
Apa yang sekarang akan dia lakukan? Masa-masa indah yang sudah lama tidak dialaminya kini sudah berakhir. Wanita yang telah mencuri hatinya juga telah membawa separuh dirinya pergi jauh bersamanya. Kembali pada pekerjaan yang lebih dia pilih darinya. Kembali pada kehidupannya. Beberapa jam lagi dia juga akan kembali pada kehidupannya sendiri.
Pulang kepada istrinya yang begitu terobsesi untuk memiliki anak. Yang tidak lagi tersenyum kepadanya. Yang sibuk dengan urusannya sendiri. Yang hanya mau menyentuhnya saat dia ingin membuat anak. Yang bahkan sudah lama tidak memanggilnya sayang atau mengatakan cinta. Apakah dia ingin pulang pada kehidupan itu?
Itu bukan sebuah pilihan. Tentu saja jawabannya adalah harus. Suka atau tidak, wanita yang tinggal di rumahnya adalah istri sahnya. Wanita kepada siapa dia telah berjanji untuk setia. Wanita yang akan dilihatnya saat mereka menua bersama. Juliett bukanlah wanita itu.
Dia sudah melakukan kesalahan besar dengan bermain api tidur dengan wanita yang baru ditemuinya. Kini dia mengharapkan seseorang yang tidak bisa dimilikinya untuk tetap tinggal bersamanya. Setelah satu minggu berlalu, kemudian apa? Menambah waktu lagi? Mungkin penolakannya adalah jalan keluar yang terbaik. Lagipula dia tidak bisa meminta wanita itu menjadi miliknya. Itu hal yang mustahil. Dia menikahi istrinya sampai salah satu dari mereka meninggal dunia.
Menunggu penerbangannya, dia mendekam di dalam kamar. Dia berbaring di sisi tempat tidur di mana Juliett biasanya berbaring. Aroma parfum, sampo, sabun mandi, dan aroma lain yang hanya dimilikinya masih membekas jelas di sarung bantal dan seprai. Dia memejamkan mata dan membayangkan Juliettnya masih berada di ruangan itu bersamanya. Dadanya sesak, jantungnya terasa nyeri, dan matanya memanas. Dia telah kehilangan wanita itu untuk selamanya.
__ADS_1
Mereka begitu bahagia kemarin. Kenangan-kenangan hari terakhir mereka bersama bermain di kepalanya. Ingin memulai hari dengan berhubungan intim, dia sengaja membangunkan wanita yang sedang tidur nyenyak itu. Tentu saja Juliett tidak menolaknya. Mereka menikmati cokelat hangat dan kopi hitam masing-masing di balkon kamar sambil melihat pemandangan kota berubah dari gelapnya subuh ke cerahnya pagi.
Mengingat ucapannya pada hari sebelumnya, Juliett mengajaknya ke kolam renang. Wanita itu menantangnya berlomba siapa yang sanggup berenang paling cepat. Yang tentu saja dimenangkannya dengan mudah tetapi wanita itu tidak puas dengan hasil pertama. Kalau pada kompetisi pertama mereka berenang menggunakan gaya bebas, maka yang kedua mereka menggunakan gaya dada. Masih tidak terima dengan kekalahannya, dia mengajak lomba putaran ketiga menggunakan gaya kupu-kupu. Seperti kedua hasil sebelumnya, Miles lagi yang memenangkannya. Dia hanya tertawa ketika melihat wajah cemberut Juliett.
Antrian di kamar mandi dekat kolam renang cukup panjang, mereka memutuskan untuk membersihkan tubuh di kamar mandi mereka. Miles tidak melepaskannya ketika mereka sudah berada di kamar. Dia mengajaknya mandi bersama untuk menghemat waktu. Juliett terlihat tegang dan risih dengan pengalaman pertama mereka itu. Tetapi tidak sulit baginya untuk membuatnya merasa santai kembali. Dua malam bersama dan dia sudah tahu apa yang bisa membuat wanita itu merasa nyaman.
