Kisah Yang Tak Terlupakan

Kisah Yang Tak Terlupakan
Bagian 6


__ADS_3

Dia mengatakan segalanya yang melintas di kepalanya kepada istrinya, tidak ada yang bisa membuatnya tenang. Miles mendesah keras. Dia mencintai istrinya. Dia sungguh mencintainya. Tetapi dia lelah dengan pertengkaran sengit yang terjadi setidaknya sebulan sekali ini.


“Apa yang terjadi kepada kita, Angelica? Bukankah alasan kamu menikahiku karena kamu mencintaiku? Mengapa sekarang hubungan kita ditentukan oleh kehadiran seorang anak?” tanyanya tidak mengerti.


“Karena anak adalah bukti cinta kita! Kalau kamu benar-benar mencintaiku, kamu akan memberi seorang anak kepadaku. Kamu gagal lagi dan lagi. Aku mulai meragukan bahwa kamu mencintaiku.” Tuduhan istrinya semakin menjadi-jadi.


“Apa? Aku tidak bisa memberimu seorang anak, Angelica. Hanya Tuhan yang bisa. Yang bisa kita lakukan hanyalah berusaha. Dan Tuhan memberi beberapa orang pengetahuan dan keahlian untuk mencari tahu mengapa usaha kita tidak juga berhasil.” Dia masih berusaha membujuknya agar mau memeriksakan diri bersamanya ke dokter.


“Usaha kita tidak berhasil? Usahamu yang tidak berhasil! Aku sudah berusaha keras di sini.” protesnya tidak bisa menerima perkataan suaminya. Miles menarik napas panjang.


“Aku tidak bisa melakukan ini terus. Aku harus mandi sekarang kalau tidak mau terlambat ke kantor.” Miles menyibakkan selimut yang menutupi tubuhnya, lalu turun dari tempat tidur.


“Kita sedang bicara dan kamu mau pergi?” tanya Angelica saat Miles berjalan menuju kamar mandi yang ada di dalam kamar mereka. “Begitukah cara mamamu mengajarimu memperlakukan seorang istri?” Kalimat itu menghentikan langkahnya.


“Jangan bawa-bawa Mom dalam persoalan kita. Dia tidak ada hubungannya dengan masalah kita.” Miles mengertakkan giginya. “Aku ada rapat penting pagi ini. Yang tadi itu namanya bukan bicara. Kamu sedang mencecarku dengan tuduhan tanpa bukti. Aku sudah katakan apa yang harus aku katakan dan aku sudah cukup mendengar semua yang ingin kamu katakan.”

__ADS_1


“Tapi aku belum selesai bicara!” ucapnya keberatan.


“Kamu sudah mengatakan tuduhan itu selama lima tahun, Angelica. Apa kamu pikir aku tidak bisa menghapalnya di luar kepala? Kita akan bicara kalau kamu berhenti menyinggung tentang kegagalanku memberimu seorang anak.”


“Apa lagi yang ingin kamu dengar kalau itulah kenyataannya? Kamu lebih suka mengetahui kalau aku yang mandul. Iya ‘kan? Supaya kamu bisa memaksaku mengadopsi seorang anak. Anak dari orang asing. Kamu tahu? Itu sama saja dengan mengakui bahwa kamu tidak sanggup memberiku anak!”


Miles ingin sekali membanting pintu kamar mandi untuk membuktikan dia juga bisa marah dan tersinggung dengan semua tuduhan istrinya. Tetapi tidak. Dia memilih menutupnya sesenyap mungkin. Sebelumnya, dia tidak pernah mengizinkan emosi mengendalikan tindakannya, maka kali ini juga tidak. Begitu pintu terkunci, dia menghembuskan napas panjang mencoba meredakan emosinya. Dia berdiri begitu lama di bawah air pancuran sampai seluruh tubuhnya mulai menggigil.


Dia begitu lega melihat Angelica tidak ada lagi di dalam kamar. Dia memakai pakaian kerjanya secepat mungkin. Di ruang makan, dia melihat sarapan untuknya telah tersedia. Seorang wanita separuh baya menyambutnya dengan ramah. Pengurus rumah dan tukang masaknya itu mengurus segala keperluannya dengan baik, juga selalu bahagia setiap melihatnya. Mengapa istrinya tidak bisa melakukan hal yang sama?


