Kisah Yang Tak Terlupakan

Kisah Yang Tak Terlupakan
Bagian 34


__ADS_3

Sebelum penyebab kematian istrinya diketahui, dia tidak bisa tenang. Dia membiarkan polisi mengambil ponsel dan laptop milik istrinya untuk diperiksa. Semua pertanyaan yang mereka ajukan kepadanya, dijawabnya dengan jujur. Dia duduk di ruang depan sambil meminum susu yang disiapkan oleh pembantunya, tidak sanggup melihat situasi kamar apalagi kamar mandinya. Markus juga ikut berada di ruangan itu bersamanya, bersiap-siap andai tenaganya dibutuhkan.


“Kami akan melakukan autopsi untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Walau aku yakin istrimu meninggal karena kehabisan banyak darah. Tapi tidak ada salahnya kita mencari penyebab yang lain. Apa kamu mengizinkan kami melakukannya?” tanya Pranaja. Miles mengangguk.


“Tentu saja. Silakan.”


Pranaja menggerakkan tangannya ke arah petugas medis yang telah memasukkan mayat istrinya ke dalam kantong mayat. Memberi sinyal bahwa mereka boleh membawanya. Mereka membawanya menggunakan tempat tidur beroda. Dokternya mendekatinya begitu petugas medis sudah di dekat pintu depan rumahnya.


“Aku bawa obat mual kalau kamu butuh beberapa.” ucapnya menawarkan. Miles menggeleng pelan.


“Tidak perlu. Wanda sudah memberiku segelas susu. Keadaanku sudah lebih baik.”


“Baiklah. Segera beritahu aku kalau kamu butuh sesuatu.” ucap Pranaja. Miles mengangguk pelan. “Kamu mau ikut di ambulans, di mobilku, atau mau pergi ke rumah sakit dengan mobilmu sendiri?”


“Dengan mobilku sendiri.” Miles menyisir rambut dengan tangannya. Pranaja menepuk bahunya pelan lalu keluar dari ruangan itu. Dia tidak mungkin membiarkan Markus menyetir seorang diri. Bukan hanya dirinya, semua orang yang tinggal di rumahnya juga pasti merasa terpukul atas apa yang baru terjadi. Mereka telah tinggal bersamanya dan istrinya selama dua puluh tahun.


Tanpa menunggu perintah darinya, Markus keluar dari ruangan itu. Miles mengikutinya beberapa menit kemudian setelah meminta Wanda untuk tidak mengkhawatirkan apa pun. Markus mengikuti mobil Pranaja dan ambulans berada di barisan paling depan. Para polisi tadi tidak ikut karena harus kembali ke markas mereka untuk melanjutkan pemeriksaan atas bukti-bukti yang mereka temukan.


Lima belas menit kemudian mereka tiba di rumah sakit. Miles meminta sopirnya menunggu di dalam mobil. Pria itu menurut. Di depan ruang autopsi, seorang wanita memintanya untuk mengikutinya. Beberapa lembar kertas disodorkan kepadanya. Dia dipersilakan membacanya baik-baik sebelum membubuhi tanda tangan. Menunggu hasil autopsi jasad istrinya, dia dipersilakan pulang. Dokternya sendiri yang akan memberitahu hasilnya.


Ponselnya bergetar begitu Markus mengendarai mobilnya keluar dari tempat parkir rumah sakit. Miles mengeluarkan ponselnya dari saku celananya. Dia memejamkan matanya begitu melihat nama yang tertera pada layar. Dia menarik napas panjang lalu mengeluarkannya perlahan.


“Mom,” sapanya setelah yakin dia bisa mengendalikan dirinya.


“Alastair! Happy anniversary!” ucap Amanda riang. Mamanya. Selamat ulang tahun pernikahan. Miles memejamkan matanya sesaat. Dia sedang tidak siap menerima telepon dari mereka.

__ADS_1


“Terima kasih, Mom.” jawabnya.


“Kamu tidak terdengar bahagia. Ada apa?” tanya mamanya khawatir. Dia tahu bahwa dia tidak akan berhasil menutupi perasaannya saat ini. Biar bagaimana pun juga, yang baru saja terjadi adalah peristiwa yang besar baginya.


Miles diam sejenak. Dia mempertimbangkan apa sebaiknya dia berkata jujur atau menyembunyikan apa yang sedang terjadi dari kedua orang tuanya. Mereka tidak pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi pada pernikahannya. Dia tidak ingin membuat mereka khawatir. Mereka tinggal jauh darinya. Kalau mereka tahu dia sedang menghadapi masalah, mereka pasti akan memaksa untuk datang mengunjunginya. Saat ini dia tidak ingin menambah beban mereka.


