Kisah Yang Tak Terlupakan

Kisah Yang Tak Terlupakan
Bagian 73


__ADS_3

Kirana keluar dari ruangannya sambil membawa tasnya pada lekukan lengannya. Dia pamit kepada asistennya yang juga sedang bersiap-siap untuk pulang. Di dalam elevator, dia memeriksa bayangannya di cermin dengan saksama. Riasan wajah dan tataan rambutnya masih rapi. Saat keluar dari elevator, dia berpapasan dengan Kemala. Mereka saling tersenyum.


“Pak Bradford menunggu di dalam.” Wanita itu masuk ke dalam lift dan melambaikan tangannya. Kirana membalas lambaiannya.


Dia mengetuk pintu ruang kerja Miles. Tidak ada jawaban dari dalam, pelan-pelan dia membuka pintu tersebut. Seseorang memegang lengannya dan datang entah dari mana tiba-tiba mencium bibirnya. Dia mendengar bunyi pintu ditutup dan dikunci. Dua tangan melingkari tubuhnya. Tanpa melihat, dia tahu siapa yang memiliki bibir yang sudah dikenalnya itu. Dia tertawa kecil.


“Miles, yang benar saja.” ucap Kirana di sela-sela ciuman mereka. Pria itu mengerutkan keningnya.


“Apa? Aku sedang mengucapkan selamat.” goda Miles. Kirana melihat ke arah bibirnya.


“Dan itu cukup. Tidak perlu sampai menciumku segala.” balasnya.


“Kamu belum mendapatnya hari ini. Ingat?” Miles menelengkan kepalanya.


“Sampai kapan kamu akan melakukan ini kepadaku?” protesnya lemah.


“Sampai kamu menjawab iya.” Dia menundukkan kepalanya dan menciumnya lagi.


“Aku,” Kirana tidak bisa melanjutkan kalimatnya ketika Miles memperdalam ciuman mereka. Dia segera menjauhkan diri dan menatap pria itu dengan tajam. “Aku pikir kita akan membicarakan gaji dan tanggung jawabku yang baru.”


“Kita akan membicarakannya. Mengapa tidak melakukan dua pekerjaan sekaligus? Itu lebih praktis dan efektif.” Bibirnya kini mencium pipi Kirana. “Gajimu tiga kali lipat dari gajimu yang sekarang.”


“Apa?!” Kirana membulatkan matanya. Miles tertawa kecil.

__ADS_1


“Tugasmu adalah memeriksa laporan mingguan bagian pemasaran dari kantor cabang, melaporkan semuanya kepadaku dua minggu sekali. Itu adalah untuk pertemuan rutinku dengan para wakil direktur.” ucap Miles sambil terus mencium wajahnya.


“Tapi bila ada hal yang mendesak, apa saja, kamu bisa mendiskusikannya denganku kapan saja. Kamu akan sering mewakiliku menghadiri pertemuan atau seminar yang berhubungan dengan pemasaran. Kamu juga perlu melakukan inspeksi ke kantor cabang apabila perlu. Biasanya dalam satu bulan kamu akan pergi ke tiga kantor cabang yang berbeda.”


“Miles, aku tidak bisa berpikir dengan jernih saat ini.” ucap Kirana dengan suara serak. Dia terus berkata tidak, tetapi pada saat yang bersamaan, dia membalas ciumannya.


“Oke. Ayo, kita bicarakan ini sambil makan malam.” ajak Miles.


“Aku tidak bisa.” tolaknya cepat. “Bagaimana kalau kita membicarakannya besok pagi saja?”


“Besok pagi kita bercinta?” goda Miles sambil mencium rahangnya dan terus turun ke bawah.


“Bukan! Membahas tugas dan tanggung jawab baruku.” ralat Kirana. Miles tertawa geli.


“Aku tidak yakin,” ucap Miles dengan malas-malasan.


Setelah berdiskusi selama setengah jam, mereka berjalan bersama menuju elevator. Tidak ada seorang pun di sekitar mereka membuat Kirana merasa nyaman berada di dekat Miles. Kalau bukan karena dia mengingat William yang menunggunya datang untuk menjemputnya, dia akan menerima tawaran Miles untuk melanjutkan pembahasan mereka mengenai tugas barunya sambil makan malam. Dia benar-benar ingin tahu segalanya tentang posisi barunya itu. Dia sangat bahagia dan, dalam waktu yang bersamaan, juga merasa takut.


