
Mendengar ponselnya berbunyi, Kirana mendesah keras. Dia belum selesai memeriksa tumpukan laporan yang ada di hadapannya, gangguan kembali datang. Dia mengambil ponselnya lalu menggeleng pelan membaca nama pada layar. Dia menyentuh tombol berwarna hijau tanpa semangat.
“Kamu tahu ini jam berapa ‘kan, Zi?” ucap Kirana sarkas.
“Aku akan bicara dengan cepat.” Terdengar suara tawa penuh semangat dari seberang. “Ada film bagus malam ini. Aku jemput sepulang kerja. Jam enam kamu harus sudah berdiri di depan pintu masuk. Jangan terlambat atau satpammu akan mengusirku lagi.”
“Aku tidak,” protes Kirana. Lalu terdengar bunyi nada hubungan telepon telah diputus. “Hebat. Satu lagi pria yang menganggap dirinya bisa mengaturku.”
Sejak mereka satu organisasi di kampus, Fauzi menjadi sahabat dekatnya. Mereka mendaftar untuk menjadi panitia pada sebuah event. Pemuda konyol yang tahu banyak hal lucu itu selalu membuatnya tertawa. Meskipun kini mereka bekerja di perusahaan yang berbeda, dalam satu bulan mereka bertemu lebih dari lima kali. Makan malam bersama, mengopi, menonton film, atau sekadar duduk di teras rumah Kirana sambil menikmati udara malam.
Kedua orang tuanya sangat menyukai Fauzi dan cepat sekali akrab dengannya. Mereka berharap suatu hari nanti putri mereka akan menikah dengannya. Diam-diam Kirana juga mengharapkan hal yang sama. Bila dia ingin menikah, dia menginginkan pria seperti sahabat baiknya itu. Humoris, baik hati, dan bertanggung jawab. Tetapi di usianya yang ketiga puluh lima, Fauzi belum juga tertarik untuk menjalin hubungan yang serius dengan wanita. Meskipun banyak yang menyukai dan berharap menjadi istrinya.
Hati kecilnya terus mendorongnya untuk menyatakan perasaannya. Beberapa kali mereka bersama, dia mendapatkan banyak kesempatan untuk mencurahkan isi hatinya kepada Fauzi. Namun setiap kali pula dia menolak mengikuti dorongan tersebut. Bagaimana kalau Fauzi tidak punya perasaan yang sama dengannya? Apa yang akan terjadi kemudian pada persahabatan mereka?
Belum pernah ada sahabat laki-lakinya yang jatuh cinta kepadanya. Tidak seorang pun. Mereka suka berada di dekatnya, berbagi hidup, menghabiskan waktu bersama, tetapi hanya itu. Tidak pernah lebih. Yang lebih sering terjadi adalah dia yang jatuh cinta. Cinta yang bertepuk sebelah tangan.
Tepat pada jam enam sore, Kirana berdiri di depan pintu masuk gedung tempatnya bekerja. Tidak lama kemudian, sebuah mobil berhenti di hadapannya. Dia mengenal pemilik mobil tersebut. Seorang pria keluar dari dalam mobil dan memutar, dia menyambutnya dengan senyuman. Pria itu mendekatinya, mencium pipinya, lalu tersenyum.
“Siap?” tanyanya.
“Siap.” jawab Kirana geli. Fauzi menggandeng tangannya lalu dengan tangannya yang lain dia membukakan pintu. “Kamu berlebihan, Fauzi.”
“Hanya pelayanan yang terbaik untuk wanita muda yang cantik.” goda Fauzi. Kirana tertawa saat dia duduk di jok depan. Pada saat yang bersamaan, sahabatnya menutup pintu.
Fauzi membawanya ke sebuah mal yang memiliki bioskop di dalamnya. Dia membeli makanan dan minuman ringan sebelum mendekati ruang teater di mana film yang akan mereka tonton diputar. Kirana bingung melihat mereka tidak membeli tiket dan hanya melewati konter. Fauzi kemudian mengeluarkan tiket dan memberikannya kepada petugas yang berjaga di pintu masuk. Kirana melihat ke arah poster.
__ADS_1
“Komedi?” Kirana membulatkan matanya.
“Aku ada di sini bukan untuk melihat air mata. Aku sudah cukup melihatnya selama mengenalmu.” Fauzi menunjuk barisan kursi dan mempersilakan Kirana duduk lebih dahulu. Benar-benar pria yang sopan.
“Kapan kamu beli tiketnya?” tanya Kirana begitu sahabatnya duduk di sisinya.
“Saat istirahat makan siang.” jawabnya dengan cepat.
“Pantas saja kamu langsung mematikan telepon sebelum aku sempat menjawab ajakanmu.” Kirana memicingkan matanya. Fauzi tertawa kecil.
“Aku tahu jadwalmu. Pulang kerja kamu akan ke rumah. Melakukan apa? Menonton film sampai bosan lalu kamu menangis sampai tidur.” Fauzi memasukkan jagung berondong ke dalam mulutnya. “Aku tidak akan izinkan hal itu terjadi. Setidaknya, tidak malam ini.”
“Terima kasih.” Kirana tersenyum. Dia tahu bahwa dia bisa selalu mengandalkan temannya pada saat sedih. Dia adalah salah satu sahabat yang mengenalnya dengan baik.
“Sama-sama.” ucap Fauzi.
