Kisah Yang Tak Terlupakan

Kisah Yang Tak Terlupakan
Bagian 87


__ADS_3

“Lalu ada hal penting yang perlu kami beritahukan.” Amanda melihat ke arah suaminya. Shane menganggukkan kepalanya. Miles mengerutkan keningnya melihat mereka bertukar pandang.


“Aku mohon, jangan bilang aku akan punya seorang adik.” canda Miles. Kirana menutup mulut dengan tangannya menahan tawa. Miles tertawa bersamanya.


“Hei, hei. Wanita yang kalian goda itu istriku.” ucap Shane pura-pura marah. Miles tahu dia tidak marah, maka dia tertawa kecil. Amanda berdehem.


“Karena kalian akan menikah tiga hari lagi, selama kalian belum resmi menjadi suami istri kalian tidur di kamar terpisah.” ucap Amanda mengumumkan.


“Kita sudah bahas itu, Mom. Aku tidak setuju.” Miles melingkarkan tangannya di bahu tunangannya. “Aku tidak bisa tidur tanpa dia di sisiku.”


“Tapi, Alastair, itu tradisi kita. Hanya untuk tiga hari. Kamu akan baik-baik saja tidur tanpa dia.” ucap Amanda bersikeras. Miles merasa kesal. Dia tidak akan membiarkan orang tuanya mendiktenya mengenai apa yang boleh dan tidak boleh dia lakukan.


“Tidak.” ucap Miles tegas. “Kalau kalian memaksa, kami lebih baik tidur di hotel.” Kirana meremas tangannya tetapi dia hanya mengabaikannya. Ini adalah antara dia dan orang tuanya.


Amanda menatapnya dengan tajam. Miles balas menatap mamanya. Mata Amanda kemudian melembut. Bibirnya bergerak, berusaha keras menahan senyuman. Miles mengerutkan keningnya melihat sikap ayah dan ibunya. Serentak tawa Amanda dan Shane meledak. Dia dan Kirana melihat mereka dengan bingung.


“Apa aku bilang ‘kan, darling? Kali ini dia berbeda.” ucap Amanda dengan bangga. Shane tersenyum.


“Aku tidak mengerti.” Miles masih mengerutkan keningnya.


“Apa kamu masih ingat bagaimana kamu dan Angelica bersikap saat datang ke sini untuk pertama kalinya?” tanya Amanda. Miles menggeleng pelan. “Kalian menuruti semua kemauan kami. Asal kami setuju dengan niat kalian untuk menikah.”


“Sekarang kamu dan Kirana tidak peduli dengan apa yang kami katakan. Kalian memikirkannya tanpa segera setuju atau membantahnya kalau kamu tidak suka.” timpal Shane. Dia menoleh ke arah Kirana. “Dan aku bahagia kali ini Alastair memutuskan untuk menikah di sini. Terima kasih, Kirana.”


“Sama-sama, Shane.” Kirana tersenyum sebelum dia tidak sengaja menguap. Wajahnya memerah karena malu. “Ma, maafkan aku.”


“Tidak, kami yang meminta maaf. Kalian pasti lelah.” ucap Shane menginterupsi. “Alastair, kamu dan Kirana tidur di kamarmu. Will dapat kamar di depan kamar kalian.”


“Aku tidak mengantuk, Granddad. Aku mau nonton film.” ucap William. Dia menoleh ke arah Amanda. “Grandma, boleh minta cookiesnya lagi? Enak sekali.” Neneknya tertawa.


“Kamu yakin mau di sini, Will?” tanya Miles. Dia berdiri lalu mengulurkan tangannya kepada Kirana. Tetapi sebelum mereka pergi ke atas, dia perlu tahu bahwa putranya akan baik-baik saja tanpa mereka.

__ADS_1


“Iya, Dad.” jawab William.


“Jangan khawatir, kami akan menjaganya. Kalau dia butuh kalian, akan kami antar ke kamarmu.” janji Amanda. Miles mengangguk lega. Karena dia butuh istirahat, dia memang membutuhkan seseorang untuk menjaga putranya.


Miles membukakan pintu dan mempersilakan Kirana berjalan keluar lebih dahulu. Mereka menaiki tangga dan menuju kamar tidurnya. Koper mereka sudah ada di sana, diletakkan di dekat pintu ruang pakaian. Dia meminta mereka untuk tidak mengeluarkan pakaian tanpa perintah dari wanitanya. Kirana duduk di tepi tempat tidur. Miles membuka salah satu koper dan mengeluarkan piyama untuknya dan William, serta gaun tidur untuk Kirana.


“Orang tuamu sangat baik.” Kirana menatapnya dengan mata berat. Miles berlutut di depannya.


“Bukankah aku sudah berulang kali mengatakannya kepadamu?” Miles membela pipinya. Lalu dia meraih tangannya. “Ayo, kita mandi baru tidur.”


