
Pada hari berikutnya, Miles menunggu sampai semua pegawai di bagian pemasaran pulang. Dia tahu Kirana selalu pulang paling terakhir. Dengan lega, dia berjalan melewati bilik-bilik pegawai. Tidak ada seorang pun di sana. Setelah seharian itu dia tidak muncul di kantornya, wanita itu pasti menduga dia tidak akan mengunjunginya hari ini. Kejutan. Itu adalah faktor penting dari semua yang dilakukannya ini.
Dan benar. Wanita itu membuka pintu dan membulatkan matanya melihat kedatangannya. Miles tersenyum. Perlahan dia mendorongnya masuk, lalu menutup pintu dan untuk memastikan tidak ada yang akan menginterupsi mereka, dia mengunci pintu. Dia meletakkan kantong plastik yang dibawanya ke atas lantai. Tanpa membuang waktu, dia mencium wanita tersebut. Kedua tangannya dengan santai melingkari tubuhnya.
“Menikahlah denganku, Kirana.” bujuk Miles tidak menyerah. Kirana tertawa kecil. Dia menyukai suara tawa itu. Melihatnya tidak tegang lagi saat bersamanya, Miles merasa bahagia.
“Tidak.” Dia memukul lengannya dengan bercanda.
“Makan malam bersamaku.” bujuk Miles lagi.
“Tidak, Miles.” Kirana membingkai wajah Miles dengan kedua tangannya. “Kalau kamu pikir semua ini akan membuatku berubah pikiran, hentikanlah. Berapa kali pun kamu melamarku, aku tidak akan menikah denganmu.”
“Karena kamu tidak mencintaiku?” Miles tahu dia terdengar terluka, dan itu menyedihkan. Tetapi dia tidak peduli bila bersikap lemah di hadapan wanita yang dicintainya.
“Karena hubungan kita rumit.” Kirana mendesah pelan. Miles tersenyum puas. Setidaknya wanita itu tidak mengatakan dia tidak cinta kepadanya. Masih ada harapan.
“Beritahu aku di mana letak rumitnya. Aku ingin bisa memahamimu.” tantang Miles. Kirana memicingkan matanya.
“Pertama, kita tidak saling mengenal. Kita hanya suka berhubungan intim, Miles.” Kirana mengangkat kedua alisnya tinggi-tinggi. Miles menelengkan kepalanya.
“Aku mengajakmu makan malam supaya kita bisa saling mengenal. Kamu yang tidak memberiku kesempatan itu.” tuduh Miles. Kirana merapatkan bibirnya merasa bersalah. “Apa lagi?”
“Kedua, aku orang Indonesia dan kamu orang Inggris. Aku tidak mau pindah kewarganegaraan.” ucap Kirana tegas. Miles tersenyum lega.
“Aku tidak punya rencana memintamu melakukan itu. Almarhumah istriku masih orang Indonesia hingga akhir hayatnya. Mengapa kamu berpikir aku akan melakukan hal yang berbeda kepadamu?” tanya Miles heran. Kirana hanya mengabaikan pertanyaan retorik itu.
__ADS_1
“Ketiga, kita tidak saling mencintai. Iya, aku tidak mencintaimu, Miles.” ucap Kirana serius. Bibirnya lagi-lagi mengeluarkan kalimat yang tidak selaras dengan sinar matanya yang menatapnya penuh kerinduan.
“Sebentar,” Miles mencium bibir Kirana. Wanita itu berespons dengan cepat, Miles tertawa kecil. Wanita itu bahkan terlihat protes ketika dia menjauhkan wajahnya darinya. “Kamu bohong.”
“Kamu sedang mengejekku.” Kirana cemberut.
“Aku masih mendengarkanmu. Ada lagi alasan lain?” Dia melepaskan wanita itu dari pelukannya saat dia berusaha untuk bebas. Kirana berjalan mendekati jendela. Miles menatap punggungnya dan menunggu. Karena dia hanya diam, Miles mendekatinya dari belakang lalu melingkarkan tangannya di tubuhnya.
“Aku mencintaimu, Kirana.” Dia serius dengan setiap kata yang dia ucapkan. “Jika kamu membuatku menunggu lama hanya demi kamu menjawab iya. Aku akan menunggu dengan sabar. Aku sudah pernah hidup di neraka. Aku ingin hidup di firdausmu. Tolong, izinkan aku masuk. Aku akan menjadikanmu wanita paling bahagia di bumi ini. Aku berjanji kepadamu.”
“Aku harus pulang sekarang.” ujar Kirana dengan sedih. Dengan enggan, Miles membiarkannya lepas dari pelukannya.
“Oke.” Miles tidak mendebatnya lagi. Dia berjalan mendekati pintu, mengambil kantong plastik yang diletakkannya di sana, dan memberikannya kepada Kirana. “Ini makan malam untukmu. Semuanya kesukaanmu. Aku harap kamu masih suka makan banyak.”
“Spaghetti meatballs, roasted chicken wings, dan lime juice. Makanan istimewamu. Lalu aku menambah telur gulung, pecan pie, blueberry cheese cake, dan kentang goreng kesukaanmu.”
