Kisah Yang Tak Terlupakan

Kisah Yang Tak Terlupakan
Bagian 35


__ADS_3

Dia mandi dan membersihkan tubuhnya dari rambut hingga kaki. Setelah mengeringkan tubuh dengan handuk, dia berbaring dengan mengenakan mantel mandinya. Sepanjang malam itu, dia bermimpi buruk. Dia memikirkan Juliett untuk membantunya melewati mimpi buruk yang menjadi kenyataan. Hal itu menjadi salah satu caranya mengusir mimpi buruk. Tetapi cara itu tidak berhasil. Tubuh dan pikirannya sadar bahwa wanita itu tidak berada di sisinya.


Dua hari kemudian, dia ke rumah sakit begitu mendapat telepon dari Pranaja. Berdasarkan hasil autopsi, istrinya meninggal karena tubuhnya kekurangan darah. Kedua pergelangan tangannya disayat menggunakan benda tajam sehingga mengeluarkan banyak darah. Menurut perhitungan mereka, Angelica meninggal pada jam enam sore itu. Sebagai dokter keluarga mereka, Pranaja tahu penyakit apa saja yang pernah diderita Angelica dan jenis obat-obatan yang pernah dikonsumsinya. Hasil autopsinya tidak jauh berbeda dengan yang telah diketahuinya mengenai kesehatan wanita itu.


“Tidak ada tanda-tanda terjadi pemaksaan?” tanya Miles penasaran.


“Tidak, Al. Juga tidak ada sisa obat atau minuman keras di dalam perut istrimu. Hanya dua sayatan itu saja.” jawab Pranaja jujur.


“Bisakah kirim laporan ini kepada pihak yang berwajib agar bisa mereka proses juga?” pinta Miles.


“Sudah mereka ambil. Ahli patologi forensik meminta mereka untuk segera mengambilnya.”


“Baik. Terima kasih, Pranaja.” Miles berdiri dan mengulurkan tangannya kepada dokternya. Pranaja berdiri dan menerima uluran tangannya.


“Sama-sama. Jaga kesehatanmu, Alastair. Temui aku kalau kamu butuh penanganan medis.” Dia menjabat tangan Miles sebelum melepaskannya.


“Pasti. Terima kasih.”


Satu minggu berlalu tanpa ada kepastian mengenai hasil pemeriksaan dari kepolisian, selama itu juga Miles tidak bisa beristirahat dengan tenang. Pertemuan, rapat, janji makan siang, atau makan malam yang dilakukannya selama seminggu itu tidak bisa mengalihkan pikirannya dari kasus kematian istrinya.

__ADS_1


Markus dan Wanda berusaha membuatnya merasa nyaman di rumah. Mereka menemaninya bila dia sedang duduk sendiri di ruang santai sambil menonton televisi. Setiap hari Wanda memasakkan makanan kesukaannya. Miles menghargai usaha mereka untuk menghiburnya. Tetapi semua usaha itu tidak berhasil.


Pada pagi hari itu, Miles akhirnya mendapatkan telepon dari pengacaranya. Dia sudah mendapatkan kepastian dari hasil akhir pemeriksaan oleh pihak yang berwajib. Dia mengajak Charles untuk bertemu di kantornya. Tubuhnya bergetar. Dia tidak yakin dia bisa berjalan keluar dari kantornya sebelum mendengar kabar itu. Dengan alasan itu, dia memutuskan bahwa akan lebih baik jika pengacaranya yang datang menemuinya.


“Tidak bisa tidur, Alastair?” goda Charles saat masuk ke dalam ruangannya.


“Kalau sudah tahu jawabannya, jadi jangan bertanya.” ucap Miles kesal. Mereka duduk dengan meja berada di antara mereka. Kemala sudah menyediakan kopi dan makanan ringan untuk mereka sebelum Charles tiba, jadi tidak akan ada yang mengganggu pembicaraan mereka. “Baik. Aku sudah siap untuk mendengarkan.”


“Oke. Ini kopi laporannya.” Charles menyerahkan sebuah map kepadanya. Miles menerimanya lalu membuka sampulnya.


“Istrimu meninggal sekitar jam enam sore karena kekurangan banyak darah.” ucap pengacaranya memulai laporannya. “Empat jam sebelum kepulanganmu. Kamu punya alibi dan saksi-saksi. Tidak ada yang bisa menuduhmu membunuh istrimu sendiri. Aku yakin kamu sudah mengetahui hasil autopsi. Istrimu bunuh diri. Kedua pergelangan tangannya disayat dengan benda tajam. Tidak ada tanda-tanda pemaksaan atau perlawanan. Tidak ada temuan lain dalam organ tubuhnya. Istrimu punya tubuh yang sehat.”