Kirana menjemput putranya dan cepat-cepat memanggil taksi. Putranya menatapnya dengan bingung. Mereka selalu pulang menggunakan bus. Taksi berarti tidak pulang ke rumah. Matanya berbinar-binar menatap ke luar jendela. Kirana memutar bola matanya. Semuanya yang ada di dalam kepala putranya hanya kue dan es krim.


“Will, kita menuju ke rumah sakit. Bukan ke mal.” ucap Kirana.


“Rumah sakit? Siapa yang sakit, Mom?” tanyanya khawatir. “Apakah aku?” tanyanya dengan nada tinggi yang menunjukkan bahwa dia takut.

__ADS_1


“Aku.” jawab Kirana. William mendadak terdiam. Dia melingkarkan tangannya di tubuh mamanya dan memeluknya dengan erat.


“Kamu tidak boleh sakit, Mom. Aku tidak mau kamu meninggalkan aku sendiri.” ucap William sedih. Kirana mendesah pelan. Mengapa kadang-kadang dia menjadi raja drama begini?


“Kamu tidak akan sendirian.” jawab Kirana lembut.


“Tapi kalau kamu masuk rumah sakit, aku pasti sendirian di rumah.” keluhnya.


“Aku tidak sakit, Will. Kamu tenang saja. Ini hanya pemeriksaan kesehatan.” Kirana membelai kepala William dan menciumnya untuk menenangkannya.


Dokter spesialis kandungan yang menolongnya ketika William masih dalam kandungan menyambutnya dengan senang. Dia membelai rambut William lalu memberikannya sebuah permen lolipop. Kirana menceritakan apa yang dicurigainya kepada wanita itu. Mengerti apa yang ingin Kirana sampaikan, dia menyuruhnya agar menampung urin untuk diperiksa.


Menunggu hasilnya keluar, Kirana mengajak putranya untuk makan malam di kantin rumah sakit. Dia memesan dua nasi, satu porsi capcai kuah, dan tiga ayam goreng. William selalu minta lebih dari satu ayam goreng, jadi Kirana memesan lebih sebelum dia memintanya.


Dugaannya benar. Dia hamil. Menurut perhitungan dokternya, dia berada di minggu ketujuh. Pada kehamilan pertamanya, mual-mual pada pagi hari mulai dialaminya pada minggu kedelapan. Dia disarankan untuk menghindari stres dan beban kerja yang tinggi. Satu bulan lagi dia diminta datang untuk USG pertamanya. Terbiasa melihatnya datang seorang diri, dokter itu tidak memintanya datang bersama suami pada konsultasi berikutnya.


“Apakah normal ketika sedang hamil seorang wanita memiliki gairah yang tinggi?” tanya Kirana pelan. Dia tidak mau William mendengarnya karena anak itu ada di dalam ruangan bersama mereka. Dokternya mengangkat kepalanya dari menulis hasil pemeriksaannya dan tersenyum.


“Iya. Itu normal.” jawabnya geli.


Jadi itulah alasannya dia tidak bisa menolak setiap kali Miles mengajaknya bercinta dengannya. Karena dia pun menginginkannya. Sangat menginginkannya. Setelah berhari-hari tidak berhubungan intim, pantas saja pagi itu dia datang ke ruangan Miles hanya untuk memuaskan gairahnya karena dia sedang hamil. Dan itu adalah hal yang normal.


Tetapi mereka bukan suami istri. Apa yang mereka lakukan adalah salah secara moral. Mereka tidak bisa terus melakukan ini. Sekalipun Miles adalah ayah William dan anak dalam kandungannya, dia bukanlah suaminya. Kalau sampai ada yang tahu, reputasi mereka berdua akan hancur.

__ADS_1


Dia juga tidak tahu bagaimana caranya nanti untuk menghindari stres. Hari ini dia baru saja mendapat promosi. Tugas dan tanggung jawab yang baru berarti dia harus belajar dari awal lagi. Dia baru saja terbiasa dengan rutinitas barunya, kini dia harus belajar lagi untuk rutinitas yang lain.


Menempati jabatan yang lebih tinggi berarti beban kerjanya pun bertambah. Dia sudah tidak lagi hanya berurusan dengan laporan, namun juga menjadi wakil direktur yang akan banyak terlibat dengan urusan kantor cabang. Dia tidak menyalahkan kedatangan anak dalam kandungannya, namun waktunya kurang tepat. Tidak jauh berbeda dengan William. Dia juga sedang dalam masa-masa sulit ketika putranya tumbuh dalam perutnya.


__ADS_2