Kisah Yang Tak Terlupakan

Kisah Yang Tak Terlupakan
Bagian 88


__ADS_3

Mereka mandi, berganti pakaian, lalu menuju ruang makan. Kedua orang tua Miles dan William sudah ada di sana, asyik berbincang sambil menikmati makanan mereka. Miles duduk di samping kanan Shane dan Kirana duduk di sisinya. Seorang pelayan meletakkan mangkuk berisi sup di depan mereka. Mendengar apa yang mereka perbincangkan, Miles menyimpulkan bahwa putranya baru saja menonton The Cars. Dia terus bertanya tentang mobil kepada kakeknya.


Amanda mengumumkan tentang rencana makan malam keluarga besar mereka pada malam sehari sebelum pernikahan. Miles setuju dan menyerahkan semuanya ke dalam tangan mamanya. Keluarga mereka tidak banyak. Hanya Kakek dan Nenek dari pihak Shane, lalu seorang paman dan bibi beserta keluarga besar mereka dari pihak Amanda.


“Kakakku tinggal di dekat sini. Bolehkah kita mengundang dia juga?” tanya Kirana penuh harap.


“Tentu saja.” ucap Amanda dengan cepat. “Beri aku nomor teleponnya, biar aku yang mengundang.”


“Aku punya usul yang lebih baik. Kami belum mengenalnya. Bagaimana kalau kita mengundang mereka makan malam di sini besok?” usul Shane.


“Usul yang bagus!” Amanda mengangguk setuju. Mereka berdua melihat ke arah Kirana.


“Terima kasih.” ucap Kirana bahagia.


Miles menyentuh tangannya yang ada di atas meja. Tentu Kirana sangat merindukan saudaranya sehingga dia begitu ingin bertemu dengannya. Seharusnya dia memikirkan hal itu tadi. Wanita itu menoleh ke arahnya lalu tersenyum. Miles mengangkat tangannya lalu mencium punggung tangannya itu. Dia tidak boleh bersedih lagi.


Pada keesokan harinya, mereka ke gereja untuk menemui pendeta yang akan memberkati pernikahan mereka. William setuju untuk tinggal di rumah bersama kakek dan neneknya. Dengan begitu, mereka punya banyak waktu untuk berkonsentrasi di gereja. William akan baik-baik saja.


Pertemuan tersebut berjalan dengan baik dan lancar. Seharian mereka berada di ruangannya. Mereka mendapatkan beberapa saran dan konsultasi pranikah. Miles tidak takut sama sekali dengan fakta dan permasalahan yang biasa dihadapi oleh pasangan yang telah menikah. Dia sudah pernah mengalaminya. Sebaliknya, Kirana terlihat takut. Tetapi Miles meyakinkannya bahwa dia tidak akan sendirian melaluinya.

__ADS_1


Pendeta tersebut juga menuntun mereka berdoa dan memohon ampun atas dosa-dosa yang mereka lakukan. Miles tahu hubungan intim yang mereka lakukan adalah sebuah kesalahan, tetapi dia akan memperbaikinya. Pernikahan mereka adalah sebuah anugerah, begitu juga dengan William. Dia tahu Tuhan mengampuni mereka dan akan merestui pernikahan serta keluarga mereka.


Pada malam itu, Kirana sangat gugup. Miles tersenyum kepadanya. Tunangannya itu telah berdandan dengan baik. Dia memakai atasan baby-doll dipadu dengan sweater, jins biru, dan sepatu but karena udara bulan Oktober di Inggris sangatlah dingin. Dia membiarkan rambut panjang yang sudah melampaui pinggangnya tergerai. Ujung-ujungnya membentuk ikal secara alami. Dia cantik.


Bunyi kerikil yang dilewati oleh ban kendaraan terdengar hingga ruang tamu. Kirana menoleh ke arahnya. Miles tersenyum meyakinkannya. Pintu depan terbuka, lalu terdengar langkah-langkah kaki mendekati ruangan di mana mereka berada. Pintu dibuka oleh kepala pelayan, mereka serentak berdiri. Yang pertama masuk adalah seorang wanita yang sudah dilihatnya lewat foto yang diberikan Reynand. Ratri Purnama Delaney.


