Kisah Yang Tak Terlupakan

Kisah Yang Tak Terlupakan
Bagian 93


__ADS_3

Acara resepsi pernikahan berlangsung di sebuah hotel mewah. Hanya makan siang bersama keluarga dan beberapa orang penting di kota mereka. Tetapi acara itu hanya untuk lima puluh orang. Karena Shane dan Amanda tidak ingin membajak pernikahan putra mereka dengan mengundang semua orang yang mereka kenal, mereka memutuskan untuk membatasi jumlah undangan. Setelah makan siang dan mengucapkan selamat, para tamu membiarkan mereka pergi untuk berbulan madu. Miles dan Kirana mampir ke rumah keluarga Bradford untuk berganti pakaian dan mengambil koper.


Lelah dengan kegiatan mereka sepanjang hari itu, Kirana tertidur di dalam pesawat. Setengah mengantuk, dia keluar dari pesawat begitu mereka mendarat. Miles membawanya ke kamar mandi untuk menyegarkan diri, lalu menggandeng tangannya menuju bagian imigrasi. Setelah semua proses selesai, mereka beriringan menuju pintu keluar terminal. Dia merasakan Miles mencium pipinya sebelum menggendongnya dan memasukkannya ke dalam taksi. Sambil mendesah lega Kirana bersandar di bahunya dan kembali tertidur.


Bangun tidur pada suatu waktu, keadaan di sekitarnya sudah gelap. Karena dia tidak merasakan ada orang di sisinya, dia menyadari bahwa dia berbaring sendirian di atas tempat tidur. Dia duduk dan mengedipkan mata. Sayup-sayup dia mendengar suara senandung datang dari satu tempat. Dia memandang ke sekitarnya dan melihat sebuah cahaya di bawah pintu yang tertutup di dekatnya. Dia tersenyum kecil. Perlahan dia menurunkan kakinya ke lantai dan berdiri.


Sepelan mungkin dia berjalan ke pintu tersebut. Karena pintunya tidak dikunci, dia membukanya pelan-pelan. Miles sedang menyikat giginya di depan cermin. Mereka beradu pandang di cermin, Kirana tersenyum. Miles berkumur-kumur dan meludah di wastafel. Kirana berjalan mendekat, lalu memeluknya dengan erat dari belakang.


“Hai, istriku.” sapa Miles. Dia mengeringkan mulutnya dengan handuk kecil.


“Hai.” balas Kirana setengah mengantuk.


“Kalau masih mengantuk mengapa kamu bangun?” tanya Miles lembut.


“Aku tidur sendirian.” jawabnya cemberut.


“Aku baru saja siap dan mau tidur.” Miles membelai tangan Kirana yang terlipat di depan dadanya.


“Aku baru saja bangun dan kamu mau tidur?” protes Kirana. Dia melepaskan pelukannya. Miles menggunakan kesempatan itu untuk membalikkan badannya.


“Kamu lapar?” tanyanya. Kirana mengangguk. “Ayo, aku temani makan.” Miles meraih tangannya dan mengajaknya keluar dari kamar mandi. Kirana mengikutinya dengan patuh.


“Will?”


“Sudah tidur. Ini sudah tengah malam.” ucap Miles.


“Apa? Berarti,” Kirana menghitung di kepalanya. “Aku tidur selama sembilan jam?”


“Itu normal.” Miles tertawa kecil. “Ayo, aku sudah memesan makananmu. Akan aku panaskan untukmu.”


“Memesan makanan?” tanya Kirana terkejut. Mereka sedang berada di rumah, mengapa dia harus memesan makanan? Mereka punya koki terbaik. Dia memasak makanan yang terbaik yang pernah dirasanya. Rasanya lebih baik daripada makanan di restoran mana pun.

__ADS_1


“Kita sedang di Paris, ingat? Kita baru menikah, berikutnya adalah bulan madu. Tentu saja kita memesan makanan. Aku tidak bisa memasak.” Miles mengingatkannya. Saat itulah Kirana melihat ke sekelilingnya dengan saksama.


Mereka sedang tidak berada di rumah keluarga Miles. Di depannya ada jendela besar dari lantai hingga langi-langit. Mereka berada di dapur yang lengkap dengan segala keperluan memasak. Di sebelah kanannya ada pintu besar. Di sebelah kirinya ada pintu yang lebih kecil, sepertinya itu kamar tidur. Di dekatnya ada meja makan, sofa, meja, dan meja kerja. Mereka ada di sebuah kamar suite.


Pandangannya kemudian teralih pada pemandangan di luar jendela. Dia mendekatinya. Mulutnya menganga dan matanya membulat saat melihat pemandangan tersebut. Menara Eiffel. Miles berkata jujur kepadanya. Mereka benar-benar sedang berada di Paris. Bagaimana caranya dia bisa sampai di sini dan tidak menyadarinya sama sekali?


“Kita di hotel?” tanya Kirana pelan.


“Iya.” Miles melingkarkan tangannya di pinggang Kirana.


“Bagaimana aku bisa sampai di sini?” tanya Kirana bingung.


“Kamu tidur sepanjang perjalanan ke sini, wajar kamu tidak ingat. Aku yang menggendongmu ke kamar. Will sangat pengertian dan membiarkanmu beristirahat.” Miles membenamkan kepalanya dan mencium lehernya. Saat Kirana memutar badannya, Miles melonggarkan pelukannya. Kirana mengangkat kepalanya dan menatap suaminya di matanya. Tanpa hak tingginya, perbedaan tinggi badan mereka membuatnya harus mengangkat dagunya tinggi-tinggi.


