuman yang singkat. Miles mengubah posisi mereka untuk memperdalam ciumannya. Dan sebuah teriakan keras tiba-tiba menghentikan mereka. Miles memutar kepalanya dan mendengarkan. Teriakan itu berhenti tetapi hatinya berdetak dengan cepat. Dia berlari menuju teras.
__ADS_1
“William?” panggilnya. Tidak ada William di teras tersebut. Dia melihat ke sekelilingnya dan melihat dua pria memegang seorang anak laki-laki yang sedang memberontak. Mereka memaksanya masuk ke dalam mobil. “Hei! Berhenti! Lepaskan anak itu!”
“Anakku!” teriak Kirana. Jenis teriakan yang mengiris hati Miles begitu dalam. Pria itu tidak berhenti mencoba dan akhirnya berhasil memasukkan William ke dalam mobil. Itu tidak mungkin nyata.
“Oh, tidak!” Miles panik. Dia membingkai wajah Kirana dengan tangannya. “Sweetheart, dengar, Hubungi polisi. Aku akan mengejar mereka. Aku akan membawa putra kita kembali. Oke? Cepat telepon polisi.”
Ketika dia menganggukkan kepala, Miles segera berlari ke mobilnya. Begitu dia duduk di belakang setir, dia menyalakan mobil. Dia membuka jendela sembari memasang sabuk pengamannya. “Masuk ke dalam rumah dan kunci pintunya. Jangan biarkan siapa pun masuk kecuali aku. Apa kamu mendengarkanku?”
“Iya! Pergi!” teriaknya mendesak.
Miles menginjak gas dan menyetir truknya. Dia mengikuti arah di mana mereka pergi tetapi dia kehilangan mereka. SUV hitam itu sudah tidak terlihat lagi. Dari cara orang melihat ke satu arah di depan mereka, dia meyakini itulah arah ke mana mobil tadi pergi. Sopirnya menyetir dengan cepat untuk menghindari ada yang mengikuti mereka. Miles mengeluarkan ponsel dari saku kemejanya.
“Sial, Al. Kamu tidak bisa menyuruhku melakukan apa yang kamu mau saat kamu hanya memberiku satu petunjuk. Kamu bahkan tidak menyapaku dahulu!” Luke memarahinya. “Aku sedang berusaha menemukanmu. Oke. Apa yang kamu lakukan dengan menyetir mobilmu sendiri? Di mana Mark?”
“Kita tidak punya waktu untuk mengobrol sekarang.” Miles membelokkan mobilnya memasuki jalan raya. Dia mulai khawatir. “Kamu sudah menemukan SUV yang aku minta, belum? Aku mau kamu tidak lepaskan tatapanmu darinya.”
“Mengapa mendadak kamu tertarik pada sebuah mobil? Kamu punya mobil yang lebih bagus.” Miles bisa membayangkan Luke sedang memutar bola matanya.
“Putraku ada di dalamnya.” Miles mendengar Luke menarik napas terkejut atas pengakuannya. “Aku tidak tahu apa yang terjadi tapi seseorang berusaha mengambil putraku dariku. Oke?”
“Putra? Putramu? Apa kamu sedang bercanda? Sejak kapan kamu punya seorang putra?” tanya Luke bingung. “Angelica sudah meninggal selama, berapa, lima tahun? Dan mendadak kamu punya seorang putra, Al?”
__ADS_1
“Aku sudah bilang, kita tidak punya waktu untuk mengobrol. Ikuti mobil itu!” Miles mengulangi perintahnya. Dengan frustrasi, dia mencari SUV tersebut dan tidak menemukannya.
“Aku sedang mencarinya! Berhenti berteriak kepadaku! Apa yang sedang terjadi?” tuntutnya.
“Tetap cari SUV itu baik-baik. Aku akan menceritakannya kepadamu. Aku sedang berada di rumah wanitaku dan anak kami bermain di teras rumah. Aku mendengar teriakannya, berlari ke teras, dan ada dua pria yang berusaha mendorongnya masuk ke dalam mobil itu. Aku harus mendapatkannya kembali, Luke. Aku tidak boleh kehilangan dia. Tidak sekarang, atau kapan pun.”
“Oke, teman. Tenang. Aku sedang mengikutinya, oke. Kamu sudah mengambil jalur yang benar. Terus saja ke depan. Aku akan memberitahumu kapan atau ke mana kamu pergi selanjutnya.” Luke berusaha untuk menenangkannya. “Tapi, bisakah kamu mengganti kendaraanmu? Kamu butuh kendaraan yang bisa melewati kemacetan. Kamu akan kehilangan dia.”
Tidak! Dia tidak bisa kehilangan dia. Setelah apa yang terjadi di dalam hidupnya, dia akhirnya menemukan kebahagiaan. Dia bertemu kembali dengan cintanya dan putranya. Dia tidak bisa kehilangan seorang pun lagi. Apa yang sebenarnya sedang terjadi? Siapa yang ingin menculik putranya? Dan mengapa?
“Ayo, cari jalan pintas. Aku tidak akan berhenti dan mengganti kendaraan sekarang. Itu bukan pilihan yang terbaik.” Miles menolak. Dia mendengar Luka mengetikkan sesuatu. Dia menunggu dengan sabar.
“Oke. Belok kiri pada perempatan jalan berikutnya. Mereka berhenti.” Dia mendesah pelan.
Miles menurut dan melihat mobil itu tidak jauh darinya. Jantungnya berdetak dengan kencang. Apa yang sedang mereka lakukan? Melihat ada mobil yang diparkirkan di bagian depan dan belakang SUV itu, Miles memilih untuk berhenti di sisinya. Mereka tidak akan bisa bergerak ke mana-mana.
Dia segera melompat keluar dari truknya dan mendekati SUV tersebut. Dari kaca jendelanya, dia melihat seorang pria duduk di samping putranya. Dia tidak melihat ada senjata pada tangan pria itu atau di lantai. Tanpa membuang waktu lagi, dia meminta bantuan dan orang-orang mendatanginya. Miles menunjuk ke arah jendela mobil.
Tidak butuh waktu lama, mereka membebaskan putranya dan mengikat pria itu ke mobil. Polisi datang beberapa menit kemudian. Pria itu mengaku bahwa ada dua temannya yang pergi ke toko untuk membeli makanan. Mereka pasti sudah melarikan diri entah ke mana setelah melihat orang-orang berusaha menangkap rekannya.
Mereka telah mengikuti Miles selama dua hari terakhir. Akibatnya, mereka tidak punya kesempatan untuk makan apa pun sejak pagi tadi. Mereka berdebat apakah akan lanjut jalan atau membeli makanan. Mereka pikir tidak ada yang mengikuti mereka karena sudah berada jauh dari tempat kejadian penculikan. Orang-orang di sekitar mereka juga tidak menatap mereka dengan curiga. Miles lega mereka memilih pilihan kedua. Karena hal itu telah menyelamatkan putranya.
__ADS_1