
Tiga minggu sudah Kirana dan William tinggal di rumahnya. Miles merasa begitu bahagia bisa tinggal bersama mereka. Hidupnya sempurna dengan kehadiran mereka. Bangun pagi itu, dia menemukan Kirana tidur di sisinya. Di kamar sebelah, putranya tertidur lelap. Puas menyaksikan mereka tidur, dia turun ke lantai bawah memastikan Markus sudah bangun dan sarapan sudah disiapkan. Mengikuti kebiasaan Kirana dan William, dia juga meminta Wanda untuk menyiapkan bekal makan siang mereka.
Semua barang-barang milik Kirana dan William sudah dipindahkan ke rumahnya. Mereka tidak punya perabotan, mempermudah kepindahan tersebut. Hanya barang-barang pribadi. Kini mereka tidak akan pergi lagi dari hidupnya. Pada keesokan hari, mereka akan berangkat ke Inggris. Lalu setelah tiga hari berada di sana, dia dan Kirana akan menikah. Dia berencana pergi ke Paris untuk bulan madu mereka. Tetapi Kirana tidak tahu itu. Kejutan darinya untuk pengantin wanitanya. Mereka juga akan membawa William bersama mereka.
Satu jam kemudian, mereka bertiga berkumpul di ruang makan untuk sarapan bersama. Kirana terlihat baik dengan kehamilannya. Tidak ada mual-mual atau kehilangan selera makan. Hanya emosinya yang sering berubah-ubah dan cepat lelah. Dia bisa tidur di mana saja bila rasa kantuk sudah melanda. Yang paling Miles sukai adalah gairahnya yang tinggi. Hampir setiap malam mereka bercinta. Kadang-kadang wanita itu membangunkannya pada tengah malam dan dengan senang hati dia menurutinya keinginannya.
Bercinta dengan Kirana adalah surga baginya. Dia tidak pernah memberinya luka atau sakit pada tubuhnya seperti yang sering dilakukan Angelica. Wanita itu mengajari kebahagiaan tanpa rasa sakit. Kelembutannya menambah rasa cintanya kepadanya. Dia beruntung menemukan wanita itu pada kesempatannya yang kedua. Menikah dengannya akan menyempurnakan hidupnya. Dia sudah tidak sabar bisa dengan bangga menyebut dirinya sebagai suami yang paling bahagia di dunia.
“Ada apa?” tanya Kirana membuyarkan lamunannya. Miles menoleh lalu meraih tangannya yang ada di atas meja.
“Kamu cantik.” puji Miles. Semburat merah yang biasa menghiasi pipinya ketika mendengar pujian yang ditujukan kepadanya, membuatnya ingin menciumnya. Tetapi dia menahan diri. William tidak suka melihat mereka berciuman saat ada dia di dekat mereka.
“Terima kasih.” Kirana menyentuh rambutnya. “Apakah berlebihan kalau aku biarkan rambutku tergerai? Atau lebih baik aku gelung saja?”
__ADS_1
“Tidak. Biarkan rambutnya tergerai. Kamu cantik.”
“Kamu sudah mengatakan itu tadi.” Kirana tertawa kecil. “Pagi ini ada pelatihan untuk bagian pemasaran. Aku sedikit gugup.”
“Kamu gugup, sweetheart? Bukannya kamu sudah biasa melakukan ini?” Miles meremas tangannya. “Kamu pasti bisa. Bukankah kamu sudah persiapan dengan baik?”
“Iya. Terima kasih untuk dorongannya.” balasnya sarkas. Miles tertawa terbahak-bahak.
Polisi telah berhasil membuat para pelakunya mengakui siapa yang membayar mereka untuk menculik putranya. Salah satu dari kakak iparnya, Rizal. Dia telah mendapatkan hukumannya, tetapi Miles tahu dia belum bisa bersantai. Saudara Angelica yang lain akan mencoba membalas dendam demi Angelica. Apa yang Rizal lakukan hanyalah awal dari bagaimana mereka akan memenuhi ancaman mereka yang ditujukan kepadanya.