Setengah mengantuk, Kirana berusaha memakai bajunya setelah mereka usai mandi. Miles tertawa melihatnya. Dia membantunya memasukkan baju tidurnya lewat kepala. Setelah dia membantunya berbaring di tempat tidur dan menutup tubuhnya dengan selimut, dia keluar kamar untuk menaruh piyama William di tempat tidurnya. Dia kembali ke kamarnya lalu berbaring di sisi tunangannya. Dengan kelelahan yang dirasakan tubuhnya karena penerbangan yang panjang, sekejap saja dia sudah tidur lelap.


Merasakan sentuhan di wajahnya, Miles membuka matanya. Sekelilingnya terlihat samar-samar. Hari sudah malam dan lampu di kamarnya belum dinyalakan. Dia menoleh ke sisinya. Dari cahaya lampu luar yang masuk lewat jendela, dia bisa melihat Kirana sedang terjaga sambil menatapnya. Tangan wanita itu membelai pipinya.


“Hai.” Miles menyentuh tangan itu untuk menghentikannya membelai pipinya dan mencium telapak tangannya.


“Hai.” Kirana tersenyum kepadanya.


“Setelah nyaris dua puluh empat jam tidak bisa tidur nyenyak, wajar saja.”


“Hm. Aku senang melihatmu ada di sini.” Miles melingkarkan tangannya di tubuh wanita itu. Kirana menyentuhkan ujung hidungnya ke leher Miles.


“Miles,” panggil Kirana dengan suara berbisik.


“Ya?” Miles memindahkan posisi kepalanya agar bisa menatapnya.


“Aku mencintaimu.” bisik Kirana di bibirnya. Miles tersenyum.


“Aku mencintaimu.” balas Miles dan mencium bibirnya.


Yang pertama adalah yang tersulit. Setelah Kirana mengakui perasaannya untuk pertama kali, dia tidak ragu lagi untuk mengatakan cintanya kepadanya. Yang mana cukup sering diucapkannya. Saat mereka bangun pada pagi hari, sebelum mereka melakukan hubungan intim dan setelahnya, saat mereka berpisah menuju ruang kerja masing-masing, kapan saja mereka saling menatap, dan sebelum mereka tidur.

__ADS_1


“Terima kasih sudah melamarku.” bisik Kirana lagi.


“Terima kasih sudah menerima lamaranku.” Miles tersenyum.


“Apakah ini untuk selamanya?”


“Ini untuk selamanya.” Miles menundukkan kepalanya dan mencium bibir Kirana sepuasnya. “Aku akan berada di sisimu saat kamu sudah menua dan tidak cantik lagi. Jangan khawatir.” godanya. Mereka tertawa bersama.


“Shane dan Amanda tidak suka Angelica?” tanya Kirana. Miles menggelengkan kepalanya. “Mengapa tidak?”


“Terlalu banyak yang dia sembunyikan. Hanya itu yang Mom sampaikan kepadaku. Dia bukan seorang wanita yang jujur, kata Dad.” jawab Miles pelan. Dia menutup matanya. “Tapi tetap saja aku menikahinya.”


“Aku mengerti. Kamu sedang jatuh cinta kala itu. Kamu tidak bisa menghentikan dorongan untuk segera menikahinya.” Kirana membelai pipinya. Miles menyentuh tangan tersebut.


“Tidak. Apa yang aku rasakan kepadanya pada saat itu, berbeda dengan yang aku rasakan kepadamu. Aku tidak perlu berjuang keras untuk mendapatkannya. Hubungan kami berjalan lancar saja. Semua orang merasa nyaman saat aku membawanya bersamaku, jadi aku pikir, kami berdua cocok. Hanya Mom dan Dad yang tidak terlalu menyukainya.”


“Apa menurutmu mereka menyukaiku?” tanya Kirana pelan. Miles menatapnya.


“Bukankah itu terlihat jelas?” Miles balik bertanya. Kirana diam untuk beberapa saat.


“Aku akan membunuhmu kalau kamu berani mengkhianatiku, Miles.” ancam Kirana dengan nada sangat serius. Miles tertawa kecil. “Aku tidak bercanda.”


“Aku tahu. Aku tidak akan mengkhianatimu.” Miles mempererat pelukannya. “Shane dan Amanda di pihakmu. Mereka juga akan membunuhku kalau sampai menyakitimu.”


“Bagus. Sebaiknya kamu ingat itu.” ucap Kirana lega. Miles tertawa kecil.


“Apa kamu lapar?” Miles mengusap-usap perut Kirana.


“Aku tidak. Si kecil iya.” Wanita itu mendesah pelan.


“Kalau begitu, ayo, kita ke ruang makan sekarang.” Miles berniat untuk duduk tetapi Kirana menahannya.

__ADS_1


“Sebentar. Lima menit lagi.” pintanya sambil mempererat pelukannya. “Aku ingin berbaring bersama calon suamiku.”


__ADS_2