
Tepat pada jam tiga sore, seminar itu berakhir. Begitu pembawa acara mempersilakan mereka untuk menikmati kudapan yang telah disediakan, Miles berdiri dari tempat duduknya. Dia bergegas mendekati Kirana yang segera dikelilingi oleh para pembicara yang bertugas pada hari pertama.
Jelas sekali, dia bukan satu-satunya orang yang menyadari pesona wanita itu. Para pria itu juga melihat hal yang sama. Dia tidak akan mengizinkan siapa pun mencoba mengambil Juliett darinya. Inilah alasannya dia ingin wanita itu segera menjadi miliknya. Dia harus bergerak cepat atau pria lain yang akan mendapatkan kesempatan itu. Dia tidak bisa membiarkan hal itu terjadi.
“Ayo, kita kembali sekarang.” bisik Miles sambil melingkarkan tangannya di punggung Kirana. Wanita itu menoleh ke arahnya dan menatapnya dengan heran.
“Tapi aku masih berbincang dengan mereka.” Kirana membisikkan protesnya dengan nada serius. Perhatian kini berpusat kepada mereka berdua.
“Maaf, kami pamit, bapak sekalian.” ucap Miles sopan. Para pria itu tersenyum ramah kepadanya.
“Apakah kamu suaminya?” tanya salah satu dari mereka sebelum Miles dan Kirana sempat pergi. Serentak pria yang lain melihat ke arah tangan mereka mencari bukti apakah mereka suami istri. Mereka tidak memilikinya. Untuk sementara ini. Keadaan akan segera berubah.
“Segera. Dia tunangan saya.” ucap Miles tanpa keraguan sedikit pun. Dia memastikan bahwa dia terdengar bangga dengan fakta itu. Dia bisa merasakan Kirana menusuknya dengan tatapan indahnya yang tajam. Yah, nanti dia akan membiarkan perempuan itu berteriak marah kepadanya.
“Selamat. Kamu pria yang beruntung. Dia wanita yang cerdas.” puji pembicara sesi pertama pagi tadi. Miles tersenyum kepada pria yang sopan itu.
“Cepat, lingkarkan cincin di jarinya, sebelum pria lain yang melakukannya.” timpal yang lain.
“Itu rencananya. Semoga sore Anda semua menyenangkan.” Miles menjabat tangan mereka satu-persatu, mengindikasikan bahwa dia harus pergi. Kirana melakukan hal yang sama walaupun dia belum mau pergi.
“Pergilah, pergi. Semoga malam kalian berdua menyenangkan.” usir mereka. Miles tertawa kecil seraya menarik tangan Kirana sebelum wanita itu selesai menjabat tangan mereka semua.
Miles memilih keluar dari pintu di samping panggung agar mereka tidak perlu berpapasan dengan orang lain yang mengenal mereka. Mendengar bunyi ketukan sepatu hak tinggi Kirana pada lantai, dia memperlambat langkahnya. Tentu sulit bagi wanita itu untuk mengikuti langkah panjangnya dengan sepatu hak tingginya.
“Kamu tidak apa-apa?” tanya Miles lewat bahunya.
“Kamu baru tanya sekarang setelah setengah menarikku keluar dari ruang seminar?” ucap Kirana sarkas. Miles melihat ke arah kaki dan sepatu wanita itu.
“Aku tidak mengerti mengapa kalian para wanita begitu suka menyiksa diri seharian mengenakan sepatu seperti itu.” Dia mendesah pelan. Kirana memutar bola matanya.
__ADS_1
“Supaya kami bisa menatap wajah kalian tanpa harus mengangkat wajah setinggi mungkin.” Kirana mengangkat dagunya.
“Omong kosong. Tinggimu di atas rata-rata. Jauh di atas rata-rata. Kamu tidak membutuhkan hak tinggi untuk membuatmu sejajar dengan para pria.” debat Miles.
“Hanya ada satu pria yang menjadi targetku.” ucap Kirana serius. Menyadari maksudnya, Miles tertawa. Melihat itu Kirana cemberut.
“Aku bukan orang Indonesia asli, sweetheart. Tentu saja aku lebih tinggi dari kebanyakan pria di sekitarmu.” ucap Miles geli.
“Kita mau ke mana?” tanya Kirana saat mereka berhenti di depan lift. Miles melingkarkan tangannya di sekitar pinggangnya. Dia tidak protes.
“Ke kamar kita.” jawab Miles penuh rahasia.
“Ini masih jam tiga sore, Miles.” Kirana mengerutkan dahinya.
