
Lobi perusahaan itu begitu megah dan elegan. Siapa pun perancangnya mempunyai selera yang bagus. Tiang-tiang penyangga berlapis marmer, begitu juga dengan lantainya. Langit-langitnya tinggi dan berhiaskan beberapa lampu kristal yang indah. Dindingnya dihiasi dengan lukisan-lukisan berukuran raksasa. Lukisan beberapa kantor cabang dengan pemandangan di sekitarnya yang indah. Kantor pusat adalah gedung yang tertinggi. Kantor cabang hanya berlantai lima, paling tinggi berlantai sepuluh.
“Bapak dan Ibu, terima kasih sudah menunggu.” sapa seorang pria yang berpakaian jas lengkap dengan dasinya. Dia memakai kartu pengenal yang menggantung di lehernya. “Nama saya Jerry. Saya yang akan mengantar Anda menuju ruang wawancara.”
“Hanya kami berempat?” tanya salah satu wanita yang telah datang lebih dahulu itu.
“Iya, Bu.” jawabnya dengan ramah.
“Silakan kenakan ini agar saat Anda harus ke toilet atau ke lokasi lain di gedung ini, petugas keamanan kami tidak mengusir Anda.” Dia memberikan sebuah kartu bertuliskan pengunjung kepada Kirana setengah berkelakar. Kirana tahu bahwa dia sedang berusaha mengurangi ketegangan pada wajah mereka. Tetapi ketiga orang yang ada bersamanya hanya bisa tersenyum terpaksa.
Sebuah kartu, dia baru menyadari bahwa pria dan wanita lainnya adalah pegawai dari kantor pusat. Mereka telah mengalungkan tanda pengenal mereka pada leher mereka masing-masing. Dia tidak memerhatikannya tadi. Itu artinya, dia yang mendapatkan kartu pengunjung adalah satu-satunya perwakilan dari cabang yang lulus seleksi awal.
__ADS_1
Mereka mengikuti pria tersebut dan dia mempersilakan mereka masuk ke dalam lift lebih dahulu. Dia masuk kemudian dan menekan angka sembilan belas. Pasti itu satu lantai di bawah lantai di mana terdapat ruang kerja para eksekutif. Kalau keadaan di kantor pusat sama dengan di kantor cabang, maka lantai tertinggi adalah lantai bagi direktur dan para wakilnya.
Kirana melihat ke kanan dan kirinya. Dia berdiri di antara pria dan wanita yang sudah bekerja di kantor pusat. Mereka terlihat begitu serius. Tentu mereka sangat menginginkan posisi ini. Mereka adalah saingannya yang berat. Entah apa yang akan pewawancara tanyakan dalam wawancara nanti, dia harus bisa lebih baik dari ketiga saingannya.
Bisa sampai pada tahap wawancara tidaklah mudah. Meskipun dia adalah pegawai yang sudah lama bekerja di kantor cabang, dia harus mengikuti proses pengumpulan berkas, psikotes, dan ujian kemampuan baik tertulis maupun online. Hanya empat orang yang lulus adalah bukti bahwa seleksi ini cukup sulit untuk dilewati.
Pintu elevator terbuka di lantai tujuan mereka. Kirana membulatkan mata dan mengangakan mulutnya melihat pemandangan di hadapannya. Lantainya juga terbuat dari marmer. Lobi pada lantai itu sama luasnya dengan lobi di lantai dasar, dindingnya, langit-langitnya, dan jendela besarnya. Mereka dipersilakan duduk di sofa yang ada di dekat jendela besar yang menunjukkan pemandangan kota dengan gedung-gedung pencakar langit serta cerahnya hari.
Pria dan kedua wanita itu kembali sibuk dengan alat elektronik mereka masing-masing. Kirana memilih untuk melihat ke langit-langit dan menemukan ada beberapa kamera pengawas. Dia tersenyum melihatnya. Dia sudah menyukai tempat itu. Bekerja di gedung ini akan membuatnya nyaman tanpa takut seseorang akan menuduhnya mencuri tanpa bukti dan alasan yang kuat hanya supaya perusahaan memecatnya.
