Kisah Yang Tak Terlupakan

Kisah Yang Tak Terlupakan
Bagian 56


__ADS_3

Kirana berdiri dan bergegas keluar dari ruangannya. Dia memberitahu asistennya bahwa dia akan segera kembali. Susan tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. Dia menuju lantai teratas menggunakan lift. Saat dia mendekati ruangan Miles, asistennya berdiri dan tersenyum kepadanya. Kirana mengerutkan keningnya. Ah. Tentu saja. Miles sudah tahu bahwa dia akan datang.


Wanita itu membukakan pintu ruangan direktur utama untuknya. Pria itu sedang duduk bersandar di kursinya sambil melihat ke arahnya dengan senyum menghiasi wajahnya. Pintu ditutup, Kirana menunggu beberapa saat sebelum berjalan mendekati meja Miles, siap untuk meledak.


“Apa maksud Anda membawa saya serta dalam perjalanan dinas ke Singapura? Saya hanya kepala bagian pemasaran. Seharusnya Anda mengajak Kemala. Saya bukan asisten Anda.” protes Kirana.


“Itu bukan perjalanan dinas, Kirana. Coba baca lagi surel yang dikirim oleh asistenku. Itu seminar pemasaran internasional selama dua hari. Wakil direktur pemasaran sedang sibuk. Tentu saja lebih tepat bila aku mengajakmu daripada Kemala.” Miles mengangkat kedua alisnya. “Aku sebenarnya berniat membawa dia juga, tapi dia sedang hamil. Apakah kamu tidak tahu itu? Suaminya tidak akan mengizinkan aku membawa istrinya terbang ke luar negeri.”


Kirana mendekati pintu dan menguncinya. Pembicaraan selanjutnya tidak boleh diinterupsi atau didengar oleh siapa pun. Dia menarik napas panjang lalu memasang ekspresi wajah yang serius. Saat membalikkan badan dia, Miles masih tersenyum begitu ceria.


“Buang senyum menyebalkanmu itu.” ucap Kirana begitu kesal. Pria itu tertawa terbahak-bahak.


“Oh. Ke mana percakapan formal tadi? Kamu mendadak bicara tidak hormat kepada atasanmu sendiri?” goda Miles. Kirana mengerang marah.


“Silakan pecat aku kalau kamu mau. Itu yang aku inginkan.” tantang Kirana.


“Atau kamu bisa memberiku surat pengunduran dirimu.” goda Miles. Salah satu sudut bibirnya terangkat ke atas. Kirana mengerutkan keningnya. Dia menyilangkan tangannya di depan dadanya.


“Dan membiarkan kamu menang? Tidak akan.” Karena mata Miles melihat ke arah dadanya, Kirana mengikuti matanya dan melihat ke arah dadanya yang terlihat lebih besar karena tangannya yang menyilang di depannya membuat bagian tubuhnya itu terangkat. Cepat-cepat dia membuka tangannya dan meletakkannya di kedua sisi tubuhnya. Dia mengepalkan tangan menahan amarah.

__ADS_1


“Ck, sayang sekali.” keluh Miles ketika matanya melihat ke arah dada itu. Kirana mengangakan mulutnya. “Kalau begitu, dengan senang hati aku akan membiarkan kamu menang, sweetheart. Kamu tahu aku akan selalu melakukan itu. Kalau kamu mengundurkan diri, aku tidak akan memintamu membayar penalti yang ada pada kontrak.” Miles mengedipkan sebelah matanya.


“Berhenti memanggilku dengan sebutan itu. Aku tidak menyukainya.” Suara Kirana meninggi.


“Karena itu aku terus mengucapkannya, sweetheart.” ucapnya santai. Kirana benar-benar ingin mendekatinya dan menghapus senyum itu dari wajahnya. Tetapi dia takut pria itu akan menyentuh dan menciumnya di sini sekarang juga. Dia sedang marah dan dia hanya ingin marah untuk saat ini.


“Dengar, kalau kamu pikir dengan membawaku ke Singapura, maka apa yang pernah terjadi di antara kita akan terulang lagi, kamu salah. Aku tidak akan tidur denganmu lagi” ucap Kirana spontan.


