Kisah Yang Tak Terlupakan

Kisah Yang Tak Terlupakan
Bagian 82


__ADS_3

Dengan malas, Kirana membuka matanya. Dia meregangkan tubuhnya lalu melihat ke sekelilingnya. Ini bukan kamarnya. Dia duduk dan peristiwa semalam kembali terulang di kepalanya. Dia menarik napas panjang lalu mengeluarkannya perlahan. Di sini dia dan William aman. Ada Miles yang akan menjaga mereka. Sebuah senyuman menghiasi wajahnya.


Dia masuk ke kamar mandi yang ada di dalam kamar. Melihat bayangan wajahnya di cermin, dia mengerang pelan. Matanya bengkak dan rambutnya kusut. Miles pasti melihatnya saat dia bangun tadi. Dia menutup wajah dengan kedua tangannya, merasa malu.


Tanpa semangat, dia menyikat giginya. Setelah mandi begitu lama di bawah pancuran, dia merasa segar dan siap untuk memulai harinya. Dia memilih salah satu dress dengan motif bunga berwarna biru lembut. Puas dengan penampilannya di cermin, dia keluar dari kamar.


Semalam dia terlalu panik untuk memerhatikan rumah itu dengan saksama. Kini dia bisa melihatnya dengan jelas. Matanya membulat dan mulutnya menganga. Rumah itu begitu besar. Dia menuruni tangga yang begitu lebar ke lantai bawah sambil mengagumi lukisan di sepanjang dinding. Ada beberapa pintu di dekat aula tersebut. Tidak punya waktu untuk memeriksanya, dia berjalan ke bagian belakang.


“Miles? Will?” panggil Kirana dengan suara keras.


“Selamat pagi, Bu.” Seorang wanita separuh baya dari arah dalam rumah dan mendekatinya.


“Selamat pagi. Di mana Miles?” Kirana melihat ke sekitarnya.


“Bapak sedang berenang di samping rumah bersama putranya.” jawab wanita tersebut dengan ramah. Kirana tersenyum mendengarnya. Miles telah memperkenalkan William sebagai putranya kepada orang yang bekerja di rumahnya. “Mari, saya antar Anda kepada mereka.”


“Terima kasih.” ucap Kirana lega.


Wanita itu berjalan kembali ke arah dari mana Kirana datang, lalu mereka berbelok ke sebelah kiri tangga. Dia membuka pintu besar di depan mereka. Melalui jendela besar di ruangan itu, dia bisa melihat kolam renang yang cukup besar di luar. Miles sedang melempar tubuh putranya ke kolam renang. William bersorak senang dan meminta papanya melakukan itu lagi.


“Mommy!” sorak William melihat mamanya keluar dari pintu.


“Hai, Will.” Kirana membalas sapaannya.


“Ibu mau makan sesuatu? Biar saya ambilkan.” tanya wanita itu ramah.


“Apa saja yang aman untuk seorang wanita hamil.” ucap Kirana sopan. Wanita itu tersenyum cerah lalu mengangguk pelan. Kirana mengerutkan keningnya, bingung.


“Ayo, berenang bersama kami, Mom.” ajak William. Kirana melihat ke arah putranya lalu ke arah Miles. Pria itu tidak melepaskan tatapannya darinya begitu mereka bertemu pandang. Jadi, Kirana yang mengalihkan pandangannya lebih dahulu.


“Aku sudah mandi.” tolak Kirana. “Lebih baik aku duduk di sini dan mengawasimu.”

__ADS_1


“Mengawasiku? Aku bisa berenang, Mom. Dad saja sampai terkejut melihat kehebatanku.” ucap William dengan bangga. Kirana tertawa kecil.


“Apa kamu sudah cerita kepadanya alasan kamu bisa berenang?” tanya Kirana.


“Jadi, Dad.” William menoleh ke arah papanya. “Aku pernah tergelincir jatuh ke kolam untuk orang dewasa sekitar lima atau enam bulan yang lalu. Kamu tahulah, anak-anak suka lari. Aku suka lari. Ya, Mom sudah melarang tapi aku hanya anak-anak.”


“Will, aku tidak akan memarahimu. Cukup ceritakan dan tidak perlu memberi penjelasan untuk setiap hal yang kamu lakukan.” Miles tertawa geli. Kirana tersenyum mendengarnya.


“Oke. Jadi, aku belum pakai alat bantu berenang yang biasa Mom pasang di kedua lenganku. Aku jatuh ke kolam. Aku menggerakkan kaki dan tanganku untuk meraih tepi kolam. Mom yang semula panik, berdiri di sana menatapku dengan bangga. Aku berhasil mencapai tepi kolam tanpa bantuan siapa pun.”


“Kamu kelihatannya ahli.” puji Miles. “Tidak mungkin kamu belajar berenang sendiri.”


“Berikutnya Mom yang mengajariku. Sekarang aku tidak perlu takut tergelincir lagi.” William tersenyum.