Mereka keluar dari ruang teater tanpa berhenti tertawa kecil. Fauzi mengajaknya ke sebuah restoran terdekat untuk makan malam. Setelah memesan makanan, mereka kembali berbincang tentang film tersebut. Tidak peduli dengan tatapan tajam yang terarah kepada mereka, mereka tertawa sepuasnya. Ketika makanan mereka datang, tawa mereka sudah reda.
“Terima kasih, Fauzi. Pipiku sakit karena terlalu banyak tertawa.” ucap Kirana sarkas.
“Setelah tiga hari menangis sampai matamu bengkak, aku lebih suka melihat wajahmu memerah karena tertawa.” Fauzi mengedipkan sebelah matanya.
“Aku ingin tahu apa kamu juga akan menangis ketika kehilangan seseorang.” Kirana memicingkan matanya. Fauzi tertawa. Sebenarnya pertanyaan itu serius, tetapi dia biarkan dia tidak menjawabnya.
Pria itu memberi ponselnya kepadanya. Kirana mengerutkan keningnya. Dia melihat ke layar ponsel dan seorang wanita cantik tersenyum kepadanya. Karena wanita berambut pendek itu menggunakan begitu banyak riasan, dia tidak bisa melihat wajah aslinya. Kirana mengangkat kepala dan kembali menoleh ke arah sahabatnya.
__ADS_1
“Aku tidak mengerti.” ucap Kirana bingung.
“Bagaimana menurut pendapatmu tentang dia?” tanya Fauzi.
“Hm. Dia cantik. Kelihatannya dia baik.” ucap Kirana. Selalu tipe yang sama. Wanita cantik yang pintar berdandan dan memakai pakaian yang modis, punya senyum manis, gigi rapi, mata besar, wajah bersih terawat, rambut indah, dan kulit putih bercahaya. Melihat Fauzi menatapnya penuh harap, dia mendesah. “Aku tidak mengenalnya, oke? Aku tidak bisa memberi penilaian.”
“Namanya Sarah. Kami resmi pacaran seminggu yang lalu.” aku Fauzi dengan nada bangga.
Sebuah batu besar seolah-olah dijatuhkan di atas kepalanya, Kirana bergeming. Fauzi punya pacar? Sejak kapan? Dia tidak pernah menceritakan tentang perempuan yang dekat dengannya. Dia juga tidak pernah bilang dia sedang jatuh cinta. Kirana merasakan nyeri di dadanya. Matanya mulai memanas. Mengapa dia tidak bilang? Dia akan berhenti berharap kalau ternyata sahabatnya sudah menyukai wanita lain.
Lagi-lagi dia hanya berharap pada sesuatu yang tidak nyata. Fauzi dekat dan akrab dengannya bukan karena dia adalah seseorang yang istimewa untuknya. Sekalipun mereka sering menghabiskan waktu berdua, Fauzi akrab dan bersikap baik kepada ayah dan ibunya, dia sama sekali tidak sedang jatuh cinta kepadanya. Sahabat tanpa batasan yang jelas itu menyebalkan!
Dia tahu dia harus belajar, banyak belajar dari pengalamannya yang lalu. Dexter, Gilbert, Chandra, dan kini Fauzi. Mereka hanya melihatnya sebagai teman. Titik. Bertahun-tahun bersahabat baik, mereka tidak tertarik kepadanya sebagaimana seorang pria melihat seorang wanita. Pada akhirnya, hati mereka selalu berlabuh pada tipe wanita yang sama. Cantik, menarik, berpakaian bagus, berdandan, dan memiliki sifat yang baik. Paket lengkap.
Kirana bukanlah tipe wanita seperti itu. Ratri iya, Kirana tidak.
Dia berharap besar pada hubungannya dengan Fauzi. Karena pria itu adalah harapan terakhirnya untuk menikah. Usianya sudah tidak muda lagi. Perawan tua di usia tiga puluh lima. Setiap wanita lajang pada usia ini pasti khawatir dengan masa depannya. Menikah dengan orang yang baru dikenal bukanlah pilihan yang bijaksana. Dia lebih suka menikah dengan pria yang sudah dikenalnya dengan baik. Di antara sahabatnya yang lain, Fauzi satu-satunya yang belum menikah. Sayangnya, kini dia sudah punya kekasih, sudah tidak ada harapan lagi baginya.
“Sekali lagi, terima kasih, Zi.” ucap Kirana saat Fauzi menghentikan mobilnya di depan rumahnya.
“Bukan masalah. Akhir pekan ini kita makan malam bersama?” ajaknya.
“Kamu tidak ada acara dengan Sarah?” goda Kirana. Fauzi meraih tangannya.
“Walau sekarang aku sudah punya pacar, hubungan kita tidak berubah, Na. Kamu tetap sahabat baikku.” Fauzi meremas pelan tangannya. Kirana mengangguk. Pria itu keluar dari mobil lalu membukakan pintu untuk Kirana. “Aku akan pergi setelah kamu masuk ke dalam rumah.”
__ADS_1
Kirana membuka pagar. Dia masuk lalu memasang gemboknya kembali. Dia melambaikan tangan kepada Fauzi sebelum menutup pintu rumahnya. Pria itu tersenyum sambil membalas lambaian tangannya. Kirana mengunci pintu dan mendengar deru halus mobil sahabatnya menjauh. Air mata yang dari tadi mendesak keluar, kini mengalir deras membasahi wajahnya.
Pada akhirnya, dia akan sendirian pada malam hari.