“Aku tidak punya rencana melakukan itu. Kamu sendiri yang bilang begitu, bukan aku.” Miles memberinya setumpuk kertas. Kirana menerimanya dengan enggan. “Itu adalah kamar hotel yang telah dipesan dan tiket pesawatmu. Letak kamar kita berbeda dua lantai, jadi kamu tidak perlu khawatir mengenai itu. Aku mendapatkan penerbangan kelas satu, kamu di kelas dua. Jadi, jangan takut, aku tidak akan bisa menjebakmu dengan pesonaku di sana. Kita akan berada di sana selama tiga hari. Bawa pakaian secukupnya saja.”


“Seminarnya hanya dua hari, mengapa kita berada di sana selama tiga hari?”


“Karena kita akan berangkat pada hari Jumat sore dan pulang pada hari Minggu sore usai seminar.”


Kirana menggerutu selama dalam perjalanan menuju tempat penitipan anak. Tiga hari. Dari mana dia bisa mendapatkan seorang penjaga anak yang bersedia menginap selama dua malam? Dia tidak mempunyai orang tua, saudara, atau sahabat di dekatnya. Bagaimana bisa dia memercayakan putranya kepada orang asing? Kalau dia nekat membawanya serta, Miles pasti langsung tahu bahwa William adalah anaknya.


William belum pernah tinggal bersama orang lain selama satu malam pun sejak dia lahir. Dan dia akan pergi selama dua malam? Bagaimana cara membujuk anak yang belum genap lima tahun untuk mengerti arti dinas luar dan tidak boleh membawanya serta? Dia belum pernah pergi ke mana pun tanpa membawa putranya. Kepalanya mendadak sakit memikirkan hal tersebut. Dan semua itu gara-gara pria arogan tukang atur yang malangnya adalah atasannya sendiri.


“Mommy!” sorak William ketika melihat mamanya berdiri di ambang pintu. Cepat-cepat dia merapikan mainannya, mengambil tasnya, lalu berlari mendekati Kirana.

__ADS_1


“Apa kamu bersenang-senang hari ini?” tanya Kirana sambil memeluk putranya.


“Iya. Aku menyusun dua puzzle, Mom. Dan,” lapornya dengan riang.


“Sebentar. Lanjutkan ceritanya di bus saja. Aku perlu membicarakan sesuatu dengan Miss Helen.” potong Kirana. Dia menoleh ke arah gadis muda yang berdiri di sisinya. “Terima kasih untuk hari ini, Helen.”


“Sama-sama, Bu.” ucap Helen dengan sopan.


“Hm. Apakah aku bisa minta tolong?” Kirana membiarkan William berlari menuju tempat bermain.


“Apa yang bisa saya bantu?” tanyanya. Kirana memikirkannya lagi, tetap saja dia harus melakukan ini.


“Begini, pada hari Jumat ini aku harus melakukan perjalanan dinas ke luar negeri. Aku pulang pada hari Minggu malam. Adakah orang yang kamu kenal yang bisa menginap pada hari Jumat dan Sabtu untuk menjaga Will?”


“Kalau Ibu mau, saya bisa.” Helen menawarkan diri. Kirana tersenyum dengan bahagia.


“Benarkah?” Kirana menatapnya penuh harap. Gadis itu mengangguk. “Oh. Syukurlah. Terima kasih. Will sudah mengenalmu. Tidak akan sulit baginya untuk menyesuaikan diri.” ucap Kirana lega. Dia melihat putranya sedang bermain perosotan. Tidak jauh darinya. “Aku akan antar dia ke sini seperti biasanya pada hari Jumat siang. Kamu bawa saja dia pulang ke rumah begitu kamu selesai bekerja. Pada hari Sabtu juga bawa saja dia ke sini pada jam kerjamu. Akan aku beri rincian alamat dan nomor darurat kepadamu besok. Juga apa saja yang menjadi kebiasaan Will.”


“Baik, Bu.” ucap Helen riang.

__ADS_1


“Terima kasih banyak, Helen.”


Satu masalah sudah selesai. Kirana menarik napas lega. Kini tinggal satu hal lagi, bicara dengan putranya dan memberi pengertian kepadanya. Ini akan menjadi dua malam pertama putranya tanpa dia. Percakapan nanti tidak akan mudah bagi mereka berdua. Dia akan menolak perjalanan dinas ini bila William tidak mengizinkan dia pergi.


__ADS_2