Di gedung kantornya, dia mengantar Kirana hingga ruangannya, menciumnya dengan mesra, baru dia masuk ke ruang kerjanya sendiri yang berada tepat di sampingnya. Seperti biasa, tumpukan dokumen dan laporan ada di atas mejanya, siap untuk diperiksa dan ditandatangani. Dia mengerjakan sebanyak yang dia bisa lalu melirik jam tangannya. Mendengar bunyi derap sepatu di depan kantornya, dia tersenyum. Saatnya untuk memulai pertunjukan.
Lima menit kemudian, dia keluar dari kantornya. Dia meminta Kemala untuk menahan telepon untuknya selama dua jam ke depan. Asistennya mengangguk dengan patuh. Dia menuju lift dan menekan angka di mana lantai bagian pemasaran berada. Tanpa mengetuk, dia masuk ke dalam ruangan dan duduk di salah satu kursi kosong bagian belakang. Jadi, dia bisa melihat segalanya yang ada di ruang rapat tersebut.
__ADS_1
Wanita yang ada di depan ruangan membulatkan mata melihatnya duduk di sana. Miles tertawa kecil. Dia tidak bisa melepaskan matanya dari wajah wanita itu pada jam berikutnya. Dengan cekatan, Kirana mempresentasikan salah satu topik pemasaran untuk para bawahannya. Pertanyaan demi pertanyaan dijawabnya dengan baik. Saat dia mengganti tayangan presentasi dan menutup pelatihan itu, beberapa orang tidak bisa menahan diri untuk tertawa.
Kirana melihat ke arah mereka sekilas. Sesaat kemudian ruangan itu hening kembali. Tetapi masih terdengar beberapa orang yang kesulitan menyembunyikan tawa tertahannya. Kirana kembali melanjutkan kalimatnya dan mengganti ke slide berikutnya. Tawa mereka kian besar. Lebih besar dari yang pertama. Kirana mengangkat kepalanya dengan wajah jengkel. Dia membalikkan badan dan melihat ke arah layar untuk mencari tahu apa yang membuat mereka tertawa dan tertegun. Pada slide di belakangnya tertulis tanggal dan waktu diadakannya resepsi pernikahannya dan Miles. Ekspresi wajah wanita itu tidak akan pernah dilupakannya.
Melihat wanita menoleh ke arahnya, Miles berdiri dan mendekatinya. Dia melingkarkan tangannya di pinggang wanita itu lalu mencium pipinya. Pipi Kirana merona. Suitan dan sorakan menggema dalam ruang rapat tersebut. Hubungan mereka bukan rahasia lagi. Selama tiga minggu terakhir dia terang-terangan makan siang bersama Kirana di ruangan wanita itu. Jelas sekali bagi semua orang bahwa ada sesuatu di antaranya dan Kirana. Mereka bahkan datang dan pulang kerja bersama. Walaupun wanita itu masih malu, dia tidak menolak ketika Miles meraih tangannya.
Namun mereka belum mengatakan kepada siapa pun mengenai William. Belum ada waktu yang tepat untuk memperkenalkannya kepada banyak orang. Dan juga, Kirana takut pada penghakiman orang yang akan menuduhnya menggoda suami perempuan lain. Sekalipun hal itu tidak benar. Miles satu-satunya yang telah menggodanya. Memahami kekhawatiran kekasihnya, Miles menurut.
“Kirana tidak tahu bahwa aku sudah membajak presentasinya, aku harap kalian tidak keberatan.” ucap Miles mengumumkan. Orang-orang tertawa. Dia merasakan Kirana memukul pelan dadanya.
“Seperti yang tertulis pada slide, kami mengundang kalian semua untuk datang dalam acara resepsi pernikahan kami. Silakan bawa siapa saja orang terdekat kalian. Semakin ramai semakin baik. Dan selama dua minggu kami tidak ada, aku harap perusahaanku tidak kalian buat bangkrut.” Mereka tertawa lagi.
Miles keluar dari ruangan itu bersama Kirana. Seperti pada hari-hari sebelumnya, mereka makan siang bersama di ruang kerja Kirana. Miles kemudian menelepon Wanda dan membiarkan Kirana yang bicara dengannya mengenai putra mereka. William sedang berada di tempat penitipan anak. Mereka ingin dia tetap punya teman bermain, maka mereka sepakat untuk membiarkannya menghabiskan siang dan sorenya di tempat tersebut sampai mereka datang menjemputnya.
__ADS_1