
Satu minggu menikah, Miles puas dengan hidupnya. Dia memiliki segalanya yang dia inginkan di dunia ini. Seorang istri dan seorang anak. Oh, dan seorang anak lagi yang akan segera lahir. Rasanya masih lama lagi waktu yang diperlukan sebelum perut Kirana membesar. Hal yang sudah tidak sabar lagi dinantinya sejak dia kehilangan kesempatan bersama William. Dia tidak mau kehilangan kesempatannya lagi untuk melihat bayinya tumbuh besar.
“Miles, apa kamu melihat di mana sepatuku?” tanya Kirana dari ruang pakaian mereka. Miles meninggalkan kamar mandi dan mendekati istrinya.
Kirana berdiri di depan kotak-kotak sepatunya sambil memeriksa setiap label pada kotak tersebut. Dia memakai dress berwarna ungu lembut dengan bunga-bunga besar berwarna merah berpadu warna hitam. Ujung roknya berhenti tepat di atas lututnya. Perutnya belum terlihat membesar tetapi dia mulai suka memakai dress longgar. Rambut panjangnya dia biarkan tergerai menutupi punggung. Miles menyilangkan tangan di depan dada dan menyandarkan bahunya di bingkai pintu, menikmati pemandangan di hadapannya.
Istrinya menoleh. “Mengapa kamu hanya berdiri di situ? Di mana sepatu-sepatuku?” Dia mulai terlihat kesal dan itu bukan tanda yang baik.
Miles mendekat, berdiri di sisinya, dan melihat ke arah puluhan kotak sepatu transparan di depannya. “Bukankah itu semua sepatumu, sweetheart?” Dia menunjuk ke arah semua sepatu milik istrinya.
“Iya dan tidak. Ada beberapa sepatu dan sandal baru yang aku tidak ingat pernah membelinya. Semuanya berhak datar. Tidak mengejutkan, sebagai gantinya sepatu dan sandal hak tinggiku hilang.” ucap Kirana kesal. Dia menoleh ke arah Miles dengan wajah memerah.
“Yang aku tahu, ini semua adalah sepatumu.” Pria itu hanya mengangkat kedua bahunya.
Kirana memicingkan matanya. “Kamu yang pindahkan semua sepatu itu ‘kan?” Miles melihat adanya bahaya. Jadi, ini saatnya untuk menghindari pertanyaannya dan melakukan hal yang lain.
“Aku akan memeriksa apakah Will sudah bangun atau belum. Kita tidak bisa terlambat ke bandara.” Miles membalikkan badannya dan bergegas keluar dari kamar mereka. Dari bunyi langkah kaki di belakangnya, dia tahu istrinya mengikutinya.
“Aku sudah bilang aku akan berhati-hati. Semua sepatu itu aman dipakai oleh wanita hamil. Saat Will dalam kandungan, aku biasa bekerja memakai semua sepatu hak tinggi itu. Mengapa sekarang kamu berusaha untuk mengubah kebiasaanku?” protes Kirana. “Hanya karena kamu membaca artikel di internet yang mengatakan sepatu berhak tinggi bisa membahayakan bagi wanita hamil, bukan berarti itu akan membahayakanku, Miles. Orang-orang itu bersikap berlebihan.”
__ADS_1
“Hai, Will. Kamu sudah siap?” tanya Miles di ambang pintu kamar William, mengabaikan protes istrinya.
“Sudah, Dad.” Dia berlari mendekat sambil membawa tas punggungnya.
“Bagus.” Miles mendesah pelan. Dia menoleh ke arah Kirana. Wanita itu memberinya tatapan mematikan dan tangannya terlipat di depan dadanya. Hm. Pemandangan yang menggoda, pikirnya saat melihat ke arah dada istrinya. Tetapi dia tidak punya waktu untuk memanjakan istrinya saat ini. Mereka terburu-buru. “Aku dan Will akan menunggu di ruang makan.”
“Aku mau sepatuku!” ucap Kirana sambil menghentakkan satu kakinya ke lantai. Miles tertawa dengan semangat.