“Banyak yang telah terjadi. Aku selama ini berbohong kepada Mom dan Dad.” Miles memijat pelan puncak hidungnya. Kepalanya tiba-tiba saja terasa sakit.


“Sayang, kamu membuatku takut.” ucap Amanda lagi. Miles menarik napas panjang. Dia harus mengatakannya kepada mereka, sudah tidak ada gunanya lagi dia berbohong. Lebih baik mereka mendengar hal ini langsung darinya daripada mendengar dari orang lain, siapa tahu keluarga Angelica nekat untuk menghubungi orang tuanya.


“Aku dan Angelica tidak bahagia selama sepuluh tahun terakhir, Mom.” ucap Miles pelan. Terdengar tarikan napas terkejut dari seberang telepon.


“Apa yang terjadi?” tanya mamanya dengan suara sedih. Miles membenci percakapan seperti ini. Dia tidak suka melihat orang tuanya bersedih.


“Kami tidak bisa punya anak, Angelica sangat kecewa kepadaku.” Miles menghela napas dengan cepat karena udara semakin sulit dihirup.


“Aku tahu, Dad. Tapi istriku sangat menginginkannya.”


“Apa kalian berencana untuk berpisah?”


“Tidak, Dad. Kejadiannya lebih buruk. Aku mohon, Mom dan Dad duduk dahulu dan tarik napas yang panjang.” Dia mendengar Shane dan Amanda bicara berdua. Hening sejenak. Tetapi dia tahu mereka sedang melakukan apa yang dimintanya.


“Nak, kamu membuat kami takut.” ucap Amanda pelan.


“Aku juga takut, Mom.” Miles terisak. Dia tidak bisa menahannya lagi. “Angelica meninggal. Aku menemukannya di kamar mandi di atas genangan darahnya sendiri. Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Aku baru pulang dari tempat kerja dan, dan aku menemukannya sudah tidak bernyawa lagi. Aku baru saja dari rumah sakit dan mengizinkan mereka melakukan autopsi.”

__ADS_1


“Kami akan datang.” ucap Shane dengan tegas.


“Tidak, Dad. Aku mohon, jangan.” ucap Miles cepat. “Awal tahun ini kamu baru mengalami serangan jantung ringan. Aku tidak ingin keadaanmu menjadi lebih buruk.”


“Aku tidak mungkin membiarkan anakku berjuang sendiri.” ucap Shane bersikeras.


“Aku punya Pranaja dan Charles yang menolongku, Dad. Jangan khawatir. Mereka teman yang baik. Begitu semua urusan di sini selesai, aku akan datang menemui kalian.”


“Janji?” tanya Shane dengan lembut.


“Aku berjanji, Dad.” Miles berusaha untuk meyakinkannya.


Miles melihat Markus membelokkan mobil memasuki halaman rumahnya. Ada sedikit rasa lega bisa kembali ke rumahnya, sekaligus rasa bersalah. Pemandangan yang dilihatnya di kamar mandi tidak akan bisa dilupakannya begitu saja. Tetapi itu masalah yang akan dipikirkannya nanti. Saat ini dia hanya ingin beristirahat.


“Aku sudah sampai di rumah.” lapornya kepada orang tuanya.


“Markus yang menyetir?” tanya ayahnya dengan nada khawatir yang menghangatkan dada Miles. Dia mencintai orang tuanya yang tidak pernah berhenti memperlakukannya sebagai anak mereka satu-satunya.


“Iya, Dad.” jawabnya dengan senyum di wajahnya.


“Baiklah. Kami akan menelepon lagi besok sore. Sekarang, istirahatlah.”


“Kami mencintaimu, sayang.” timpal mamanya.


“Terima kasih, Dad, Mom. Aku sayang kalian berdua.”

__ADS_1


Tidak ingin melihat darah di lantai kamar mandi, dia memilih tidur di kamar lain. Pintu kamar mandi itu ditutup sehingga dia tidak perlu melihatnya ketika mengambil beberapa pakaiannya dari ruang pakaian. Dia sengaja membiarkan kamar mandi tidak dibersihkan atau disentuh sampai hasil autopsi keluar. Andai ini adalah peristiwa pembunuhan, dia tidak ingin pihak berwajib kehilangan bukti yang mereka butuhkan. Sekalipun mereka sudah memeriksa kamar itu berjam-jam.


Untuk saat ini dia hanya ingin istirahat. Hasil autopsi dan penyelidikan polisi akan dipikirkannya nanti.


__ADS_2