Pada saat sarapan, mereka kembali berlomba siapa yang makannya paling banyak. Yang sekali lagi dimenangkannya dengan mudah. Tidak suka merasakan kekalahan empat kali berturut-turut, wanita itu cemberut. Dia ingin wanita itu tidak hanya melihat pemandangan kota Singapura dari balkon kamar mereka, dia membawanya berjalan-jalan untuk berfoto di dekat Patung Merlion.
Tujuan berikut adalah Universal Studio yang segera disambut Juliett dengan pekikan bahagia. Mereka memutuskan untuk memasuki Zona Hollywood sebagai pilihan pertama. Wanita itu dengan senang mengejar Minions untuk berfoto bersamanya. Miles hanya tertawa ketika mereka berada di Hollywood Walk of Fame, Juliett meminta dipotret bersama tokoh-tokoh terkenal yang mereka temui. Dia tidak menduga membuat wanita itu bahagia sangatlah mudah.
__ADS_1
Berikutnya mereka memasuki Zona Science Fiction setelah Juliett bingung memilih antara zona itu dengan Zona Madagaskar. Dan mereka sangat beruntung bisa melihat Optimus Prime dan Bumblebee. Dua tokoh utama dari film Transformers. Ditantang oleh Juliett, Miles setuju untuk menaiki dua wahana yang mendebarkan yang ada di sana.
Meskipun mereka berfoto di banyak tempat, mereka menghindari foto bersama sesuai kesepakatan. Setiap kali ada kesempatan bisa memotret Juliett tanpa diketahui wanita itu, Miles hampir melanggar kesepakatan mereka. Tetapi dia segera mengingat bahwa tidak satu pun dari mereka boleh menyimpan apa pun yang bisa dihubungkan dengan pertemuan di antara mereka di negara ini.
Pada malam harinya, mereka memesan makanan untuk diantar ke kamar. Miles sengaja memesan sebotol anggur merah untuk menyempurnakan kenangan indah mereka bersama. Juliett mengaku itu adalah pertama kalinya dia meminum anggur merah asli. Dan dia menyukainya. Dengan penuh rasa bangga, Miles memberitahunya berbagai macam anggur berkualitas yang dikenalnya dan yang sudah dirasakannya sendiri. Tanpa mereka sadari satu botol anggur pun habis.
Kemudian mereka kembali memilih film kesukaan masing-masing. Juliett dengan film komedi romantis, dia dengan film laga suspense. Mereka duduk begitu dekat di sofa. Juliett meletakkan kepalanya di bahunya. Dengan senang hati, dia melingkarkan tangannya di bahu wanita itu. Sesekali dia mencuri ciuman darinya. Wanita itu marah setiap kali dia melakukannya karena dia sedang berkonsentrasi menonton film pilihannya. Dan itu alasan dia terus melakukannya.
Semua aktivitas yang mereka lakukan terasa begitu alami seolah-olah mereka sudah lama bersama dan saling mengenal. Dia tidak membutuhkan nama aslinya untuk mengetahui dirinya yang sebenarnya. Apa yang diketahuinya sejauh ini membuatnya semakin menginginkan wanita itu. Dia jelas sekali belum menikah, tetapi mengapa? Apakah dia yang terlalu pemilih?
__ADS_1
Mungkin masalahnya bukan itu. Dia menggunakan pekerjaan sebagai alasannya harus segera kembali ke negaranya. Bisa jadi dia seorang yang gila kerja sehingga tidak punya waktu untuk bersosialisasi dengan teman-temannya atau kencan dengan seorang pria. Jika itu masalahnya, dia bisa mengerti. Akan sulit untuk menikah tanpa memberikan waktu yang cukup untuk dekat dengan lawan jenis.
Alarm pada ponselnya membuyarkan lamunannya. Miles duduk dan melihat ke sekelilingnya. Kembali ke kamar ini enam bulan berikutnya, dia tidak akan bisa melupakan sudut-sudut di mana Juliett telah mengisinya. Meminta kamar yang lain untuk pertemuan mereka berikutnya akan merepotkan koleganya tersebut. Dia harus menyuruh salah satu pegawainya untuk mengatur ulang kamar suite lain. Tidak. Miles tidak ingin membuat sahabatnya merasa dia mengeluh dengan pelayanannya. Sambil mendesah pelan dia keluar dari kamar suite tersebut.