Kisah Yang Tak Terlupakan

Kisah Yang Tak Terlupakan
Bagian 9


__ADS_3

“Apa kamu tidak salah? Om dan Tante baru meninggal sebulan yang lalu dan sekarang kamu mau pergi keluar negeri?” tanya Dexter tidak percaya.


Pria itu menyilangkan tangannya di depan dadanya sambil berdiri di ambang pintu kamar Kirana. Sikap itulah yang membuat Kirana tidak mau memberitahu pria itu mengenai rencana liburannya. Sahabatnya tidak pernah percaya bahwa dia bisa mengurus dirinya sendiri. Apalagi semenjak kedua orang tuanya meninggal. Dia sengaja menunggu sampai semalam untuk memberitahu Dexter dan Vivian. Reaksi Dexter tepat seperti yang dikhawatirkannya.


“Aku butuh liburan, Dex. Aku penat dengan semua aktivitas rutinku di kota ini. Aku pergi hanya untuk beberapa hari, aku pasti kembali.” Kirana memasukkan semua peralatan riasnya ke dalam tas kecil lalu menyimpan tas tersebut ke dalam koper.


“Aku tidak melarangmu berlibur. Tapi mengapa harus ke luar negeri? Kamu bisa berlibur ke Yogya atau Bali, misalnya. Kalau terjadi sesuatu kepadamu di sana, tidak ada temanmu yang bisa segera datang menolong, Ki.” ucap Dexter frustrasi.


“Tidak akan terjadi sesuatu kepadaku. Aku wanita dewasa. Aku bisa menjaga diri sendiri. Itu hanya Singapura. Kota yang jauh lebih aman daripada kota kita. Tidak ada yang perlu kamu khawatirkan.” Kirana menutup ritsleting kopernya dan menepuk kedua tangannya, puas dengan hasil kerjanya.


“Setidaknya biarkan aku mengantar ke bandara.” Untuk ketiga kalinya dia menawarkan hal yang sama. Kirana menggeleng pelan.


“Tidak perlu. Aku sudah menelepon taksi.” Dia melirik jam tangannya. “Sebentar lagi pasti datang.”


Terdengar bunyi klakson dari arah depan rumahnya mengabulkan permintaannya, senyum Kirana mengembang. Dia menoleh ke arah pria yang masih berdiri di tempatnya semula. Dexter mengerang pelan. Sahabatnya itu sudah sering direpotkan olehnya, kali ini dia tidak ingin bergantung kepadanya juga. Pergi ke bandara dengan taksi bukanlah hal yang buruk.

__ADS_1


“Dia tepat waktu.” Kirana meraih pegangan kopernya, berusaha untuk menurunkannya dari tempat tidur ke lantai.


“Biar aku saja.” Dexter memegangnya lebih dahulu, bantuan yang tidak akan ditolaknya. Dia tahu bahwa pria itu akan semakin kesal kepadanya jika dia menjawab tidak lagi.


“Terima kasih.” ucap Kirana sambil melihat ke sekelilingnya, memeriksa andai ada barang yang lupa dia masukkan ke dalam koper. Sahabatnya menarik koper tersebut keluar kamar. Yakin tidak ada yang tertinggal, dia keluar dari kamar dan menutup pintunya.


Dia telah menutup seluruh jendela dan tirai di rumahnya, juga mengunci semua daun jendela. Tetapi untuk memastikannya, dia mengelilingi rumahnya sekali lagi. Mulai dari lantai bawah sampai ke lantai atas. Yakin semuanya sudah aman, dia keluar rumah. Pintu depan dikuncinya, lalu pagar rumah digemboknya. Puas dengan itu, dia menarik napas panjang. Dia sudah siap untuk pergi.


Saat mendekati taksi, Dexter telah memasukkan kopernya ke dalam bagasi mobil. Pria itu masih memasang wajah cemberut, Kirana tertawa kecil. Dia sebenarnya marah bukan karena negara tujuannya, tetapi karena dia pergi tanpa memberitahunya dari jauh hari. Pria itu perlu belajar bahwa Kirana sudah dewasa dan tidak memerlukan pengawasannya lagi.