“Maafkan aku, Miles. Aku merusak malam pernikahan kita.” Dia mendesah pelan.


“Masih ada malam yang lain. Kamu dan si kecil adalah yang paling penting.” Miles menyentuhkan ujung hidungnya ke hidung Kirana. Wanita itu tersenyum. “Lagipula kamu memerlukan tidur. Aku menikmati segalanya bersama Will. Jadi, kamu tidak merusak apa pun.”


“Aku juga mencintaimu.” bisik Miles dan segera menjauh darinya. “Sekarang kamu harus makan.”


Kirana tertawa kecil. “Oke.”


Sambil makan, Kirana menyebutkan nama-nama tempat yang ingin dikunjunginya di kota itu. Miles setuju dengan semua idenya. Tetapi dia hanya mengizinkan mengunjungi satu tempat untuk satu hari. Melihat Kirana cemberut, Miles berjanji mereka akan mengunjungi dua tempat pada hari yang sama bila istrinya tidak kelelahan. Miles mengingatkannya tentang ketidaksukaannya berlelah ria pada saat sedang liburan.


“Ini Paris, Miles. Paris.” Kirana tertawa. “Aku rela berjalan keliling sampai kakiku patah. Aku mungkin tidak akan pernah kembali ke sini lagi.”


“Apa kamu lupa dengan siapa kamu menikah, sweetheart?” goda Miles. Kirana membulatkan matanya. “Datang ke kota ini tiga atau empat kali dalam satu tahun bukan masalah besar.”


“Oh.” ucap Kirana pelan. “Kamu punya uang sebanyak itu?”


“Kita.” Miles tertawa kecil. “Itu bukan lagi uangku. Itu uang kita.”

__ADS_1


“Tidak, Miles. Itu hasil dari kerja kerasmu.” tolak Kirana.


“Dan kamu adalah istriku.” Miles bersikeras.


“Apa kamu tidak takut mengatakan itu kepadaku? Bagaimana kalau aku berniat memanipulasimu, mengambil uang darimu, dan menyebabkan kamu bangkrut?”


“Angelica, dia mungkin berani melakukannya. Kamu tidak.”


“Apa yang membuatmu yakin aku dan dia berbeda?” tantang Kirana. Miles menggeleng pelan sambil tertawa kecil.


“Karena seorang pencuri tidak akan memberitahu rencananya di awal, sweetheart. Berhenti mengujiku. Aku percaya kepadamu. Dan aku mencintaimu. Uang bukan masalah.” Miles mencium bibirnya. Kirana terdiam dan menatapnya. “Tentang berjalan keliling sampai kaki patah yang kamu sebutkan tadi. Kalau itu sampai terjadi, kamu tidak akan pernah keluar dari rumah kita lagi. Aku akan mengurungmu di kamar.” Kirana tertawa geli.


Selama tiga hari di Paris, Miles memenuhi ucapannya. Mereka mendatangi tempat-tempat yang Kirana pilih. Karena waktu yang mereka miliki terbatas, dia harus puas mengunjungi beberapa tempat saja dari semua tempat yang dia inginkan. Menara Eiffel, Katedral Notre Dame, Museum Louvre, Gereja Sainte-Chapelle, dan Istana Versailles. Begitu ingin mengunjungi semua tempat itu, Kirana memperkuat dirinya sendiri.


Miles tidak bisa melarang ketika melihat dia baik-baik saja dan tidak menunjukkan adanya tanda-tanda kelelahan. Suaminya juga tidak protes pada malam hari dia segera terlelap dan mereka tidak sempat bercinta sebelum tidur.


Untuk menyenangkan William yang telah bersikap baik saat mereka mengunjungi museum dan tempat yang membosankan lainnya menurut pendapatnya, mereka mengunjungi Disneyland. Mereka membiarkannya bermain seharian pada hari terakhir mereka di Paris.


“Terima kasih, Miles. Aku janji akan membayar segalanya begitu kita pulang.” ucap Kirana saat pesawat mereka mengudara dari bandara Charles de Gaulle.


“Apakah itu artinya kita akan bercinta di kantor juga?” Miles mengerlingkan matanya.


“Tidak.” Kirana tertawa kecil “Tidak di kantor. Kita beruntung tidak ada yang mengetahui atau mencurigai kita. Tapi aku tidak yakin kita akan terus seberuntung itu di lain waktu.”


“Kita sekarang suami istri, Kirana. Tidak akan ada yang peduli.” ucap Miles geli. Kirana menoleh ke arahnya.


“Benar juga.” Kirana melepas sabuk pengamannya dan mencium bibir suaminya.


“Euw, Mom, Dad. Jangan di sini!” protes William. Serentak mereka berdua tertawa.


Mereka tinggal selama tiga hari berikutnya di rumah keluarga Miles. Amanda dan Shane menyambut mereka dengan senang. William senang bisa bermain dengan kakek dan neneknya lagi. Kakek dan nenek buyutnya juga datang untuk bermain bersamanya. Kesempatan itu dimanfaatkan Miles untuk mengurung istrinya di kamar. Mereka menikmati bulan madu yang tertunda di dalam kamar selama sisa liburan mereka.

__ADS_1


__ADS_2