Dia tersenyum saat mengambil bungkusan itu dari tangan Miles, tidak ingin bersikap kasar. “Terima kasih.”
“Aku akan keluar lebih dahulu. Kalau kamu takut ada yang mencurigai hubungan kita, kamu tunggu sampai aku turun. Tapi kalau kamu mau ikut denganku, ayo.”
Tentu saja dia memilih untuk turun ke lantai bawah setelah Miles pergi lebih dahulu. Di dalam elevator, Miles hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. Dia belum pernah bertemu dengan seorang wanita yang sangat keras kepala. Sekadar makan malam pun dia tidak mau. Mungkin dia memikirkan anak mereka. Pasti seusai kerja, dia menjemput putra mereka yang dititipkannya entah kepada siapa dan pulang ke rumah bersama-sama. Dia berharap putra mereka dijaga oleh orang yang baik.
Seharusnya tadi dia merayunya ke tempat tidur yang ada di ruang sebelah kantor. Tetapi begitu melihat ekspresi wajahnya, Miles tidak tega memanfaatkan tubuhnya hanya untuk merealisasikan rencananya. Baginya, Kirana lebih dari itu. Dia membenci Angelica karena memanfaatkan tubuhnya. Dia tidak mau Kirana juga membencinya untuk hal yang sama.
Pada keesokan harinya, Miles tiba di kantor sebelum Kemala tiba. Dia masuk ke dalam ruangannya saat ponsel di dalam kantong jasnya bergetar. Dia mengeluarkan ponsel itu dan menikmati pemandangan kota di luar jendela ruangannya.
__ADS_1
“Reynand.” Dia menyapa kepala IT tersebut.
“Ada kabar buruk, Pak.” Dia terdengar khawatir. Miles mengenali nada suara itu dan sudah terbiasa mendengarnya. Seseorang di dalam perusahaannya melakukan sesuatu yang buruk.
“Siapa?” Mendengar nama yang disebut Reynand, Miles memijat puncak hidungnya. “Dia adalah wakil direktur bagian pemasaran. Apa kamu yakin? Dia sudah bekerja bersamaku selama lima belas tahun.”
“Saya hanya melakukan pekerjaan saya, Pak.” ucapnya masuk akal. “Buktinya ada pada saya. Jumlahnya sangat besar. Kalau Bapak sudah di ruangan, saya bisa ke sana sekarang.”
“Tidak. Tidak sekarang. Ada rapat penting pagi ini. Aku tidak mau pikiranku teralihkan oleh masalah ini. Kita bicara sambil makan siang di luar saja. Aku tidak mau ada yang mendengar hal ini, jadi kita tidak akan membicarakannya di ruanganku.” Setelah dia menyebutkan nama tempat dan waktunya, Miles mengakhiri percakapan. Dia menurunkan ponselnya dari telinganya.
Satu lagi orang kepercayaannya mencuri darinya. Wakil direktur bagian pemasaran. Mengapa? Apakah karena dia terlihat sebagai atasan yang begitu mudah ditipu dan dibohongi? Lima belas tahun. Selama itu dia telah bekerja untuknya. Apa yang tidak diberikannya kepadanya sehingga dia berpikir mudah saja untuk mencuri darinya?
Dia menarik napas panjang lalu membalikkan badannya. Ponselnya dia letakkan di atas meja kerjanya. Dari sudut matanya, dia merasakan kehadiran orang lain di dalam ruangan tersebut. Dia mengangkat kepalanya dan melihat Kirana. Dia duduk dengan santai di sofa panjang. Ada dua kotak makanan dan dua gelas kertas besar di atas meja.
“Kopi hitam dan roti isi ham kesukaanmu.” ucap Kirana penuh arti.
Miles tertawa kecil. Oke. Dia mengejutkan wanita itu sebanyak tiga kali, kini dia membalasnya. Wanita itu datang tepat waktu. Dia sedang membutuhkan pengalihan pikiran saat ini. Kirana berdiri dan mendekatinya. Miles tidak menunggu sedetik pun untuk mencium dan memeluknya begitu mereka sudah dekat.
“Aku memohon kepadamu. Tolong, menikahlah denganku.” ucap Miles lagi.
“Jawabanku akan selalu tidak, Miles.” bisik Kirana di bibirnya. “Ini caraku untuk mengucapkan selamat tinggal kepadamu. Dan ini untuk selamanya.”
Miles mengerutkan kening, menatapnya tidak mengerti. Kirana mengajaknya duduk di sofa lalu mereka menikmati sarapan bersama sambil berbincang dengan santai. Setelah roti isi dan minuman mereka habis, Kirana berdiri, berjalan menuju pintu, dan menguncinya. Dia tersenyum dan meraih tangan Miles. Mereka berjalan menuju ruang istirahat yang juga ada di ruangan Miles. Dan pria itu pun mengerti. Juliettnya mengucapkan selamat tinggal seperti yang mereka lakukan saat berada di Singapura.
Jika Kirana berpikir dia bisa pergi darinya dan mengucapkan selamat tinggal, Miles akan membuktikan bahwa dia salah. Dia akan menunjukkan hal itu nanti kepadanya. Untuk saat ini, dia hanya ingin menikmati kebahagiaan yang wanita itu tawarkan.
__ADS_1