Kisah Yang Tak Terlupakan

Kisah Yang Tak Terlupakan
Bagian 44


__ADS_3

Kirana membuka pintu di hadapannya, masuk ke dalam ruangan, lalu menutupnya kembali. Dia membalikkan badan dan melihat atasannya sedang tersenyum ke arahnya. Dengan tangannya, Simon menunjuk kursi di hadapannya. Kirana berjalan mendekat dan duduk di kursi kosong tersebut.


“Aku tahu kamu baru menduduki posisi sebagai kepala bagian pemasaran di sini selama tiga tahun. Tetapi pengalamanmu bekerja di bidang ini sudah lebih dari sepuluh tahun.” Simon tersenyum cerah membuat perut Kirana bergolak. “Aku mengajukan namamu untuk ikut diseleksi mendapatkan posisi yang sama yang sedang lowong di kantor pusat. Hanya empat orang yang lulus seleksi awal, termasuk kamu.”


“Be, benarkah, Pak?” tanya Kirana terkejut. Bisa ditempatkan di kantor pusat adalah impian semua orang di perusahaan mereka.


“Iya. Wawancaranya hari Jumat ini. Tidak perlu khawatir. Aku yakin kamu pasti bisa mengikuti prosesnya dengan baik. Kamu cerdas dan tahu benar apa yang kamu kerjakan. Aku mengandalkan kamu untuk menjadi perwakilan kantor cabang kita.” ucap Simon menambah beban di pundak Kirana. Wanita itu menelan ludah dengan berat.


“Seandainya saya lulus, bagaimana dengan posisi saya di sini, Pak?” tanya Kirana.


“Aku yakin kamu sudah punya satu atau dua nama di kepalamu sebagai calon penggantimu. Aku percaya pada penilaianmu.” ucap atasannya dengan yakin. Kirana tersenyum.


“Baik, Pak. Saya tidak akan mengecewakan Anda.”


Kirana menghabiskan sisa jam kerjanya dengan memeriksa laporan hasil kegiatan pemasaran mereka selama satu hari itu. Semuanya memuaskan. Mereka mengerjakannya sesuai dengan kesepakatan mereka pada rapat evaluasi minggu lalu. Dia memberikan hasil pemeriksaan yang telah dibubuhi tanda tangannya kepada asistennya ketika dia keluar dari kantornya.


Dalam perjalanan pulang, dia mendengarkan William menceritakan semua kegiatannya sepanjang hari itu. Ketika dia kembali mengingatkan agar mamanya tidak lupa membeli kado yang dia inginkan pada hari ulang tahunnya, Kirana memutar bola matanya. Ulang tahunnya sekitar tiga minggu lagi tetapi dia sudah berkali-kali mengingatkannya tentang kado itu.


Tiba di rumah, mereka menuju kamar masing-masing. Kirana mandi dan memakai salah satu piyamanya. Keluar dari kamarnya, dia melihat putranya sedang asyik bermain di kamarnya. Dia juga sudah mandi dan memakai piyamanya.


Satu-persatu bahan makanan dari kulkas dikeluarkannya pada saat dia di dapur. Dia membuat adonan tepung dan sembari mengistirahatkannya, dia memotong-motong sosis, tomat, dan bawang bombai untuk taburannya. Adonan piza siap, dia memasukkannya ke dalam oven dan dipanggang selama beberapa menit. Kemudian dia mengiris-iris daun selada, tomat, dan kubis merah untuk membuat hidangan selada. Makan malam mereka akan siap sebentar lagi. Sembari menunggu piza matang, dia membuka sebungkus keripik kentang dan menuangnya ke dalam dua mangkuk.


“Mom, kamu masak piza?” tanya William yang masuk ke dapur. Dia mendekati oven dan melihat ke dalam melalui kacanya. “Horeee!!”


“Kamu lapar? Ini untukmu.” Kirana meletakkan semangkuk keripik kentang di depan salah satu kursi. Mangkuk lainnya, dia letakkan di depannya.


“Terima kasih, Mom.” William duduk di kursinya yang biasa.

__ADS_1


“Ada yang ingin aku ceritakan.” Kirana meminum air minumnya kemudian meletakkan gelasnya kembali ke atas meja.


“Apa itu?” tanya putranya tanpa mengangkat kepalanya.


“Aku ditawarkan bekerja di kantor pusat. Posisinya sama dengan pekerjaanku sekarang. Jadi, tidak akan ada masalah.” ucapnya memberitahukan putranya.


“Apa kita tetap dapat liburan gratis?” tanyanya polos. Kirana tertawa kecil.


“Kalau pun mereka tidak memberi hadiah atas kerja kerasku seperti yang dilakukan kantor yang sekarang, kita sanggup membayar biaya liburan kita sendiri.” Kirana membelai lembut rambut putranya. William bernapas lega.