Tiga puluh menit kemudian, wanita itu keluar dengan wajah memerah. Dia tidak mau menoleh sama sekali ke arah mereka bertiga. Begitu pintu elevator terbuka, dia segera masuk dan pergi tanpa kata. Wanita berpakaian hitam tadi kembali lalu menyebut sebuah nama lain. Wanita berikutnya berdiri. Tinggal Kirana dan pria itu yang menunggu di ruang tunggu.
__ADS_1
Pemandangan yang sama terjadi lebih cepat dari yang pertama. Dua puluh menit. Wanita tadi keluar dari ruangan dengan wajah memerah nyaris menangis. Kirana mengerutkan keningnya. Apa yang terjadi di dalam sana sehingga dua wanita keluar dengan wajah kesal seperti itu? Bukankah ini wawancara kerja? Tetapi mengapa mereka keluar dengan wajah marah seolah-olah baru saja diinterogasi oleh polisi? Mungkin wawancaranya ketat dan mereka mengajukan pertanyaan yang sulit untuk menguji kemampuan serta emosional semua pelamar.
Berikutnya adalah giliran pria tersebut. Ketika pandangan mereka bertemu, Kirana tersenyum kepadanya. Pria itu membalas senyumnya. Ada yang tidak diketahuinya di tempat ini. Tetapi apa itu? Mereka bertiga begitu tegang dan tidak berhenti membaca entah apa pada tablet mereka masing-masing. Seolah-olah sedang mengikuti ujian memasuki perguruan tinggi. Bukankah wawancara kerja itu bukan sesuatu yang mengerikan? Itu hanya sebuah kesempatan di mana pemberi kerja mengenal lebih baik calon tenaga kerjanya sebelum memberikan pekerjaan itu kepadanya.
Kirana tersenyum ketika pria itu tidak keluar juga dari dalam ruangan setelah satu jam berlalu. Kelihatannya dia lebih baik dari kedua wanita tadi. Mungkin wawancaranya berjalan dengan lancar karena dia seorang pria. Tunggu sebentar. Dia seorang wanita. Apakah itu artinya dia juga akan keluar dengan ekspresi yang sama dengan kedua wanita tadi?
Terdengar bunyi pintu terbuka dan segera ditutup kembali. Kirana menoleh. Pria tadi juga keluar dengan wajah memerah. Kirana menatapnya dengan heran. Apa sebenarnya yang telah terjadi di dalam ruangan tersebut? Yah, dia tidak perlu menunggu lama. Giliran berikutnya adalah gilirannya. Dia akan segera mengetahui jawabannya.
“Ibu Kirana Paramitha.” panggil wanita cantik tadi. Kirana menganggukkan kepalanya. Dia berdiri dan mengikuti wanita tersebut menuju ruang eksekusi. Dia menyebutnya demikian karena sudah tiga orang yang keluar dari ruangan itu dengan ekspresi yang sama. Seolah-olah baru saja keluar dari tempat penyembelihan. Dia memasuki ruangan tersebut setelah wanita tadi mempersilakannya untuk masuk.
Ruang wawancara tersebut terlihat nyaman. Di sebelah kanan ruangan ada jendela besar dari lantai hingga langit-langit yang menunjukkan pemandangan kota. Di sebelah kirinya ada sofa yang nyaman. Tidak jauh dari sofa itu kabinet kecil yang di atasnya ada cangkir bersih dengan tiga buah wadah air dari kristal yang masing-masing berisi kopi hitam, teh, dan jus jeruk. Di hadapannya ada sebuah meja besar dengan tiga orang duduk di belakangnya.
__ADS_1
Pria yang berada di tengah mempersilakannya untuk duduk. Pria di sebelah kanan sedang sibuk dengan laptop di depannya. Lalu pria di sebelah kiri sedang berbicara dengan seseorang melalui ponselnya. Dia segera menarik napas terkejut.
Mungkin enam tahun telah berlalu sejak hari terakhir mereka bertemu. Tetapi warna rambutnya, jemari pada tangannya, dan wajah itu, dia tidak akan pernah melupakan segalanya tentang dia. Dia akan selalu mengingatnya seumur hidupnya. Karena lututnya bergetar, dia segera duduk. Dia membaca papan nama di depan laki-laki itu. Miles Alastair Bradford. Direktur utama. Pria yang dikenalnya sebagai Romeo.