“Itu bagus sekali. Tapi jangan berlarian di tempat yang basah lagi. Kamu beruntung kamu jatuh di kolam renang. Bagaimana kalau kamu jatuh ke lantai dan kepalamu membentur permukaan yang keras? Kamu akan menyakiti dirimu sendiri.” Miles membelai kepala putranya.


“Oke, Dad. Aku akan berhati-hati.” ucap William menurut.


“Iya. Satu putaran lagi.” William mengacungkan telunjuknya.


“Oke.” Miles berenang ke tepi lalu meraih mantel mandinya. Kirana tidak bisa mengalihkan pandangannya dari tubuh pria tersebut. Dia begitu memukau dalam keadaan basah. “Berhenti menatapku seperti itu. Kita tidak bisa ke kamar kita sekarang. Will butuh teman.”


“Aku bisa menunggu.” goda Kirana. Begitu mereka dekat, Miles menunduk dan mencium bibirnya penuh gairah. Saat dia menarik diri, Kirana menarik kerah bajunya agar Miles tidak secepat itu mengakhiri ciuman mereka.


“Euw, Mom. Jangan di sini!” protes William. Spontan mereka berdua tertawa. Miles duduk di sisinya kemudian melingkarkan tangannya di bahunya.


“Tidurmu nyenyak?” tanya Miles.


“Iya.” Kirana mengangguk. “Aku terkejut aku tidak bermimpi buruk setelah kejadian kemarin. Terima kasih kepadamu. Bagaimana denganmu?”


“Sama-sama. Aku juga tidur nyenyak, sepertinya.”

__ADS_1


Wanita tadi kembali dengan membawa baki. Senyumnya begitu cerah. Kirana menatap Miles tidak mengerti lalu kembali ke arah wanita tersebut. Apa yang membuatnya sangat bahagia? Wanita itu meletakkan semangkuk bubur ayam, segelas susu, dan segelas air putih di atas meja di samping Kirana.


“Maaf, Bu, saya tidak minum susu.” Kirana memberikan gelas itu kembali kepadanya. Wanita itu hanya berdiri di sana dan tidak meraih gelas tersebut.


“Sweetheart, mari aku perkenalkan. Dia adalah Wanda dan jelas sekali dia tidak suka dipanggil ibu. Dia pengurus rumah sekaligus tukang masak handal kita. Ketika dia memberimu susu, kamu harus meminumnya. Apa pun yang dia berikan, tidak boleh ditolak.” Miles mengangkat kedua alisnya. Dia menoleh ke arah Wanda. “Wanda, ini tunanganku, Kirana.”


“Ah! Saya ikut senang mendengarnya, Pak!” pekik Wanda senang. “Pak Miles berhak untuk bahagia. Tunangan dan seorang putra. Ini kabar bahagia!”


“Sebenarnya,” ucap Kirana.


“Nanti sore kami keluar rumah.” Miles segera memotongnya. “Kamu tidak perlu menyiapkan makan malam. Kalian boleh beristirahat lebih cepat. Tidak perlu menunggu kami pulang.”


“Baik, Pak. Saya permisi, Bu.” Wanda tersenyum lebih cerah dari yang sebelumnya.


Kirana menatap Miles penuh protes. Miles menghindari tatapannya. “Sampai kapan kamu akan memakai istilah itu setiap kali memperkenalkan aku?”


“Bukankah itu kenyataannya?” Miles mengedikkan bahunya.


“Seingatku, aku menjawab tidak atas setiap lamaranmu.” ucap Kirana tegas.


“Kita memiliki seorang anak dan sekarang kamu sedang mengandung anak kita yang kedua. Apa kamu pikir jawaban tidakmu bisa menghentikan aku?” Dia menggeleng-gelengkan kepalanya.


Kirana mengerutkan keningnya. “Apa maksudmu?”


“Kita akan menikah bulan depan. Aku sudah meminta pengacara dan kedua orang tuaku untuk mengurus segalanya. Pada awal bulan depan kita akan pergi ke Inggris.”


“Apa? Sejak kapan kamu memutuskan semuanya sendiri? Aku tidak mau menikah denganmu!” ucap Kirana kesal.


“Aku tidak akan memisahkanmu dari Will. Aku tidak marah kamu menggunakan aku untuk memiliki anak. Kamu tidak perlu mengganti kewarganegaraan setelah menikah denganku. Aku juga berjanji akan selalu mencintaimu dan anak-anak kita. Boleh aku tahu alasan apa lagi yang akan kamu gunakan untuk menolak niatku untuk menikahimu?”


“Dad, aku sudah siap.” ucap William yang berjalan mendekati papanya dari belakang. Miles menoleh ke arahnya.

__ADS_1


“Kamu mau mandi sekarang?” tanya Miles. William mengangguk cepat. “Oke. Aku temani.” Miles berdiri. Dia menundukkan badannya dan mencium pipi Kirana. “Kita akan bicarakan ini nanti.” bisik Miles. William meniru papanya dan mencium pipi mamanya juga. Kirana tersenyum.


__ADS_2