“Kamu tahu apa sisi baiknya?” William menggelengkan kepalanya. “Jarak kantorku akan lebih dekat dari sekolahmu. Aku tidak perlu duduk lama di bus lagi setiap kali menuju kantorku. Hanya sepuluh menit. Kamu suka?”


“Berarti kita pindah rumah, Mom?” tanyanya ingin tahu.


“Tidak.” ucap Kirana sambil menatap putranya dengan serius. “Tapi, kamu harus pindah ke tempat penitipan anak yang lain.”


“Terima kasih, sayang. Kamu yang terbaik!” Kirana memeluknya dengan erat. Anak itu mengerang.


“Will, Mom.” protes William. Kirana memutar bola matanya.


Mereka makan piza dan selada di ruang menonton sambil menyaksikan film anak-anak. William mendapatkan bagian piza lebih banyak dari mamanya, tetapi Kirana tidak keberatan. Dia membiarkan putranya mendapatkan apa yang dia mau hanya untuk malam itu.


Pada hari Jumat itu, Kirana bangun lebih pagi. Dia mandi sebersih mungkin. Pakaian kerja terbaik sudah disiapkannya tinggal dikenakan saja. Wajahnya dirias sebaik mungkin untuk memberi kesan seorang profesional. Rambut panjangnya dia ikat dengan jepitan di belakang kepalanya. Terakhir, dia mengenakan sepatu hak tinggi berwarna cokelat muda.


“Kamu cantik, Mom.” puji William begitu dia masuk ke dapur.


“Benarkah?” tanyanya senang. Putranya mengangguk. Kirana mengeluarkan dua mug dari lemari dapur bagian atas dan membuat minuman hangat untuk mereka berdua.

__ADS_1


“Iya. Mom-ku wanita paling cantik.” ucap William tulus. Kirana tersenyum saat dia menuang cereal ke dalam sebuah mangkuk berikut dengan susu cair.


“Aku harus terlihat rapi. Aku ingin memberi kesan pertama yang baik. Semoga saja wawancaranya tidak sesulit yang dibicarakan banyak orang.” ucap Kirana penuh harap.


“Kamu pasti bisa, Mom.” ucap William ceria. Kirana meletakkan dua mangkuk berisi cereal dan susu di atas meja.


“Ya. Aku pasti bisa.” Kirana mencium kepala putranya. William menyendok mangkuk tersebut untuk melihat isi di dalam susu.


“Hoorreee..! Cereal cokelat untuk hari ini..!” sorak William senang. Kirana meletakkan dua mug berisi cokelat hangat di atas meja.


“Ayo, makan. Kita tidak boleh terlambat ke sekolahmu.” ucapnya sembari duduk di sisi putranya.


Dua puluh menit kemudian mereka sudah sampai di sekolah William. Putranya memeluknya sambil menepuk-nepuk punggungnya. Kirana tersenyum.


“Semoga berhasil, Mom.” William melambaikan tangannya lalu berlari masuk ke kelasnya.


“Terima kasih, Will.” ucap Kirana sambil tersenyum.


Saat taksi yang dia tumpangi sampai di kantor pusat, dia bernapas lega. Dia tidak terlambat. Matanya sedikit membulat ketika melihat gedung berlantai dua puluh itu. Dia sudah pernah melihat bangunan tersebut. Namun dia bertanya-tanya, mungkinkah dia akan mendapat pekerjaan itu dan bekerja di kantor ini? Dia hanya bisa berharap dan memberi penampilan dan jawaban terbaik selama wawancara nanti.


Dia masuk lewat pintu masuk utama dan mendekati meja resepsionis. Salah satu wanita yang ada di belakang meja tersenyum melihat kedatangannya.


“Maaf, saya datang untuk mengikuti wawancara hari ini.” ucap Kirana pada wanita tersebut.


“Silakan tunggu sebentar, Bu. Nanti rekan saya akan mengantar Ibu ke atas. Ibu bisa duduk di salah satu sofa di sebelah sana.” ucap wanita itu dengan ramah. Kirana melihat ke arah yang ditunjuk wanita tersebut dan melihat sofa yang dimaksud.


“Terima kasih.” ucap Kirana ramah.

__ADS_1


Ada tiga orang yang duduk di sana. Salah satunya adalah seorang pria. Mereka berpakaian begitu rapi, sama seperti Kirana. Dua wanita tersebut berias dengan baik dan keduanya cantik. Mereka bertiga sibuk menatap tablet milik mereka masing-masing. Mungkin sedang mempelajari kembali visi misi perusahaan mereka. Kirana duduk di salah satu sofa yang kosong. Tidak satu pun dari mereka yang mengangkat kepala dan melihat ke arahnya.


__ADS_2