
Mungkin pria inilah yang membuat ketiga kandidat sebelumnya pulang dengan ekspresi marah dan kecewa. Dia tahu benar bagaimana memilih orang yang bekerja untuknya. Kepala bagian, pantas saja dia turun tangan langsung melakukan proses seleksi. Inikah orang yang ditakuti oleh kandidat sebelumnya? Apa yang telah dilakukan Kirana selama ini? Bagaimana bisa dia tidak tahu siapa direktur utama perusahaan tempatnya bekerja selama enam tahun ini?
Dia melirik ke arah jam tangan pria yang duduk di tengah. Jamnya cukup besar hingga Kirana bisa melihat kedua jarumnya. Satu jam telah berlalu. Dugaannya tepat. Kedua wanita tadi juga pria yang baru selesai diwawancara keluar dengan wajah memerah karena berhadapan dengan pria itu. Kalau bukan karena dia sudah mempersiapkan mental menghadapi wawancara hari ini, dia juga akan berakhir seperti mereka.
Satu jam berikutnya, pertanyaan berasal dari dua pria lainnya. Jika dinilai dari pertanyaan mereka, mereka adalah seorang psikolog dan seorang yang ahli di bidang pemasaran. Kirana menjawab pertanyaan mereka dengan penuh semangat dan percaya diri. Asal dia tidak melihat ke arah direktur utama itu yang dari tadi tidak berhenti menatapnya, dia bisa menenangkan debaran jantungnya.
Bersikap jujur adalah kebiasaannya. Dia tidak perlu ragu menjawab semua pertanyaan yang diajukan oleh salah satu dari mereka. Dia juga tidak enggan memberi contoh bagaimana caranya memimpin rapat, mempromosikan dan menawarkan produk, atau apa saja yang mereka minta untuk dia lakukan. Mudah saja baginya melakukan semua itu.
Keluar dari ruangan itu, Kirana merasa lega sekaligus puas dengan dirinya sendiri. Pria yang tadi mengantarnya bersama kandidat lain dari lantai dasar ke lantai tersebut telah menunggunya di dekat elevator. Kirana membalas senyumnya lalu masuk ke elevator diikuti oleh Jerry.
Baru sebentar bergerak, pintu lift terbuka. Pria itu mempersilakan Kirana menunggu di lobi. Dengan kening berkerut, dia melangkah keluar. Mereka hanya bergerak satu lantai ke atas. Kerutannya semakin dalam ketika pria itu tidak keluar bersamanya. Menyadari apa yang baru terjadi, dia membalikkan badan dan melihat angka yang ditunjukkan pada bagian kanan pintu elevator. Dia berada di lantai teratas gedung.
Tiba-tiba lengannya digenggam erat dan dia diseret untuk berjalan mengikuti orang yang memegang lengannya tersebut. Kirana menoleh. Romeo. Pria itu membuka bagian kanan dari pintu ganda di depan mereka. Ruangan di dalamnya sangat luas dan elegan, cocok untuk seorang direktur utama. Pintu ditutup kembali dan sekejap saja dia sudah berada di dalam pelukan pria tersebut.
__ADS_1
“Oh, Tuhan. Kamu nyata.” bisiknya sambil membenamkan wajahnya di leher Kirana. Dia merasakan pria itu menarik napas dalam-dalam menghirup rambutnya.
Kirana memejamkan mata. Romeonya juga nyata. Dia berada di sini. Dia tidak harus pergi jauh untuk mencarinya ke luar negeri. Selama ini dia ada di sini. Kirana melingkarkan tangannya di pinggang pria yang dirindukannya itu. Aromanya masih sama. Dia menghela napas panjang. Ketika pelukan pria itu melonggar, dengan enggan Kirana juga melepaskan pelukannya.
Tangan pria itu menyentuh wajahnya dan mulai menelusurinya dengan ujung jarinya. Seolah-olah mencoba mengingat apa yang berubah dan apa yang masih sama. Matanya, hidungnya, pipinya, bibirnya, dagunya, rahangnya lalu berakhir di lehernya. Kirana memejamkan matanya. Masih sama. Sensasi yang timbul dari sentuhan Romeo pada tubuhnya masih sama.
