Kisah Yang Tak Terlupakan

Kisah Yang Tak Terlupakan
Bagian 92


__ADS_3

Dia baru tiga hari mengenal Amanda dan Shane. Tetapi mereka telah menunjukkan sikap yang baik dan menerimanya tanpa syarat. Tidak hanya mereka berdua, namun juga seluruh keluarga besar mereka. Tidak ada yang menutup mata atas kesalahan besarnya dan Miles di masa lalu, tetapi tidak ada yang menyudutkannya atau menghakiminya. Mereka justru membuka tangan mereka dengan lebar dan menyambutnya dengan ramah.


Mereka berbeda dengan Ratri yang telah mengenalnya sejak dia lahir. Sejak mereka bertemu lagi, kakaknya terus-menerus menghina dan menyakitinya setiap kali ada kesempatan. Dia melakukannya lagi di acara makan malam itu ketika semua tamu pamit untuk pulang. Mungkin dia marah karena Miles baru saja menolak tawarannya.


Ternyata selama ini, dia hanya cemburu. Tetapi mengapa? Mengapa dia harus cemburu kepadanya, adiknya sendiri? Dia telah memiliki segalanya, suami, anak-anak, mertua, juga kebutuhannya yang selalu terpenuhi. Kirana hanya punya William dan Miles. Dan Ratri masih ingin merebut Miles darinya? Apa yang kurang pada Brian? Mungkinkah tuduhan Miles itu benar? Brian selingkuh dari istrinya sendiri?


Brian adalah pria yang baik. Sulit untuk dipercaya bahwa dia bisa melakukan sesuatu seburuk selingkuh. Mereka berdua saling mencintai dan begitu sempurna untuk satu sama lain. Kalau selingkuh itu benar, betapa malang kakaknya. Tetapi itu urusan rumah tangga mereka, dia tidak akan ikut campur. Miles benar. Kalau dia punya waktu untuk mengurusi urusan orang lain, seharusnya Ratri fokuskan semua perhatiannya pada masalah pernikahannya sendiri.


Hidup telah begitu baik kepada Kirana saat ini. Dia tidak perlu khawatir lagi karena dia sudah tidak sendirian. Miles tidak akan pernah meninggalkannya demi wanita lain. Amanda dan Shane juga akan selalu ada untuknya. Dia bukan lagi aib begitu dia mendapatkan kesempatan yang kedua untuk hidup yang lebih baik. Tidak akan ada yang bisa merenggut itu darinya, tidak juga kakaknya sendiri. Ya, tidak akan ada yang bisa membuatnya menderita lagi. Dia akan menjaga Miles, William, Shane, Amanda, juga Trevor dan Charlotte sekuat tenaga. Sebagaimana mereka juga telah menjaganya selama ini.


“Tidak, tidak. Jangan menangis. Alastair bisa marah kalau dia sampai tahu.” ucap Shane panik.

__ADS_1


“Dia tidak akan berani memarahimu, Shane.” Kirana tertawa kecil.


“Kalau ini mengenai kamu, dia selalu medapatkan keberanian yang entah dari mana datangnya.” Wajah Shane memucat. Ya, dia benar. Miles akan marah bila tahu ada yang menyakitinya, tidak peduli siapa pun orangnya.


“Aku akan panggil Rowan.” Amanda berdiri dan berjalan menuju pintu.


Sedikit panik karena air matanya tidak bisa berhenti mengalir, Kirana akhirnya bisa menarik napas panjang untuk menenangkan dirinya. Rowan ikut bersama mereka di dalam mobil. Siap sedia kapan saja Kirana membutuhkannya. Ponsel Shane dan Amanda tidak berhenti bergetar. Semua panggilan tersebut dari Miles. Mereka telah terlambat sepuluh menit. Pria itu pasti panik karena mereka belum datang juga. Mereka sengaja tidak menjawab panggilan masuk darinya karena suka membuatnya panik pada hari pernikahannya.


Begitu mobil berhenti, Shane segera membawa Kirana mendekati pintu masuk gereja. Trevor telah menunggunya dengan sabar di sana. Pria itu tersenyum dan mengangkat lengan kirinya. Kirana mengaitkan tangannya ke lekukan lengan pria itu. Tangannya yang lain memegang buket bunganya. Amanda membantu menurunkan kerudungnya agar menutupi wajahnya. Setelah dia mencium dan memeluk Kirana untuk terakhir kalinya, Kirana siap untuk mendatangi pengantin prianya.


