Kisah Yang Tak Terlupakan

Kisah Yang Tak Terlupakan
Bagian 71


__ADS_3

Pagi itu Kirana merasa ada yang berbeda dengan dirinya. Ada yang seharusnya terjadi, tetapi tidak dialaminya. Dia tidak bisa mengingat apa itu, tetapi dia tahu hal itu adalah hal yang penting. Dia melihat kalender yang tergantung di dinding kamar mandi. Ada pulpen merah yang menandai empat hari pada bulan sebelumnya. Dia melihat ke bulan di sebelahnya. Bersih tidak ada coretan. Dia mulai menghitung.


“Oh, Sial. Sial, sial, sial.” pekiknya tertahan. Dia mulai panik. “Tidak, tidak. Ini tidak boleh terjadi. Iya, untuk yang pertama. Tidak, untuk yang kedua. Tidak boleh.”


Bagaimana dia bisa begitu ceroboh? Seharusnya dia bisa menjaga dirinya sendiri. Dua minggu. Dia sudah terlambat datang bulan selama dua minggu. Haidnya selalu datang teratur setiap bulan. Ini tidak pernah terjadi sebelumnya, kecuali pada saat dia mengandung William. Sebentar. Apakah ini artinya dia sedang mengandung anaknya yang kedua?


Kirana menyentuh perutnya. Seorang anak lagi? Mereka membuat anak untuk kedua kalinya saat di Singapura. Tetapi kali ini, tidak satu pun dari mereka yang merencanakannya. Setidaknya, Kirana tidak merencanakan ini. Oh, tidak. Miles tidak boleh sampai tahu. Sudah tiba waktunya dia dan William pergi dari kota ini. Dia sudah tidak bisa menundanya lagi.


“Mom,” Terdengar suara William di luar pintu kamar mandi. Kirana terlompat karena suara putranya mengejutkannya. Dia menarik napas panjang untuk menenangkan diri.


“Yeah, baby?” sahut Kirana.


“Aku lapar.” keluh William. Seandainya saja dari tadi dia tidak diam berpikir sendiri, dia sudah selesai mandi dan bisa menyiapkan sarapan untuk anaknya.


“Satu menit, oke? Aku segera keluar.” bisiknya melalui pintu. Dan dia menyambut keheningan yang datang. Itu artinya putranya tidak akan mengganggunya untuk sementara.


“Apa yang kamu lakukan di kamar mandi?” tanya William pelan. Kirana menengadahkan tangannya ke langit-langit, berdoa memohon ketenangan.


“Menurutmu aku melakukan apa? Tentu saja mandi.” Kirana memutar bola matanya karena pertanyaan yang konyol itu.


“Berapa lama lagi? Aku lapar.” keluh putranya lagi.


“Aku tidak akan bisa memulainya jika kamu terus bertanya, Will.” ujar Kirana frustrasi.


“Tapi aku mau Mommy.” protes William. Dan, dia mulai menangis. Kirana mengerang kesal, mengambil mantel mandinya dari gantungan pakaian, dan memakainya.


“Serius, Will? Kamu tidak bisa menunggu sebentar?” ucap Kirana sambil membuka pintu.

__ADS_1


“Mommy!” soraknya sambil mengulurkan kedua tangannya kepada mamanya. Kirana menggeleng pelan lalu mengangkat tubuhnya.


Dia menggendong putranya menuju dapur. “Kapan kamu akan belajar untuk menuruti aku? Apa kamu tidak bisa lihat aku butuh mandi?”


“I miss you, Mommy.” William melingkarkan kedua tangannya di leher Kirana. Dia mendesah pelan.


“Miss you, too, Will. Kamu benar-benar mirip Daddy.” Kirana menggeleng-gelengkan kepalanya dengan heran.


“Daddy? Siapa Daddy-ku, Mom?” tanya William tiba-tiba. Kirana nyaris mengantukkan kepalanya ke dinding karena kebodohannya. Dia kelepasan bicara.


“Bukan siapa-siapa.” jawab Kirana dengan cepat.


“Teman sekelasku punya Daddy. Aku tidak punya Daddy. Mengapa, Mom?” tanya William sedih.


“Karena kamu istimewa, Will. Kamu tidak butuh Daddy. Kamu punya Mommy.” Kirana hanya mengatakan apa saja yang muncul dalam benaknya.