“Pada hari kejadian, istrimu seharusnya keluar kamar untuk makan malam pada jam tujuh. Dia tidak keluar kamar pada jam biasanya, namun tidak ada yang curiga. Pembantumu tahu kalau istrimu akhir-akhir ini sering bersikap aneh dan suka membentak semua orang. Bahkan menurut pengakuan Wanda, dia terlalu takut untuk memeriksa keadaan istrimu di kamar kalian. Dia pernah dibentak beberapa kali karena melakukan itu sebelumnya.” ucap Charles menutup laporannya.


“Tapi, istriku tidak berencana makan malam di rumah. Dia ada janji makan malam dengan teman-temannya.” kata Miles bingung.


“Untuk yang satu itu juga telah aku periksa. Tidak ada satu pun dari temannya yang membuat janji dengannya pada hari itu. Mereka semua tahu bahwa hari itu adalah hari peringatan pernikahan kalian. Menurut pengakuan salah satu dari mereka, istrimu berencana membuat makan malam yang istimewa untukmu.” lapor Charles. Miles mengusap-usap keningnya dengan tangannya. “Kamu tidak bersalah. Kamu bebas dari tuduhan apa pun. Istrimu murni bunuh diri.”


“Aku masih tidak mengerti.” ucap Miles bingung. Dia melihat ke arah lembar demi lembar kertas yang ada di hadapannya. Hasil autopsi, hasil laporan pemeriksaan kepolisian, pernyataan saksi, tidak ada yang bisa menolongnya memahami apa yang sedang terjadi.

__ADS_1


Pernikahan mereka memang bermasalah, tetapi Angelica tidak pernah menunjukkan tanda-tanda bahwa dia akan sanggup melakukan hal ini. Bila sudah tidak tahan lagi, biasanya dia mengadu kepada orang tua dan kakak-kakaknya. Tidak pernah terlintas dalam benaknya bahwa istrinya akan mengambil langkah seekstrim ini. Apakah dia melakukan ini hanya karena dia nyaris putus asa dengan keadaan mereka yang belum juga dikaruniai anak?


“Dalam banyak kasus bunuh diri memang sulit menemukan motif yang jelas mengenai alasan mereka mengakhiri hidupnya, Alastair. Kecuali mereka mengatakan sesuatu kepada orang terdekat mereka atau meninggalkan surat.” ucap Charles. “Nah, kedua hal itu tidak dilakukan oleh istrimu.”


Meskipun tidak puas, Miles tahu dia tidak bisa memaksa pengacaranya untuk menyelidiki kejadian ini lebih lanjut. Apalagi polisi sudah menutupnya karena dari bukti dan keterangan saksi, ini murni bunuh diri. Dia mengusap wajahnya lalu menarik napas panjang. “Terima kasih, Charles. Kerja yang baik. Aku sangat menghargainya.”


“Jadi, kamu tidak perlu khawatir. Istrimu resmi bunuh diri. Maafkan keterusteranganku.” ucap Charles penuh perhatian. Miles mengangguk pelan. “Ada lagi yang bisa aku bantu, Alastair?”


“Tidak. Kamu sudah sangat membantu.”


“Aku akan meminta istriku membantu mengurus pemakaman istrimu.” Charles memasukkan kembali berkas-berkas miliknya ke dalam tasnya.


“Terima kasih. Salamku untuk Cindy.” Miles menjabat tangan pengacaranya.


“Akan aku sampaikan.” Charles tersenyum.


Begitu pengacaranya keluar dari ruangannya, dia meminta Kemala untuk memanggil Reynand datang ke ruangannya. Kalau biasanya dia tersenyum melihat wajah pria itu, kali ini tidak. Tahu apa yang sedang dialami atasannya, Reynand tidak berkomentar. Miles memintanya untuk memeriksa semua pesan pribadi istrinya lewat surel dan kotak masuk pada akun media sosial miliknya. Dia masih penasaran karena tidak ada petunjuk sama sekali mengenai latar belakang istrinya memutuskan untuk mengakhiri hidupnya.


Pada sore harinya, Reynand memberi laporan yang tidak disukainya. Tidak ada yang mencurigakan dari semua pesan pribadi milik istrinya. Tidak ada foto, status maupun hal-hal yang dibagi istrinya pada sosial media yang menunjukkan hal pribadi. Miles menyerah.

__ADS_1


__ADS_2