“Kamu semakin cantik.” Romeo tersenyum. Dia mencium lehernya sambil menghirup dalam-dalam, beralih ke rahangnya dan pipinya. “Kamu tidak mengganti parfum atau losionmu.”
“Enam tahun aku mengharapkanmu akan muncul mendadak di depanku. Tidak, aku tidak akan menunggu lagi.” Dia menolak permintaannya. Lalu bibir pria itu menyentuh bibirnya.
Jantung Kirana berdebar dengan cepat menyesakkan dadanya. Mereka tidak sedang berada di sebuah hotel di Singapura di mana tidak ada orang yang mengenal siapa mereka. Di tempat ini semua orang mengenal pria itu dengan baik. Beberapa dari mereka juga tahu siapa wanita yang sedang diciumnya. Kirana mencoba memalingkan wajahnya. Tetapi dengan cepat pria itu memegang leher bagian belakangnya. Tangannya yang ada di punggung Kirana menahan tubuhnya agar tidak menjauh darinya.
“Pak,” ucap Kirana saat pria itu menjauhkan kepalanya sesaat.
__ADS_1
“Kalau kamu takut akan ada orang yang masuk dan melihat kita, jangan khawatir. Aku sudah mengunci pintunya.” Pria itu kembali menciumnya.
Kirana tidak melawannya lagi. Itu tidak ada gunanya. Dia membiarkan pria yang dirindukannya itu melakukan apa yang dia mau. Setiap hal yang selama enam tahun ini hanya bisa diimpikannya. Tetapi mimpi tidak pernah sebaik yang terjadi dalam kenyataan. Dia merindukan ini, sentuhannya, kehangatannya, gairahnya. Dia merindukan cara pria itu membuatnya menginginkannya.
Kedua kakinya terasa semakin lemah, Kirana melingkarkan kedua tangannya di leher pria itu untuk bersandar kepadanya. Mereka berciuman begitu lama, dia tidak bisa lagi menghitung waktunya. Ini lebih baik dari yang dia bayangkan saat mereka berada di ruang eksekusi tadi. Namun ketika tangan pria itu berpindah dari sisi tubuhnya naik hingga hampir menyentuh dadanya, mata Kirana terbuka lebar.
“Tidak. Tidak begini.” Kirana menahan tangan pria itu dengan tangannya. Pria itu berhenti dengan enggan namun tidak menghentikan ciumannya. Dadanya begitu sesak dengan gemuruh jantungnya yang tidak juga mereda. Akan menyakitkan untuk berhenti sekarang, tetapi Kirana tidak bisa membiarkan mereka melangkah lebih jauh. “Aku mohon. Biarkan aku pergi.”
Romeo menciumnya dengan malas-malasan sebelum berhenti. Dia menatap wajah Kirana sesaat lalu mengangguk pelan. Dia melepaskan pelukannya, berjalan menuju pintu, dan membukanya. Kirana melihat ke arah pintu dengan penuh harap. Dia berjalan satu langkah. Romeo masih berdiri diam di tempatnya. Langkah berikutnya, dia berjalan lebih cepat. Saat mereka sudah dekat, pria itu meraih pergelangan tangannya lalu mengecup pipinya. Kirana membulatkan matanya. Pria itu tersenyum penuh kemenangan lalu melepaskan pegangannya.
Kesempatan itu digunakan Kirana untuk secepatnya keluar dari ruangan tersebut. Setelah dia yakin bahwa pria itu tidak mengikutinya, dia segera mencari kamar mandi. Dia tidak mungkin membiarkan orang lain di gedung itu melihatnya dalam keadaan begini. Dia pasti sangat berantakan.
Begitu dia melihat lambang toilet, dia segera mengikuti arah yang ditunjukkan oleh tanda panah. Tidak ada orang lain di dalam toilet wanita. Dia mengerang pelan melihat bayangannya di cermin. Rambutnya berantakan keluar dari jepitannya, wajahnya memerah, dan lipstiknya berlepotan di sekitar bibirnya. Sial, umpatnya di dalam hati. Cepat-cepat dia merapikan dirinya kembali. Dia perlu tampil dengan baik di muka umum.
__ADS_1