Kisah Yang Tak Terlupakan

Kisah Yang Tak Terlupakan
Bagian 75


__ADS_3

Kemeja putih, celana pendek cokelat tua, dan sepatu kets berwarna putih membuat penampilannya terlihat santai. Tetapi bukan itu yang dirasakan Miles di dalam dadanya. Jantungnya berdebar-debar memikirkan rencananya hari ini. Untuk kesekian kalinya dia menatap cermin memeriksa penampilannya. Rambut pirangnya telah disisir rapi. Poni panjangnya dia biarkan menutupi dahinya secara natural. Dia tidak sedang ke kantor, jadi tidak perlu merapikan rambutnya seperti saat bekerja. Dia tersenyum melihat pipi, dagu, dan leher telah dicukur. Dia sudah siap untuk pergi.


Bila pergi ke kantor dia memakai sedan Mercedes Benz miliknya yang dikendarai oleh Markus, kali ini dia mengendarai sendiri truk Ford miliknya. Dengan perbedaan letak setir mobil di Indonesia dengan di Inggris, dia butuh waktu beberapa minggu untuk membiasakan diri. Setiap kali dia ke Inggris, dia hanya butuh beberapa hari untuk penyesuaian lagi, begitu juga saat kembali lagi ke Indonesia.


Dia akan menemui orang yang dicintainya. Masa penantian sudah usai. Sudah tiba waktunya untuk menuntut hak atas miliknya. Untuk mengurangi kegugupannya, dia menyalakan CD dan membiarkan suara salah satu penyanyi musik rok kesukaannya memenuhi mobil. Lalu lintas pagi itu belum padat. Dia hanya membutuhkan waktu setengah jam hingga tiba di dekat rumah tujuannya.


Satu gelas kertas besar yang berisi kopi sudah habis. Dua bungkus keripik kentang juga telah habis dilahapnya. Tiga jam menunggu di dalam mobil dan mengawasi rumah, tidak ada seorang pun yang keluar. Mungkin dia salah memilih strategi. Akan lebih baik kalau dia langsung saja keluar dari mobil, mengetuk pintu rumah, dan menangkap basah wanita itu dengan anaknya.


Sebuah taksi datang dari arah belakangnya dan berhenti di depan rumah tersebut. Miles menegakkan duduknya melihat pintu depan rumah terbuka. Seorang anak laki-laki keluar lebih dahulu. Jantungnya berdetak cepat melihat wanita yang kemudian keluar dari rumah.


Dia mengenakan dress berwarna putih tanpa lengan dengan motif bunga matahari. Ujung roknya tepat berada sedikit di atas lutut. Rambut panjangnya tergerai dengan ikal-ikal indah pada ujungnya. Dadanya nyeri. Wanita itu berada tidak jauh darinya tetapi dia harus menahan diri untuk tidak berlari dan memeluknya. Dia begitu cantik.


Ketika taksi bergerak, dia menunggu beberapa saat sebelum mengikutinya. Dia menjaga jarak aman agar tidak ada yang mencurigai kehadirannya. Taksi itu berhenti di depan sebuah taman. Miles menyetir truknya memasuki tempat parkir dan mencari mereka di dalam taman. Beberapa saat mencari di antara lautan manusia yang sedang menikmati piknik, dia menemukan mereka di bawah sebuah pohon rindang. Mereka duduk bersama di atas sebuah selimut.


Seorang anak menyebut nama William dan anak laki-lakinya menoleh. Miles meletakkan tangannya di dadanya. Dia merasakan bahagia yang meluap-luap. Dugaannya benar. Kirana menamainya William. Nama yang dipilihnya begitu dia dan Angelica merencanakan untuk mempunyai anak. Nama yang menjadi kesukaannya karena arti nama tersebut. Anak laki-laki itu bermain bola bersama beberapa anak laki-laki yang kelihatannya sebaya dengannya.


Pandangannya kemudian beralih kepada Kirana yang sedang duduk seorang diri. Dia memerhatikan anak mereka bermain sambil melakukan sesuatu dengan tablet miliknya. Miles berperang dalam dirinya apakah sekarang saat yang tepat untuk mendatangi wanita itu atau menunggu waktu yang tepat.


Jawabannya datang ketika sebuah bola berhenti tepat di bawah kakinya. Miles menundukkan tubuhnya dan mengambil bola tersebut. Dia melihat seorang anak kecil berlari ke arahnya. Anak laki-laki berambut pirang dan, Miles menarik napas terkejut sambil membulatkan matanya, bermata biru cerah. Tidak diragukan lagi. Anak laki-laki itu adalah anaknya.