Sopirnya telah menunggu di samping mobil saat dia keluar dari pintu depan. Miles mengucapkan selamat pagi dan tersenyum kepadanya. Pria bernama Markus itu membukakan pintu mobil untuknya. Setengah jam kemudia,n dia tiba di kantornya. Bangunan berlantai dua puluh yang menjadi kebanggaannya. Hasil kerja kerasnya selama dua puluh lima tahun.


Asisten pribadinya, Kemala, segera mengikutinya masuk ke dalam ruangannya. Miles tersenyum melihat kopi hitam kesukaannya telah tersedia di atas meja kerjanya. Komputernya telah menyala dan tumpukan laporan telah disusun rapi di atas mejanya. Dia sudah siap untuk bekerja hari ini.


“Apa saja agendaku hari ini? Aku tahu pagi ini ada rapat bersama kepala kantor cabang. Yang lain?” tanya Miles sambil menyesap kopinya. Dia menggumam pelan memuji kelezatan minuman tersebut.

__ADS_1


“Pada jam dua belas, Anda ada janji makan siang bersama Pak Hasan mengenai rencana pendanaan organisasi miliknya. Jam tiga sore, ada janji temu dengan gubernur di balai kota bersama pengusaha asing lainnya. Itu saja, Pak.” lapor wanita itu dengan efektif.


“Malam ini aku tidak ada janji makan malam?” tanya Miles heran. “Mengapa kamu tidak bilang?”


“Saya sudah sampaikan semalam, Pak. Anda meminta agar jadwal itu tetap kosong. Malam ini Anda berencana ke pusat kebugaran.” ucapnya mengingatkan. Miles mengangguk.


“Oh, iya. Benar. Aku lupa.” Miles mendesah lega. “Baiklah. Terima kasih, Kemala. Kamu boleh kembali ke mejamu.”


“Baik, Pak.”


Selama rapat bersama pimpinan kantor cabang, Miles tersenyum puas dengan kinerja yang mereka lakukan. Dia bahkan tidak perlu repot memberi ide karena mereka masing-masing dengan penuh semangat saling memberi masukan juga evaluasi. Salah satu keuntungan yang dinikmatinya sejak berani mengambil risiko mempekerjakan orang-orang muda untuk memimpin kantor cabang perusahaannya.


Makan siang bersama Hasan berjalan lancar. Dia senang mendengar usaha-usaha yang sudah dilakukan organisasi tersebut untuk menolong mengembangkan pertanian masyarakat di daerah. Mereka juga terlibat dalam mengembangkan pendidikan di daerah-daerah tersebut. Untuk inilah Miles tidak berhenti bekerja keras menghasilkan banyak uang. Dia ingin memberi bantuan dana sebanyak mungkin untuk mendukung organisasi yang peduli pada pengembangan masyarakat.


Meskipun dia mengirim uang tanpa nama, mereka selalu berhasil melacak asal uang yang mereka terima. Tidak jarang mereka berharap bisa bertemu dan berbincang dengannya. Dia tidak mau menerima mereka di kantornya. Keterlibatannya dalam aksi sosial adalah rahasia. Dia tidak mau seorang pun tahu. Tetapi makan siang bersama mereka adalah hal yang sulit. Mereka memaksa mentraktirnya dan menolak uangnya yang disiapkannya untuk membayar makanan mereka.

__ADS_1


Miles tahu benar gaji mereka tidak besar. Melihat usaha mereka untuk menunjukkan rasa terima kasih kepadanya, dia akhirnya membiarkan mereka yang membayar makanannya. Hasan memberinya buku laporan bulanan kegiatan dan transaksi dana organisasi mereka. Laporan yang biasanya diterimanya lewat pos. Dia mendengarkan pria itu menjelaskan program-program besar yang sedang mereka kerjakan, tantangan yang dihadapi, serta jalan keluar yang sudah mereka terapkan.


Dalam perjalanan menuju balai kota, Miles melanjutkan membaca berkas yang dibawanya dari kantor. Sesekali dia melihat ke arah jalan di depan mereka atau sekadar melirik kanan dan kiri untuk memastikan bahwa dia tidak akan terlambat. Lalu sesuatu terjadi dengan cepat.


__ADS_2