“Apa? Tidak, sweetheart.” Miles tertawa kecil begitu mengerti apa yang ada di dalam kepala wanita itu. “Aku tidak memintamu untuk menghabiskan waktu di tempat tidur bersamaku. Kita perlu berganti pakaian. Aku membawamu makan malam di luar.”
“Karena aku punya kejutan untukmu.” jawab Miles dengan jujur.
“Aku tidak suka kejutan.” Kirana menggumam pelan.
“Kamu adalah wanita pertama yang mengatakan kepadaku bahwa kamu tidak suka kejutan. Apa lagi yang tidak kamu sukai?” tanya Miles tiba-tiba ingin tahu lebih banyak mengenai wanita itu.
“Intimidasi.” jawab Kirana sarkas. Miles tertawa terbahak-bahak. “Kamu menyebutku sebagai tunanganmu di depan mereka. Apa kamu sudah gila? Kita bukan tunangan. Kamu atasanku, aku hanya seorang manajer di perusahaanmu. Diskusi berakhir.”
“Aku sudah melamarmu. Dua kali. Bukan salahku kalau kamu menolakku. Bagiku, kamu tunanganku. Terserah kamu mau mengakuinya atau tidak.” ucap Miles bersikeras.
Pintu elevator terbuka, percakapan mereka terhenti. Kirana mengerang pelan. Miles membawa Kirana masuk ke dalam setelah orang-orang keluar dari lift. Dia memindai kartu, lalu menekan tombol menuju lantai mereka.
“Apa lagi yang tidak kamu sukai?” tanya Miles lagi begitu lift bergerak ke atas.
__ADS_1
“Kamu.” semprot Kirana cepat. Miles kembali tertawa terbahak-bahak. “Aku sedang tidak melawak di sini, Miles. Apa yang menurutmu lucu dari ucapanku tadi?”
“Sweetheart, kamu perlu belajar menyatukan pendapat antara kepala, mulut, hati, dan tubuhmu. Aku bisa buktikan kalau tubuhmu menginginkanku. Sangat menginginkanku. Pertanyaannya, apakah kamu cukup cerdas untuk mengakuinya atau kamu lebih suka membohongi hatimu dengan mengatakan yang sebaliknya?”
“Jawabannya tidak satu pun ada dari pilihan yang kamu beri.” Kirana menggelengkan kepalanya.
“Biar aku tebak. Karena kamu wanita cerdas, kamu lebih memilih mengikuti isi di kepalamu daripada isi di hatimu.” ucap Miles.
“Hm. Kamu membuatku terkesan, Miles. Tapi tidak cukup untuk membuatku menyukaimu.” ucap Kirana sinis. Miles kembali tertawa terbahak-bahak.
“Baik. Apa lagi yang tidak kamu sukai?”
“Kopi hitam.” jawab Kirana cepat. Miles kembali tertawa.
“Kopi hitam, ya?” Tiba-tiba Miles mencium bibir Kirana. Wanita itu memejamkan matanya. Dia mengeluh pelan saat ciuman itu berakhir begitu cepat. “Tidak. Kamu menyukainya. Kamu selalu menyukai ciumanku dan yang aku yakin lebih sering beraroma kopi.”
“Kamu menyebalkan.” Kirana mengucapkannya dengan nada tinggi. Dan Miles tahu bahwa dia benar. Dia mengabaikan protesnya dan bertanya lagi. Percakapan mereka sangat menarik baginya.
“Yang lain?” Miles melihat ke arah layar di sebelah kanan pintu, mereka masih punya waktu sebelum sampai di lantai tujuan. Kirana memicingkan matanya.
“Duda.” semprot Kirana terang-terangan. Miles tertawa jauh lebih keras dari yang sebelumnya dan Kirana semakin kesal.
“Apa kamu akan mengatakan semua hal yang berhubungan denganku sebagai hal yang tidak kamu sukai?” tanya Miles penasaran di tengah-tengah tawanya.
“Apa itu akan membuatmu mengizinkan aku tinggal di kamar yang lain.” Dia sudah tahu jawabannya karena Miles selalu berkata tidak. Tetapi dia tetap bertanya.
“Tidak.” ucap Miles. “Tapi usahamu boleh juga.”
Pintu lift terbuka di lantai tujuan mereka. Miles mengajak Kirana keluar dan menuju kamar. Satu jam kemudian, mereka berada di lantai dasar. Sebuah mobil sedan berwarna hitam telah menunggu dan siap mengantar mereka ke mana pun yang mereka inginkan. Salah satu keuntungan memiliki teman dekat seorang pemilik hotel bintang lima. Dia berutang besar kepada pria baik hati itu.
__ADS_1