“May I? That’s our ball.” Boleh aku minta bolanya? Itu bola kami. Anak itu bicara dengan aksen British yang sempurna. Dari mana dia mempelajarinya? Kirana tidak bicara dengan aksen itu. Dia bertanya menggunakan bahasa asing tentu karena anak itu menduga dia tidak bisa berbahasa Indonesia.


“Tentu saja. Siapa namamu?” Miles berjongkok sehingga mereka bicara sejajar.

__ADS_1


“Mama bilang, jangan bicara dengan orang asing. Kamu orang asing.” ucapnya serius. Anak cerdas.


“Namaku Miles. Sekarang aku bukan orang asing lagi.” Miles mengulurkan tangannya. Anak laki-laki itu menatapnya curiga.


“Iya, kamu adalah orang asing. Aku baru saja bertemu denganmu.” William bersikeras.


“Jawaban yang tepat.” Miles menyerah dan memberikan bola itu kepadanya. Anak itu menangkapnya dengan sigap.


“Thank you.” ucapnya sopan.


“You’re welcome, Will.” balas Miles. Kalimat itu membuat anak laki-laki itu kembali menoleh ke arahnya.


“Kamu tahu namaku?” tanya anak itu terkejut.


“Aku yang memberimu nama itu.” jawab Miles sambil mengedikkan bahunya.


“Mamaku yang memberi aku nama itu.” protesnya. Tentu saja Kirana akan mengatakan hal itu.


“Kamu tidak mau tahu mengapa aku memberimu nama itu?” tanya Miles. Anak itu mengerutkan keningnya.


“Tidak. Mamaku yang menamaiku.” William menghentakkan salah satu kakinya ke atas rumput. Hm. Mirip sifat mamanya kalau sedang sangat marah.


“Miles?” Terdengar suara Kirana.

__ADS_1


“Mommy!” William segera berlari mendekati mamanya. Miles berdiri dan menoleh ke arah Kirana. Dari jarak sedekat ini, dia bisa melihat betapa cantiknya dia mengenakan baju itu. Tetapi dia sedang mengerjakan sebuah misi. Dia perlu fokus dan menyelesaikan misi tersebut.


“Jadi, kita punya seorang anak?” tanya Miles dengan ekspresi sangat serius. Kirana menelan ludahnya dengan gugup.


“Miles, aku bisa menjelaskannya.” Wajah Kirana pucat pasi. Miles tidak peduli. Wanita itu tahu bahwa dia telah melakukan hal yang salah, karena itulah dia gugup.


“Kapan? Setelah kamu mengundurkan diri dan pergi jauh dari kota ini?” tanya Miles, menaikkan sedikit intonasi suaranya. Memikirkan tentang kekeraskepalaan wanita itu membuat Miles menjadi gila. Kirana merapatkan bibirnya. “Jadi itu benar? Kamu berniat membawa anakku pergi jauh dariku?”


“Miles, kamu salah paham. Bukan itu maksudku.” Kirana menggelengkan kepalanya.


“Dia anakku, Kirana. Ouch!” pekik Miles kesakitan. Dia melihat ke bawah dan bertemu pandang dengan William yang marah kepadanya. Anaknya baru saja menendangnya?


“Jangan berteriak kepada mamaku!” pekiknya marah.


“Lihat apa yang baru saja kamu lakukan.” ucap Miles kepada Kirana.


“A, aku? Apa yang telah aku lakukan?” protes Kirana. Miles mengabaikannya dan kembali jongkok di depan anaknya. Kirana mendengus kesal.


“Apa kamu ingin tahu mengapa aku yang memberimu nama?” tanya Miles kepadanya lagi. Anak itu melihat ke arah mamanya kemudian ke arah Miles lagi. “Karena aku adalah ayahmu.”


“Tidak, kamu bukan ayahku. Ayahku sudah mati!” ucap William tidak setuju. Miles menarik napas terkejut. Dia menoleh ke arah Kirana yang segera mengalihkan pandangannya ke arah lain. Miles menggeram marah dan kembali menoleh ke arah putranya.


“Mamamu bilang bahwa aku sudah mati?” tanya Miles, melanjutkan interogasinya.

__ADS_1


“Iya! Aku punya seorang mama yang kuat. Aku tidak butuh seorang papa. Aku adalah anak yang sangat istimewa. Aku tidak butuh,” ucap William menyemprotkan semua ucapan mamanya. Kirana cepat-cepat menutup mulut anaknya itu dengan tangannya. Miles menatapnya tidak percaya.


__ADS_2