Trevor mengusap-usap tangannya untuk menenangkannya. Kirana mengambil napas panjang kembali dan melihat ke arah pria yang menunggunya di altar. Dia menarik napas terkejut. Miles memakai tuksedo berwarna hitam, celana panjang hitam, kemeja dan rompi putih dengan dasi berwarna abu-abu gelap dan sebuah saputangan berwarna senada mengintip di kantung dada kirinya. Dia terlihat lebih tinggi dan tampan. Wajahnya terlihat kesal, bisa dipahami, tetapi semakin Kirana mendekat senyumnya semakin mengembang.

__ADS_1


Di antara para tamu, Kirana melihat keluarga Miles yang datang di acara makan malam tersenyum kepadanya. Brian dan keluarganya juga hadir. Kakak ipar dan kedua keponakannya tersenyum kepadanya. Ratri yang Kirana pikir tidak akan datang ke pernikahannya juga ada di sana. Tetapi dia tidak tersenyum atau melihat ke arahnya. Kirana tidak keberatan karena tingkahnya tidak akan merusak kebahagiaannya.


Trevor berhenti di dekat kaki altar lalu mencium pipinya. Miles mengulurkan tangannya. Kakeknya menyerahkan tangan Kirana kepadanya. Mereka berdiri berdampingan di depan pendeta. Dan acara pemberkatan pun dimulai. Jantung Kirana berdebar dengan kencang ketika waktunya membacakan ikrar tiba. Mereka diminta untuk berdiri saling berhadapan. Dengan gugup, Miles mengeluarkan catatannya dari saku jas bagian dalam dan menarik napas panjang.


“Aku selalu berpikir bahwa aku memiliki segalanya. Begitu juga tentang cinta. Tetapi ketika aku bertemu denganmu, aku mulai mempertanyakan apa yang aku percayai. Kamu mengajariku artinya berjuang, menunjukkan kepadaku bagaimana mencintai tanpa menyakiti, mengajariku bagaimana bersikap jujur, menunjukkan kepadaku bagaimana memperbaiki kesalahan. Dan kamu telah membuktikan kepadaku bahwa cinta sejati itu ada.” Miles tersenyum. “Aku ingin belajar lebih banyak hal baru lagi bersamamu, Kirana. Aku berjanji aku akan setia kepadamu, berdiri untukmu, menjaga, mencintai, dan membesarkan anak-anak kita bersama, sampai kematian memisahkan.”


Senyum Miles mengembang saat dia mengakhiri ikrarnya. Kirana hanya menatapnya. Dia tidak memerlukan catatannya karena dia hanya ingin melihat ke arah mata biru cerah yang dicintainya itu saat mengucapkan ikrarnya.


“Aku tidak selalu mendapatkan apa yang aku inginkan di dalam hidup. Kecewa adalah sahabat baikku. Bahkan ketika kamu menatap mataku dan mengatakan bahwa kamu mencintaiku, aku tidak semudah itu untuk percaya. Aku sudah lama berhenti bermimpi, Miles.” Kirana bisa mendengar suaranya bergetar, dia tidak bisa menahannya.


“Tapi bersamamu, aku ingin bermimpi lagi. Aku berdiri di sini di hadapan Tuhan dan jemaat-Nya berjanji setia kepadamu. Dalam keadaan apa pun, aku berjanji akan tetap berada di sisimu. Aku tidak akan pernah membuatmu menderita. Hanya senyum dan tawamu yang ingin aku lihat setiap waktu. Dengan sepenuh hatiku, aku akan meringankan bebanmu, memelukmu ketika kamu bersedih, dan tertawa di saat bahagiamu. Mencintaimu akan menjadi kesempatan yang tidak akan pernah aku sia-siakan. Sampai kematian memisahkan kita.”

__ADS_1


Kirana menggunakan tisu di tangannya untuk menyeka air mata di pipi Miles. Dia pasti ingat di mana kalimat itu pernah didengarnya. Saat mereka makan malam di restoran di atap Marina Bay Sands. Hal berikutnya lebih mudah. Mereka saling memasangkan cincin pernikahan dan pendeta mengumumkan bahwa mereka sah menjadi suami istri.


Miles mengangkat kerudung yang menutupi wajahnya. Bibirnya bergerak membentuk kalimat menyatakan cinta lalu menciumnya dengan lembut di saat tangannya melingkari pinggangnya. Para tamu bersorak dan bertepuk tangan melihatnya. Kirana menutup mata dan menikmati momen yang luar biasa itu. Dia adalah seorang istri. Secara khusus, dia adalah istri Miles. Sesuatu yang hanya berani diimpikannya kini menjadi kenyataan. Nyonya Miles Alastair Bradford.


__ADS_2