“Jadi, teman sekelasku punya Daddy karena mereka tidak punya Mommy? Mengapa ada temanku yang punya Mommy dan Daddy? Apa karena mereka tidak istimewa?” Dia masih bertanya.


Dia mendudukkan William di salah satu kursi yang mengelilingi meja makan. Isi lemarinya hampir habis. Pilihan untuk sarapan terbatas pada cereal dan telur. Dia mendesah lega melihat masih ada satu kotak susu segar di dalam lemari es.


“Nah, kamu mau makan apa?” tanya Kirana.


“Piza!” sorak William senang.


“Yang benar saja. Siapa yang makan piza pada pagi hari?” Kirana memutar bola matanya. Dia melihat opsi lain yang mereka miliki. “Bagaimana dengan cereal dan susu?”


“No!” tolak William.

__ADS_1


“Pancake?”


“No!”


“Will, pilihan sarapan kita pagi ini sangat terbatas. Atau kamu mau telur orak-arik?” Dia memberikan pilihan lain kepada putranya.


“Aku benci telur! Miss Helen memasak telur setiap hari saat kamu pergi.” William menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya.


“Oh, iya! Maafkan aku. Aku lupa dengan itu.” Kirana membelai kepala putranya. “Anak malang. Lain kali kamu tidak akan dijaga olehnya lagi. Jangan khawatir.” William menoleh.


“Kamu mau pergi lagi besok?” tanya William dengan mata berkaca-kaca. Kirana mengerang pelan lalu memeluk putranya. Lagi-lagi dia salah bicara. “Jangan pergi, Mommy.”


“Aku tidak pergi ke mana-mana. Kalau aku pergi, aku akan membawamu. Ya?” Kirana mencium puncak kepala William.


“Iya.” ucap William sambil terisak.


“Bagaimana dengan bubur ayam? Kamu mau makan itu?” tanya Kirana. William menganggukkan kepalanya dengan senang. “Kamu tunggu di sini, ya. Ini, makan cereal cokelatmu selagi aku mandi. Nanti kita makan bubur ayam di dekat halte bus.”


“Okay.” jawab William menurut. Kirana berjalan dengan tenang keluar dari dapur. Dia benar-benar ingin menyentuh air sekarang. “Mommy?”


Kirana berhenti berjalan. “Ya, Will?”


“Mengapa aku tidak punya Daddy?” tanya William lagi. Kirana mendesah pelan. Dia pikir putranya sudah melupakan pertanyaannya yang belum terjawab. Dia menarik napas panjang, lalu mengatakan hal yang selama ini telah dikatakannya kepada orang-orang.


“Daddy sudah meninggal.”


Kirana mendesah lega dia tidak terlambat tiba di kantor. Dia tahu akan sulit menjelaskan apa arti kata meninggal kepada anak berusia lima tahun. William menyampaikan pertanyaan yang bertubi-tubi. Tiba di ruangannya, dia menyiapkan presentasinya untuk rapat mingguan mereka. Pada pukul sepuluh kurang sepuluh menit, dia menuju ruang rapat. Pertemuan dimulai ketika Miles masuk ke dalam ruangan. Kirana hanya menggelengkan kepalanya ketika mendengar wanita yang duduk di sebelahnya mengerang pelan.

__ADS_1


Satu-persatu kepala bagian menyampaikan rencana mereka dalam minggu itu dan evaluasi kinerja dari minggu sebelumnya. Miles menyampaikan pertanyaan dan memberikan idenya di mana perlu. Peserta rapat lainnya juga melakukan hal yang sama. Tetapi saat tiba gilirannya, mendadak Miles punya begitu banyak pertanyaan seputar program pemasaran. Dia bahkan memintanya untuk mengumpulkan seluruh anggotanya dan membagikan apa yang dipelajarinya selama seminar. Lalu dia meminta Kirana membuat laporan mengenai pelatihan tersebut.


Tidak ada yang bisa dilakukan Kirana selain mengiyakannya. Dia tahu apa yang sedang berusaha dilakukan pria itu. Miles sedang mencegahnya mengundurkan diri dari perusahaannya. Tetapi dia tidak akan bisa melakukannya lagi. Dia boleh menolak surat pengunduran dirinya yang pertama dan merobeknya menjadi potongan kecil. Tetapi tidak kali ini. Kirana akan pergi apa pun yang dilakukan Miles untuk mencegahnya pergi.


__ADS_2