Kirana segera mendekatinya. Mereka berpelukan beberapa saat. Yang masuk berikutnya adalah seorang anak perempuan, diikuti seorang pemuda, lalu seorang pria yang pasti adalah kakak ipar Kirana. Amanda, Shane, dan William menjabat tangan mereka bergantian. Miles ikut melakukannya. Dia berdiri di sisi Kirana. Ratri melepaskan pelukannya dan mengulurkan tangannya kepada Miles. Mereka berjabatan tangan sembari Ratri menatapnya cukup lama hingga Miles merasa risih. Wanita itu kemudian menjabat tangan kedua orang tua dan putranya.


Miles duduk bersama Kirana di sisi kirinya dan William di sisi kanannya. Shane dan Amanda duduk di dua kursi di samping kanan mereka. Ratri dan keluarganya duduk di seberang Miles dan keluarganya. Miles melingkarkan tangannya di pinggang Kirana, tidak bisa menjauhkan tangannya darinya. Wanita itu memegang tangannya yang lain dan meletakkannya di atas pangkuannya, mencoba mengurangi kegugupannya.


“Jadi, kalian bersaudara?” tanya Amanda ingin tahu. Dia melihat ke arah Ratri lalu Kirana. “Kalian sama sekali tidak mirip.”


“Kalian sudah lama tinggal di sini?” tanyanya lagi.


“Brian tinggal di kota ini sejak dia lahir, begitu juga dengan anak-anak. Saya tinggal di sini kurang dari dua puluh tahun. Saya tidak menghitungnya.” Ratri tertawa kecil. Amanda mengangguk pelan.


“Kalau boleh tahu, kamu punya perusahaan yang mana? Aku sering mendengar nama Delaney dari suatu tempat.” tanya Shane kepada Brian setengah berpikir. Wajah pria itu memerah.


“Mungkin maksud Anda, ayah saya. Saya hanya pegawai biasa di perusahaannya.” ucap Brian merendah. Miles bisa melihat wajah Ratri menegang. Begitu jelas sehingga dia bisa melihatnya.

__ADS_1


“Ayahmu Virgil Delaney?” tanya Shane tidak percaya. Brian menganggukkan kepalanya. “Dia sering menjadi rekanku saat kami masih muda dan membangun semua dari nol.”


Pintu terbuka dan kepala pelayan memberi sinyal ke arah Amanda. Wanita itu tersenyum. “Sebelum pembicaraan menjadi serius, ayo, kita ruang makan. Makan malam sudah siap.” ajak Amanda.


“Maafkan aku. Kalau sudah bicara tentang pekerjaan selalu lupa waktu.” canda Shane. “Ayo, ayo, aku sudah lapar.”


Amanda dan Shane berjalan di depan sambil menggandeng tangan William yang berada di antara mereka. Putranya tidak berhenti bicara. Miles menggeleng-gelengkan kepalanya dengan geli. Ratri dan Brian mengikuti dari belakang beserta kedua anak mereka. Miles menyentuh punggung Kirana dengan tangan kirinya dan berjalan bersama di belakang mereka semua.


“Kamu baik-baik saja?” bisik Miles. Kirana tersenyum dan mengangguk.


Selama mereka makan, Miles senang melihat ayah dan ibunya yang memimpin pembicaraan. Mereka mengajukan begitu banyak pertanyaan kepada keempat tamu mereka, begitu ingin mengenal mereka secara pribadi. William dengan riang menikmati makanannya. Dia begitu suka makan daging dan piza. Salah satu makanan yang disajikan malam itu adalah steak dengan berbagai pilihan bumbu. Karena itulah putranya makan dengan lahap.


“Ada saus di sudut bibirmu.” ucap Miles kepada Kirana. Wanita itu mengangkat serbet yang ada di pangkuannya. Dia menahan tangan Kirana. Setelah melirik William sedang tidak melihat ke arah mereka, dia berbisik. “Aku tahu cara membersihkan yang lebih cepat.” Miles menjilatnya bibirnya yang terasa lezat karena saus itu.


“Miles, nanti ada yang melihat kita.” protes Kirana. Miles menciumnya lagi sebelum membiarkan wanita itu membersihkan bekas lipstiknya dari bibir Miles. Pria itu tersenyum.


“Mereka semua tahu aku tergila-gila kepadamu.” ucap Miles membela diri.


“Tentu saja mereka tahu. Karena itu kamu akan menikahiku. Sungguh sebuah berita yang sangat mengejutkan.” ucap Kirana sarkas sambil memutar bola matanya. Miles tertawa kecil.

__ADS_1


__ADS_2