Mereka akan pergi ke kota di mana Kirana lahir dan tumbuh besar. Keluarga yang menyewa rumah miliknya akan pindah ke kota lain. Karena waktunya berdekatan dengan hari kematian kedua orang tua Kirana, maka mereka memutuskan untuk pergi ke sana sekaligus berziarah. Di samping itu, Miles ingin tahu seperti apa tempat di mana istrinya menghabiskan sebagian besar masa hidupnya.
Hal pertama yang membuatnya penasaran adalah Dexter. Teman baiknya sejak kecil yang memilih untuk tidak bersahabat lagi dengannya demi istrinya. Miles sangat mengenal emosi yang satu itu. Tetapi dia tidak melarang istrinya untuk berteman atau dekat dengan teman dan rekan kerjanya. Mungkin pria dan wanita punya cara pandang yang berbeda dalam menilai kedekatan pasangannya dengan temannya sendiri.
“Kita hampir terlambat karena kamu terlalu lama memilih sepatu, Mom.” tuduh William. Mereka mulai lagi, diam-diam Miles mendesah pelan.
“Kalau kamu tidak menumpahkan susu ke bajumu, kita sudah sampai di sini dua puluh menit yang lalu.” ucap Kirana tidak mau kalah.
“Bisakah kalian, aku mohon, berhenti bertengkar? Kita hanya perlu check-in dan segalanya akan beres.” lerai Miles. Kirana dan William melotot ke arahnya. Dia mengerang pelan.
Apabila Kirana dan William sedang bertengkar, mereka tidak peduli kepada siapa pun yang sedang berusaha melerai mereka. Karena siapa pun itu, mereka tidak suka perdebatan mereka dianggap remeh. Ibu dan anak sama saja. Untungnya, mereka belum pernah bertengkar di depan Amanda dan Shane, apalagi Trevor dan Charlotte. Semoga saja tidak akan pernah.
__ADS_1
“Aku harus ke toilet.” ucap William mendesak.
“Tidak sekarang, Will.” ucap Kirana menolak.
“Harus sekarang, Mom.” rengek William tidak mau mendengarkan ucapan mamanya. Kirana mengerang kesal.
“Biar aku yang pergi ke konter check-in dan mengurus koper kita. Kalian berdua ke toilet. Nanti aku temui di sana.” Miles menurunkan William dari troli dan membantunya berdiri di lantai, lalu mencium bibir Kirana. Mereka benar-benar tidak punya waktu untuk berdebat.
“Baiklah.” Kirana mengalah sambil menggandeng tangan William. Mereka berjalan cepat menuju toilet terdekat.
Di konter check-in, Miles memberikan tiket, paspor serta VISA-nya, dan kartu pengenal Kirana. Wanita dibalik konter melabeli koper mereka, memberinya boarding pass, paspornya, dan kartu pengenal istrinya. Kirana dan William keluar dari toilet saat dia hampir dekat. Wajah Miles memucat saat Kirana tergelincir dan kehilangan keseimbangan. Dengan jantung berdebar cepat, dia segera menangkapnya dengan melingkarkan tangan di tubuh istrinya.
“Oh. Ya, ampun! Hampir saja!” ucap Kirana lega. Jantung Miles masih berdetak sangat kencang.
“Bisa bayangkan apa jadinya kalau kamu memakai sepatu hak tinggimu?” ucap Miles khawatir. Kirana memutar bola matanya.
“Bukankah ada kamu yang selalu siap mencegahku supaya tidak jatuh?” balasnya. Miles tertawa kecil dan menggelengkan kepalanya pada saat yang bersamaan. Wanita itu benar-benar tidak bisa dipercaya. Dia masih bisa bercanda di saat seperti itu.
“Mom, Dad, bisakah dipercepat?” ucap William tidak sabar.
__ADS_1
Miles bernapas lega ketika mereka akhirnya duduk di dalam pesawat. Kirana duduk di seberangnya bersama putra mereka. Karena ingin melihat pemandangan di luar jendela, William menolak untuk memakai sabuk pengamannya. Dia tidak mendengar apa yang Kirana katakan kepadanya untuk mematuhi mamanya, tetapi William cemberut dan menurut. Miles tertawa kecil. Walaupun tidak mudah untuk bersama pada bulan pertama, dia mencintai keluarganya.