“Akan aku tunggu.” ucap Dexter serius. “Jangan melakukan hal yang bodoh selama berada di sana. Aku tahu kamu masih berduka, walau kamu pasang senyum seceria apa pun di wajahmu itu. Kamu tidak bisa membodohiku, Ki. Aku tidak mau kamu melakukan sesuatu yang akan kamu sesali selamanya. Kamu dengar apa yang aku katakan?” Dia memeluk Kirana, mencium kedua pipinya, lalu membukakan pintu taksi untuknya.


“Dex, kamu berlebihan.” Kirana menggeleng-gelengkan kepalanya.


“Aku tahu betul apa yang ada di dalam isi kepala sahabatku. Aku serius, Ki.” Dexter menutup pintu setelah Kirana masuk ke dalam mobil. Dia membuka kaca jendela.

__ADS_1


Begitu taksi bergerak, Kirana melambaikan tangannya dengan riang. Dexter hanya cemberut. Meskipun dijanjikan oleh-oleh, dia tetap cemberut. Dia bahkan berkacak pinggang saat menatap kepergian sahabat baiknya itu. Kirana tertawa kecil sembari menutup kembali kaca jendela di sampingnya. Semakin jauh dari rumahnya, perlahan tawa itu hilang dari wajahnya.


Dia harus berhati-hati saat bicara atau bertindak di depan Dexter. Pria itu tahu terlalu banyak dan mengenalnya terlalu baik. Sekalipun dia tidak mengatakan apa-apa mengenai rencana rahasianya selama berada di Singapura nanti, pria itu tahu. Hebat. Tetapi dia tidak bisa menghalangi niatnya. Dia sudah membulatkan tekad dan kesempatan berlibur ini tidak akan disia-siakannya.


Satu bulan terakhir adalah masa yang sangat sibuk baginya. Menyelesaikan program kantor sebelum dia cuti, menguras hampir seluruh tenaga dan perhatiannya. Tetapi semua bawahannya terlihat bahagia mengerjakan tugas dan tanggung jawab mereka masing-masing. Kelihatannya kenaikan gaji itu sangat memengaruhi suasana dan semangat kerja mereka.


Hal lain yang menguras perhatiannya adalah peninggalan kedua orang tuanya. Dia tidak menduga semua barang peninggalan mereka diwariskan kepadanya. Tidak satu barang dan sesen uang pun yang diwariskan kepada Ratri. Mungkin mereka sudah tahu bahwa dia tidak akan menerima satu barang pun dari mereka. Uang simpanan mereka tidak sedikit andai dibagi dua. Tetapi tidak, mereka memberikan seluruhnya kepadanya.


Sepertinya mereka telah lama menabung agar bisa hidup tenang pada masa tua. Jumlahnya membuat Kirana segan menerimanya. Uang itu adalah hasil kerja keras kedua orang tuanya selama hidup. Selain uang dalam tabungan, rumah dan mobil milik kedua orang tuanya juga diwariskan kepadanya


Melihat jumlah uang santunan dari asuransi jiwa dan kesehatan orang tuanya membuatnya sangat terkejut. Kedua orang tuanya masing-masing mempunyai dua asuransi. Jumlah terbesar didapat dari asuransi jiwa orang tuanya. Uang itu telah didepositokannya selama lima tahun bersama kedua tabungan pribadi mereka. Dia tidak berani menyimpan uang sebanyak itu di rekening pribadinya.


Baju, sepatu, dan buku koleksi orang tuanya telah disumbangkannya. Barang-barang pribadi mereka seperti jam, ponsel, laptop, dan perhiasan telah dijualnya. Dia hanya menyimpan cincin kawin mereka karena tidak sanggup menjualnya begitu saja. Nama mereka terukir pada cincin tersebut. Selain rumah dan mobil, kedua cincin itu adalah benda peninggalan orang tuanya yang ingin dia simpan dan jaga.


Tiba di bandara, Kirana membayar tagihan taksi sesuai argo. Sopir menolongnya mengeluarkan koper dari dalam bagasi. Dia terkejut saat melihat ada banyak orang yang pergi ke negara tujuan yang sama dengannya. Mungkin mereka ingin berlibur atau bekerja di sana. Sepuluh menit mengantri, gilirannya pun tiba. Begitu menerima boarding pass, Kirana menuju bagian imigrasi. Dia menunjukkan paspor dan boarding pass kepada petugas. Setelah menjawab satu, dua pertanyaan kemudian paspornya diberi stempel. Stempel pertamanya.

__ADS_1


__ADS_2